Kamu, Atau Dia

Kamu, Atau Dia
Episode 19


__ADS_3

Zia berjalan di depan dua pria itu, Dimas dan Arga. Zia memilih tempat yang paling favorite menurutnya di mana pun dia berada, pojokan dekat jendela adalah tempat yang paling asik bagi Zia.


Tapi sebelum Zia sampai, dia harus menerima jika tepat di depan nya saat ini ada sepasang kekasih yang paling di hindari olehnya.


"Wah.. Wah.. Jadi kamu ajak aku kesini, duduk di pojokan karna kamu janjian sama cewek ga tau diri ini?" ucap Rumi keras.


Zia bersikap seolah tidak terjadi apa pun. Dia melanjutkan langkahnya, dan langsung duduk. Membuka buku menu dan memilih makanan. Tidak berselang lama, Arga dan Dimas duduk di depan Zia.


"Itu bukannya sahabat lo ya?" tanya Arga memastikan.


"Kenapa dia teriak-teriak?" tanya Dimas gantian.


Zia memandang Arga dan Dimas secara bergantian. Lalu melirik Rumi yang sedang beradu mulut dengan Adit, seperti nya. Zia hanya mengedikkan bahu lalu menggeleng.


"Apa lo.. "


Brakkk!!


Ucapan Arga terhenti karna meja mereka di gebrak oleh Rumi. Zia berdiri, lalu menatap Rumi nyalang.


" Lo itu emang ga tau diri ya, Zi! Lo sengaja kan kesini, karna lo udah janjian sama cowok gue. Iya kan? Jawab gue. Lo bisu ya sampe ga bisa jawab gue?" teriak Rumi.


Zia tidak mengerti, wanita ini tidak tau malu sepertinya. Disini mereka jadi pusat perhatian. Ada yang berbisik dan ada yang terang-terangan membicarakan mereka.


"Lo gila." ucap Zia. Ia hendak duduk namun lengan nya di cengkram kuat oleh Rumi.


Zia emosi dan menghentakan cengkraman Rumi. "Mau lo itu apa sih?" bentak Zia.


"Mau gue? Jelas dong mau gue lo jauhin tunangan gue!"


"Lo kenapa segitu takutnya sih cowok berengsek itu gue rebut? Bukannya kalo dia tergoda sama gue atau sama yang lain malah bagus, jadi lo ga perlu nikah dan ujung-ujungnya ketuk palu."


Plak!


Lagi-lagi Rumi menampar Zia. Arga dan Dimas serta Adit terkejut melihat apa yang terjadi barusan.


"Rumi! Apa-apaan sih?" bentak Adit.


Zia mengambil air mineral yang ada di meja dan menyiramkan ke arah Rumi. Semua orang teriak histeris, merasa ada tontonan gratis.


"Asal lo tau, gue sama sekali ga ada niat buat ngerebut orang yang sangat lo cintai ini. Karna lo itu sahabat gue Rum. Dari dulu gue selalu minta buat di bersamakan dengan orang yang baik. And see! Tuhan ngambil Adit dari gue, dan pasti lo paham lah apa alasannya!" papar Zia.


"Lo munafik Zi, lo munafik! Gue benci sama lo!" Rumi hendak melayangkan tangannya lagi, namun di tahan oleh Dimas.


"Lo boleh teriak-teriak, tapi lo ga boleh nyentuh Zia! Tadi adalah yang terakhir kalinya lo nyentuh Zia. Sekali lagi lo nyentuh Zia, gue akan buang komitmen gue, dan lo akan berhadapan sama gue!" ujar Dimas pelan namun mencekam.


"Rum, ayo pulang!" Adit menarik tangan Rumi. Namun sebelum pergi, Adit melirik Zia. Ada tatapan yang sulit di artikan di sana.

__ADS_1


Akhirnya Adit dan Rumi pergi. Zia kembali duduk yang di susul oleh Dimas.


"Kok lo ga ada bantuin gue sih kak?" omel Zia pada Arga yang sedang bermain ponsel.


"Kan udah ada Dimas. Lagian kenapa sih harus berantem di sini? Kalian ga malu? Gue aja malu liatnya." ujar Arga santai.


Kalimat Arga barusan membuat Zia tersadar. "Kita pulang aja yuk. Malu gue."


"Ga makan? Tapi katanya laper?" kini Dimas yang angkat bicara. Di perhatikannya wajah wanita yang ada di hadapan nya itu.


Zia memajukan kepalanya. "Laper sih, tapi malu." bisiknya kemudian.


Arga dan Dimas tertawa, lalu tangan Dimas terulur untuk mengusap puncak kepala Zia.


