
Zia memasuki kawasan NG Corp. Hari ini sudah menjadi hari ketiganya bergabung di perusahaan Dimas. Entah milik ayahnya atau miliknya sendiri, Zia tidak tau dan merasa tidak perlu tau. Yang dia ketahui adalah Dimas menjadi CEO di perusahaan yang memiliki dua puluh lantai ini.
Menjadi salah satu staf di perusahaan yang terbilang besar ini tidak begitu buruk menurut Zia. Hanya saja, jabatannya tidak sesuai dengan apa yang di tawarkan Arga sebelumnya. Memang, Dimas minta untuk Zia memilih jabatan apa saja waktu itu, kecuali jadi sekretarisnya. Hanya saja Zia merasa berada di jabatan yang tidak tinggi begitu menjanjikan sebuah ketenangan. Alhasil Zia memilih untuk memulai semuanya dari bawah. Anggap saja satu hal yang perlu di pelajari sebelum terjun di perusahaan papanya.
“Woi, diem-diem bae. Ngopi sana ngopi,” ujar Audi tidak lupa dengan keceriaannya.
Audi adalah salah satu teman Zia yang berada di satu divisi. Audi yang terkenal dengan cerewetnya itu berhasil merekrut Zia menjadi temannya bahkan di hari pertama mereka bertemu.
“Laporan yang di minta si bos udah kelar, Zi?” tanya Audi sambil menyalakan komputernya.
“Udah. Eh btw lo baru dateng juga?”
Audi mengangguk. “Anterin sana laporan lo, keburu dia koar-koar,”
“Bodo ah, entaran aja. Sesekali bos dong yang nunggu, jangan nyuruh karyawan on time aja bisanya.” jawab Zia santai.
Audi menatap Zia sambil tersenyum, “Lo nantangin bos?”
Zia menggeleng lalu memutar kursinya menghadap Audi sepenuhnya. “Nantangin apaan?”
“Maksud gue, karna lo baru tiga hari makanya bisa sesantai itu. Fyi! Bos paling nggak suka nunggu, apalagi di sengaja kaya lo.” ujar Audi lagi sambil cengengesan.
“Bo--”
“Zia, di tunggu bapak di ruangannya.” seru Anton, sekretaris Dimas.
“Iya, Pak.”
Audi senyum lalu menyodorkan kopi yang di bawanya dari pantri. “Ngopi dulu, biar fresh.” Zia menatap Audi yang masih setia memasang senyum penuh arti itu. “Kenapa, takut?” lanjut Audi sambil tertawa.
“Siapa bilang? Gue bakal tunjukin ke lo kalo gue ga takut sama sekali sama si bos.” jawab Zia yang langsung berdiri dan berjalan menuju ruangan Dimas.
“Hm, Okey. I will see.” Audi menaik turunkan alisnya yang membuat Zia melengos pergi.
Zia berjalan dengan santai menuju ruangan Dimas. Tangannya setia menggenggam laporan keuangan yang di minta Dimas kemarin.
“Langsung masuk aja, Zi. Udah di tunggu bapak di dalam.” seru Anton yang di tanggapin anggukan oleh Zia.
Zia membuka pintu ruangan Dimas yang sudah di ketuk sebelumnya. Matanya langsung menangkap keberadaan pria yang sedang menatap laptop di depannya dengan serius.
__ADS_1
“Permisi, Pak. Mau antar laporan yang bapak minta,” ucap Zia sopan.
“Silahkan duduk dulu. Masih ada kerjaan yang harus saya selesaikan.” jawab Dimas tanpa menoleh sedikit pun.
Hasil dari perdebatan yang cukup alot yang berhasil di menangkan oleh Zia, mereka harus bersikap formal layaknya bos dan karyawan saat di kantor. Karna Zia tidak ingin teman kantornya tau bahwa dia masuk di sini karna orang dalam. Ya walaupun jabatannya tidak terlalu tinggi.
Suara gesekan kertas menyadarkan Zia sepenuhnya. Lagi-lagi pria itu tampak fokus dengan lembaran laporan yang ia buat. Zia membuang pandangan ke sembarang tempat saat tertangkap basah oleh Dimas karna telah menatapnya seintens itu.
“Bagaimana, ada kesulitan di divisi ini?” tanya Dimas sambil bersandar pada punggung kursi.
Zia menggeleng. “Sejauh ini tidak ada, Pak.”
“Untuk tawaran saya masih berlaku sampai sekarang, Zia. Kalau-kalau kamu mau pindah divisi masih bisa,”
Zia terbelalak lalu menghela napas sesudahnya. Bahkan kalimat seperti ini sudah ia dengar puluhan kali dalam tiga hari ini. Bukannya dia sudah memilih ini, lalu mengapa Dimas seolah tidak ingin Zia berada di divisi ini.
“Saya akan tetap di posisi saya yang sekarang, Pak.”
“Beri saya alasan,” pinta Dimas.
“Saya nyaman berada di tempat yang sekarang, Pak. Dan bukannya bapak sendiri yang minta saya memilih tempo hari? Dan saya memilih ini, itu artinya saya suka.” jawab Zia berusaha untuk tetap santai. Karna ini masih terlalu pagi untuk mengumpat ataupun merutuki bosnya ini.
