Kamu, Atau Dia

Kamu, Atau Dia
Episode 11


__ADS_3

"Lo siapa?"


Zia mendengus. Lelucon garing yang udah menjadi kebiasaan bagi Daniel saat sedang jengah. Pura-pura amnesia guna mengakhiri perdebatan.


"Bodo!" sahut Zia malas.


Mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing. Zia sibuk berkutat pada laptopnya. Sedangkan Daniel berkutat pada ponselnya.


"Woi!" geprakan meja membuat mereka sedikit terkejut. Zia menatap horor sang pelaku. Tapi tak membuat yang di maksud takut. Dengan santainya ia duduk di sebelah Daniel, dan artinya tepat di depan Zia.


"Ngga punya hoby lain yaa Ren selain ngagetin orang?" Daniel menatap Reno tak suka.


"Tau ah. Lo tau Rumi dimana?" Reno menautkan jemari di atas meja. Menatap Daniel intens. Yang di tanya hanya menggeleng mantap. Kini fokus Reno beralih pada Zia.


"Kalo lo, Zi? Tau?"


Merasa namanya di sebut, Zia mengangkat kepala. Mendapati Reno yang sedang menatap nya tanpa ekspresi.


"Lo ga liat tampang bloon gue. Udah pasti gak tau lah." jawab Zia sekenanya.


Reno menghela nafas. Lalu bersandar pada punggung kursi. "Gue tau."


"Lah kalo lo tau, kenapa masih nanya?" geram Daniel.


"Tadi itu gue liat Rumi jalan sama pacarnya. Dan sumpah baru kali ini gue liat dengan jelas. Dan lo tau, ternyata.. " Reno menggantung kalimatnya saat ia menyadari sesuatu.


" Kok ngga lanjut?"


Mall Reno diam. Masih di posisi yang sama.


"Kesambet yaa lo?"


"Kenapa? Mau di lanjutin, terus lo video'in terus lo sebar? Iya? Enak aja lo," tutur Reno tak terima.


"Pede banget lo. Orang gue lagi chatingan juga," jawab Daniel terdengar tak suka.


"Lo mau cerita atau cuma mau numpang mampang? Gue lagi gak mood ngeladenin orang yang gak jelas kaya lo, Ren!" Zia menatap Reno dingin.


Pletaak..


Satu jentikan mendarat mulus di jidat Zia, membuat sang empunya meringis memegangi jidatnya.


"Serem banget liat lo, Zi. Sumpah gak bohong."


"Bodo amat deh ah. Lo mau ngelanjutin gak ni?" tanya Zia tak santai.


Reno mengubah posisi duduk seolah sedang mencari posisi ternyaman.


"Jangan potong sebelum gue selesai bicara." sontak Zia dan Daniel mengangguk tanda mengerti.

__ADS_1


Reno berdeham. "Tadi gue liat Rumi di depan toko perhiasan, gue gak tau dia ngapain. Nah pas gue mau nyamperin, ternyata ada cowok di belakangnya yang langsung ngerangkul pinggang Rumi. Pinggang boy, pinggang." Ucap Reno penuh penekanan di kata pinggang.


Zia memiringkan kepalanya, menatap Reno curiga. "Wait! lo gak lagi cemburu kan, Ren?"


"Nah," sambung Daniel sambil bersandar di punggung kursi. "Atau lo emang lagi cemburu?" lanjutnya yakin.


Lagi-lagi Reno berdeham guna menetralkan situasi. "Yakali. Cemburu bukan sifat gue." Reno menjeda sesaat. "Anehnya, waktu gue nyamperin Rumi, cowoknya keliatan kaget dan langsung mau pergi. Ya, gue gak tau kenapa. Cuma menurut lo aneh gak sih?"


"Maksud gue, kenapa mesti kaget terus mau pergi? Kita juga perlu kenalan bukan? Kita butuh tau, cowok seperti apa yang sedang dekat dengan sahabat kita. Ya gak sih? " sambung nya.


Kini Reno menatap Zia dan Daniel bergantian. Ekspresi tidak jauh beda yang di tampilkan keduanya. Reno menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal.


"Kok pada diem? Gak ada kasih pendapat apa gitu?" tanya nya kemudian.


"Gak jelas."


"Unfaedah."


Reno menghela napas berat.


"Terus masalahnya dimana? Gue sih santai." Daniel menegakkan tubuhnya. "Berpikir positif aja. Mungkin pacarnya Rumi itu mau kenalan sama kita, tapi gak sekarang."


"Zia juga belum ngenalin pacarnya ke kita, kalau lo lupa." sambung Daniel sambil mengecek ponselnya yang sempat bergetar.


"Kok jadi gue sih?" Zia menatap Daniel horor. Sedangkan yang di tatap seolah tak peka, malah menyungging kan senyum khas nya.


"Emang ada yang salah sama ucapan gue?"


"Sesibuk itu? Sampai gak pernah nepatin janji ke lo? " lagi lagi Daniel tersenyum penuh arti. Membuat Zia mau tak mau menatapnya tak suka.


" Lo gak tau apa-apa soal cowok gue. Udah deh gak usah sok tau," Zia menutup laptopnya kasar. Zia menatap Daniel dengan kemurkaan, sedangkan Daniel hanya tersenyum sambil menaik-turunkan alisnya.


