Kamu, Atau Dia

Kamu, Atau Dia
Episode 6


__ADS_3

"Zi.."


Zia tersenyum. Dia yakin pacarnya ini tidak akan membuatnya kecewa, ia yakin pacarnya tak seburuk yang di pikirkan teman-temannya, terutama Fisya.


Zia mengangkat kepalanya, menatap orang yang saat ini berada di seberang mejanya. Senyumnya kian memudar, Zia harus ikhlas menerima kenyataan jika bukan pacarnya yang saat ini berada di dekatnya.


"Kak Dimas, ngapain disini?"


Yang di maksud hanya memandang sekitar dan akhirnya duduk tepat di depan Zia. "Udah pulang? Atau malah belum dateng?" Dimas memandang lekat manik mata Zia.


Zia menggeleng. "Belum dateng kak. Mungkin bentaran lagi. Kan jalanan macet," ucap Zia berusaha setenang mungkin.


Dimas melirik jam yang melingkar di tangan sebelah kirinya. Lalu menatap Zia yang juga menatapnya. "See!" Dimas mendekatkan tangannya ke Zia. "Ini udah jam 2 lewat 13 menit sekian detik kalau kamu ga tau. Kalau pacar kamu itu cuma karyawan biasa, jam makan siangnya udah lewat jauh. Dan kalau dia adalah Bosnya, dia ga akan memberikan contoh buruk untuk karyawannya. Keliaran di jam kerja dan membiarkan pekerjaannya terbengkalai. So, sure you still want to wait?" Dimas menyilangkan tangannya di depan dada dan bersandar pada sandaran kursi.


Zia mengusap wajahnya sedikit kasar. "Ngga kak. Dia pasti..." ponsel Zia berbunyi dan menampilkan id caller, Adit. "Liat kak, dia nelfon. Pasti dia lagi di parkiran." Zia mengedarkan pandangannya ke luar cafe. Namun tak keliatan.


"Udah angkat aja. Jangan banyak berasumsi." Seru Dimas masih dengan posisi yang sama.


"Halo, sayang. Kamu dimana? Aku udah di... "


Kalimat Zia terpotong dengan ucapan Adit di seberang sana. Sejenak zia terdiam, dan setelahnya sambungan terputus. Pandangannya lurus kedepan. Tak sekalipun Zia tersenyum.


Dimas masih setia memantau gerak-gerik Zia. Dimas tau ada yang tidak beres. Sampai membuat Zia terdiam tanpa sepatah kata pun. Dimas menegakkan tubuhnya, menautkan tangannya di atas meja dan masih dengan menatap Zia. Dimas berdeham mencoba menetralkan suasana. Zia masih terdiam, memandang dengan pandangan kosong tanpa ekspresi.


"Zi.. Are you okey?"


Zia tersadar dari lamunannya. Menatap Dimas datar. "Gue mau pulang aja." Zia mengeluarkan selembar uang lima puluh ribuan dan membiarkannya di atas meja.


Zia berdiri hendak meninggalkan Cafe, hingga seseorang menarik tangannya. Zia menatap sang pelaku tajam. "Kalau lo masih mau disini, yaudah. Tapi tolong biarin gue pergi."


"Cafe ini ga perlu uang kamu. Ambil dan simpan kembali." Dimas mengembalikan uang Zia yang sukses membuat Zia menjerit geram. "Aku udah membayarnya." sambung Dimas santai.


Zia tersenyum sinis. "Gue yang minum, yaa gue juga yang harus bayar. Jadi lo ga perlu sok baik,"  ketus Zia penuh penekanan.


Dimas masih santai dengan perlakuan Zia yang entah kenapa jadi sedikit berbeda. Dimas melirik gelas yang berisi lemon tea milik Zia tadi. Di ambil dan di minumnya hingga tak bersisa. "Aku juga minum. Jadi jangan ngebantah. Ayo pulang!"


Yang di lakukan Dimas sukses membuat Zia melebarkan matanya. Meminum minuman bekas Zia tanpa rasa jijik sedikit pun? Bahkan Adit belum pernah melakukannya.


"Masih mau disini? Katanya mau pulang." Zia masih terang-terangan menatap Dimas.


"Gue pulang sendiri aja. Ga usah di anter." tegas Zia sambil berlalu pergi.


