
“Daniel, tolong jelasin ke gue maksud dari semua ini! Lo, aaghhh..” Fisya mengacak rambutnya kasar sampai mengalihkan pandangannya singkat.
Fisya kembali menatap Daniel dengan tatapan benci. Jarinya terangkat dan menunjuk tepat di depan wajah Daniel. “Lo orang yang gue kira paling bener di antara kita yang lain, nyatanya lo adalah pembohong yang handal. Lo terlalu pintar bermain drama sampai gue nggak menyadari apa pun, Dan. Sekarang gue minta, lo keluar dari sini!”
“Cepat keluar! Keluar, Daniel, keluar!” teriak Fisya saat mendapati Daniel yang masih berdiri di tempatnya.
Dada Fisya naik turun karna emosi. Emosinya kini menguasai diri hingga ia lupa, di kamar ini tidak boleh ada keributan yang bisa mengganggu pasien. Fisya menatap Zia lalu menghampiri sosok sahabatnya itu.
Daniel melirik Dimas yang saat ini sedang bersedekap sembari mengangguk singkat. Ia kembali melirik Fisya yang sudah duduk di sebelah Zia. Daniel berjalan mendekati gadis itu. Di elusnya puncak kepala Fisya yang langsung di tepis oleh sang empunya.
“Gue pergi dulu,” ujar Daniel.
“Pergi aja. Nggak usah balik kesini lagi. Bener kata kak Dimas, Zia nggak butuh temen kaya lo!” ketus Fisya yang masih enggan menatap Daniel.
Daniel berbalik menuju pintu keluar. Sebelum membuka knop pintu, Daniel sempat melirik Dimas. Pandangan pria itu masih saja terpaku pada gadis yang sedang berjuang untuk bertahan hidup disana. Daniel menghela napas sembari melirik semua yang ada disana secara bergantian, setelahnya barulah dia pergi keluar dari sana.
Dengan berat Daniel melangkah menjauhi kamar rawat Zia. Sebenarnya dia masih ingin disini, menemani Zia dan memantau semua progres tentang kesehatannya. Dengan keyakinan yang besar, Daniel percaya Zia akan tetap baik-baik aja.
Dengan lincah kakinya berjalan menuju taman rumah sakit. Ia memilih untuk duduk di kursi panjang yang tersedia disana. Setelah mendaratkan bokongnya pada kursi, Daniel mengeluarkan ponselnya. Dia tetap harus mengontrol ayah serta ibunya dari sini.
“Kenapa lo lakuin ini?”
Daniel menoleh dan mendapati Reno yang sedang berdiri tidak jauh darinya. “Apa?” tanyanya acuh dan kembali fokus pada ponselnya.
Reno mendekat lalu menoyor kepala Daniel sesuka hati. “Gue tau lo nggak ada sangkut pautnya sama Rumi. Gue tau lo sama sekali nggak salah disini. Tapi kenapa lo bohong? Kenapa lo terima dan malah membenarkan saat Dimas nuduh lo campur tangan atas kecelakaan yang menimpa Zia? Kenapa, Dan?”
Daniel berdecak kesal lalu berdiri menghadap Reno. Ponselnya di masukkan kedalam saku celana. “Yang harusnya nanya kenapa itu, gue!” Daniel menekan kata-katanya.
__ADS_1
“Lo harusnya mikir, Ren. Untuk membela salah satu dari mereka aja kita nggak bisa, apalagi memihak. Lo pernah nyadar nggak sih yang lo lakuin itu salah besar. Zia sahabat kita. Karna lo dan sahabat yang lo bela mati-matian itu, Zia masuk rumah sakit sekarang. Dia koma!”
“Gue tau. Dari awal gue nggak pernah punya niatan untuk nyakitin Zia, lo tau itu. Gue juga udah ngingetin Rumi untuk nggak berbuat yang aneh-aneh ke Zia,” kalimat Reno terhenti saat Daniel mencetuskan pertanyaan telak.
“Kalau gitu, dimana lo saat Zia nyaris mati tertabrak waktu itu?”
Reno mati kata. Dia mengacak rambutnya frustasi. “Dan, gue--”
“Gue tau lo suka kan sama Rumi? Makanya lo bela-belain ngedukung dia walaupun lo tau dia salah. Lo luar biasa, Ren.”
