Kamu, Atau Dia

Kamu, Atau Dia
Episode 36


__ADS_3

“Apa gue ganggu?”


Audi memunculkan kepalanya disisi pintu yang dibukanya. Dia tersenyum saat mendapati Fisya yang mengangguk pertanda dia boleh masuk dan bergabung didalam. Audi sedikit berlari dan langsung memeluk Zia singkat, tak lupa juga dia memberi kecupan pada pipi Zia yang langsung di usap jijik oleh sang empunya. Dia terkekeh dan beralih cipika-cipiki pada Fisya.


Fisya masih memperhatikan Audi yang membanting tubuhnya pada sofa rumah sakit, sebelumnya sudah dia dekatkan dengan posisi ranjang saat ini. Wajah capeknya sangat kentara, namun Audi tetaplah Audi yang tidak bisa diam kecuali sedang tertidur.


Audi menghela napas sembari bersandar. Tangannya direntangkan disisi atas sofa. “Capek banget gue.”


“Abis nguli lo?” tanya Fisya. Wanita itu sedang mengupas apel untuk diberikan pada Zia.


“Gue belum cerita emang sama lo?”


“Cerita apa?”


Audi mengubah posisi duduknya menjadi lebih tegak. Yang membuatnya dapat melihat Fisya yang sedang berdiri membelakanginya dan Zia yang sedang duduk membisu diatas ranjang.


“Sejak Zia masuk rumah sakit, Pak Dimas mana pernah mendarat dikantor. Lo tau lah dampaknya apa. Mas Anton yang handle semuanya, dan dia minta gue bantuin dia. Berengsek banget nggak tuh,” ujar Audi berapi-api.


“Terus lo mau aja gitu?” tanya Fisya. Dia berjalan mendekati Zia dan memberikan buah yang sudah di potong-potongnya lalu duduk menghadap Audi.


“Awalnya ya nggak. Gue nolak mentah-mentah, bulet-bulet, apalagi deh itu bahasanya, yang penting gue nolak keras.” jeda sebentar. “Gue bilang aja ke Mas Anton kalau kita beda kelas, gue cuma kacung abal-abal mana bisa bantuin dia nge-handle kerjaan CEO. Gue masih sayang diri gue sendiri sumpah. Ogah gue kayak Zia yang hampir kena damprat sama Mas Anton waktu kerjaannya di protes sama Pak Dimas.”


Fisya tersedak saat tengah minum. “Emang pernah?”


Audi mengangguk. “Pernah. Kita belum cerita ya sama lo?” Fisya menggeleng. “Ya gitu deh, pokoknya kerja disana nggak semulus jalan tol, sumpah.”


Fisya terkekeh sembari melirik Zia. “Terus gimana, lanjut deh ceritanya.”


Audi berjalan dan duduk disebelah Zia. Dia juga menjulurkan kakinya seperti Zia. “Waktu gue balik ke kubikel gue, eh HP gue bunyi dong. Lo tau siapa yang nelfon? Dimas. Dimas nelfon gue nyuruh gue bantu Anton. Katanya, Zia aja bisa bantuin Anton masak kamu nggak? Kan kalian satu divisi. Gila emang.” Audi memang labil. Terbukti dari omongannya yang kadang memakai embel-embel Pak atau Mas, dan sekarang hanya memakai nama.


“Mana disetiap harinya banyak banget jadwal lagi. Semuanya di cancel ataupun di reschedule. Mana Anton kurang ajar banget lagi, kesel banget gue. Gue rasa dia itu udah hapal deh mana client yang baik, mana yang mode senggol bacok every time. Setiap gue yang disuruh untuk nelfon, pasti gue kena semprot mulu sama sekretarisnya. Heran gue, kenapa sih banyak banget yang apa-apa langsung main marah gitu?”


“Contohnya kaya lo gini?” tanya Fisya sembari terkekeh.

__ADS_1


“Lo ih. Gue itu kesel karna gue dimarahin duluan kali.” kesalnya yang membuat Fisya tertawa.


Audi menoleh arah Zia. Lalu ia tersenyum sejenak. Zia yang dulunya sangat ceria seolah tersihir menjadi Zia yang kalem. Audi yakin pasti Zia merasa tersisih karna keadaannya yang sekarang. Audi menyenggol bahu Zia menggunakan bahunya. “Lo marah sama gue karna gue baru datang ya?”


Lagi-lagi Zia tak menyahut.


