
"Selamat, ya.."
Fisya mengulurkan tangannya. Rumi tersenyum bahagia. Binar kebahagiaannya jelas terlihat di wajahnya.
Rumi menoleh dan tampak terkejut, namun tetap bahagia karna kehadiran sahabatnya ini. Mereka berpelukan. Sedangkan orang yang berada di sebelah Rumi tampak begitu gugup.
" Sya.. Kok lo bisa di sini? Gue bahkan baru mau ngasih tau lo sama yang lain juga. "
Fisya hanya tersenyum menanggapi ucapan Rumi.
" Sayang, kenalin ini temen aku, namanya Fisya." Rumi melingkarkan tangannya di tangan Zidan.
Zidan gugup, tampak gelisah. Keringat mulai bercucuran di kening nya.
"Santai aja. Kok lo keringatan sih, padahal kalo gue rasa ac nya udah cukup dingin di sini." Fisya terkekeh namun menatap Zidan tajam.
"Sayang.. Ayo dong kenalan," Rumi menatap tunangan nya itu bingung.
"Ga perlu. Kita udah kenal kok. Benar begitu, Dit? Aduh sorry, maksud gue Zidan." tutur Fisya yang terdengar sangar di telinga Zidan sendiri.
"Dit? Dit siapa?" Rumi benar-benar bingung. Kini ia menatap kedua nya bergantian.
"Ga penting. Intinya kita udah kenal." lagi-lagi Fisya menatap Zidan horor. "Gue balik dulu ya, kasian Zia nunggu lama," sambung Fisya kemudian.
" Ada Zia juga? Mau ketemu Zia dong, mau pamer tunangan," ucap Rumi. Rumi terkekeh membayangkan bagaimana respon sahabat nya yang terkenal rempong itu.
"Zia temen kamu?" tanya Zidan. Setelah sekian lama bungkam akhirnya ia membuka suara. Kegugupannya bertambah.
"Sayang, aku ke toilet dulu ya. Kamu di sini aja dulu," pamitnya. Sebelum Rumi menjawab Zidan sudah meninggalkan tempat nya.
Rumi menatap punggung pria itu. Lalu beralih menatap Fisya. Rumi merasa ada yang aneh pada sahabatnya ini. Fisya dan Zia itu sama-sama heboh orangnya. Lalu kenapa sekarang menjadi lebih pendiam? Rumi berusaha untuk tidak memikirkannya.
"Kita tunggu Zidan dulu ya, Sya?"
Fisya hanya mengangguk singkat, dan beberapa kali menghela napas. Seperti ada beban. Tapi sudah lah, Rumi tidak ingin memperburuk suasana hati Fisya saat ini.
***
Seorang lelaki mengedarkan pandangannya ke penjuru parkir. Lalu pandangannya berhenti di sebuah kursi kecil terbuat dari batu. Disana sedang duduk seorang wanita berambut sebahu yang di biarkan terurai.
Lelaki itu berjalan mendekat, lebih mendekat lagi. Dan kini jaraknya hanya beberapa langkah untuk menjajarkan dirinya dengan wanita itu.
Lelaki itu menghela napas, sesak rasanya.
__ADS_1
"Sayang," ujarnya lirih.
Merasa sendiri dan tidak ada siapa-siapa, akhirnya Zia menoleh untuk melihat siapa yang tengah berada di belakangnya. Namun dia langsung berdiri saat menyadari siapa orang itu.
Lelaki itu masih mengamati wajah wanita yang saat ini telah berdiri menghadapnya. Matanya merah dan sedikit sembab. Ujung hidungnya memerah. Andai situasi sedang tidak buruk, pasti dia sudah menertawai wanitanya.
Iya, lelaki itu adalah Aditya Zidan. Pacar Zia sekaligus tunangan Rumi yang baru di umumkan beberapa jam lalu.
"Zi, aku telat.. " Adit menghentikan kata-katanya. Dia menatap Zia bersalah.
"Harusnya aku kasih tau kamu dulu, tapi aku ga sanggup." gumamnya yang masih dapat di dengar oleh Zia.
Zia masih berdiri di tempat yang sama tanpa ada pergerakan sedikit pun.
"Saat itu aku ga punya pilihan selain menjadikan kamu sebagai taruhan. Tapi saat waktu taruhan berakhir, aku melihat kamu bahagia saat bersama ku. Itu yang buat aku ga tega buat mengakhiri hubungan itu. Sampai akhirnya--"
"Udah?" tanya Zia. Dia tidak bisa mendengarkan cerita Adit. Ego nya sebagai wanita tersentil. Melindungi hati nya jauh lebih penting sekarang.
"Jika udah, silahkan tinggalkan saya." ketusnya kemudian.
"Zi, dengerin aku dulu." pinta Adit memohon.
"Mau kamu apa sih? Mau nambah sakit hati ku lagi?" nada bicara Zia sudah naik. Dada nya sesak jika terus mendengarkan pria ini berbicara.