“Oh, jadi udah berhasil?”
Keduanya menoleh ke sumber suara. Fisya dengan tatapan dinginnya sedang berdiri tidak jauh dari mereka. Melihat keduanya tampak bingung, Fisya memilih untuk mendekat.
“Gue kira butuh waktu buat mancing lo muncul di hadapan kita. Ternyata gue salah, lo langsung muncul, Ren,” Ujar Fisya.
“Niatnya gue emang mau nyusulin lo, karna kak Dimas udah kasih tau semuanya ke gue kalau kalian cuma mau mancing Reno doang.” Fisya melirik Reno. “Eh nggak taunya ketemu dia juga.” sambungnya malas.
“Sya, terserah lo mau benci gue atau gimana, gue nggak peduli. Tapi kok lo tega jeblosin Rumi ke penjara? Dia lagi hamil, Sya, kasian.” Reno mengunci tatapannya pada Fisya.
“Ha-- Hamil?”
“Iya, dia hamil anaknya Adit. Itulah kenapa dia mati-matian berusaha untuk mempertahankan Adit. Iya gue tau caranya salah. Cuma bisa nggak sedikit aja kalian mikirin perasaan dia?” jelas Reno.
Daniel dan Fisya saling berpandangan. Raut terkejut tidak bisa di tutupi oleh keduanya. Fisya memejamkan matanya sebelum mengatakan. “Zia juga sama. Dia mati-matian mengubur perasaannya ke Adit. Demi siapa? Demi Rumi! Jangan egois, yang korban disini itu Zia, bukan Rumi.”
***
__ADS_1
Dimas tersenyum kala tangannya menyentuh jemari Zia. Gadis itu tampak tenang namun meninggalkan kesan perih bagi yang melihatnya.
“Ayo dong bangun. Kata mama anak gadis nggak boleh tidurnya kelamaan, nanti jodohnya jauh.” Dimas mengelus pipi Zia. “Tapi kamu tenang aja, aku nggak akan kemana-mana biar jodoh kamu nggak jauh.” sambungnya sembari terkekeh geli.
“Zia, aku sayang sama kamu. Aku sayang sama kamu bahkan sejak kamu masih kecil. Masih ingusan, ijo lagi ingusnya. Kamu dulu itu jorok banget tau, Zi. Suka tiba-tiba dateng ke aku terus ngasih ingus. Jarang mandi, tapi herannya tetep wangi deh dulu.”
“Kamu itu dulu kurus banget, suka nggak pake baju. Lari-larian di depan rumah nggak pake baju coba, bayangin deh. Dasar cewek gatau malu.” jedanya sebentar. Tangannya merapikan anak rambut Zia. “Pertama kali kita ketemu lagi waktu kamu udah gede, aku sempet nggak nyangka sih, anak kecil yang sering banget ingusan dulu bisa secantik ini. Eh tunggu, nanti kalau kamu sadar, aku mau memastikan satu hal deh ke kamu. Kamu nggak oplas kan?”
Dimas kembali menggenggam tangan Zia. Dia tersenyum sembari memandang wajah wanitanya itu. “Kamu bangun, ya. Kalau kamu bangun, nanti kita nikah.”
Jemari Zia bergerak setelah Dimas mengatakan kalimat terakhir. Dimas nyaris tak terbeku di tempat. Dia takut ini juga awal dari kabar buruk sama seperti seminggu yang lalu.
Dimas berdiri bermaksud ingin memanggil dokter. Dia takut setelah ini kabar buruk kembali harus ditelan mentah-mentah. Namun langkahnya terhenti saat mendengar suara dari belakangnya.
“Gue dimana?”
Zia memijat kepalanya yang terasa mendenyut. Namun dia tampak meringis saat tidak sengaja menekan bagian lukanya. Dimas melangkah pelan menuju ranjang Zia. Bukan, bukannya dia tidak senang Zia sudah bangun. Namun Dimas takut kejadian yang sama terulang lagi.
“Zia...”
“Kak Dimas?”
“Iya, ini aku.”
“Kak, tolong hidupkan lampunya!”
Tbc♥️
__ADS_1