Kamu, Atau Dia

Kamu, Atau Dia
Episode 31


__ADS_3

“Kamu lupa bawa dompet?”


Zia menoleh dan hampir saja terjengkang ke belakang saat mendapati wajah Dimas yang hanya berjarak beberapa centi darinya. Zia berdeham untuk menetralkan degup jantungnya. Lalu menatap ke arah pintu lift yang baru saja terbuka. Kaki mereka melangkah keluar dari kotak besi itu.


“Kamu lupa bawa dompet, Zia?” ulang Dimas saat tidak mendapati jawaban darinya.


Zia tersenyum canggung tidak tau mau menjawab apa. Dia membawa dompet, dia hanya menjadikan itu alasan supaya dia bisa pergi bersama Anton dan terbebas dari pasangan yang sepertinya sedang kasmaran ini.


Zia berdeham sejenak sembari melirik Dimas singkat. “Iya, Pak. Ketinggalan di rumah.”


“Nah makanya bareng kita aja makannya, jadi kamu kan nggak perlu keluarkan dana.” ujar Dimas lagi.


“Tapi saya mau pergi bareng Mas Anton aja, Pak. Dia sudah nunggu saya di depan.”


Tidak ada sahutan dari Dimas. Dia hanya fokus dengan ponsel yang ada di tangannya. Audi pun sama. Dia tampak sibuk mengetikkan sesuatu pada ponselnya itu.


“Nggak bisa lebih lama lagi lo?” semprot Anton pada Zia. Anton yang sedang bersandar di tembok dengan kaki menyilang itu menunjukkan raut kesalnya pada Zia. Sepertinya pria itu tidak sadar jika Zia sedang bersama dengan atasan mereka.


Mendengar itu Dimas mengalihkan pandangannya pada Anton. Kemudian Dimas melirik Audi yang saat ini juga sedang melihat ke arah Anton.


“Ya, maaf. Lagian dari atas kesini juga butuh waktu kali, Mas.” jawab Zia. Kini Zia menghadap Dimas dan Audi sepenuhnya. “Pak Dimas, saya lunch bareng Mas Anton aja, ya.”


“Duh, kenapa sih, Zi? Tadi kan udah mau bareng kita.” protes Audi tidak terima.


“Gue nggak bawa dompet, Di. Mas Anton mau bayarin gue. Ya kan, Mas?” seru Zia yang di angguki oleh Anton.


“Jadi kalau bareng saya, kamu kira nggak akan saya bayarin, Zia?” tanya Dimas telak. “Saya masih sanggup untuk membayarkan makanan kamu Zia, bahkan jika kamu memilih untuk hidup bersama saya pun, saya sanggup.” lanjutnya dengan tatapan penuh arti.


Zia kelu tidak tau harus menjawab apa. Namun pandangannya mengarah pada Audi yang sedang memperhatikan orang-orang di sekitar mereka.


“Tapi saya sudah janji mengajaknya makan siang bersama, Pak. Jadi seenggaknya saya mau menepati janji saya.” ucap Anton setelah berdiam diri sejak tadi. Ponsel yang sedari tadi di pegang pun kini sudah berada di dalam saku celananya.


“Kalau begitu, kita makan siang bersama. Anggap saja kita sedang double date.” putus Dimas tak terbantah.


***


“Bapak mau pesan apa?” tanya Audi yang sedikit mendekatkan diri pada Dimas. Mereka hanya menggunakan satu buku menu untuk berdua.


“Jangan panggil bapak, ini nggak lagi di jam kerja,” ujar Dimas yang membuat Audi senyum salah tingkah. “Samain sama pesanan kamu aja,” lanjutnya.


Zia dan Anton saling berpandangan bingung. Untuk pertama kalinya baik Zia maupun Anton mendengar Dimas tidak mau di panggil bapak oleh Audi. Perasaan saat kemarin mereka di Dufan, Audi selalu saja memanggil Dimas dengan sebutan bapak.


Zia mengambil ponselnya yang bergetar di atas meja. Ada pesan WhatsApp dari Anton yang membuat Zia melirik pria di sampingnya itu. Anton yang mengetahui Zia sedang meliriknya hanya mengedikkan bahu singkat.

__ADS_1


Mas Anton


Apa gue salah planet, ya? Kok mereka beda?


Zia mengetikkan sesuatu sebagai balasan.


Zia


Nggak paham juga gue. Beda dari pagi. Tapi sih yang paling kentara waktu Audi keluar dari ruangan Dimas sebelum makan siang.


Zia mendongak melihat Audi dan Dimas yang sedang mengobrol dengan volume suara kecil, nyaris berbisik jika menurut Zia. Ck, khas orang-orang yang sedang memiliki hubungan.


Zia kembali mengetikkan sesuatu di ponselnya.


Zia


Apa mereka punya hubungan ya, Mas?


Mas Anton


Nggak tau. Kalau misalnya iya, lo nggak cemburu?


“Katanya double date, kok sibuk sama ponsel masing-masing?” tanya Dimas. Pria itu menyatukan kedua tangannya di atas meja lalu menatap Anton serta Zia secara bergantian.


Anton menegakkan tubuhnya yang tadi bersandar. “Yang bilang double date kan juga bapak sendiri tanpa kami setujui. Lagian, Pak, kami tidak merasa sedang nge-date. Melainkan kami merasa sedang menyaksikan kalian yang sedang kasmaran.”


