Kamu, Atau Dia

Kamu, Atau Dia
Episode 4


__ADS_3

"Siapa Adit?"  tanya Irene yang membuat Zia dan Fisya menoleh ke arah suara berasal.


"Temen ma," jawab Zia sekenanya. Sedangkan Fisya, dia hanya melanjutkan ritual makannya yang sempat tertunda.


Irene tersenyum, "Kirain siapa. Oh ya Sya, gimana rasanya? Enak?"  tanya Irene pada Fisya.


"Seperti biasa tan, selalu enak" balas Fisya sambil nyengir kuda.


"Gratisan sih, masa iya ga enak," ucap Zia sekenanya. Yang langsung di hadiahi sebuah pukulan sendok dari Fisya. Pletaakk!


"Sialan lo, sakit tau ini" omel  Zia memegangi jidatnya yang dianiaya sahabat sejak kecilnya itu.


"Lo sih kalo ngomong selalu bener. Gue kan kesel," ucap Fisya dengan raut muka yang di buat sedih. Drama queen!


"Udah dong kalian ini berantem terus, heran. Zi, kamu mandi deh mendingan! Bentaran lagi temen mama mau dateng."


"Lah yang mau dateng temen mama, kenapa aku yang harus mandi?" tanya Zia yang masih setia memakan  makanan yang ada di piringnya.


"Kali aja dia mau jadiin kamu mantu. " jawab Irene ringan.


" Eh apaan sih ma. Zia gamau yaa sama anaknya tante itu."


Irene menatap anaknya. "Tante itu? siapa?"


Zia melirik Irene yang masih menatapnya. "Ya anak temen mama lah, siapa lagi."


"Yakin gamau? Anaknya ganteng loh Zi, mapan lagi." Irene **** senyum dan 'masih' menatap anak bungsunya itu.


"Kalau Zia gamau, aku mau kok tan. Seriusan deh," ucap Fisya santai yang langsung membuat Irene dan Zia menatap ke arahnya.


"Kamu mau Sya?" tanya Irene pada Fisya yang ada di sampingnya.


"Mau dong tan, siapa sih yang ga mau sama cowok mapan," jawab Fisya dan ga lupa sama wajah mupengnya.


"Yaudah deh buat kamu aja." kata-kata Irene langsung di anggukin Fisya.


Zia mendengus lalu beranjak pergi dari meja makan. "Telfon kak Arga ah."


"Yah Zi, jangan dong." Fisya berjalan menghampiri Zia. Sedangkan Zia berlari ke kamarnya sambil teriak 'Bodo amat'. Irene yang menyaksikan kelakuan mereka pun hanya bergeleng-geleng kepala.


*****


Zia menghempaskan tubuhnya di atas kasur setelah berlari-lari dari meja makan ke kamarnya. Dia mengambil ponsel miliknya dan membuka aplikasi chat yang bergambar telepon berwarna hijau. Bukan, bukan untuk menghubungi Arga. Tapi memeriksa barangkali Adit sang kekasih mengiriminya pesan pagi ini. Zia masih melihat-lihat pesan yang masuk. Ada chat dari group unfaedah miliknya dan para sahabatnya, ada dari teman-teman kampus yang lain, dan~~~ Arga. Saat ingin membuka pesan dari kakaknya yang paling tampan itu, pintu di buka dari luar, dan Zia tau betul siapa di balik pintu itu. Siapa lagi kalau bukan Fisya? Si anak ajaib yang sialnya sudah di kenalnya dari kecil.


Berbicara tentang Fisya dan kakaknya, Arga. Mereka ga punya hubungan seperti pacaran atau apapun. Cuma sejauh yang Zia tau, mereka saling nyaman satu sama lain, jaga perasaan satu sama lain, dan yang terpenting mereka sama-sama ga boleh punya pasangan.  Gila kan? Friendzone coeg! Menyedihkan.


"Zi,"


Segera mungkin Zia memposisikan layaknya sedang menelfon.


"Halo kak, lo sibuk? Gue mau ngomong, penting nih." ucap Zia sambil melirik Fisya. Seperti tau Zia sedang menelfon siapa, Fisya langsung mendekat dan mencoba merebut ponselnya Zia. Namun urung, Zia dengan cekatan mengelak.  Fisya keliatan tak putus asa, ia langsung mencoba dan mencoba terus. Dan, terjadilah ajang rebut-rebutan ponsel. Posisinya sekarang mereka sudah kejar-kejaran layaknya Tom and Jerry dan sesekali Zia berteriak 'kak, Fisya punya gebetan baru' . Hingga tiba-tiba Fisya terduduk lemas di lantai yang  di lapisi karpet bulu berkarakter doraemon itu sambil memegangi perutnya.


