Kamu, Atau Dia

Kamu, Atau Dia
Episode 3


__ADS_3

Hari ini, hari dimana Zia merasakan menjadi anak tersayang. Bagaimana tidak, sedari tadi bangun tidur dia tidak di bolehkan mengerjakan apapun. Bahkan keluar rumah pun Zia tidak mendapatkan izin. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Irene, mamanya tersayang. Kasian sekali bukan?


"Zi, udah deh ga usah sok-sok'an mau bantuin. Lebih baik kamu mandi, dandan yang cakep. Biar urusan dapur mama yang handle,"


"Mama ngomong gitu berasa mau ada tamu tau ngga," ucap Zia sambil memajukan bibirnya.


"Emang." jawab Irene santai


"Siapa ma?" tanya Zia penasaran. Kebiasaan nih cuma masalah sepele aja Zia udah langsung penasaran kayak gini.


"Hmm.. Ituu--" kalimat Irene tergantung saat mendengar bel rumah berbunyi. Tau kan kalau tandanya ada tamu?


"Kamu bukain dulu gih, kasian kalo kelamaan ga di bukain," lanjut Irene.


"Siapa sih yang bertamu pagi-pagi gini? Ganggu orang aja." ucap Zia kesal namun tetap berjalan ke arah pintu.


Ting nong


Sekali lagi bel berbunyi. Membuat Zia bertambah kesal.


"Siapa sih? Ga sabaran banget. Minta di semprot dah ni orang. " ucap Zia saat sudah sampai di ambang pintu. " Siapppp--" kata kata Zia terpotong saat mengetahui siapa orang di balik pintu itu. Orang yang kekeuh minta di bukain pintu cepat. "Sya? Kok tumben pagi-pagi udah kesini?"  tanya Zia sedikit heran. Bagaimana tidak heran, saat ini jam masih menunjukkan pukul 09.25 wib dan Fisya udah berada disini? Waw, ini rekor sayang!


"Kangen sama lo," jawab Fisya ringan sambil memeluk Zia erat. Dia acting!


"Gue, atau kak Arga?" tanya Zia sambil tersenyum menggoda.


Fisya melepaskan pelukannya. "Apa sih lo Zi, ga jelas banget. Btw gue ga bohong Zi, seriusan lo bau banget. Belum mandi yaa lo?"  ucap Fisya yang langsung mendapatkan pukulan di lengannya.


"Sembarangan lo, walaupun gue belum mandi tapi tetep wangi yaa" ucap Zia sewot yang langsung membuat Fisya tertawa. Ada yang lucu? Dia sudah gila ternyata.


"Lo, wangi? Mimpi kali ah. " dan Fisya kembali tertawa keras. "Udah ah minggir, gue mau masuk!" lanjutnya saat sudah bisa meredakan tawanya.


"Emang gue izinin?"


"Bodo. " Fisya langsung masuk kedalam rumah besar kepunyaan keluarga Wiratmaja tersebut. " Tante mana Zi?"


"Dapur. "


Zia dan Fisya masuk ke dapur dan mendapati Irene yang sedang membuat adonan bolu. Wah bolu? Jadi laper.

__ADS_1


" Assalamualaikum, tan" ucap Fisya antusias dan memeluk Irene. Sedangkan Irene langsung membalas pelukan Fisya sambil tersenyum hangat. Seperti ibu dan anak yang sudah lama terpisah bukan? Yaa, terkadang Irene dan Fisya emang selebay itu.


 


 


" Wa'alaikumsalam.. Kangen banget sama kamu, Sya."


"Fisya juga kangen banget sama tante."


"Hm... Udah berapa lama sih ga ketemunya? Rindu banget kayaknya yaa?" itu bukan Irene atau Nafisya yang berbicara, melainkan Zia yang sedari tadi duduk tak jauh dari mereka. Namun yang di maksud tampaknya tak terusik dengan kata-katanya.


"Sya, kamu udah makan?" tanya Irene yang langsung di jawab berupa gelengan dari Fisya. " Yaudah yuk kita makan dulu. Tapi tunggu dulu deh, kamu duluan aja deh sayang ke meja makannya! "


"Lah kenapa tan?" tanya Fisya sedikit bingung.


"Tante mau nyiapin adonan ini dulu. Kasian bibik dari tadi belum istirahat. Itu makanannya udah ada kok di meja. "


" Oh yaudah tan, " ucap Fisya tersenyum.


***


" Eh Zi, lo tau gosip baru ngga?" tanya Fisya saat sudah duduk di samping Zia.


" Lo ga penasaran? "


" Penasaran."


"Bohong," ucap Fisya sambil menyuapkan nasi ke mulutnya. Sedangkan Zia menatap Fisya seolah berkata "serius gue".


"Kata Reno, dia liat Rumi jalan sama cowo. "


" Lah terus?" tanya Zia yang menautkan kedua alisnya.


Fisya memutar bola matanya malas. "Pas di samperin sama Reno, cowonya tu langsung pergi gitu aja. Kalo kata Rumi sih, cowonya pemalu jadi gamau di kenalin sama orang-orang terdekatnya Rumi,"


"Termasuk kita?" tanya Zia heran.


"Iya kali. Buktinya dia gamau kenalan sama kita. Pas ketemu Reno langsung ngacir pergi--"

__ADS_1


" Berarti dia ga serius." sambung Zia final. Omong-omong tentang ketidak seriusan, Zia jadi teringat ke pacarnya sendiri, Adit. Sama seperti pacarnya Rumi, Adit pun ga mau kenalan sama orang-orang terdekat Zia, kecuali Fisya. Itu pun karna ga sengaja ketemu di salah satu pusat perbelanjaan.


"Jadi, Adit apa kabar nya?" Fisya membuka suara kembali. Zia langsung memberinya tatapan seolah bertanya "Apa?"


"Zi, bahkan Adit pun sama kayak pacarnya Rumi. Setelah dua setengah tahun pacaran, apa dia ada menampakkan diri di depan bokap nyokap lo? Oke, anggap dia ga terlalu berani untuk ketemu sama orang tua lo. Tapi dia bisa ketemu sama gue dan anak-anak yang lain dulu kok. Yaa setidaknya kita semua bisa ngedukung kalian kalo sampe ada hal-hal yang ga di inginkan terjadi. Atau ngga, pernah ga sih sekali aja dia bersikap seolah dia sayang sama lo? Gandeng tangan lo di depan teman-temannya, dan dengan bangga nya dia nunjukin 'ini loh pacar gue!'. Muncul disaat lo butuh bahu untuk bersandar, butuh tangan untuk di genggam. Pernah? Ngga kan? Jadi yang lo bilang barusan tentang pacar Rumi juga berlaku buat lo. DIA GA SERIUS! " ucap Fisya yang penuh penekanan di akhir kalimatnya.


" Adit ga gitu, Sya. Dia itu--"


"Siapa Adit?"


 


Tbc!


Lama banget ga up :(( Buntu akutu huhu


Btw ini cerita pertama ku yaa kalo kalian lupa😂 Aku masih baru banget belajar nulis, jadi maapkan kalo ga ngefeel sama sekali.


 


 


Don't forget to vote and comment guys:*


Terus di masukin ke reading list kalian please, biar tau kalo aku up. Ngarep akutu:'(


 


 


Makasii, Selamat malam 💓


                Pekanbaru, 01 Sept 2019


                           *Ayu


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2