Kamu, Atau Dia

Kamu, Atau Dia
Episode 17


__ADS_3

Zia berlari menuju parkiran. Hatinya hancur, pikiran nya kacau. Setelah tadi melalui perselisihan antara dirinya dan Rumi yang menjadi tontonan gratis orang-orang yang berada di dekat mereka.


"Kalo masih belum puas nangis, nangis aja. Ga usah di tahan. Kasian hati kamu." ujar Dimas yang sesekali melirik Zia.


Zia melirik ke sebelah kanan. Saat ini dia sedang berada di mobil bersama Dimas menuju ke restoran dimana mereka akan menyantap makan siang. Tadi Dimas menelpon Zia mengajak nya makan siang. Zia menerima tanpa ada penolakan seperti biasanya. Alasannya simple, dia ingin menghindari Rumi dan Adit.


"Aku ga tau kak harus ngungkapinnya gimana lagi. Nangis, udah. Mana sampe bosan lagi. Tapi hati nya masih juga nyesek."


"Emang kenapa sih?"


Zia memalingkan wajahnya ke arah jalanan. Pikiran nya menerawang beberapa menit yang lalu.


*flash back!


"Hubungan lo? Maksudnya apa?" tanya Rumi di tengah-tengah emosinya.


"Tunangan lo yang lagi lo bela mati-matian ini adalah pacar gue. Pacar gue. Dan lo yang ngehancurin hubungan itu. Apa lo bilang? Cowok brengsek? Cowok brengsek yang lo bilang barusan itu justru yang jadi tunangan lo saat ini. Cowok pengkhianat yang gue maksud, itu yang akan jadi suami lo nanti. Paham?" ungkap Zia penuh penekanan.


" Gak. Ga mungkin. Lo pasti bohong kan? Lo pasti mau buat hubungan gue hancur kan? Iya kan? Jawab gue! Gue tau lo iri kan sama gue. Sumpah Zi lo menjijikan. Lo bukan sahabat gue, gue benci sama lo." satu titik air mata jatuh di pipi Rumi. Barusan dia mengatakan kalo sahabatnya ini menjijikan. Apa lagi ini?


"Harusnya gue yang benci sama lo Rum. Karna lo gue putus sama Adit. Apa lo tau, di saat Adit menyatakan cinta sama lo di depan semua orang, di situ gue hadir dan posisi gue masih jadi pacarnya Adit." suara Zia melemah. Ia menghapus air matanya kasar.


"Lo tau seberapa sayang gue sama Adit, tapi apa lo bisa bayangin betapa hancur hati gue saat itu? Terlebih lo yang jadi wanitanya." Zia menghela napas. "Selama gue pacaran sama Adit, sekali pun gue ga pernah di kenalin ke orang tua nya, atau malah sahabatnya. Yang ada, janji sama gue sering di batalin gitu aja karna sahabat-sahabatnya. Atau mungkin dia batalin karna lo juga waktu itu, gue ga tau." lanjut nya.


"Sedangkan lo, baru beberapa bulan jalani hubungan langsung di lamar," Zia terkekeh, namun terlihat rapuh. "tadinya gue ga mau kasih tau tentang ini, takutnya lo bakal batalin nikahnya. Tapi saat tadi lo bilang lo benci sama gue, kaya nya pernikahan itu akan tetap berlangsung." lanjut nya, lagi.


Zia berdiri setelah tadi sempat terduduk. Kepalanya pusing karna tamparan Rumi dan karna terlalu banyak menangis. Zia mulai melangkah kan kaki meninggalkan pedih yang terjadi antara dia dan sahabatnya.


*flash back off!


"Hei, kenapa?" tanya Dimas penasaran.


"Ga papa kak."


"Kalo di tanya kenapa, jawabnya itu karena bukan ga papa."


"Ya udah. Ulang deh." pinta Zia.


"Harus banget di ulang?"


"Iya dong."


"Ok. Kamu kenapa?"


"Ga jadi deh kak. Ga mood." ujar Zia sekenanya.

__ADS_1


"Untung kamu cewek Zi,"


"Kalo cowok?" tanya nya lagi. Ekspresi nya seperti anak kecil, di tambah matanya yang sembab dan ujung hidungnya yang merah membuat kesan menggemaskan nya bertambah.


"Aku ajak mati sama-sama." jawab Dimas kesal.


Zia terkekeh. "Pengen dong di ajak mati sama kakak."


"Zi,mulutnya!" ketus Dimas.