"Sya, lo kenapa?" Zia mendekat, dan duduk di depan Fisya.

__ADS_1


Fisya mengangkat kepalanya melihat Zia. Alih-alih menjawab, Fisya langsung merampas ponsel dari tangan Zia. Dan Zia? Dia hanya **** senyum sambil melihat ke arah sahabatnya itu.


Fisya menatap Zia bingung, dan langsung melihat ponselnya. Nihil, tidak ada panggilan untuk siapa pun. "Zi, jangan bilang lo,"


Belum sempat Fisya melengkapi kalimatnya, Zia udah tertawa keras. Sial! Zia penipu!


"Zi, lo jahat tau ngga. Gue kira lo beneran," ucap Fisya lemas sambil melempar ponsel Zia sembarangan dan langsung berbaring.


"Duuhh.. Kamu kenapa sayang? Kok lemes banget gitu hm?" tanya Zia sambil menaik turunkan alisnya dan turut berbaring di samping Fisya.


Saat hendak mengeluarkan kata-kata ajaibnya, 'seajaib orangnya' kalau kata Zia, dering ponsel menginterupsi mereka berdua. Zia menatap Fisya seolah bertanya 'dimana ponsel gue?' dan yang di tanya malah berkata,  "ga tau gue."


"Kan lo tadi yang--"


"Di bawah kaki lo. Ribet amat," sambung Fisya.


Zia mengambil ponselnya pakai kaki. Hebat bukan? Ya begitu lah Zia. Ok skip!


Di layar ponsel muncul id caller atas nama kak Arga. Zia menatap Fisya yang sedang memejamkan mata masih dengan posisi di lantai.


"Sya, kak Arga nelfon nih,"  ucap Zia yang langsung membuat Fisya membuka matanya.


Fisya menatap Zia tajam. "Lo tadi beneran ga nelfon dia kan Zi?"


"Engga. Aelah santai aja kali tu muka! " sarkas Zia yang mendapatkan tatapan tajam dari Fisya.


"Halo kak"


"Gamau ah"


".......... "


"Kak, gue capek. Males ah"


".........."


"Apaan?"


".......... "


" Awas lo ya kalo bohong. Gue buang berkas lo ke rawa-rawa, liat aja."


"............. "


"Ok. Tapi--"


"........"


"Ck. Gue belom siap ngomong kak. Gue mau mandi dulu"


"......"


"Sabodo. Lo tunggu bentaran doang atau ga sama sekali. Pilih mana lo? "

__ADS_1


"........."


"Pinter. Yaudah ah, bye!"


Tuttt


Zia memutuskan sambungan tanpa mau mendengarkan ocehan kakak tertampannya itu.


"Kenapa Zi?" tanya Fisya menatap serius ke arah Zia.


"Laki lo nyuruh gue anterin berkas kantornya lah, apalagi. Ga niat banget tu anak kerja. Pake segala ketinggalan lagi. Kalo gini kan gue juga yang repot" omel Zia sambil bangun dari lantai. Dan berjalan menuju kamar mandi.


"Apasih lo, pake segala sebut-sebut laki."


"Emang gamau?" tanya Zia di ambang pintu kamar mandi.


"Yaaa,, mau sih." jawab Fisya sambil nyengir-nyengir ga berdosa. "Tapi kan belom!"  sambung nya sambil memanyunkan bibirnya beberapa centi kedepan.


"Ah elo. Di aminin aja makanya." sarkas Zia sambil menutup pintu kamar mandi keras. Siapa sih yang ga kesel di ganggu mager-magerannya?


"Mau ngapain lo?" Pertanyaan bodoh itu yang keluar dari mulut manis seorang Fisya.


"Nyari cogan" teriak Zia dari kamar mandi yang masih di dengar oleh Fisya.


Fisya menghela nafas. "Huh, Dasar!"


 


Tbc!


Sorry kalo ceritanya belom nemu titik permasalahannya.


Next part InsyaAllah udah bakal ada titik terang tentang alur yaa:)


Makasih yang udah sempetin waktunya buat baca cerita aku,


Seneng banget ternyata udah ada yang mau baca!


Makasih untuk votenya❤️


 


 


Pekanbaru, 02 Sept 2019


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2