Kamu, Atau Dia

Kamu, Atau Dia
Episode 18


__ADS_3

Zia berjalan tertatih. Kaki nya memar dan sedikit membengkak. Dimas sedang mencari es untuk mengompres kaki Zia. Dimas tampak panik saat melihat Zia jatuh tadi.


Zia berhenti di salah satu kursi yang tersedia di sekitar nya saat ini. Memilih duduk karna sudah merasakan sakitnya yang semakin terasa.


"Aku bilang juga apa. Itu bahaya. Kamu ga mau dengerin aku. Jadi kaya gini kan?" omel Dimas saat sudah berada di hadapan Zia.


Dimas duduk di bawah dan meraih kaki Zia yang memar. Zia terkejut lalu ingin menarik kembali kakinya namun di tahan oleh Dimas.


"Nurut aja sekali ini Zi. Diem dan tolong di lemasin aja kaki nya. Abis ini kita langsung ke dokter."


"Aku ga terima penolakan!" lanjut nya saat melihat Zia akan menyela perkataannya.


"Cuma nyeri dikit doang kak. Ngapain ke dokter segala sih?" tolak Zia. Zia paling takut dengan Rumah Sakit dan teman-temannya.


"Kalo ada urat yang geser? Atau tulang yang patah? Kamu mau pincang seumur hidup? Kalo aku sih ga mau."


"Tapi aku ga bisa jalan kak."


"Aku gendong."


"Aku berat. Baru juga naik 5 kg kemarin." kata Zia bohong. Dia masih ingin mencegah Dimas supaya tidak membawa nya ke Rumah Sakit.


"Aku masih cukup kuat untuk gendong kamu, Zi."


"Tapi aku--"


"Apa?" potong Dimas.


"Pokoknya aku ga mau ke Rumah Sakit kak. Titik!"


"Kenapa? Takut?" tanya Dimas. Kini ia telah duduk di samping Zia, dan menatap lembut wanita di depannya itu.


"Nggak. Aku ga takut."


Dimas berdiri lalu mengulurkan tangannya. "Kalo gitu, ayo!" ajaknya lembut.


"Ga bisa jalan." ujar Zia sambil mengalihkan tatapan nya.


Dimas tersenyum lalu menggendong Zia. Dimas dapat merasakan badan Zia yang kaku karna terkejut dan Zia langsung mengalungkan tangannya ke bagian leher Dimas.


Dalam perjalanan menuju rumah sakit mereka hanya diam. Entah itu Zia atau pun Dimas keduanya tidak memiliki topik pembicaraan. Hanya ada suara musik dan sesekali bunyi klakson mobil Dimas.


Zia menghela napas. Rasa sakit di kaki nya mulai terasa lagi. Zia memejamkan mata, menyandarkan kepalanya ke punggung kursi..


"Kenapa? Sakit lagi?" tanya Dimas tiba-tiba


Zia hanya mengangguk tanpa berniat membuka mata. Tangan Dimas terulur untuk menggenggam tangan kanan Zia.


"Sabar ya, sebentar lagi kita sampai." ujar Dimas lagi sambil mengelus tangan Zia.


***

__ADS_1


Dimas menghentikan mobilnya di depan rumah berdesain minimalis berlantai dua itu. Lalu melirik ke arah wanita yang sedang tertidur di sebelah nya. Sejak pulang dari Rumah Sakit Zia memilih tidur. Karna selama di Rumah Sakit dia selalu membujuk Dimas untuk tidak menemui dokter. Dia tidak ingin di periksa, katanya.


Bahkan tadi Zia sempat lompat dan salah mendarat, alhasil Zia hanya bisa meringis kesakitan untuk kesekian kalinya.


Dimas melepaskan safety belt nya. Lalu keluar dan membuka pintu di sebelahnya. Rasanya Dimas tidak ingin mengganggu  tidur wanita itu. Dan pilihan nya hanya satu. Tanpa pikir panjang Dimas langsung menggendong Zia masuk ke rumah.


Arga yang membuka pintu terkejut melihat adik semata wayang nya dalam gendongan temannya itu.


"Eh adek gue lo apain?" tanya nya serius.


"Nanti gue jelasin. Ayo kasih tau kamar Zia. Berat tau ini." protes Dimas pura-pura kesal.


Arga berjalan mendahului Dimas menuju kamar Zia. Kebetulan kamar Zia berada di lantai atas di depan kamar Arga. Sesampainya mereka di depan pintu kamar berwarna putih yang ada ukiran nama pemiliknya di sisi sebelah kanan,  Arga langsung membuka pintu menyuruh Dimas masuk ke dalam.


Arga memperhatikan Dimas yang dengan sangat perlahan menurunkan Zia di atas ranjang, seolah tidak ingin membuat tidur wanita itu terganggu sedikit pun.


Dimas menyelimuti Zia. Wajahnya damai. Dimas tersenyum lalu mengalihkan pandangan nya. Di lihatnya Arga sedang tersenyum jahil ke arahnya.