Lagi-lagi Zia terkekeh. "Ya lagian."


***


Zia sedang menikmati semangkok Ramen. Lelah rasanya jika hanya hanya memikirkan perasaan.


Dimas sedari tadi memperhatikan Zia. Gadis itu lucu menurut nya. Rambutnya di ikat asal, ujung hidung nya merah karna kebanyakan nangis, matanya sembab. Tepat seperti anak kecil yang habis menangis.


"Sedari kita nyampe, duduk, pesan makan sampe sekarang nih kakak liatin aku mulu tau. Ga bosan apa?" tanya Zia yang masih asik mengunyah makanannya.


"Zi, aku suka sama seseorang deh."


"Ya perjuangin!"


"Kalo kamu, mau ga aku perjuangin?" tanya Dimas sambil memainkan kedua alisnya.


"Galak ih. Ga jadi deh."


Zia tertawa melihat respon nya Dimas. Sedangkan Dimas hanya tersenyum lalu mengacak rambut Zia sekilas.


"Kakak kapan nikah?"


"Kamu kapan siap nya?"


"Ih apa sih. Kan aku nanya kakak, kenapa nanya balik?"


"Ya kan aku nikah nya sama kamu."


"Wew. Lucu!" ejek Zia.


"Kok mukanya biasa aja?"


"Lah terus maunya gimana?"


Dimas terkekeh lalu menggeleng. "Abis ini mau kemana?"

__ADS_1


Zia menoleh, "ke dufan enak deh kayanya."


"Keliatan banget lagi galau, bu." ejek Dimas dan Zia hanya berdecak.


***


Zia berjalan bersisian dengan Dimas. Tangan mereka saling bertautan. Sebelumnya tidak, namun Dimas mengatakan jika mereka seperti anak bos dan bodyguard jika jalan bersisian namun berjauhan. Zia sadar itu hanya alasan. Namun dia tidak ingin menjatuhkan moodnya.


Disini Zia seperti sedang merasakan kebahagiaan baru. Semua yang di temui nya pasti sedang tertawa bahagia, ada yang bersama pasangan dan ada pula yang bersama teman-teman.


Setelah selesai bermain di beberapa wahana, kini fokus Zia beralih pada satu wahana yang cukup memicu adrenaline.


"Kak, naik itu yuk." tunjuk Zia pada Paris Swing atau yang di kenal kursi gantung.


"Duh Zi, itu bahaya. Ga mau ah."


"Ah kamu. Payah!" ujar Zia dan langsung pergi meninggalkan Dimas.


"Zi, tunggu!" Dimas mengejar Zia, setelah berhasil dia langsung mencekal tangannya Zia.


"Itu bahaya. Kalo jatuh gimana?" tanya Dimas serius.


"Kak, itu pake pengaman. Ga mungkin jatuh lah."


"Siapa yang bisa jamin itu ga bakal jatuh?"


"Kalo ga mau ya udah. Ga usah ngomong sembarangan." Zia meninggalkan Dimas lagi. Berjalan menuju operator permainan.


"Zi, mau kemana?"


"Mau naik Paris Swing. Kakak ga mau kan? Ya udah biar aku sendiri."


Dimas menghela napas. Bagaimana mungkin dia membiarkan gadis nakal itu naik sendiri. Dimas berlari kecil untuk mengejar Zia. Dan terpaksa ikut masuk ke dalam wahana.


Posisi Zia berada di depan Dimas. Dimas was-was. Entah mengapa tapi perasaannya tidak enak sekarang.


Permainan di mulai. Perlahan tapi pasti Paris Swing mulai berputar. Dua putaran pertama semua masih biasa aja. Namun di putaran ke tiga dan seterusnya kecepatannya mulai bertambah. Terus bertambah. Putaran yang terombang-ambing membuat mereka yang sedang berada di wahana itu menjerit ngilu. Diam-diam Dimas mual. Rasanya ingin mengeluarkan semua isi dari dalam perutnya.


Hampir semua dari mereka berteriak antusias. Tapi tidak dengan Zia, dia menikmati setiap putarannya. Menutup mata dan menikmati setiap hembusan angin yang menerpa. Keringat dingin namun seru, itu lah yang di pikiran nya.


Putaran paris swing terasa melambat. Permainan sudah akan berakhir sepertinya. Masih berputar namun tak sekencang tadi.


BRUKK!!


"Ya ampun Zia!!" teriak Dimas tiba-tiba.

__ADS_1


Tbc❤️


.


__ADS_2