
Zia membolak-balik berkas yang ada di mejanya, sesekali fokus menatap monitor di depan dan tangan kanannya dengan lihai menggerakkan mouse komputer itu. Saat ini Zia sedang mengejar deadline dari Dimas yang sialnya baru di berikan padanya saat waktu hanya tersisa tiga puluh menit sebelum berkas itu di gunakan untuk meeting saat jam makan siang nanti. Zia menghela napas. Demi apa pun ini banyak, Ya Tuhan.
Lagi-lagi Zia memeriksa dengan teliti semuanya sebelum memberikan pada bosnya itu. Satu hal yang baru di ketahuinya tentang Dimas. Pria itu menuntut sebuh ke-perfeksionisan dalam setiap kerjaan karyawannya. Saat kamu memberikan berkas tidak sesuai dengan ekspektasinya, maka bersiaplah untuk sebuah kalimat menyakitkan yang selama ini di kenal sebagai cacian.
“Zia,”
“Iya, Mas.”
Zia mengangkat kepala dan melihat Anton yang sedang berjalan menuju kubikelnya. Ah ya, Zia lupa mengatakan bahwa Anton enggan di panggil bapak, dia bahkan tidak segan-segan menyuruh semua orang memanggilnya dengan sebutan, Mas. Katanya dia bukan bos yang harus di panggil bapak. I don't care, Mas Anton. Sekarepmu!
“Lo udah kelar?” Zia mengangguk. “Ini ada tambahan,” lanjut Anton sembari memberikan sebuah map pada Zia.
Zia melongo menatap map yang sudah tergeletak manis di mejanya. “Demi apa pun, Mas. Gue rasa lo salah kasih ini map ke gue,” rutuk Zia. “Bahkan gue baru kelar banget ini, tega banget sih lo.” lanjut Zia cemberut.
Anton terkekeh lalu menoyor kepala Zia pelan. “Lo lebay banget sih, dek. Ini tuh tinggal meriksa doang, dan si bos minta lo yang meriksa,”
“Lalu fungsi lo sebagai pak sekre apaan?”
“Ngoper tugas ke lo lah,”
“Kenapa lo nggak bilang ke bos kalo kerjaan gue banyak?”
“Karna dia sendiri tau kerjaan lo,” jawab Anton bersedekap sembari menatap Zia.
“Woi, ngapain lo, Mas? Pedekate-an jangan di jam kerja dong,” itu Audi. Tampak ia sedang berjalan membawa secangkir kopi menuju mejanya yang kebetulan berada di sebelah Zia.
“Gue nungguin lo, mau ngajak makan malam. Mau ga?” Goda Anton pada Audi yang sedang menatapnya dengan enggan. Mereka memang selalu seperti ini jika bertatap muka.
“Kenapa mesti nanti malam? Pasti lo mau utang duit dulu kan sama si bos?” tuduh Audi cengengesan.
“Lo emang paling ngerti gue, dek. Nikah, yuk!” ujar Anton sambil menaik turunkan alisnya.
__ADS_1
“Muke lo, Mas. Mupeng banget *****,” gelak tawa Audi memenuhi rungu Zia dan Anton.
Anton mendengus lalu detik kemudian ikut tertawa bersama Audi. Zia memutar bola mata jengah. “Lo berdua bisa diem nggak sih?” kesal Zia.
“Lo kenapa? Kaya anak tersiksa banget ya, Mas,” ejek Audi yang minta pembelaan Anton yang langsung di angguki olehnya.
Zia mendengus dan berselang beberapa detik Zia teringat sesuatu. “Mas, gue mau bimbingan. Gue izin boleh ya?” pinta Zia dengan tampang memelas.
“Gue izinin,” sahut Anton yang langsung membuat Zia bersorak gembira. “Lo gila atau apa? Gue siapa sih sampe lo izin ke gue?” lanjut Anton,
Zia menggeplak kepala Anton dengan gulungan kertas. Kesal sekali dengan pria di depannya ini. Pandangan Zia jatuh pada Audi yang tampak sedang menahan tawa karna melihat muka Anton merah, malu. Jatuh sudah harga dirinya di buat oleh anak bawang seperti Zia.