"Ayo keluar, ga boleh lama-lama di dalam kamar cewek. Bahaya," ujar Dimas terkekeh.


"Kok gue ngerasa ada aroma cinta ya?" ledek Arga yang langsung menyusul Dimas yang sudah berjalan dahulu.


"Apa sih? Ga denger gue." kata Dimas dan hanya di tanggapi dengan tawa oleh Arga.


Selanjutnya mereka terlibat perbincangan. Dari topik ringan sampai topik berat, seperti masalah kerjaan misalnya.


Keduanya memang sudah akrab sejak mereka masih mengenyam pendidikan. Namun harus berpisah karna orang tua Dimas pindah tugas.  Tapi itu tidak membuat mereka putus kontak dan saling melupakan. Mereka masih berkomunikasi lewat sosial media.


Zia bangkit dari tidurnya. Mencoba mengingat dimana posisi akhir dirinya sebelum memilih tidur. Zia ingat terakhir dia bersama Dimas menuju rumahnya dari Rumah Sakit. Lalu kenapa tiba-tiba dia udah berada di kamar? Tanya Zia dalam hati.


Sayup-sayup Zia mendengar suara tawa dari lantai bawah. Zia melirik jam yang tertengger di atas meja sebelah ranjangnya, pukul 20.39 wib.  Apakah papa dan kakaknya yang sedang tertawa di bawah?


Zia berdiri lalu berjalan pelan-pelan. Kaki nya nyeri, namun dia ingin ke bawah. Perutnya sudah minta di isi kembali seperti nya.


Zia menuruni anak tangga, sampai di anak tangga yang terakhir dia dapat melihat jelas siapa yang sedang tertawa bersama di sana.


"Eh dek, kok bangun?" ujar Arga saat menyadari kehadiran Zia. Arga mendekat lalu menuntun Zia menuju sofa.


"Gimana ga bangun. Kalian berdua lagi cerita atau demo? Berisik banget." omel Zia.


"Jadi terganggu?" tanya Arga, lagi.


"Menurut lo!" ketus Zia. "Mama mana kak?" sambungnya kemudian.


"Pergi sama papa."


"Beliin gue makanan dong. Laper banget gue."


"Tadi di ajak makan ga mau. Orang sok mah gini nih." cetus Dimas sambil memainkan ponselnya.


"Tadi kan ga laper."

__ADS_1


"Jadi sekarang laper?"


"Ya menurut lo? Lagian ini juga karna lo berdua kak. Coba aja kalian ga berisik, pasti gue ga bakal bangun terus ngerasa laper gini."


"Ngeles mulu lo kaya bajai," Arga menyentil kening Zia yang membuat nya meringis.


"Mau ga? Kalo ga bilang aja ga usah pake kekerasan gini." omel Zia, lagi.


"Iya iya.. Men gue beli makanan dulu ya, jagain adek gue." ujar Arga sambil menyambar kunci mobil.


Zia terkejut mendengar ucapan kakaknya itu.


"Lo percaya ninggalin gue sama kak Dimas?" tanya Zia yang membuat Arga dan Dimas mengerutkan alis bingung. "Kak Dimas ikut sama lo aja." lanjut Zia kemudian.


"Lo yakin berani sendirian?"


"Emang mbak Yani kemana?" tanya Zia was-was.


"Off."


"Berani?" tanya Dimas meyakinkan.


"Berani lah. Ya udah buruan kalian pergi deh, laper ini," katanya sambil cemberut.


"Ya udah." Dimas dan Arga mulai berjalan dan udah hampir keluar rumah.


"Eh kak, tunggu deh." teriak Zia. "Gue ikut aja deh. Biar langsung makan di sana. Kaya nya lebih enak." alibi Zia. Sebenarnya dia takut jika harus sendiri di rumah. Ya walaupun ada satpam di luar.


"Alasan aja deh bocah." ujar Dimas dan Arga berbarengan.


***


Di sisi lain ada sepasang kekasih yang sedang makan bersama di salah satu restaurant besar di ibukota.


"Sayang, nanti acara pernikahan kita harus di dekor pakai bunga segar semua ya. Biar keren." ujar wanita itu antusias.


Pria itu hanya mengangguk singkat dan memainkan makanan yang ada di depannya.


"Kamu kenapa sih? Dari tadi ga semangat gitu? Hm kenapa?"


Pria itu berdeham, "Kamu yakin mau melanjutkan pernikahan kita?"


Wanita itu diam tak percaya atas apa yang di dengar nya. "Kenapa?"


"Aku ngerasa ada yang salah." pria itu menghela napas lelah.


"Kenapa?  Kamu masih mikirin mantan kamu yang ga berguna itu?" tanya wanita itu mulai emosi.


"Rame, dia itu sahabat kamu!" bentak Adit.


"Itu dulu Dit. Sekarang bukan!" ujar Rumi penuh penekanan.

__ADS_1


Tbc❤️


__ADS_2