"Sebenernya sih males. Tapi tadi Arga nyuruh aku jemput dan nganterin kamu pulang. Yaa mau gimana? Namanya juga temen minta tolong. Masa iya ga di turutin, iya ngga?"  Dimas membuat langkah Zia terhenti. Membalik tubuhnya kembali dan menatap Dimas tajam.


"Kalau ga ikhlas. Lebih baik ga usah."


"Harus di ikhlasin." Dimas mendekati Zia dan menarik tangannya lembut keluar Cafe.


***


Sepanjang perjalanan sejak CR-V hitam milik Dimas membelah jalanan ibukota, Zia terus berdiam diri. Memandang jalanan dari balik jendela mobil. Tidak ada yang menarik. Namun Zia terus kepikiran atas ucapan Adit beberapa menit yang lalu. Dia mengatakan tak bisa datang menemui Zia karna saat di perjalanan teman-temannya ngajak makan bareng, dan Adit lupa memberi kabar untuk Zia. Alhasil Zia harus menunggu sampai dua jam lebih. Zia yang sudah terbiasa harusnya tak lagi begitu kecewa atas sikap Adit. Tak jarang, akhir-akhir ini Adit mengajaknya kencan namun harus berakhir tanpa pertemuan. Katanya dia sibuk bekerja. Zia memaklumi, namun kali ini? Kenapa harus demi teman-temannya dia batal bertemu Zia? Membiarkan Zia menunggu sampai dua jam lebih dan tak merasa bersalah? Dan lagi, bukannya ini waktu yang tepat ngajakin Zia berkumpul dengan teman-temannya bukan? Pikiran Zia berkecamuk.


"Kalau lagi galau, jangan ngajak-ngajak." Zia menatap Dimas bingung tanpa kata-kata. Dimas menunjuk ponsel Zia menggunakan dagunya. "Hp kamu dari tadi bunyi. Siapa tau penting."


Zia memeriksa ponselnya dalam diam, yang sedari tadi di biarkan di pangkuannya begitu saja.


👥 Tuyul Tuyul Gaguna


Reno Adipati  : Woii.. Gabut gue.


Reno Adipati  : Kalian ga lagi pada mati kan?


Reno Adipati  : Gue pengen bakar rumah lo pada deh.


Daniel Falleryo : Berisik, Ren.


Daniel Falleryo : Gue lagi main game.


Reno Adipati  : Hubungannya sama gue apaan?


Daniel Falleryo : Kalo lagi main game trus ada chat masuk, hp gue suka lelet gitu


Daniel Falleryo : Ga rela banget gue kalo kalah cuma karna lo.


Reno Adipati  : Oh begityu.

__ADS_1


Reno Adipati  : Buang aja hp lo sana. Ganti yang baru.


Daniel Falleryo : Kalo aja di hp gue ga ada kenangan kita berdua, mungkin udah gue lempar ke rawa-rawa dari lama, Ren. :(


Reno Adipati : Jadi cuma karna kenangan kita doang nih? Makin sayang Daniel akutyuh😘


Nafisya Utari : Nyesel gue stay di group. Baca chat kalian jijik banget.


Nafisya Utari : Lagian yaa, Dan. Gue kira lo normal. Lah ternyata sama aja kayak si Reno.


Nafisya Utari : Tampangnya lumayan, eh malah BELOK!


Reno Adipati  : Fisyaa sayang.. Lo kalo ngatain orang suka ga setengah-setengah yaa.


Reno Adipati  : Jadi tambah pengen gampar :*


Daniel Falleryo : Jadi tambah pengen gampar :* (2)


Nafisya Utari  : Berani lo?


Daniel Falleryo : Menurut lo?


Reno Adipati  : Menurut lo? (999)


Nafisya Utari : Bodo.


Reno Adipati  : Lo mah emang bodo dari lahir.


Nafisya Utari  : Bangke lo dasar.


Nafisya Utari : Eh btw si @arumisyakilla mana nih? Soalnya gue ada hot news tentang si @fauziasukma nih.


Daniel Falleryo : Apaan?


Daniel Falleryo : Rumi lagi boboq di bathroom.


Reno Adipati  : Apaan? (998)


Reno Adipati  : Bedroom bangke -,


Nafisya Utari  : Shut up.


Reno Adipati  : Buruan!


