Kamu, Atau Dia

Kamu, Atau Dia
Episode 26


__ADS_3

Dimas melirik pada sosok wanita di sebelahnya ini. Kepala bersandar lalu pandangannya seolah menerawang keluar jendela mobil. Di posisi seperti ini, biasanya wanita sedang marah. Namun Dimas rasa itu tidak berlaku pada Zia.


Zia yang terlalu capek menggerutu karna lagi-lagi macetnya jalanan tidak bisa di hindari, memilih untuk memejamkan mata lalu pergi ke alam mimpi. Membiarkan Dimas sendiri yang sudah pasti akan suntuk menghadapi kemacetan yang sudah menjadi ciri khas ibukota itu.


“Zi, bangun hei. Memang kamu mau ketemu sama dosbing dalam keadaan lemes persis kayak tempe mendoan di siang hari?”


Zia tak bergeming.


“Zia, aku nggak tau nih ketemuannya di mana. Bangun dong, kasih tau ini,” ujar Dimas lagi yang tidak di hiraukan oleh Zia.


Dimas menghela napas sembari tersenyum. Kakinya menekan pedal rem pelan. Lagi-lagi mobilnya hanya berjalan sedikit dan kembali harus berhenti. Dimas menatap ke luar jendela mobilnya. Kemacetan di jam makan siang seperti ini memang tidak bisa di hindari. Dan akibat mutlaknya adalah mereka terjebak macet dalam keadaan perut masih belum terisi.


Dimas menjalankan mobilnya. Dan ya mereka sudah sampai di titik akhir kemacetan. Jalanan menuju kampus Zia memang sedikit lengang siang ini. Seluruh pengguna jalan dapat menetralkan laju kendaraannya.


Dimas melirik Zia. “Zia, kamu ngiler!” anggap aja Dimas sedang teriak karna memang benar dia mengatakan dengan nada yang sedikit tinggi.


Sudut bibir Dimas terangkat naik. Caranya berhasil membuat Zia langsung bangun dan dengan tergesa dia mencari cermin yang ada di dalam tasnya.


Zia memperhatikan pantulan wajahnya pada cermin yang sedang ia pegang. “Mana ngga ada,” ujar Zia selanjutnya.


“Apanya?”


“Ilernya,”


“Ada.”


“Nggak ada. Tuh lihat,” Zia mengubah posisi duduknya agar Dimas dapat melihat wajahnya.


Dimas melirik sekilas. “Ya udah kalo nggak ada. Nafsu banget sama iler doang,” ungkap Dimas santai.


Zia melotot lalu memukul bahu Dimas kesal. Zia kembali mengubah posisi duduknya seperti awal. “Ngeselin banget. Dasar cowok.” gerutu Zia pelan.


Dimas terkekeh. “Dasar cewek. Kalo bahas iler aja langsung bangun. Memangnya kenapa sih kalo ngiler beneran, malu?”


Zia melirik Dimas yang sedang membelokkan sedikit kemudinya saat melihat seorang wanita paruh baya menyeberangi jalan tanpa melihat kanan kiri terlebih dahulu. Zia masih tidak paham mengenai kebiasaan-kebiasaan buruk yang sudah mendarah daging bagi setiap ibu-ibu itu. Lampu sein kekiri namun belok kekanan, adalah salah satu contoh mutlaknya.


“Ya malu lah, gimana sih.” ujar Zia sekenanya.


“Malu kenapa?”


Zia bersandar. “Cewek itu ribet. Apa-apa harus mendekati dengan kesempurnaan. Istilahnya itu kayak as perfect all the time deh. Jadi rasanya itu nggak asik aja kalo tiba-tiba kegep lagi ngiler.” jelas Zia panjang lebar.


“Wajarlah. Lagian nggak ada manusia yang sempurna. Misal, kamu cantik, putih, anak orang kaya, defenisi kesempurnaanlah di mata orang awam. Tapi kamu pasti punya kekurangan dari sisi yang lain, nggak pinter misalnya.” Dimas menjeda ucapannya. Memperhatikan jalanan sebelum membelokkan mobilnya. “Kamu belum dewasa namanya kalo semua masih kamu ukur dengan keutamaan fisik.” lanjut Dimas setelah berhasil memarkirkan mobilnya.


Zia membuka seatbeltnya. “Nggak ngutamain fisik juga,”

__ADS_1


“Harus tampil cantik, penampilannya harus nyaris sempurna. Jika itu nggak ngutamain fisik, lalu menurut kamu defenisi dari ngutamain fisik itu yang seperti apa?”


Zia mencebikkan bibirnya. Membuka pintu dan membanting sedikit keras. Meninggalkan Dimas yang menatapnya bingung. Berselang beberapa detik kemudian Dimas tersenyum sembari menyandarkan kepalanya di kursi.