“Bekerja bukan cuma karna kamu suka, Zia. Kamu juga harus memiliki pengalaman di bidang itu. Dan lagi, kerjaan yang kamu pilih menuntut untuk sebuah kesempurnaan. Tidak jarang mereka lembur hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya yang sama seperti kamu.”
“Ada alasan lain selain kata suka?” tanya Dimas lagi.
“Maksudnya Pak?”
“Saya bos di sini, Zia, kalau kamu lupa. Saya bisa aja mindahin kamu ke divisi lain sekarang juga. Karna untuk bos, kata suka dalam pekerjaan bukan satu alasan yang layak untuk di pertahankan. So, ada alasan yang lebih baik?”
Zia menatap bosnya dengan nyalang. Nggak peduli dengan status Dimas bos dan dia hanya karyawan, masih baru pula. Yang ada dalam bayangannya hanya satu, bagaimana caranya ngasih pelajaran pria di depannya ini.
Zia berdeham sebelum mengatakan, “jadi ini defenisi di kasih pilihan tapi tidak boleh memilih?”
Dimas tersenyum samar bahkan nyaris tidak terlihat. Mengubah posisi duduknya lalu kembali membuka laporan yang di beri Zia tadi. “Udah nggak usah di tekan gitu mukanya, saya cuma ngetes kamu aja tadi.”
Zia melongo. Apa katanya, cuma ngetes? Ngetes pendirian? Dasar pria, bisa-bisanya dia buat anak gadis orang emosi lalu dengan gampangnya bilang cuma ngetes? What the hell?
“Ini ada beberapa yang perlu kamu perbaiki,”
__ADS_1
“Waw.. Udah kaya bimbingan skripsi,” cetus Zia.
“Kamu tau, kamu satu-satunya karyawan saya yang berani menyela perkataan saya dan tidak saya marahin.” Dimas bersedekap lalu bersandar di punggung kursi. “Kamu istimewa deh pokoknya.” lanjutnya.
“Mau ngegombal, Pak? Nggak cocok sumpah,”
“Makanya saya nggak mau jadiin kamu sekretaris saya. Takut khilaf. Oke Zi, kamu sudah boleh keluar dan kembali bekerja.”
Zia menatap heran Dimas. Dimas yang tadi terlalu banyak senyum, terus tiba-tiba serius. Seperti sekarang dia telah serius berkutat pada laptopnya. Seakan tidak menghiraukan orang lain.
“Masih ada yang mau di bicarakan?” tanya Dimas tanpa menoleh sedikit pun.
“Tidak, Pak. Permisi.”
***
“Zi, nggak pa-pa ni gue ikut gabung sama sahabat lo?” tanya Audi di sela-sela kegiatannya memainkan Handphone nya.
Audi dan Zia sedang berada di tempat makan yang tidak jauh dari tempat mereka bekerja. Saat ini jam makan siang, dan sesuai janji Fisya dan Daniel akan menyusul untuk lunch bareng.
“Nyantai, Di. Lagian sahabat gue pada friendly kok.”
“Nggak enak gue,”
Zia meletakkan handphonenya di atas meja, lalu menatap Audi yang sedang memainkan sedotan minumannya. Tumben sekali anak ini tidak percaya diri.
“Kalau nanti sahabat gue nggak mau ada lo, ya lo tinggal pulang kan?” ujar Zia yang langsung di lempar tisu bekas oleh Audi. “Gue bercanda, sahabat gue pasti nggak pa-pa lah kalau cuma ada lo doang mah,” lanjut Zia lagi sambil cengengesan yang membuat Audi mendengus kesal.
"Hei, udah lama?” sapa Fisya sembari duduk di sebelah Audi yang di ikuti oleh Daniel yang juga duduk di sebelah Zia.
“Belum. Baru sekitar dua jam-anlah.” ujar Zia yang membuat Fisya terkekeh. “Ini temen kerja gue, Audi. Di, ini Fisya dan ini Daniel. Sahabat kita yang belum terbukti kejantanannya.” jelas Zia sambil terkekeh.
Menit demi menit terlewati dengan sangat baik. Yang tadinya Audi merasa tidak enak, malah sekarang terlihat terlalu nyaman. Segala macam candaan terlontar di antara mereka. Bahkan tentang Dimas yang notabene sahabat kakaknya Zia juga di ceritakan pada Audi.
“Pokoknya Di, lo bakal jadi sahabat kita, tapi sorry lo nggak bisa gantiin posisi Rumi,” ucap Fisya pada Audi. Terlihat serius namun santai.
“Eh santai, Sya. Nggak masalah buat gue,” seru Audi. “Lagian gue nggak suka ngerebut apa yang memang bukan tempat gue,” lanjutnya.
“Eh btw, Zi, kemarin gue ketemu Adit, katanya tunangannya di batalkan. Karna dia masih sayang sama lo,” kelakar Daniel.
__ADS_1
Zia membeku seketika. Entah perasaan apa ini. Dia tidak merasa senang atau bahkan sedih. Padahal pertunangan itu juga menyangkut Rumi, sahabatnya.
Tbc😍