
Jarum jam sudah berada tepat di antara angka 7 dan 8. Yang seharusnya wanita di balik selimut tebal itu sudah bangun dan bergegas pergi ke kampus.
Namun kenyataan tak seperti itu. Sang empunya kamar malah semakin meringkuk di balik selimut, yang seakan sedang mencari titik kenyamanan.
"Zi, kamu kok belum bangun? Katanya ada bimbingan." sang mama menggoyang badan mungil Zia. Berusaha menyadarkan anaknya dari alam mimpi.
Zia semakin meringkuk. "Ya ampun Zi. Liat jam deh. Ayo bangun." Irene beralih pada jendela besar yang berada di kamar itu. Menyibak tirai sehingga cahaya sang mentari mampu mengusik Zia.
Zia membuka mata. "Ma, perut Zia sakit banget," ujar Zia yang masih meringkuk di balik selimut tebalnya.
Irene mendekati anaknya. Duduk di pinggir kasur tepat di samping Zia. "Kamu dateng bulan?" Zia menggeleng.
"Salah makan?" tanya Irene lagi. Namun Zia kembali menggeleng.
"Emang kamu makan apa aja kemarin?"
"Ga ada makan apa-apa, Ma." jelas Zia.
Irene menggeleng tak mengerti. "Ga makan apa-apa? Maksudnya ga ada makan?" Zia mengangguk membuat Irene menaikkan satu alisnya.
"Kata Arga, kemarin kamu pergi makan bareng temen kamu. Tapi kok malah ga ada makan sih?" Irene semakin bingung.
Zia berangsur untuk duduk. "Iya Zia emang pergi, Ma. Tapi Zia ga pesen makan. Cuma minum lemon tea doang," ujar Zia santai.
Irene menjentik jidat Zia yang membuat sang empunya meringis kesakitan. "Pinter banget ya, Zi. Ga ada makan malah minum yang asem. Anak siapa sih?"
"Anak ibu yang ada di perempatan jalan noh." celetuk Zia yang di hadiahi sebuah jentikan lagi dari sang mama.
"Jahat banget sih, Ma? Sakit tau ini." rajuk Zia yang mengelus kasian jidatnya yang teraniaya itu.
"Lagian kamu kalo ngomong seenaknya aja," kata Irene. "Yaudah minum obat sana. Katanya ada bimbingan hari ini." lanjut Irene yang berjalan menuju pintu kamar.
Zia kembali berbaring. "Ntar aja deh, Ma. Aku izin sama dosbing aja ntar."
Irene membalik tubuhnya dan menatap curiga sang buah hati." Kamu ga lagi pura-pura kan, Zi?"
"Ya ampun, mama ga percaya sama anak sendiri?" tanya Zia tak abis pikir. "Lagian ngapain juga Zia pura-pura sakit. Ntar sakit beneran yang ada." sambungnya.
"Kali aja kamu males bimbingan." celetuk Irene sebelum akhirnya memilih keluar dari kamar anaknya itu.
Zia mendengus. Sungguh, kali ini dia tidak pura-pura sakit. Perutnya sakit melilit. Yang sepertinya magh nya sedang kambuh saat ini.
"Zi, minum obat jangan lupa!" teriak Irene yang ntah dari mana. Zia menggeleng. Mamanya sungguh bukan seperti mama di sinetron-sinetron. Yang jika anaknya sedang sakit, di sayang-sayang, di elus-elus, di tanyain pengen apa. Lah mamanya? Malah mengira anaknya sedang pura-pura, bahkan mengingatkan minum obat aja pakai teriak-teriak seperti tadi.
Zia mengambil ponselnya di atas nakas. Membuka aplikasi chat bergambar telepon berwarna hijau. Mengetik sebuah nama lalu mengirimkan pesan singkat.
To : Dosbing Ganteng
Selamat siang, Pak.
Saya Fauzia Sukma anak management bisnis bimbingan bapak. Sebelumnya mohon maaf, Pak. Hari ini saya tidak bisa ikut bimbingan sama bapak. Di karna kan saya lagi tidak enak badan. Jadi kira-kira kapan saya bisa bimbingan susulan, Pak?
Send
__ADS_1
Setelah mengirim pesan untuk bapak dosen ganteng. Zia kembali menaruh ponselnya di atas nakas. Menarik selimut dan kembali meringkuk untuk menikmati sakit di perutnya yang tak kunjung berkurang.
***
Saat tak lagi merasakan sakit di perutnya, Zia membuka mata. Mencoba mengumpulkan seluruh kesadarannya. Melirik jam yang berdiri cantik di sisi kiri nakas yang berada di samping kasurnya. Mata Zia terbelalak lebar. Kini pukul 10 lebih 15 menit. Ternyata sudah lama Zia menjajahi dunia mimpi.
Zia beralih untuk duduk, merenggangkan otot khas orang bangun tidur. Zia menurunkan kakinya terlebih dahulu berniat untuk membersihkan diri di kamar mandi yang juga tersedia di kamarnya ini.
Ponsel Zia bergetar singkat. Menandakan ada pesan masuk. Zia mengambil ponselnya lalu agak terkejut melihat notif yang muncul.
50 missed voice call
105 message from 10 chats
Zia mengklik Aplikasi WhatsApp itu. Ada panggilan dari teman-teman kampus nya. Ada pesan dari group nya bersama sahabat tergilanya, ada pesan dari teman kampusnya yang menanyakan kenapa dia tak hadir, dan ada balasan dari 'Dosbing Ganteng'
From: Dosbing Ganteng
Besok kamu bisa temui saya di perpustakaan. Tapi jangan di paksa kalau masih belum sehat. Semoga cepat sembuh, Fauzia.