"Kok jadi ribut sih lo pada?" Reno mengusap wajahnya kasar. Ada gurat ketidak sukaan di wajahnya saat pertama kali membahas kekasih sahabatnya itu. Ya, kekasih Rumi.


Zia dan Daniel saling pandang. Seolah sedang berdiskusi melalui tatap mata. Mereka bingung dengan Reno saat ini. Yang biasanya cuek, kenapa segitu perduli?


Daniel berdeham. Lalu menatap raut Wajah Reno lekat. Bukan, dia bukan seorang pria penyuka sesama jenis. Hanya saja, mencoba untuk mencari kebenaran yang mungkin tidak di sadari oleh mereka.


Reno menyandarkan kepalanya di punggung kursi. Memejam kan matanya. Ini aneh. Kenapa menjadi seperti ini? Kenapa semua tidak masuk akal?


"Ren,"


Merasa namanya di sebut. Reno membuka mata lalu menegakkan kepalanya. Di lihatnya Daniel dan Zia sedang menatap ke arahnya, dengan tatapan bingung tidak tertinggal.


Reno tersenyum, "kenapa sih liatin gue gitu? Baru sadar kalau gue ganteng?" Ucapan nya langsung di hadiahi dua jitakan manis dari orang berbeda.


"Gue curiga deh sama lo, Ren." Zia melipat tangannya di atas meja. Pandangan nya tak lepas dari Reno. "Kok gue ngerasa lo lagi cemburu ya? Secara, lo tau gue punya pacar dan sama sekali belum gue kenalin ke lo dan anak-anak yang lainnya. Cuma Fisya, itu pun karna gak sengaja."


Zia mendekat kan diri ke Reno yang otomatis di ikutin Reno. "Tapi lo gak sekesal saat Rumi yang gak ngenalin cowok nya ke kita. Kita sama-sama tau, gue pacaran itu lebih lama dari pada Rumi pacaran. Jadi, alasan apa yang mau lo pakai buat ngeyakinin gue, kalau lo gak lagi cemburu? Hm?"

__ADS_1


Reno membuka mulut hendak menjawab, namun urung karna geprakan meja mengagetkan mereka yang otomatis membuat mereka menjauhkan diri masing-masing.


Zia menatap horor ke sang pelaku. Siapa lagi jika bukan Daniel. "Zia bener, gue yakin banget sekarang kalau lo," Daniel menunjuk Reno drama. "jealous !"


Reno menghela nafas. "Kalian bego banget sih. Udah di bilangin gue gak jealous juga. Cuma gue--" ucapan Reno terhenti saat salah satu ponsel di atas meja itu bergetar. "Ponsel lo, Zi. Gak usah sok sibuk deh pakai segala gak angkat telpon."


Zia melirik ponselnya lalu menghela napas. "Emang sibuk kok."


" Ghibah." kata Daniel tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel.


"Yee.. Tetep aja sibuk kan? " jawab Zia kesal.


"Siapa sih?"


"Dimas."


"Oh. Yang kata Fisya ganteng itu kan?" Reno terkekeh. "Kenapa ga di angkat?" sambung nya. Sedangkan Zia hanya memasang wajah pura-pura gak dengar.


Daniel tertarik untuk nimbrung. "Jangan bilang lo masih kesel karna dia ngatain lo gak seksi ya?" tanya Daniel menyelidik.


Zia mengangguk yang langsung membuat Daniel dan Reno tertawa keras. Mereka lupa saat ini sedang berasa di mana. Lihat saja, pandangan semua orang terang-terangan mengarah pada mereka.


"Zi, di suruh pak Gio ke ruangan nya tuh." ujar Adi sesekali membenahi kaca matanya. Bukan minus, kaca mata tanpa kaca yang sedang ia kenalan saat ini.


Zia menoleh lalu tersenyum."Thank's, Di."


Adi pun ikut tersenyum lalu berlalu pergi.


Zia memasukan laptopnya ke dalam tas. Tanpa memperdulikan Daniel dan Reno yang masih tertawa sesekali berbincang ntah apa, Zia tidak ingin mendengarnya.


"Eh, mau kemana lo?"


"Ke ruangan dosen ganteng."


"Lo belum bimbingan?" Zia hanya mengangguk. "Gue kira udah." lanjut Daniel.


"Emang."


"Apaan sih, Zi. Lo udah bimbingan atau belum?"


"Udah."


"Terus mau ngapain lagi lo kesana? Gak niat malem-macem kan lo?" tanya Reno curiga.


Zia hanya mengedikan bahu lalu berjalan meninggalkan mereka. Melihat itu Daniel angkat bicara. "Mau di jadiin buntut cadangan kali."


Seketika langkah Zia terhenti. Ia memutar tubuh mungilnya dan langsung menatap Daniel seolah Daniel adalah makanan enak.


" Aamiin." sehabis mengucapkan itu, Zia langsung melanjutkan langkah nya yang sempat terhenti. Disana Zia masih bisa mendengar cacian yang keluar dari bibir sexi temannya itu. Tanpa pusing, Zia hanya menanggapi dengan kekehan kecil.

__ADS_1


Tbc! ❤️


__ADS_2