Kamu, Atau Dia

Kamu, Atau Dia
Episode 12


__ADS_3

Zia menatap jalanan melalui jendela mobil yang sedang ia tumpangi dalam diam. Tidak ada percakapan seperti layaknya manusia yang saling mengenal saat  berada di tempat yang sama. Ya, Zia sedang berada di dalam mobil CRV  yang sedang di kemudi oleh pria tampan yang bernama Dimas.


Tadi saat Zia mendatangi ruang dosen pembimbing nya, ia di buat terkejut karna mendapati Dimas tengah duduk manis di salah satu sofa yang tersedia di sana. Zia sempat berpikir untuk mundur dan pergi saja dari sana. Sebelum akhirnya sebuah suara menghentikan niatnya.


*Flash Back*


"Masuk, Zia. Ada yang menunggu kamu dari tadi di sini."


Zia tak bersuara. Ia hanya berjalan menuju meja kebesaran dosen tampan yang ada di depan nya itu. Dari ujung matanya, ia dapat melihat pria yang sedang duduk itu berdiri dan berjalan mendekat meja dosen yang kini berada  tepat di depan matanya.


"Baik lah, Pak. Terima kasih atas bantuannya untuk memanggil gadis nakal ini."  Gio hanya terkekeh mendengar ucapan Dimas. "Kalau begitu, kami pamit dulu. Permisi."


Dimas bersalaman dengan Pak Gio sambil sesekali tertawa bersama, seperti sudah saling mengenal.


" Zi, jangan jadi gadis nakal terus, ya!" gurau Gio saat mendapati Zia diam membisu sedari tadi.


Zia tersenyum paksa sambil mengangguk. "Permisi, Pak."


Dimas memberikan celah untuk Zia keluar dulu baru di susul oleh nya di belakang. Zia mendengus kesal. Ada-ada aja tingkah laku pria di belakang nya ini. Tujuan nya saat ini apa sampai-sampai harus menjemput nya ke kampus dan mengatas nama kan dosen untuk mamanggilnya. Benar-benar sudah gila!


Zia terkejut saat merasakan tangannya di genggam dari samping. Zia menghentikan langkahnya dan langsung menghempaskan tangan yang dengan lancang menggenggamnya.


"Hei.. Kenapa?"


Zia menatap pria itu nyalang. "Maksud lo apaan? Dateng kesini terus mengatas namakan dosen buat manggil gue?"  Zia menyilangkan tangannya di depan dada.


Pria itu tersenyum. "Habis nya kamu aku telponin gak di angkat. Padahal aku mau bilang aku udah di depan kampus kamu. Jadi yaudah aku masuk aja."


Zia menghentakkan kakinya beberapa kali.


" Dasar. Yaudah sana pulang, ngapain juga di sini."  Zia mendorong-dorong tubuh tegap pria itu.


"Sama kamu, yuk!"


"Aku masih bimbingan."


"Bohong. Tadi aku tanya dosen kamu katanya udah selesai kok."


Zia menatap tak percaya. "Aku mau jalan sama temen aku."


"Siapa? Rumi? Rumi lagi ngedate sama pacarnya. Reno sama Daniel juga ada pertandingan futsal hari ini. And the last, Fisya. Kamu lupa dia dimana sekarang? Hm?" Dimas tersenyum sambil menaik turunkan alisnya.


Zia menggelengkan kepalanya. Tidak habis pikir kenapa pria ini bisa tau jadwal teman-temannya hari ini.


"Temen aku yang lain. Dikira temen ku cuma mereka doang.. "


"Bukannya kamu cuma dekat dengan mereka, Nona?"  Melihat Zia melebarkan mata Dimas langsung tergelak tak tertahan.


"Baik lah gadis nakal. Jam makan siang sudah hampir habis sepertinya. Ikut aku, dan jangan mencari alasan apa pun lagi untuk menolak. Karna kamu tidak terlalu pintar untuk membohongi orang tampan ini." Dimas menjawil hidung minimalis Zia sembari terkekeh.

__ADS_1


"Pergilah. Nanti aku nyusul. Aku bawa mobil  sendiri tadi."


"No! Mobil kamu titipin disini aja. Kamu pergi bareng aku." ucap Dimas final dan langsung menggandeng tangan Zia. Zia terkesiap namun enggan untuk menepis tangan itu. Terlalu pusing untuk melawan seorang Dimas.