Zia tersenyum gila. Andai aja dosennya ini belum menikah, mungkin ia sudah tercantum di list pria yang akan di dekati olehnya.
Namun sayang, dosen nya ini sudah harus masuk di list pria yang tak mungkin di dekati oleh Zia. Sebab, Zia bukan type cewek yang suka makan cowok yang sudah berbuntut.
Ponsel Zia berdering panjang. Menampilkan id caller, Reno. Zia segera mengangkat panggilan dari sahabatnya itu.
"Halo"
Zia nge-loudspeaker ponsel. Dan menaruh di pinggiran nakas, supaya Zia bisa sekalian membereskan kasur yang sedikit tak rapi itu.
Zia mendengus mendengar runtutan pertanyaan dari Reno. "Di rumah. Gue izin," jawabnya.
"Izin? Karna masih galau?" tuduh Reno di sebrang sana.
Zia terkejut dengan tuduhan Reno si cowok gesrek itu. "Galau pala lo di pluto!"
Terdengar suara tawa ramai di sebrang sana. Kebiasaan mereka adalah, me-loudspeaker panggilan dari siapa pun jika sedang bersama.
"Terus?" tanya seorang wanita. Dari suaranya seperti suara Rumi.
"Magh gue kambuh deh kayaknya." jelas Zia kembali.
"Kok bisa?" tanya Fisya. Dia emang yang selalu lebih khawatir terhadap Zia.
"Gatau," Zia menggeleng. Seakan mereka dapat melihat gelengan kepala Zia itu.
"Kita kesana ya," ujar Reno dan sambungan langsung terputus. Reno memutuskan panggilan bahkan sebelum Zia menjawab.
"Dasar orang gila. Emang gue udah ngizinin lo dateng, ha? PD banget lo," omel Zia pada profil picture WhatsApp milik Reno itu.
***
Hampir satu jam setelah sambungan terputus, mereka sudah sampai disini, di rumah Zia. Hari ini mereka lengkap tanpa kurang satu orang pun. Rumi yang biasanya suka hilang pun kini turut hadir. Kalau ngerevisi skripsi itu enaknya bareng-bareng, katanya. Jadi kalo makan-makan atau jalan-jalan ga enak bareng-bareng apa? Menyebalkan dasar punuk unta!
__ADS_1
"Jadi siapa sih cowok yang lo bahas kemaren, Sya?" tanya Rumi yang masih fokus ke laptopnya.
Fisya menatap Rumi sekilas. "Lo tau? Gue kira lo ga update tentang kita!"
Rumi mengangguk. "Gue baca kali semua chat kalian. Tapi ga mungkin gue nimbrung lah, orang gue lagi bareng Zidan. Kan ga enak!"
"Zidan siapa?" tanya Fisya yang kini mengarahkan pandangannya penuh ke arah Rumi.
"Pacar gue lah,"
Fisya hanya ber-oh sambil kembali ke posisi awalnya. Berkutat pada laptop sama seperti Rumi, Daniel dan juga Reno.
"Gue kira pacar lo sama pacarnya Zia itu satu orang tau, Rum!" ucapan Fisya sukses membuat semua orang, termasuk Zia yang sedari tadi berkutat pada ponselnya.
Merasa jadi pusat perhatian. Fisya mengalihkan fokus nya dari laptop. "Ya abis sifatnya hampir samaan gitu. Sama-sama ga mau kenal orang terdekat kalian kan?" ujar Fisya santai.
"Tapi kayaknya ngga deh, namanya juga udah beda." sambungnya dan kembali fokus ke laptopnya.
"Nah makanya kalo punya pacar itu di kenalin ke kita!" sungut Daniel santai.
Daniel itu emang yang paling santai dari pada yang lain. Apalagi Reno, dia itu paling ga bisa santai. Kalo marah, berasa semua orang mau di masukin ke dalam perutnya.
"Lebih baik juga lo jomblo kayak kita, Rum. Soalnya lo selama pacaran suka ga ada waktu buat kita," Reno buka suara.
"Lo pada ga dukung banget gue pacaran, heran!" jelas Rumi tak terima.
Ting Nong..
Bel berbunyi, Zia melihat ke arah teman-temannya. Tapi semuanya bersikap seolah-olah ga denger apa-apa.
"Lo pada ga ada niatan buat bukain pintu nih?" tanya Zia berharap mereka tau jika Zia lagi mager, alias malas gerak.
"Lah ini rumah siapa?" jawab mereka barengan. Zia mendengus lalu akhirnya berjalan ke arah pintu.
"Kak Dimas," Dimas menatap Zia dari ujung rambut sampai ujung kaki.
"Arganya ada?" tanyanya datar.
Zia melihat ke dalam rumah. "Ada di kamarnya. Masuk aja!" Zia memberi celah untuk Dimas masuk ke dalam.
Dimas melewati Zia begitu saja. Namun setelah beberapa langkah di belakang Zia, Dimas berbalik menghadap Zia yang sudah menutup pintu kembali.
"Kamu ga usah sok seksi. Kamu sama sekali ga pantes pake pakaian seperti itu. Kaki datar kamu itu sama sekali ga pantes untuk di pamerin! Ga malu emang sama yang lebih seksi?"
Tbc!
Happy reading sayang sayangku🤗
__ADS_1