Nafisya Utari  : Ck. Jadi gini, tadi itu gue sama Zia abis kenalan sama kembarannya Zayn Malik. Tapi gantengan ini sih. Tapi yang bikin gue ga seneng, dia malah ketemuan sama pacarnya yang ga jelas itu. Dan lo pada tau? Cowo ganteng itu malah nganterin Zia, mbing..


Daniel Falleryo : Siapa sih? Penasaran gue.


Reno Adipati   : Siapa sih? Penasaran gue. (2)


Nafisya Utari  : Rekan kerjanya kak Arga.


Daniel Falleryo : Pengen ketemu\=_ #ngerasa tersaingi


Fauzia Sukma  : YANG BERHENTI GHIBAHIN GUE, GUE TRAKTIR MAKAN SEMINGGU DI KANTIN MBA DESI!


Zia menghela nafas dan memasukan ponselnya ke dalam tas. Kini fokusnya tertuju pada Dimas yang ntah sejak kapan menerima telfon. Wajahnya datar seperti biasa.


Dimas menoleh ke samping. Lalu tersenyum simpul kepada Zia yang ketauan sedang menatapnya. "Saya sedang tidak bisa kesana sekarang. Ada hal yang jauh lebih penting,"  ucap nya kembali fokus menjalankan mobilnya yang tadi sempat berhenti terkena macet.


"Kamu kirim via email aja. Nanti malam saya periksa." setelahnya sambungan terputus. Dimas kembali memasukkan ponselnya ke saku celana.


"Kakak, sibuk?" Dimas menatap Zia lalu mengangguk. "Kalo gitu, aku pulang sendiri aja kak ga papa kok."


"Aku sibuknya sekarang, Zia." Dimas menatap Zia. "Jadi ojeknya kamu," sambungnya.


Zia mengerutkan dahi. "Aku ga pernah nganggep kamu ojek kok kak, serius." Zia mengubah posisinya menjadi miring ke Dimas, tepat menghadap Dimas. "Kakak ngerasa jadi ojeknya aku ya?"


Dimas mengangguk. " Buktinya, udah 10 menit lebih kita satu mobil kamu diem aja. Persis banget kayak tukang ojek sama penumpangnya." Dimas melirik Zia yang menatapnya dengan tatapan bersalah. "Udah ga usah di pikirin. Aku bercanda," jelas Dimas tersenyum.


Zia membuang muka, mengubah posisinya seperti semula. Menyilangkan tangannya di depan dada lalu bersandar. "Aku lupa, orang kayak kakak ga mungkin baperan." cetus Zia yang enggan menatap Dimas. Zia lebih memilih melihat jalanan dari jendela mobil hitam itu.


Dimas tersenyum. Mengelus puncak kepala Zia sekilas. "Ih ga usah elus-elus. Ntar istri kakak marah." ketus Zia kesal.


"Masih calon."

__ADS_1


Zia terkejut lalu menatap Dimas tak percaya. "Seriusan udah punya kak?"  Dimas menggangguk. "Bentaran lagi nikah dong pasti."


Dimas kembali menggangguk. "Wah pengen liat calon istri kakak deh. Penasaran wanita modelan gimana sih yang bisa meluluhkan hati pria kayak kakak."


Dimas mengeluarkan ponselnya. Mengklik suatu menu lalu di berikan pada Zia. "Wanita ini yang udah berhasil meluluhkan hati ku."


Zia melihat ponsel Dimas yang ada di tangannya. Camera mode on. " Ini tuh camera kak, mana fotonya?" tanya Zia penasaran.


Dimas menghela nafas sedikit kasar. "Kamu ga akan pernah ngerti, Zi." Dimas mengambil ponselnya yang masih ada di tangan Zia. "Turun lah, udah sampai." sambung nya dengan tatapan lurus kedepan. Dimas mencengkram kemudi dengan keras. Terlihat jelas dari jari-jari tangannya yang kaku.


"Kakak, ga mampir dulu?"  tanya Zia sedikit tak enak hati. Namun Dimas hanya menggeleng. "Yaudah. Aku turun dulu. Makasih ya kak udah mau nganterin aku." Dimas hanya mengangguk tanpa satu kata pun. Bahkan Dimas tak menatap Zia sedikit pun.


