Kamu, Atau Dia

Kamu, Atau Dia
Episode 5


__ADS_3

Setelah mengambil berkas yang di maksud sang kakak, Zia dan Fisya turun dari kamar. Dan ternyata temen Irene yang tadi di sebut-sebut ingin berkunjung sudah datang. Mereka sedang bersenda gurau di ruang tamu. Disana juga sudah ada Dana, yang tak lain adalah ayah Zia. Dana termasuk orang tua yang sibuk dalam berbisnis. Perusahaan industri otomotif yang sudah berhasil menjadi perusahaan besar yang memiliki 3 cabang di kota yang berbeda itu mengharuskannya untuk bekerja keras. Tak jarang ia juga harus keluar kota untuk mengurus bisnisnya.


"Eh Zia, sini sayang! Temen mama udah dateng," ucap Irene yang baru menyadari kehadiran anak gadisnya itu.


"Iya ma.. " Zia menatap Fisya yang sedari tadi juga menatapnya dengan senyuman khas 'meledeknya'  yang tak pupus. Ntah lah, Zia sedang tidak mengerti apa yang sedang terjadi pada sahabatnya ini.


" Ini Fauzia yang kecil dulu kan? Yang kemana-mana ga mau pake baju? Ya Allah Zi, kamu udah besar trus makin cantik yaa sekarang, " ujar teman Irene yang diketahui bernama Lia itu sambil terus memeluk Zia.


"Kalo anak om sampe tau kamu udah segini besarnya, dia pasti langsung nikahin kamu Zi, " sambung Agus, suaminya Lia. Jangan tanya bagaimana respon orang-orang di sekitar Zia. Dana yang tak segan-segan menanggapi omongan temennya itu dengan gelak tawa yang agak sedikit keras. Sedangkan Irene dan Fisya  hanya tersenyum menggoda sambil melirik ke arah Zia.


" Udah dong mas ketawanya! Oh ya Li, ini Fisya calon mantu ku." kalimat akhir yang di ucapkan Irene bagaikan sebuah keajaiban yang langsung mendapat respon dari semua orang.


"Halo Om, tante" Fisya menyalaminya Agus dan Lia bergantian.


"Arga main cepet ternyata." itu bukan kalimat yang di ucapkan Agus ataupun Lia, melainkan dari Dana. Terlihat jelas  senyuman hangat terbingkai di wajahnya yang tegas.


Mereka kembali masuk dalam keseruan berbincang. Mulai dari pengalaman, bahkan sampai flashback  beberapa tahun silam. Sampai melupakan niat awal mereka masing-masing.


"Beneran Ren, aku ga nyangka Zia udah segede ini. Perasaan baru kemarin dia lari-lari di depan rumah ga pakai baju," jelas Lia yang di sambut dengan senyuman manis milik Irene.


"Serius tan? Zia ga pakai baju?" tanya Fisya penasaran. Terlihat seperti semangat untuk membahas masa lalu Zia.


"Iya, Sya. Mana males banget mandi. Arga aja suka marah-marah kalo nyuruh Zia mandi," jawab Irene sambil melirik ke  arah Zia, tepat di depannya.


"Maa, suka banget ya buka aib anaknya sendiri." Zia mengusap wajahnya lesu. Yakin lah dia, abis ini Fisya punya senjata baru buat membully nya.


"Duh jangan sedih gitu mukanya Zi. Lagian itu malah jadi kenangan manis kok. Bener kan, Ren?"


"Iya. Malah ni yaa.. " ucapan Irene terhenti saat dering ponsel milik Zia menginterupsi mereka.


" Sorry, Zia angkat telfon dulu," ujar Zia sembari menjauh dari tempatnya.


"Jadiii... Fisya kapan lagi?" Tanya Agus memecah keheningan. Tanpa terkecuali, semua menatap ke arah Fisya dan Agus bergantian.


"Apanya yaa, om?"


"Anak muda sukanya pura-pura ga tau yaa, Gus." gurau Dana.


"Iya, Dan. Gini nih yang susah," papar Agus yang membuat yang lain tertawa.


"Maa,, " mereka semua menatap Zia yang mendekat masih dengan sisa tawa masing-masing.  " Zia sama Fisya pamit ke kantor kak Arga dulu ya. Mau nganterin berkasnya yang ketinggalan."


Setelah berpamitan, Zia dan Fisya segera melajukan mobilnya ke tempat tujuan. Zia yang mengemudi, karna Fisya tak pernah mau jadi supir kalau pergi dengan Zia. Dalam perjalanan, Fisya tak henti-henti mengejek masa kecil Zia. Mulai dari males mandi sampai lari-lari di depan rumah tak memakai baju. Tak di sadari air lolos dari mata coklat milik Fisya. Ia menghapus air matanya itu masih dengan tawa yang sama. Hingga dering ponselnya menghentikan gelak tawa yang sedari tadi pecah.


