
Zia membuka mata perlahan. Yang pertama kali menyapa lembut penglihatannya adalah seorang pria kokoh yang sedari tadi memanggil namanya.
"Kak Dimas.. "
" Kamu ga papa kan? Ada yang sakit? Apa motor tadi sempat menyerempet tubuh kamu?" Dimas panik. Terlihat jelas dari air mukanya.
Zia melihat sekelilingnya. Dan melihat seluruh anggota tubuhnya secara bergantian. "Gue masih hidup?" hanya itu yang keluar dari bibirnya.
Dimas berdecak. "Udah meninggal."
Zia melotot dan menatap Dimas. " Apakah ini di surga?"
Dimas mengacak rambutnya kasar. "Zia, kamu masih hidup. Tadi kamu hampir tertabrak motor, untung aku liat dan aku coba untuk nyelamatin kamu. Paham?"
"Jadi?"
"Jadi apaan lagi, ya Allah." Dimas berdiri dan menatap Zia yang masih terduduk lemas di pinggir jalan. "Sekarang kamu berdiri, ayo aku antar pulang."
Zia berdiri dan membersihkan lengannya yang berpasir. "Untung ga meninggal. Kan gue belum nikah." gumamnya.
"Ya sudah abis ini kita nikah," jawab Dimas santai.
"Apaan sih. Denger aja kalau soal nikah-nikah." Dimas hanya menanggapi dengan kekehan singkat.
Malam ini berlalu dengan hal-hal yang sama sekali tidak pernah terpikirkan oleh Zia terjadi. Dari pengakuan Adit, kata-kata menyakitkan Arga dan nyaris tertabrak sepeda motor.
Angin malam berhembus tenang. Dentingan jam menemani setiap hembus napas sang makhluk yang sedang beristirahat. Hingga gelapnya malam berlalu di gantikan dengan fajar. Kicauan burung-burung yang berterbangan di udara kembali menyapa pendengaran.
Dengan tegas sang mentari menunjukkan keberaniannya untuk muncul di pagi hari. Sinarnya menerangi bumi sampai di penghujung kehidupan.
Kringg... Kringg..
Bunyi alarm yang memekakkan telinga mengusik pulasnya tidur Zia. Masih dengan matanya yang terpejam namun tangannya meraba jam beker dan mematikan. Setelah jam beker sudah tidak berbunyi tangannya kembali ke tempat semula dan menarik selimut hingga menutupi seluruh badannya.
Namun keinginan hanya akan menjadi angan setelah ponselnya berdering panjang menandakan ada yang menelepon.
Niat untuk mengabaikan panggilan itu sirna setelah si penelepon tidak henti-hentinya berusaha untuk mengganggu Zia yang sedang bergelut manja dengan sang selimut.
"Hallo." ujar Zia dengan semburat amarah yang masih di tutupi dengan mata tertutup.
"Heh lo dimana? Ga ngampus?"
__ADS_1
Oh ya ampun, mengapa di sepagi ini moodnya sudah di rusak oleh makhluk seperti Fisya?
"Masih ngantuk, Sya. Masih pagi gini." decakan keluar dari mulut Zia.
"Gue saranin, jam di kamar lo di gedein lagi deh ntar, Zi. Kesel gue. Sekarang bangun, mandi, dan buruan ke kampus, sekarang!"
"Kasur gue posesif, Sya. Ga mau di tinggalin."
"Bangun sekarang, Fauzia." teriak Daniel dan Fisya berbarengan.
"Fine!" Zia memutuskan sambungan dengan kesal.
Setelah berperang habis-habisan dengan rasa ngantuk dan malas serta keposesifan yang amat sangat tidak bisa di ajak berdamai. Akhirnya Zia memutuskan untuk meninggalkan semuanya.
Zia terduduk di pinggiran ranjang dan menatap iba ranjangnya. Di jam segini ranjang itu masih terlalu kasian untuk di tinggalkan.
Zia menguap dan bergegas menuju kamar mandi. Setelah melakukan ritual mandi dan mengenakan pakaian yang pantas, keluar dan menuruni anak tangga. Dapat di lihatnya ada Arga dan Dimas yang sedang menyantap makanan di meja makan sambil membicarakan hal penting sepertinya, terlihat dari wajah mereka yang flat persis seperti sepatu.
"Ndok, ga sarapan dulu?" tegur mbok Lasmi saat melihat Zia berjalan menuju pintu tanpa menghampiri meja makan terlebih dulu.