“Maafin gue dong. Lo kaya nggak tau aja deadline berengsek yang selalu Anton kasih ke kita. Sialan emang tu orang.” Audi terkekeh mendengar suaranya yang tiba-tiba menjadi cempreng menurutnya. “Tapi tenang, dari awal lo nginep disini gue nggak pernah absen jengukin lo kok. Gue sesayang itu emang sama lo.”


Bibir Zia berkedut. Ketakutannya terjawab sudah. Ternyata Audi dan Fisya benar-benar tulus berteman dengannya. Bahkan dalam kondisinya yang seperti ini. Zia menunduk sejenak lalu kembali mengangkat kepalanya.


“Tolong ambilin gue minum dong,” pinta Zia.


Gelas itu sudah berada dalam genggaman Zia. Audi dan Fisya tidak lagi bersuara. Mungkin mereka sedang bermain ponsel, pikir Zia.


“Makasih, ya.”


“Sama-sama.”


Dimas terkekeh lalu mengacak rambut Zia sejenak. “Iya. Aku kira kamu lupa suara aku.”


Zia mendengus kesal. “Apaan sih. Lagian aku itu komanya juga cuma beberapa hari kan bukan beberapa abad.”


“Abad aja itu udah lama. Ditambah lagi kata beberapa itu. Lumayan mengerikan nggak sih menurut kamu? Waktu terakhir kamu liat aku, rambut aku pendek. Nah pas kamu bangun rambut aku udah panjang, kayak Mak Kunti.”


“Nggak penting banget,” keluh Zia. Tangannya mencoba meraba tempat yang tadi diduduki oleh Audi. “Audi.. Fisya..”


“Kenapa nyari yang nggak ada sih? Kan yang ada disini aku.” Dimas kini yang menggantikan posisi Audi. Tapi posisi kaki kanannya yang di lipat diatas ranjang sedangkan kaki kirinya tetap menjejak di lantai. Pandangannya tertuju pada Zia sepenuhnya. “What do you feel?”


“Hancur!”


Dimas menggeleng. Tangannya mengelus tangan Zia yang ada di atas pangkuannya. Zia yang kini duduk bersila di atas ranjang pun mengerutkan keningnya saat merasakan Dimas yang tiba-tiba mengelus tangannya.


“Pernah dengar nggak semua manusia itu nggak ada yang sempurna. Dan menurut aku, mereka yang seperti itulah yang sangat mulia. Zia... Kamu pokoknya harus kuat, harus tetap menjadi Zia yang pertama kali aku kenal, Zia yang buat aku jatuh cinta.”

__ADS_1


Zia memberengut. “Gue yang bisa liat aja masih nggak sempurna apalagi yang jelas-jelas nggak bisa liat begini.” jeda sebentar seolah ia teringat sesuatu. “Kalimat terakhir tadi bisa diulang?” pintanya pada Dimas.


Dimas terkekeh sembari mencubit pipi Zia pelan. Zia menyingkirkan tubuhnya walaupun telat sebab Dimas sudah lebih dulu mencubitnya. “Zia yang buat aku jatuh cinta.”


“Jatuh cinta sama siapa?”


“Sama pembantu kamu dirumah.” Dimas memutar bola matanya malas. “Eh tapi kamu harus tau, kemarin kamu bangun pertama kali waktu aku baru aja bilang sesuatu yang penting tau.”


“Apa?”


“Kalau kamu bangun, kita nikah. Abis itu kamu langsung respon terus bangun deh. Itu udah jadi nazar kan ya?” tanyanya antusias.


“Ngaco!”


“Serius. Aku nggak bohong.”


“Aku nggak percaya.”


“Harus percaya!” paksa Dimas sembari tersenyum.


“Nggak mau,”


“Harus!”


Sedetik kemudian Zia merasakan geli yang menjalar ditubuhnya disertai suara tawa Dimas. Sialan! Dimas menggelitikinya dengan membabi-buta. Zia yang merasakan geli tak kuasa menahan tawa. Dimas juga tertawa ditambah pada saat Zia mengucapkan kata ampun berulang kali.


“Kalian tercyduk!”


Keduanya sontak menghentikan tawanya. Dimas mengalihkan pandangannya pada pintu dan mendapati Arga dan yang lainnya sedang tersenyum penuh arti kearahnya.


“Tega banget lo, Zi. Bahkan dalam keadaan kaya gini pun lo masih berusaha buat ngerebut Dimas dari gue? Sahabat macam apa lo?”


Tbc♥️

__ADS_1


__ADS_2