***


Zia memasuki rumah dalam diam. Bukan, bukan mengendap-ngendap seperti maling. Namun Zia tak menghiraukan keberadaan sang kakak dan sahabatnya di ruang tamu. Beberapa kali juga Fisya memanggilnya. Pikirannya bercabang kali ini. Ia memikirkan perubahan Dimas yang bahkan cuma dalam beberapa menit itu. Dan sikap pacarnya yang kian hari berubah.


Zia melempar asal tasnya ke atas meja belajar. Lalu merebahkan tubuhnya di atas kasur kesayangan. Zia memejamkan mata. Ia terlalu lelah hari ini. Zia mengubah posisinya lalu memeluk guling. Baru aja ia hendak menyambangi dunia mimpi, pintu kamar di ketuk lalu terbuka.


"Zi..."


Siapa lagi pelakunya kalau bukan Nafisya Utari anaknya tante Ira itu.


"Woy bangun ih," Fisya mengguncang tubuh mungil Zia. "Gue mau cerita nih, urgent."


" Zi, please deh jangan ngebo kali ini aja."


"Woiii" Fisya teriak tepat di telinga Zia, membuat sang empunya menjerit kesal.


"Apaan sih lo. Ga ganggu gue sekali aja mungkin langsung gila ya lo, Sya." Geram Zia yang langsung terduduk lemas.


"Yee sorry deh. Tapi gue mau cerita nih, Zi. Urgent serius." Fisya langsung menyeret kursi belajar milik Zia. 


"Awas ya lo kalo ga penting," hardik Zia.


"Lo kemana aja sama doi?"


Zia menatap Fisya heran. "Lo mau nanya atau mau cerita sih?"


"Mau nanya sih sebenernya," ucap Fisya sekenanya.


Zia memutar bola mata malas. Tau betul apa yang ada di otak sahabat kecilnya itu. "Ga kemana-mana gue."


"Bohong. Tadi aja Dimas bilang lagi nungguin lo,  pasti lo kemana-mana kan sama Adit?"


"Kak Dimas bilang gitu?" Fisya mengangguk. "Kok bisa? Kapan?" sambungnya.


"Ck. Tadi pas kak Arga nanya dia lagi dimana, dia bilang lagi nungguin lo."


"Kak Arga ngapain nanyain dia?"


"Ada yang perlu mereka bahas. Untuk next job mereka udah harus berunding. Kayak kerja sama gitu. Dan lo tau apa jawaban si kembaran Zayn Malik itu?"  Fisya bersandar pada punggung kursi.


"Apa?"


Fisya berdeham. "Gue ga bisa sekarang, Ga. Gue lagi nungguin Zia. Paling ngga lo bisa lah ambil keputusan sendiri. Gue ngikut lo aja."


Jawaban Fisya membuat Zia termenung. Pasalnya, Dimas bilang tadi dia disuruh Arga untuk mengantarnya pulang. Dan sekarang? Fisya bilang dia nungguin Zia dan bahkan melalaikan pekerjaannya? Buat apa?


"Jadi, lo kemana aja?" tanya Fisya sambil mengetikkan sesuatu di ponselnya.


"Ga kemana-mana." Fisya menatap Zia curiga. "Bahkan Adit aja ga dateng, Sya." Zia memeluk guling erat, menenggelamkan wajahnya seakan ia ingin mengalirkan sakit hatinya itu.


Fisya mendekat lalu memeluk tubuh Zia yang mulai bergetar kecil. "Jangan nangis, gue ga suka liat lo cengeng kebegini. Mungkin dia ada kesibukan lain." katanya tersenyum.


Zia mengangkat kepala, menatap Fisya yang kini juga sedang menatapnya. "Lo tu ada di pihak siapa sih, Sya?"  tanya Zia sambil menghapus air matanya.


Fisya tersenyum lalu menggeleng. "Lo mau ikut gue lari ga?"


"Dari kenyataan?" sahut Zia.


"Bukan ih." Fisya menoyor sahabatnya itu. "Lari sore di taman depan ogeb."


Zia tertawa. Zia tau betul maksud dan tujuan Fisya saat ini. Fisya tau di saat sedang sedih, Zia hanya ingin berlari sekuat tenaga. Maka dari itu, ia mengusulkan berlari sore hari ini.


Tbc!

__ADS_1


Happy reading 😘


__ADS_2