*Flash back off*


***


"Zi, nyaman banget ya di mobil aku?"


Dimas sudah mengubah posisi duduk nya menjadi condong menghadap Zia saat ini. Tangan sebelah kiri nya berada di sisi jok mobil yang di duduki Zia. Sedangkan sebelah nya lagi masih memegang kemudi.


Zia menoleh lantas menautkan alisnya bingung. "Maksudnya?"  tanya Zia bodoh.


"Betah banget sampai gak mau turun. Mau sampai kapan di sini? Aku udah lapar, Zi." tutur Dimas memasang wajah memelasnya.


Zia melotot lalu mengedarkan pandangan nya ke luar. "Kita udah sampai?"  Dimas hanya mengangguk. "Sejak kapan?"


Dimas melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan kiri nya. "Hm..  Sejak 15 menit yang lalu."


"Seriously?"


Lagi-lagi Dimas mengangguk.


"Kenapa gak bilang?"


"Udah. Tapi kamu aja gak dengerin aku."


Ting!


Satu pesan masuk di aplikasi bersimbol telepon yang berwarna hijau putih. Zia segera membuka, takut-takut itu pesan penting. Namun tidak! Itu pesan si pria yang beberapa detik lalu masih ada di samping nya.


Dimas:


Kunci nya gak aku bawa, kali aja kamu gak mau turun jadi kamu bisa nyalain ac nya.


Zia mendengus. Lihatlah bahkan pria itu sudah tidak keliatan lagi walau hanya punggung nya. Benar-benar!


Ting


Dimas:


Kalau mau masuk, jangan lupa kunci mobil nya. Aku gak mau mobil ku hilang cuma karna kamu. Cicilan nya belum lunas, kalau kamu mau tau;)


"Dih. Pake segala curhat. Dasar!"


***


Pandangan Zia langsung tertuju pada 3 orang yang sedang tertawa heboh di sudut restoran tersebut. Ntah apa. Zia tidak ingin membuat kepala nya sakit hanya karna memikirkan sebab dan penyebab mereka tertawa sampai seheboh itu.

__ADS_1


Zia memutar bola mata malas. Namun ia tetap berjalan menuju meja yang akan membawa nya pergi dari rasa lapar yang begitu mencuat.


Zia menarik kursi dan langsung menduduki kursi yang kosong.


"Zi, gue kira lo gak bakal dateng. Mengingat apa yang lo bilang tadi malem ke gue. " Zia hanya membalas kata-kata Fisya dengan dengusan.


Sedang kan Fisya terus senggol-senggolan dengan Arga sembari terkekeh.


" Makan dek. Gue tau kalo kena bully itu bikin kita jadi lapar. " Arga mendekatkan sepiring spaghetti carbonara ke harapan Zia.


Zia mendengus, namun tetap memakan apa yang di kasih kakaknya.


"Pelan-pelan."


Zia melirik orang yang barusan mengeluarkan suara.


"Sya, nanti temenin gue, yuk!"


"Kemana?"


"Ke toko buku. Gue mau cari referensi."


"Ogah ah, capek."


"Dih belagu deh,"


Fisya hanya cengengesan menanggapi ucapan Zia.


"Yaudah, biar aku aja yang nemenin. "


" Eh, lo masih punya tanggung jawab di kantor, jangan pura-pura **** deh." Arga mendengus. Temannya ini selalu mendahului Zia dari pada pekerjannya.


"Kan gak terlalu penting juga," jawabnya tak bersalah. "Lagian juga gue mau anterin adek lo ini." tambahnya.


"Gue numpang sampe kampus aja. Mau ambil mobil."


"Kenapa lo tinggal di kampus?"


"Tanya temen lo noh."


Dimas tersenyum. "Ya kan mau pergi ke tempat yang sama. Ngapain naik mobil terpisah ya?"  ucapnya sambil terkekeh kecil.


"Lo maksa adek gue pasti," Arga mendelik.


"Tau aja lo." Dimas lagi-lagi tertawa.


Fisya tertawa melihat Dimas. Sedangkan Arga dan Zia sama-sama memutar bola mata malas.


Tbc!

__ADS_1


Haii, long time no see Wkwk


Selamat membaca, jangan lupa tinggalin jejak yaa;)


__ADS_2