Fisya menatap Zia. Lalu berkata, "Kak Arga, Zi."


"Ya angkat dong!" cetus Zia. Fisya mengangguk. Dia paham betul Zia sedang kesal mode on terhadapnya. Bagaimana pun ia sudah mengejek Zia habis-habisan tadi.


"Halo kak"


"........."


"Iya, ini lagi di jalan sama Zia."


"..........."


"wait,"


"Zi, kak Arga mau ngomong," ujar Fisya sambil menyodorkan ponselnya.


"Loudspeaker'in, tolong!" pinta Zia lembut. Fisya tersenyum. Zia tak lagi kesal padanya. Begini lah persahabatan mereka, ga pernah bisa marah walau hanya satu jam.


"Halo dek," terdengar suara Arga di seberang.


"Hmm.. "


" Lo dimana sih?"


Zia memutar bola mata malas. "Di jalan kak. Lo bisa sabaran dikit ga sih?"


"Mau gue pake buat meeting, Ziaa. Lo lama banget sih?" terdengar Arga menghela nafas di seberang sana.


"Bawel lo ah."


"5 menit!"


"Lo ga lagi lupa kan kalo jalanan macet?" Zia berbohong. Siang ini termasuk sepi. Jalanan lancar tanpa macet sepanjang biasanya.


"10 menit!"


"Gue puter balik dah ini kak, rewel amat lo."


Lagi-lagi terdengar helaan nafas. "Yaudah, 15 menit. Gue tunggu!"


Sambungan terputus. Arga memutuskan sambungan sepihak membuat Zia kesal.


"Pengen gue tampol dah tu kepala laki lo. Sebel banget gue." celetukan Zia membuat Fisya menggeleng kuat.


"Jangan gitu Zi, ntar malah ga jadi," ujar Fisya yang membuat Zia bingung. Zia memandang Fisya seolah bertanya 'Apasih?'


Seolah mengerti arti tatapan Zia, Fisya menjawab. "Ya lo bilang kak Arga laki gue. Kan belom Zi, ntar kalo malah ga jadi gimana?" ujarnya sambil cemberut.


"Tau deh ah. Lo ga turun?" tanya Zia saat mendapati Fisya yang malah melipat tangannya di depan dada tanpa ada tanda-tanda ingin keluar.


Fisya menatap Zia tajam. "Enggak!"


Zia menautkan kedua alisnya yang tak begitu tebal. "Yaudah. Gue kunciin."


Ucapan Zia membuat Fisya melotot. Secepat kilat Fisya keluar dari mobil.


"Yah kok keluar? Baru aja mau gue kunciin," guraunya dengan senyuman jahil.


"Sialan lo," ketus Fisya yang sudah berjalan meninggalkan Zia.


Zia masih berdiri di tempat saat Fisya sudah menjauh darinya. "Sya, itu kak Arga." teriak Zia lantang.


Fisya berhenti, dan berbalik menghadap Zia. Fisya melihat ke kanan kiri namun tak ada siapa-siapa.  Terakhir, Fisya kembali melihat ke arah Zia.


Zia tersenyum, lalu berlari mendekati Fisya. "Ketipu yaa bu?"  ucap Zia yang malah berjalan di depan Fisya.


Fisya memutar bola mata malas. "Bahagia yaa, Zi?


" Banget." Zia tertawa


"Sialan lo,"


"Ya makanya lo tungguin gue dong!"


"Lah sekarang malah lo yang ninggalin." ucapan Fisya langsung membuat Zia berhenti seketika.


Zia berbalik dan berkata, "Gue sayang lo, Sya." Zia ingin memeluk  Fisya, namun Fisya mengelak dan malah berjalan mendahului Zia.


"Gue masih normal Zi, alhamdulillah."


Zia memutar tubuh mungilnya. "Sialan lo"

__ADS_1


Setelah melewati semua drama persahabatan ala Fisya dan Zia. Akhirnya mereka sampai di lantai tempat persembunyian si kakak tercinta.


"Zi, tumben."


"Eh, kak Aryo. Lah kok lo keliaran? Mau korupsi waktu ya lo?" tuduh Zia menunjuk ke arah Aryo, sekretaris Arga.


Orang yang di sapa Aryo itu hanya terkekeh.  "Bos gue lagi ada tamu. Jadi gue free."