Satu..


Dua..


Ti..


Suara pintu mobil terbuka kini menghentikan kegiatan menghitung Dimas di dalam hati. Ada Zia disana, tidak lupa dengan muka datarnya.


“Kok balik?” tanya Dimas pura-pura tidak tau.


“Liat laptop aku nggak?” Dimas menggeleng membuat Zia menahan napas. “Aku serius, Kak.”


“Beneran aku nggak ada liat, Zia. Lagian aku nggak ada liat kamu bawa laptop tadi waktu masuk mobil aku,”


“Ada. Aku bawa tadi kok. Aku taruh di sini tadi,” ujar Zia sambil menunjuk kursi belakang.


“Intinya aku nggak ada liat. Udah ah aku mau masuk, udah laper.” Dimas membuka pintu mobil berniat untuk keluar. Namun niatnya urung karna melihat mata Zia yang berkaca-kaca.


“Terus laptop aku gimana? Kan nggak lucu kalo misalnya ketinggalan di kantor,” ujar Zia dengan muka yang memerah menahan tangis.


***


Nafisya : Di, katanya mau ngebacot. Sok atuhlah.


Audila : Di grup banget nih?


Nafisya : Ya daripada lo cuma cerita ke gue. Yang pertama, si Daniel juga pasti pengen update tentang si Zia. Yang kedua kalo kita ceritanya diem-diem yang ada kita dosa, ogeb.


Audila : Eh iya bener. Pinter juga lo,


Daniel : Newbie harus sapa-sapa!


Audila : Bodo, ga peduli. Gue mau kasih hot news, nih.


Nafisya : Ya udah, buruan.


Daniel : (2)


Audila : Zia pergi ke kampus bareng Bigbos. Mana ga balik lagi sampe jam pulang kantor. Nyasar kemana dah tu orang berdua?


Nafisya : Seriously?

__ADS_1


Daniel : Kok ujung-ujungnya lo nanya sih, Di?


Audila : Bodo amat, Daniel. Lo kenapa dah? Gue itu bingung mereka sebenernya kemana. Fyi, mobil Zia masih stay di parkiran kantor. Itu artinya mereka satu mobil.


Nafisya : Dan ga balik sampe jam kantor selesai? Omaigat, se-gercep itu ya Dimas?


Daniel : Zia itu lagi mojok sama bosnya. Duduk berdua sambil pegangan tangan, melihat dan menghitung bintang di langit, menceritakan semua kenangan, atau menceritakan perjalanan hidup masing-masing. Intinya, mereka yang bahagia kenapa lo pada yang ribet mikirin? Keliatan banget lo jomblo. Di, pacaran sama gue aja sini.


Audila : Kalimat di akhirannya bikin gue mual, Dan;/


Daniel : Apa anak kita bikin kamu susah, sayang**?


Audila : Geli, Daniel.


Nafisya : Bodo amat sama masalah percintaan kalian. Masalahnya, gue lagi penasaran mereka ngapain sampe ga balik kantor. Ngeri Zia di apa-apain gue.


Fauzia : I'm here, babe


Nafisya : Di mana lo?


Daniel : (2)


Audila : (3)


Fauzia : Di rumah dong udah jam segini lagian. Pertanyaan lo ga mutu :p


Audila : Gimana rasanya bimbingan di temenin bos, dek?


Fauzia : Hm, not bad lah.


Nafisya : Seriously, Fauzia Sukma**?


Audila : Tanda-tanda nih


Fauzia : Awalnya gue kesel, banget malah. Yakali gitu gue bimbingan di kintilin sama bos. Mana jalanan macet, paham lah sama Dosbing, nunggu dikit aja skripsi lo yang bakal kena imbasnya. Pokoknya gue ga bisa jabarin keselnya gue. Ga sepenuhnya kesel sama Dimas sih, but he became one of them. Gue di kibulin waktu ketiduran, laptop gue di umpetin. Kesel ga lo kalo jadi gue? Sampe mau nangis tau gue waktu laptop gue di umpetin sama dia tapi gue gatau. Dalam bayangan gue, bakal ancur deh bimbingan gue kali ini. Tapi..


Nafisya : Apa?


Daniel : (2)


Audila : (3)


Fauzia : Besok kan libur, kita meet up aja ya. Males ngetik gue.


Nafisya : Sialan lo emang.

__ADS_1


Zia terkekeh lalu mematikan layar ponselnya. Zia berbaring lalu memeluk gulingnya mencoba untuk menyambangi alam mimpi. Zia tampak tenang sebelum sebuah pesan masuk meninggalkan rasa yang aneh pada dadanya.


Kak Dimas : Good night, Zia. Nice dream, and thanks for today.


__ADS_2