Zia berhenti lalu menggeleng pelan menghadap mbok Lasmi. "Kamu ga selera ya? Baru jam delapan kok, biar mbok masakin yang lain dulu sebentar, ya.." rayunya lagi.
"Engga mbok, ga usah. Nanti Zia sarapan di kampus aja."
"Mau kemana?" Tanyanya ketus.
"Bukan urusan lo." Zia hendak pergi namun tangannya di cekal kuat oleh kakaknya. Rasa sakit hatinya masih terlalu parah untuk di biarkan menganga. Rasanya enggan untuk menatap mata orang yang dengan tidak punya perasaannya mengatakan adiknya sebagai wanita murahan.
"Urusan gue. Kemana pun lo pergi, akan jadi urusan gue." nada bicaranya pelan namun keketusannya jelas terhenyak di dalamnya.
Zia mendengus lalu mencoba untuk melangkahkan kaki lagi. Namun sama, tidak di biarkan pergi oleh Arga.
"Mama sama papa lagi ga di rumah. Tadi pagi mereka nelfon gue minta gue jagain lo. Jadi, gue ga mau kena masalah karna keteledoran lo sendiri." papar Arga dengan air muka yang tidak bisa di tebak.
"Bilang sama papa dan mama, gue ga butuh di jagain sama orang kaya lo!" cetus Zia lalu pergi meninggalkan Arga yang masih menatapnya tanpa ekspresi.
"Lo keterlaluan, bro."
Arga membalikkan badan lalu mengedikkan bahu setelahnya. Bukannya keadaan memaksanya memperlakukan adiknya seperti itu? Lalu mengapa ada perasaan sakit di sisi lain?
***
__ADS_1
Di sebuah ruang gelap tanpa celah cahaya sedikit pun. Seseorang sedang memainkan pisaunya dengan mata berkaca-kaca. Memori kebahagiaan yang dulu di laluinya seakan sengaja di putar kembali.
Tidak terasa tetes demi tetes air mata kian membasahi pipinya. Dia benci keadaan seperti ini. Dia benci menjadi orang seperti ini. Di elus perutnya yang masih rata, senyuman mengganjal tampil di bibirnya.
"Lepasin gue mau ketemu sama bos kalian."
Bruukk..
Pintu di dobrak dari luar. Menampilkan beberapa pria yang memakai seragam khas body guard dan ada seorang pria lainnya yang menatap iba wanita yang sedang duduk di kursi yang menghadapnya.
"Yang lo lakuin ini salah," gumam pria itu.
"Biarkan dia di sini. Kalian pergi lah." ujar wanita itu memerintahkan para penjaganya.
Keadaan canggung. Tidak ada yang membuka suara terlebih dahulu. Mereka terdiam namun saling tatap.
"Ngapain lo?" ujar wanita itu akhirnya.
"Mau nyadarin lo, kalo ini semua ga bener."
"Apanya yang ga bener?" wanita itu mendekat. "Gue calon ibu, salah kalo gue minta keadilan?" tegasnya kemudian.
"Tapi.."
Wanita itu mendekat dan kian merapat. Tangannya mengelus rahang kokoh pria itu.
"Katanya lo suka sama gue, katanya lo sayang sama gue. Tapi kok lo diam aja saat gue di perlakuin secara ga adil, hm?"
"Dia ga salah. Itu bukan salahnya. Itu pure salahnya --"
"Sstt.. Jangan sebut namanya. Gue udah terlalu muak dengan nama itu." wanita itu membalikkan badannya agar pria itu tidak melihat air matanya yang siap jatuh dalam hitungan detik.
"Jadi, lo mau bantu calon ibu yang malang ini kah?" tanyanya masih dengan posisi membelakangi pria itu.
"Hanya memberi pelajaran, tapi tidak untuk menyakiti. Apakah lo bisa janji?"
Wanita itu mengangguk mantap dan tersenyum penuh arti. "Of course. I'm promise."
Wanita itu tersenyum kemenangan, sambil mengelus perutnya ia berkata, "Welcome to the game and you will be the main character, Zia."
Tbc❤️
__ADS_1
Jangan Lupa tinggalkan jejak dan tekan tombol lovenya untuk menjadi favorite, agar kamu tidak ketinggalan kelanjutannya.
Terimakasih, salam sahabat❤️