"Gue ga di sapa nih kak?" tanya Fisya dengan tampang sok melasnya.


Aryo tertawa. " Mba Fisya apa kabar?"


"Sejak kapan lo jadi adek gue kak" ketus Fisya.


"Udah ah, kita masuk dulu yaa kak. Ntar di gantung lagi sama bos lo, " jelas Zia yang langsung di angguki oleh Aryo.


" Bye Fisya cantik" Fisya hanya tersenyum manis menanggapi ucapan sekretaris Arga itu.


***


Zia dan Fisya masuk setelah mendapatkan izin dari sang pemilik ruangan.


"Lama banget sih. Ngapain aja lo?" sarkas Arga saat Zia memberi berkas yang ia minta.


"Masih untung yaa gue anter." ketus Zia yang langsung duduk di sofa. Namun fokus Zia langsung tertuju pada seorang pria tampan bertubuh atletis yang sedang duduk di meja tak jauh darinya.


Zia menoleh ke belakang, disana Fisya dan Arga sudah berbincang, bahkan sesekali tertawa bersama. Secepat itu mereka menemukan topik menarik.


Zia menghela nafas. Berbalik menghadap Arga. "Kak, lo ga meeting?" Pertanyaan Zia membuat Fisya dan Arga menghentikan tawanya.


"Besok,"


Jawaban santai Arga langsung membuat Zia melebarkan mata. "Jadi apa untungnya gue nganterin berkas ini sekarang? Lo juga pakenya besok kan? Ganggu banget lo!"


"Gue harus pelajarin sekarang dek. Ga ikhlas banget lo bantuin kakak sendiri."


Zia berjalan mendekati sang kakak. "Emangnya ntar malem lo ga bisa  pelajarin di rumah aja, gue tanya? Ini tuh bukan masalah ikhlas atau ngga nya. Lo tau ga sih, lo itu udah ganggu waktu gue buat nyantai-nyantai di atas kasur, ganggu gue ngobrol sama temen mama tentang... "


"Masa kecil Zia yang males mandi, sama ga suka pake baju" potong Fisya dengan cepat. Membuat Arga tertawa.


Zia mendengus."Pokonya lo ganggu gue kak!" sambung Zia lagi membuang muka.


"Temen mama siapa sih dek?"


"Tante Lia,"


"Itu kan... "


" Gue mau makan, lo ikut ngga?" potong seorang pria yang masih di duduk di meja sudut ruangan.


"Ikut dong, yok Sya" Arga langsung menggandeng tangan Fisya menuju pintu.


"Gue ga di ajak?" Zia tunjuk diri sendiri. Namun setelah itu ada yang menarik tangannya. Zia menoleh ke arah samping. Dia, pria yang sedari tadi juga ada di dalam ruangan ini.


"Ga ikut?" Zia mengangguk, hanya itu yang bisa dia lakukan. "Yaudah ayok." pria itu  menggandeng tangan Zia terus sampai ke parkiran.


"Lo sama Zia naik mobil lo yaa. Gue mau berduaan sama Fisya," tutur Arga yang langsung di angguki pria itu.


"Eh ga bisa dong, kalo gue nanti di... "


" Ga bakal aku apa-apain. Masuk lah!" potong pria tersebut. Zia menatap pria itu yang ternyata sudah membukakan pintu mobil untuknyaa.


Zia memasuki mobil CR-V yang di ketahui milik pria itu. Ntah lah dia siapa. Zia sendiri pun tidak tau.


Ting


👤 Fisya💋


'Ganteng banget yaa, Zi?


Pengen peluk{}


Bisa di bungkus ga sih? Pengen bawa pulang terus kenalin ke papa mama.


Zi, mimpi apasih lo semalem, kok dapet kesempatan semobil sama cowo yang gantengnya melebihi Zayn Malik gitu?'


            ' Yang di sebelah lo lebih ganteng!'


Zia menghela nafas saat membaca sederet pesan dari Fisya itu.


Pria itu berdehem. "Asyik banget kayaknya tu ponsel," ujarnya datar.


"Eh.." Zia gelagapan saat tiba-tiba pria itu membuka suara. "Engga kok kak, biasa aja." tutur Zia setenang mungkin.


"Namanya?" tanyanya masih dengan tatapan lurus ke depan.


"Siapa?"


Pria itu menatap Zia tanpa ekspresi. "Kamu lah."


"Oh gue. Nama gue.."


"Aku kamu, ga perlu pake lo gue'an kalo sama aku." jelasnya dingin. Pria itu emang dingin. Cocok kali yaa di beri julukan Beruang kutub? Batin Zia berbicara.


