
Tok.. Tok.. Tok..
Ketukan pintu membangun kan seorang wanita yang sedang tidur dengan posisi yang berantakan di atas ranjang. Perlahan kelopak mata itu terbuka lalu dia meregangkan otot khas orang yang baru bangun tidur.
Tok.. Tok.. Tok..
Lagi-lagi ketukan itu terdengar. Zia langsung bangun dan membuka kan pintu kamarnya dengan rasa malas yang membludak. Hal ini menjadi salah satu alasan Zia malas mengunci pintu dari dalam.
"Kenapa, mbok?" Tanya Zia pada asisten rumah tangganya setelah sebelumnya membuka pintu terlebih dahulu.
"Kamu belum makan dari tadi siang, ndok. Mau mbok bawakan ke kamar toh makanannya?" tanya mbok Lasmi lembut.
Zia tersenyum. Inilah yang membuatnya suka pada mbok Lasmi sejak dulu. Perhatiannya pada keluarga ini tidak perlu di ragukan lagi.
"Ga usah, mbok. Nanti Zia makan di bawah aja."
"Beneran toh? Ini udah waktunya makan malam." mbok Lasmi memastikan lagi. Rasanya jika ada yang sakit karna telat makan di rumah ini si mbok akan langsung sedih karna merasa tidak beres melakukan kewajibannya.
"Iya mbok. Oh ya mbok, mama sama papa pergi ya?"
"Iya, ndok. Katanya sih ada urusan ke luar kota gitu tadi. Dua atau tiga hari ke depan baru pulang."
Zia cemberut. "Kok Zia ga di kasih tau sih?
"Mungkin lagi sibuk, ndok. Jangan sedih gitu dong." Zia hanya mengangguk mengiyakan. "Yaudah mbok ke bawah dulu, nanti kalo ada perlu apa-apa bilang aja ya.." sambungnya kemudian.
Zia memasuki kamar, kepalanya sedikit sakit. Mungkin karna terlalu banyak nangis tadi. Berbicara tentang nangis, Zia ketiduran saat sedang menangisi perkataan Arga terhadapnya.
Dering ponsel mengiterupsi pikiran Zia. Ia mendekati ponsel dan melihat nama siapa yang tertera di layar.
"Halo"
"Turun! Gue di bawah."
"Bawah mana?" tanya Zia heran.
"Bawah tanah. Gila ya lo, ya di rumah lo lah, di ruang tamu. Buruan turun."
__ADS_1
"Iya, bawel lo ah."
Sambungan terputus gitu aja. Dasar Reno. Kenapa harus datang di waktu yang salah sih? Benar-benar menyebalkan.
Zia bergegas keluar dari kamar. Saat Zia membuka pintu, secara kebetulan pintu kamar di sebelahnya yang tidak lain adalah kamar Arga juga terbuka dan muncul dua orang yang berbeda namun menampilkan ekspresi yang sama.
"Kamu mau kemana?" tanya Dimas pada Zia.
"Ke bawah." Zia langsung meninggalkan mereka.
Zia menuruni anak tangga. Dan dapat di lihatnya Reno sedang duduk di sofa dan memainkan ponselnya dengan serius.
"Lo sendiri? Yang lain mana?" tanya Zia yang duduk di sebelah Reno dan sesekali melihat ke arah ponselnya yang sedang menampilkan game yang sedang booming di kalangan kaum adam itu.
"Ga tau gue."
"Lo ngapain kesini?"
"Emang gue ga boleh main kesini apa?"
"Eh tolong di benerin kata-katanya pak. Bukan main kesini, tapi numpang main game disini, itu yang bener." Zia mendengus lalu menyandarkan punggungnya. "Gue tau kok lo cuma mau ngibrit numpang WiFi kan di sini? Ngaku deh lo!" sambungnya kemudian.
"Lagi pengen gampol orang deh, Ren. Lo mau ga sih gue gampol?" Zia menegakkan tubuhnya lalu menghadap ke Reno.
Tiba-tiba bahu Zia di pukul oleh Reno yang membuatnya ingin menelan Reno saat ini juga.
"Apaan sih lo? Bosen hidup?"
"Zia sayang, gue menang dong." ujarnya antusias. "Eh by the way, cari makan yuk?"
Zia menatap Reno kesal. "Mager gue."
"Aelah. Temenin gue, please." Reno memohon dengan tampang memelas yang membuat Zia tambah kesal.
Zia berdecak sebal. "Yaudah gue ganti baju dulu."
Zia akan berdiri menuju kamar namun tangannya di cekal oleh Reno." Udah gini aja, lama deh."
__ADS_1
"Lo gila? Di luar dingin bego."
"Pakai jaket gue aja. Lagian gue juga pakai mobil kok, ga pakai motor."
"Awas ya kalo gue masuk angin karna pergi sama lo malam ini," ancam Zia.
***
Zia sudah selesai menyantap hidangan yang tadi di pesannya dengan Reno. Kali ini mereka memilih untuk makan di pinggir jalan karna Zia tidak percaya diri dengan penampilan dia saat ini yang hanya memakai celana di atas lutut dan kaos pendek yang di lapisi jaket Levi's milik Reno.
Zia celingukan, sebab Reno belum juga kembali setelah tadi pamit mengangkat telepon.
Ponsel Zia bergetar singkat menandakan ada pesan masuk. Di layar tercantum nama Reno yang membuat Zia langsung membuka pesan itu.
From: Reno
Gue ada urusan mendadak, Zi.
Lo pulang sendiri ga papa kan?
Lo bayar pake uang lo dulu aja ya? Besok Gue ganti.
Ingin rasanya ia menenggelamkan Reno saat ini juga ke dasar samudra pasifik. Biar Reno bertemu dengan ondel-ondel laut yang menjadi spesies sepertinya, reunian dan hidup bahagia disana.
Agrrhh.. Dasar Reno sahabat yang ga tau di untung. Bagaimana bisa dia meninggalkan Zia sendiri sedangkan dia yang memaksa untuk menemaninya mencari makan? Awas jika nanti bertemu, akan Zia kasih pelajaran yang setimpal.
Setelah melakukan ritual bayar-membayar, Zia berjalan menyelusuri malam. Untung di balik case ponselnya selalu di sisihin uang, jika tidak bagaimana dia membayar makanannya tadi? Zia terkekeh sendiri membayangkan bagaimana jika tadi dia tidak membawa uang, akan kah dia harus mencuci piring dulu baru di boleh kan pulang? Jika iya, berarti yang di kisahkan dalam sinetron itu benar adanya.
Zia melihat ke kiri dan ke kanan, merasa aman Zia langsung melangkah kaki guna untuk menyeberang. Namun saat di pertengahan ada silau lampu sepeda motor yang melaju sangat cepat sampai mengalihkan pandangan Zia.
Zia gugup dan merasakan badannya melayang bersamaan dengan sepeda motor itu berlalu melewatinya.
Orang dia sekitarnya kian berteriak berlarian menghampirinya. Namun ada yang mengusik pendengarannya, ada seseorang yang mengenalinya di sini.
"Zia.. Hei buka mata kamu. Kamu ga papa Kan?"
Suara itu, suara itu.. Ya tidak salah lagi, itu suara Dimas. Sedang apa dia di sini?
__ADS_1
Tbc💗