“Ya udah, lo izin ke si bos aja sana..” ujar Anton, lagi. Tak tampak marah karna Zia menggeplak kepalanya barusan.
Audi mengangguk lalu berkata, “jangan lupa pake kedipan mata, beb.”
Zia melengos dan berlalu meninggalkan keduanya. Sontak membuat Anton dan Audi tertawa bersamaan. Selain mereka berdua, Zia tidak memiliki teman akrab lagi di kantor. Karna Zia merasa semua orang di kantornya ini terlalu serius menjalankan tugasnya, kecuali Anton dan Audi tentunya.
“Permisi, Pak.”
“Silahkan duduk,” Zia mengangguk lalu langsung duduk di kursi yang tersedia. “Sudah selesai yang saya minta?” tanya Dimas lagi.
Zia mengangguk lagi lalu menyerahkan berkas itu pada Dimas. Dengan telaten Dimas meriksa berkas yang kini di tangannya.
Zia berdeham sejenak. “Pak,”
Hening, Dimas hanya diam sambil membaca ulang berkas yang ada di tangannya.
“Pak,”
Lagi-lagi, hening.
__ADS_1
“Pak Dimas, saya ingin mengatakan sesuatu.” desak Zia akhirnya. Jika menunggu Dimas yang entah sampai kapan tetap diam seperti ini, bisa-bisa Zia telat untuk menemui dosen pembimbingnya nanti.
“Kenapa nggak bilang dari tadi?” tanya Dimas.
“Gimana mau bilang kalau bapaknya sendiri nggak menghiraukan saya,” keluh Zia terang-terangan.
Dimas mengalihkan pandangan sepenuhnya pada Zia. Gadis cantik dengan rambut sebahu yang dibiarkan tergerai itu sedang mencebikkan bibir sambil mengetuk-ngetukkan jemarinya pada meja. Lihatlah, Zia mengatakan jika mereka harus profesional dalam kantor. Dengan dia menampilkan wajah yang menggemaskan seperti ini, pantaskah dia di sebut sebagai orang yang profesional? Menghadap bos dengan tampangnya yang seperti ini Dimas rasa tidak cocok, kecuali Zia berniat menggoda.
“Apa? Jangan bertele-tele,” ujar Dimas selanjutnya.
Zia mendengus. “Kalau boleh saya mau izin, Pak. Sehabis makan siang nanti saya ada bimbingan skripsi, jadi saya--”
“Di mana?”
Alis Zia bertaut. Defenisi bos besar adalah bisa memotong pembicaraan karyawan sesuka hati. Lalu bertanya sedemikian rupa padahal apa yang di tanyakannya juga termasuk dari apa yang akan di sampaikan oleh karyawannya tadi--sebelum ucapannya di potong secara tiba-tiba.
“Di Caffe yang ada di dekat kampus saya, Pak.”
“Kamu mau bimbingan atau mau nge-date?” tanya Dimas dengan kening berkerut.
Bimbingan sekalian proses pendekatan diri sebagai istri kedua, Pak. Tentu saja itu hanya kata-kata yang menjadi koleksi Zia di dalam benaknya. Zia memaksakan senyumnya. “Alhamdulillah bimbingan, Pak.”
Dimas mengangguk tanpa kata. Tangannya memangkat telepon yang ada di sisi sebelah kanannya. “Anton, tolong keruangan saya sekarang,” perintahnya.
Dimas kembali menatap Zia sembari bersandar pada punggung kursi kebesarannya. Zia yang merasa di pandang dalam oleh Dimas bergerak tak nyaman.
“Zia, kamu saya beri izin.”
Zia mengangkat kepala dan tersenyum ramah oleh Dimas. Tidak sia-sia rasanya dia bekerja dengan sahabat kakaknya ini. Lihatlah dia tidak susah mendapatkan izin dari Dimas. Entah memang Dimas adalah bos yang pengertian atau cuma karna Zia lagi beruntung hari ini. Sudahlah, tidak usah repot-repot memikirkannya.
“Tapi, saya ikut bersama kamu.”
__ADS_1