"Ok. Nama aku Zia kak. Nama kakak?"tanya Zia menatap ke arah pria itu.


"Dimas,"


Zia hanya ber-oh mendengar nama pria itu. Ternyata pria dingin itu bernama Dimas.


Mereka saling diam, sama sekali tak ada pembicaraan setelah perkenalan nama tadi. Akhirnya CR-V hitam itu memasuki parkiran Restoran Jepang. Yang berarti mereka sudah sampai di tempat untuk melepaskan rasa laparnya siang ini. Yaa ini emang sudah jam makan siang. Parkiran nyaris penuh dengan kendaraan, mulai dari sepeda motor sampai mobil mewah. Zia mengedarkan pandangan mencari keberadaan Fisya dan Arga.


"Mereka udah di dalam. Yuk masuk," ajak Dimas. Namun bukannya menunggu dan masuk bersama, Dimas malah jalan mendahului Zia.


Zia mendengus, lalu sedikit berlari untuk menyamai langkah dengan Dimas. Namun nihil, Zia capek dan Dimas masih terus berjalan tanpa mau tau apa yang terjadi pada Zia.


"Kak, tungguin dong!" teriak Zia di tempat.


Dimas berbalik, menatap Zia dengan ekspresi tak terbaca. "Buruan!"


Saat Zia sudah dekat, Dimas langsung menggandeng tangan Zia, membuat Zia sedikit kaget.


"Dari parkiran kesini aja kamu udah capek. Ga pernah olahraga yaa?" tanya Dimas masih dengan menggandeng tangan Zia.


"Lagian kakak, parkir mobil di paling ujung kebegitu. Mana aku di tinggalin lagi." kesal Zia.


Dimas tersenyum, "Ini lah aku. Yang suka buat kamu susah,"  jelasnya sambil mencubit ujung hidung Zia.


"Maksudnya?"


Dimas menggeleng. "Itu Arga." tunjuk Dimas pada meja yang tak jauh dari mereka. Dan seketika itu genggaman tangan Dimas terlepas. Mereka memghampiri dan bergabung dengan Arga.


Bagai sihiran, Zia merasa hampa saat genggaman itu terlepas. Dan merasa nyaman saat genggaman itu terasa pas di tangannya. Ntah apa yang di fikirin Zia saat ini, ia hanya bisa duduk diam.


"Zi, mau pesan apa?"

__ADS_1


Suara Fisya menyadarkannya dari dunia lamunan. Zia menatap Fisya yang tepat di sampingnya, Arga di seberang sebelah kanannya, dan Dimas di... Depannya!


"Gue..." Dering ponsel menghentikan ucapan Zia.


Zia membuka pesan chat yang masuk, seketika membuat senyum ceria mengembang di wajah cantiknya.


👤 Adit


Zi, makan siang bareng yuk. Udah lama ngga kan? Aku tunggu di cafe biasanya yaa.


Setengah jam lagi aku otw.


             'Ok sayang. Aku otw.'


Zia mengalihkan fokusnya dari ponsel, namun masih dengan senyum cerianya. Zia menoleh, menatap Fisya yang juga sedang menatapnya bingung. Zia memeluk Fisya erat lalu berbisik, "Adit ngajak gue makan, Sya."


Fisya hanya ber-oh santai tanpa ada ekspresi. Zia menatap Fisya tajam." Kok lo kayak ga seneng gitu sih?"


Cetus Zia masih setengah berbisik.


"Emang."


"Kenapa sih dek?" Arga menatap Zia dan Fisya bergantian. Fisya menggeleng. "Yaudah, kenalan dulu sama temen gue nih. Dia Dimas temen sekolah gue dulu, dan sekarang bakal jadi rekan kerja gue di kantor." jelas Arga santai.


"Sejak kapan?"


"Sejak hari ini."


"Serius lo?"


"Hm.. Jadi mulai besok Dimas udah bergabung di kantor dek."


Zia hanya mengangguk mengerti tanpa mau membahasnya lagi.


"Kak, gue pergi duluan ya. Mau makan bareng temen gue nih." Arga menatap Zia heran.


"Ga jadi makan disini?" Zia menggeleng. Arga menatap Fisya. "Kamu ikutan?"


"Engga. Aku mah makan disini aja sama kakak. Males ngikut yang ga jelas." Zia menyenggol lengan Fisya sengaja. "Apaan sih. Emang bener kok." tegas Fisya tak melirik Zia sedikit pun.


"Yaudah. Biar aku yang anter." putus Dimas yang menyandarkan tubuhnya pada kursi sambil menatap Zia tajam.