“Ya udah. Mas, kamu belum pesan makanan. Mau pesan apa?” tanya Audi lembut.


“Nggak perlu. Gue makan di tempat lain aja.” Anton berdiri dari kursinya. “Zia, lo ikut gue atau tetep disini?” tanya Anton yang melihat Zia kebingungan.


“Gu--gue ikut lo aja deh.”


Mereka keluar dari restoran yang tadi di pilih oleh Dimas. Anton yang hanya berdiam diri sembari jalan cepat membuat Zia mendengus kesal. Zia berhenti melangkah membiarkan Anton berada jauh di depannya.


“Mas...” teriak Zia.


Anton berhenti lalu berbalik. Dia terkejut melihat Zia yang tertinggal lumayan jauh di belakang.


“Kalau lo suka sama Audi, bilang! Jangan kesal sendiri terus ninggalin gue dong. Gue capek ni.” Zia masih di posisi yang sama membuat Anton menggeleng sembari tersenyum.


Anton berjalan menghampiri Zia. “Lo ngomong nggak pernah pake tedeng aling-aling ya,” ujar Anton yang hampir sampai di depannya.


“Iya kan memang bener kalau lo---”

__ADS_1


Ucapannya terhenti saat merasakan getaran dari ponselnya. Ada panggilan masuk dengan nama Daniel di ponselnya.


“Halo..”


“Zia, gue boleh minta tolong nggak sama lo?”


“Bisa lah. Tolong apaan, Dan?” tanya Zia sembari melirik Anton yang sudah sampai di depannya.


“Lo lagi sibuk nggak? Tolong jemputin Reno sama Rumi di Cempaka, bisa? Mobil Reno mogok di tempat yang jauh dari keramaian, katanya. Gue masih di luar kota nih, jadi nggak bisa jemputin mereka.”


Zia melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan kanannya. “Bisa sih, gue lagi istirahat makan siang juga sekarang. Tapi pertanyaannya, Rumi mau nggak kalo gue yang jemput? Nanti gue udah capek-capek kesana, eh dia nggak mau. Kan gue kesel.”


“Pasti mau lah. Lagian dia bilang juga ke gue dia udah maafin lo kok.”


“Maafin gue? Yang punya peran untuk memaafkan disini gue, Dan, bukan dia.” kesal Zia.


“Zia.. Ya udah lah nggak perlu di perpanjang. Maksud gue, kalo dia ngerasa dia benar, terus lo juga nggak ngerasa salah, yaudah. Gue nggak bermaksud untuk belain Rumi terus menghakimi lo, nggak. Tapi gue sahabat kalian, kita sahabatan, Zi. Lo sebagai orang yang selalu berpikir positif, gue yakin bisa lebih bijak untuk masalah ini. I believe that.”


Zia menghela napas. “Ok, gue kesana. Lo kirim aja alamat lengkapnya. Terus jangan lupa bilang ke mereka kalau gue yang jemput.”


Sambungan terputus. Zia menyimpan ponselnya ke dalam tas setelah menerima alamat lengkap yang di kirim Daniel lewat pesan.


“Mas, gue pergi dulu ya. Temen gue butuh bantuan.”


“Gue anterin,” jawab Anton.


“Nggak perlu, jam istirahat cuma tinggal setengah jam sedangkan lo belum makan. Lo makan aja ya, gue pergi.”


“Lo juga belum makan,”


“Gue gampang, ntar bisa makan bareng temen gue. Bye, Mas.”


Zia memasuki mobilnya yang terparkir di parkiran kantornya. Memang restoran yang di tunjuk Dimas tadi kebetulan bertepatan di depan kantor, jadi Zia tidak perlu jauh-jauh untuk sampai pada mobilnya.


Zia menelusuri jalanan yang hanya di temani oleh suara penyiar radio yang ada di mobilnya. Zia memang suka mendengarkan radio saat berada di mobilnya. Karna menurutnya, mendengarkan suara penyiar radio juga dapat menghilangkan kesunyian yang ada. Seperti teman yang nyata.


Zia membuka kaca mobil saat ia telah memasuki daerah yang menurut Daniel adalah tempat dimana mobil Reno mogok. Pantas aja dia meminta bantuan temannya dari luar, tempat ini benar-benar sepi. Benar-benar jauh dari keramaian. Bahkan Zia tidak mendapati rumah barang hanya satu atau dua disini.


Zia menghentikan mobilnya saat melihat mobil Reno sedang terparkir di pinggiran jalan. Zia keluar dari mobilnya menuju mobil Reno. Tidak ada orang disana, sepi. Reno tidak ada di mobilnya saat Zia mencoba melihat dari kaca mobilnya yang tertutup.


Suara mobil terdengar dari belakang membuat Zia menoleh ke belakang.


BRAAKKK!!!

__ADS_1


Tubuh wanita cantik itu terpental jauh dari tempat sebelumnya. Tubuhnya yang lemah terbaring tak berdaya di atas aspal. Cairan merah mengalir dari seluruh wajahnya. Matanya terbuka beberapa detik sebelum tertutup rapat sehingga hanya meninggalkan kegelapan.


Tbc♥️


__ADS_2