"Ok. Come on baby! kita makan di tempat lain." ujar Dimas yang mengulurkan tangannya ke arah Zia.


Zia tertawa lalu menerima uluran tangan Dimas. Mereka berjalan berdua, dan di belakang nya ada Arga yang mengikuti.


"Kita jadi kaya sepasang kekasih yang di kawal oleh bodyguard," kata Zia terkekeh.


"Kamu mau jadi pasangan aku?"


"Ih apa sih." Zia mengalihkan pandangan nya. Bohong jika dia tidak masuk dalam gombalan itu.


Mereka mencari tempat makan. Namun tidak restaurant mewah seperti yang mereka kunjungi sebelumnya. Namun mereka memilih makan di pinggir jalan.


Arga tidak mau mengalah, mereka adu mulut seperti biasanya. Dimas yang jadi pendengar pun hanya bisa bergeleng-geleng kepala.


"Ya udah, gue pulang dulu ya Ga. Udah malem." ucapan Dimas menghentikan aksi adu mulut yang dari tadi terjadi di antara kakak beradik itu.


"Ok. Hati-hati lo." ujar Arga. Dimas hanya mengangguk dan berjalan menuju mobilnya yang terparkir rapi di depan rumah Arga.


"Kak Dimas..." teriak Zia.


Mendengar itu, Dimas pun berhenti melangkah dan melihat ke arah Zia yang sedang berjalan mendekatinya.


"Ga jadi deh," katanya sambil cengengesan.


"Anak siapa sih ga jelas amat," cetus Dimas sambil tersenyum.


***


Hari ini Zia memilih untuk pergi ke butiknya. Entah mengapa hari ini ia tidak semangat, tapi tadi pagi Mia selaku orang kepercayaan Zia dan Fisya di butik mengatakan ada yang mau menemuinya.


Setelah melakukan ritual sehari-hari, Zia bergegas pergi ke butiknya. Tadi Zia menghubungi Fisya, katanya dia ga bisa datang ke butik hari ini karna ada urusan dengan orang tuanya.


Jalanan ibukota macet sekali hari ini. Zia mengecek ponselnya yang bergetar beberapa kali. Ada pesan dari Dimas. Zia mengetikkan balasan untuk pesan itu sambil tersenyum.

__ADS_1


Zia memarkirkan mobilnya dengan rapi. Tanpa membuang waktu lama Zia sudah berjalan menuju ruang kerjanya.


"Zi, sebentar lagi orang nya datang ya." ujar Mia.


"Ya udah nanti kalo udah datang, langsung di suruh masuk aja ya." ujar Zia yang langsung di angguki oleh Mia.


Untuk Mia sendiri, umurnya sama dengan Zia. Mereka bekerja sama, hampir tidak ada perbedaan antara bos dan karyawan. Mia udah lama bekerja di sini. Mia itu anak perantauan. Orang tuanya di Surabaya, sedangkan dia kuliah sambil kerja di Jakarta.


Tok tok tok..


"Masuk!"


Seseorang masuk ke dalam ruang kerja Zia. Membawa bunga mawar merah. Dia tersenyum penuh cinta pada Zia. Sedangkan Zia terkejut bukan main atas kehadirannya.


"Ngapain lo?" bentak Zia.


"Zi, jangan galak-galak. Ini aku bawain bunga buat kamu." pria itu memberikan bunga itu pada Zia. Namun tidak di terima oleh Zia.


Zia hendak keluar, namun di tahan oleh pria itu.


"Lepasin gue!"


"Aku ga akan lepasin kamu, sebelum kamu dengarin penjelasan ku."


"Ga ada yang perlu di jelasin lagi, Dit!"


"Ada Zi, ada! Dan kamu harus mendengarkan nya."


"Aku sibuk. Keluar sekarang juga!" bentak Zia lagi.


"Kasih aku waktu sebentar aja. Aku mau jelasin." pinta Adit. Matanya sayu, seperti itu adalah permintaan yang tulus.


"15 menit aja." kata adit lagi.


"Ok. 5 menit."


Adit menggeleng. "10 menit."


"5 menit atau ngga sama sekali!" tegas Zia.


"Zi.." Adit mengacak rambutnya kasar. "10 menit, ya?"


"Waktu berjalan. Sisa waktu lo tinggal 3 menit."


"AKU TU SAYANG SAMA KAMU ZI. KENAPA KAMU GA PAHAM SIH?" teriak Adit frustasi.


Zia kaget dan langsung menatap Adit tak percaya. Air mata mereka sama-sama jatuh. Entah apa yang di rasakan oleh keduanya. Yang jelas, Zia tidak bahagia mendengar kata-kata itu.

__ADS_1


Tbc ❤️


__ADS_2