Ucapannya membuat Arga, Fisya dan Zia menatapnya bingung. Bagaimana tidak bingung, sedari tadi dia diam seperti sedang menyaksikan sinetron live yang ada di depan matanya. Dan sekarang malah mengatakan ingin mengantar Zia?


"Ide bagus. Lo ga papa kan nganterin adek gue? Lo tau lah, gue lagi pengen berduaan sama si cewek cakep di depan gue ini." ucapan Arga membuat Zia memutar bola mata malas. Kakaknya ini selalu tidak peka dalam kondisi seperti saat ini. Apalagi saat sedang bersama Fisya.


"Gue paham lo lah," jawab Dimas sambil tersenyum cool.


Zia menggeleng. "Ga usah kak. Gue bisa sendiri. Lagian tempatnya juga ga jauh dari sini kok."


"Pokoknya sama Dimas dek," tegas Arga. Zia menatap Fisya, berharap dia berbaik hati membantu meyakinkan sang kakak. Namun nihil, Fisya bersikap seolah tak mau tau tentang ini. Terlihat jelas Fisya tak mendukung hubungannya dengan Adit.


***


Karna ulah kakaknya dan tanpa bantuan Fisya, kini Zia sedang berada di perjalanan bersama Dimas. Sedari tadi senyum tak pudar dari wajah cantiknya Zia. Membayangkan hal-hal manis yang akan dia lakukannya nanti. Duduk berhadapan dengan orang yang disayanginya, makan dan bersenda gurau tentang hal-hal yang mungkin tak penting untuk di bahas. Membayangkannya aja udah membuat senyum Zia semakin lebar. Dia tak sabar untuk bertemu pacarnya yang semakin sibuk akhir-akhir ini.


"Seneng banget keliatannya," sindir Dimas yang sempat melirik ke arah Zia yang tersenyum sejak tadi. "Mau ketemu pacar?"


Zia menoleh ke arah Dimas lalu mengangguk antusias. "Iya kak. Udah lama kita ga ketemu. Dia sibuk banget akhir-akhir ini. Jadi jarang punya waktu buat aku," tutur Zia masih menatap Dimas. Namun Dimas tak bergeming. Dia hanya fokus ke jalanan tanpa ekspresi. Perasaan tak enak hinggap di hati Zia. "Sorry kak. Aku jadi curhat begini. Keceplosan, serius." ucap Zia sambil nyengir kuda.


Dimas menatap Zia yang masih menyengir, lalu Dimas menggeleng dan tersenyum. Mengulurkan tangannya, Dimas mengelus puncak kepala Zia yang membuat Zia diam mematung. "Udah sampe. Ga mau turun?"


Zia mengangguk lalu mengedarkan pandangannya keluar. Benar saja mereka udah berada di parkiran Cafe yang tentu saja namanya udah di sebutkan Zia pada Dimas.


"Kalo kakak mau pulang, ga papa pulang aja. Ntar aku pulangnya naik taksi online aja kak," ujar Zia tersenyum. Dimas hanya mengangguk.


Zia langsung turun dari mobil CR-V milik Dimas dan melangkah memasuki Cafe. Sesampainya di dalam, Zia tak menemukan keberadaan Adit. Zia mengambil ponselnya dalam tas dan mengirimkan pesan untuk pacarnya itu.


            'Sayang, kamu dimana? Aku udah sampai nih,'


        ~   Send...


👤 Adit


'Lagi di jalan. Tunggu bentaran lagi yaa... '


Zia tersenyum membaca balasan dari Adit.


"Permisi mba, mau pesan apa?" seorang waitress membuyarkan fokusnya dari ponsel.


"Lemon tea aja yaa mba, satu."


5 menit kemudian pesanan Zia datang. Namun Adit tak kunjung keliatan. Zia masih menunggu dan berharap.


Ting


👤 Fisya💋


'Udah nyampe lo?'


'Lagi ngapain? '


          ' Udah. Lagi nunggu Adit.'


Zia terus membuang bosan dengan cara membuka sosmed sambil sesekali menyesap minumannya. Berulang-ulang buka instagram, scroll up, scroll down, back. Hingga tak terasa sudah 2 jam Zia menunggu namun tak kunjung ada kabar.


Menghela nafas, Zia melipat tangannya di atas meja dan menjatuhkan kepala diatasnya. Zia terpejam, menahan gejolak kecewa atas sikap Adit.


Namun ada sentuhan lembut di kepala Zia. "Zii.."


Tbc!!


Yey update lagi nih. Sorry lamaa:((


Buntu serius.


Semoga syuka yaa, dan Btw ini part lebih panjang dari yang biasanya deh kayaknyaa😂


Happy reading all 💋


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2