"Zi, aku ga bermaksud gitu. Dengerin aku dulu makanya,"
"Jangan sentuh aku!" jerit Zia tertahan.
"Zia, jangan begini dong." keluh Adit. Pria itu sudah berkali kali menghela napas.
"Jangan begini? Jadi mau kamu gimana? Aku ketawa-ketawa bahagia setelah melihat pacar aku, melihat orang yang aku sayang baru aja melamar wanita lain? Iya?"
"Zi.. "
Adit tidak peduli dengan Zia yang terus-menerus menepis tangannya. Dia terus berusaha menggenggam tangan wanita itu. Dia tau wanita itu sedang rapuh.
" Dengerin aku dulu makanya!" bentak Adit. "Kamu ga bisa menyimpulkan apa yang kamu lihat begitu aja. Karna apa yang kamu lihat itu belum tentu benar!" sambungnya.
Kini tangan Zia sudah berada di genggaman Adit. Zia menunduk. Sudah tidak bisa berusaha tegar seperti sebelumnya. Dia menangis. Hatinya terguncang. Dia butuh menangis lagi kali ini.
"Aku keliru," gumam Zia.
"Aku kira kamu sayang sama aku. Aku kira aku adalah wanita satu-satunya yang akan kamu kenalkan pada keluarga kamu, dan akan menjadi bagian di hidupmu."
__ADS_1
Zia menghapus air matanya kasar dan menatap Adit yang sedang menatap nya juga. "Aku kira aku adalah satu-satunya wanita yang beruntung yang bisa dapetin kamu. Ternyata aku salah, aku cuma orang yang kamu jadikan objek taruhan. Dan sialnya kamu bisa menang gitu aja."
Zia kembali menepis tangan pria itu.
" Zi, dengerin aku dulu. Aku bisa jelasin."
"Jelasin apa? Jelasin bagaimana awalnya taruhan itu berlangsung? Bagaimana kamu dapetin hadiah karna kamu berhasil? Iya, gitu? Aku benci sama kamu."
Zia menatap Adit kecewa. Suaranya mengisyaratkan bahwa tidak ada lagi cinta. Yang ada hanya kebencian.
"Zi, aku..."
Zia mengangkat sebelah tangannya. Zia tidak ingin mendengarkan apa pun saat ini.
"Beberapa hari lalu, aku masih menjadikan kamu orang ter-spesial. Aku selalu membela kamu di depan teman-teman aku saat mereka berbicara yang ga baik tentang kamu. Aku selalu memuji kamu, aku selalu bilang kamu sayang banget sama aku begitu juga sebaliknya, aku selalu membantah saat mereka meyakinkan kalo kamu ga serius sama aku. Aku selalu membantah saat mereka bilang kamu akan ninggalin aku, aku selalu bantah saat mereka bilang kamu adalah pengecut, apa kamu tau seberapa bodohnya aku saat itu?"
Lagi-lagi Adit ingin memegang tangan Zia agar gadis itu tenang. Namun tetap sama, selalu di tepis mentah-mentah oleh Zia.
"Aku salah, aku salah paham tentang kamu. Rasanya aku ingin mencabut semuanya pujian-pujian dan harapan yang bahkan aku sendiri yang mengucapkannya. Kamu pikir perasaan aku cuma main-main?"
Adit hanya diam mendengarkan kata-kata Zia. Kata-kata Zia terasa begitu menusuk relung hatinya.
"Aku kira kamu pangeran, tapi ternyata kamu ga lebih dari seorang psikopat yang bisanya mempermainkan perasaan orang!"
Zia mundur beberapa langkah. Membalikkan badan dan mulai melangkah meninggal kan Adit.
"Kamu ga sayang sama aku lagi?" jerit Adit tertahan.
Langkah Zia terhenti, lalu memutar tubuh nya kembali menghadap Adit.
Zia terkekeh. Namun sorot mata yang tajam tak tinggal di tunjukkan.
"Apa kamu bilang? Sayang?" Zia tertawa. Namun terdengar pedih di telinga Adit. "Seperti nya habis ini aku harus periksa telinga, ada yang salah keliatannya."
"Zi, aku serius. Kamu udah ga sayang sama aku?" tanya Adit frustasi.
"Sayang. Aku sayang banget sama kamu, sebelum akhirnya kamu menghancurkan semua rasaku beberapa jam yang lalu."
Adit hendak melangkah. Namun urung karna melihat tangan Zia yang mengisyaratkan stop.
"Mungkin rasanya ga sesakit ini, kalo aku ga terlalu jatuh hati sama kamu."
Zia berlari meninggalkan Adit yang masih setia melihat nya. Dada nya nyeri. Kenangan manis bersama Zia seolah sengaja di putar apik di benaknya. Bibir mungil yang selalu memberikan senyuman manis itu baru saja menyadarkannya dari sebuah kesalahan terbesar. Wanita yang selalu memaafkan nya walaupun lagi-lagi membuat kesalahan yang sama.
__ADS_1
"Sayang, maafkan aku."
Tbc!❤️