Kamu, Atau Dia

Kamu, Atau Dia
Episode 20


__ADS_3

"AKU TU SAYANG SAMA KAMU ZI. KENAPA KAMU GA PAHAM SIH?" teriak Adit frustasi.


Zia terhenyak lalu terduduk di lantai. Matanya mulai berkaca-kaca. Begitu juga dengan Adit, matanya merah dengan buliran air mata yang akan jatuh.


Dia berdiri lalu ingin meninggalkan ruang kerjanya. Namun kalah cepat, tangan Zia sudah di tahan oleh Adit. Zia menatap Adit. Ada binar kekecewaan di matanya.


"Lepasin gue!"


Adit menggeleng kuat. Air matanya kian berjatuhan. Ya Tuhan, mengapa menjadi seperti ini? Untuk pertama kalinya Zia melihat Adit terlarut dalam kesedihannya.


"Tolong keluar dari tempat kerja gue, Dit!" pinta Zia lagi penuh penekanan.


Bukannya menjawab, Adit malah menarik Zia ke dalam pelukannya.


"Tolong kasih aku kesempatan sekali lagi, Zi! Aku mohon! Aku sayang sama kamu." gumam Adit yang masih mendekap Zia kuat.


"Lepasin, Dit!" nada suara Zia mulai tinggi. Dia tidak bisa terlalu larut dalam sikap Adit.


"Setelah kamu ninggalin aku, aku baru menyadari bahwa aku udah terlalu manja dengan kehadiran mu. Terlalu nyaman dengan posisi kamu di samping aku. Iya Zi, aku terlalu sayang sampai aku ga bisa biarin kamu ninggalin aku gitu aja, aku--" racauan Adit terhenti saat Zia melepas paksa pelukan itu. Adit menatap Zia yang sudah mundur beberapa langkah ke belakang.


"Zi, aku--"


"Stop! Jangan terusin kata-kata busuk kamu itu lagi di depan muka aku. Aku muak dengan drama yang sialnya sangat natural sampai-sampai aku hampir jatuh terjerembab lagi di dalamnya. Kamu pikir aku akan senang mendengarkan kalimat hoaks yang sering kamu sebut itu? Ngga Dit, kamu salah! Aku benci mendengarkan semuanya." papar Zia, lagi-lagi dia harus menghapus air mata yang mengalihkan pandangannya.


"Kalau kamu beneran sayang sama aku, harusnya kamu mikir sebelum kamu menjalin hubungan lagi sama orang lain. Sorry, menjalin hubungan dengan sahabat aku, dan kamu juga berhasil menghancurkan persahabatan itu sekaligus. Kamu hebat Dit, kamu hebat!" sambungnya.


"Zi, aku khilaf. Aku kira aku cinta sama dia, tapi ternyata  aku cuma cinta sama kamu. Aku ga beneran cinta sama dia, aku khilaf Zi. Kamu harus percaya sama aku!" Adit memegang tangan Zia namun langsung di tepis oleh sang empunya.


"Kamu satu-satunya pria yang ga punya hati yang pernah aku temui, Dit!" Zia melirik jam yang bertengger di pergelangan tangannya. "Waktu kamu udah terlewat jauh rupanya. Silahkan pergi, pintu keluar ada di sebelah sana." sambung Zia.


Zia berjalan menuju meja kebesarannya. Membuka laptop dan seakan mengerjakan sesuatu di sana. Namun sebenarnya dia tidak fokus, fokusnya masih tertuju pada pria yang sedang bersandar di tembok dan sesekali mengacak rambutnya.


"Pergilah. Sebelum hal yang sama sekali ga pernah kamu pikirkan terjadi di sini." ucap Zia yang sama sekali tidak mengalihkan fokusnya dari monitor yang sedang menyala.


Adit berjalan menuju meja Zia. "Aku ga akan pergi sebelum kamu memaafkan aku."


Adit menarik kursi tepat di hadapan Zia lalu mendudukinya. Dan mengamati sekelilingnya.


"Sayang, aku ga tau loh kamu punya butik maju kaya gini. Aku malu, bertahun-tahun kita pacaran tapi aku ga tau apa-apa tentang kamu." Adit berbicara seolah tidak terjadi apa-apa di antara keduanya.

__ADS_1


Zia tak bergeming.


"Sayang, nanti kalau kita mau nikah, aku mau kamu rancang sendiri ya gaunnya. Aku mau nemenin kamu nge-desain gaunnya. Aku mau liat hasil dari selera kamu sama selera aku kalau di gabungin jadi gimana," ujar Adit terkekeh, sendiri.


Tuhan, cobaan seperti apa ini?


Lagi-lagi Zia tak merespon apa pun.


"Nanti setelah kita nikah, aku mau langsung minta cuti sama papa, kita pergi honeymoon ke luar negeri ya, sayang. Pasti seru. Kamu mau kemana? London, Swiss atau ke Belanda? Kalau aku sih pengen ke Belanda sayang, aku pengen--"


"Diam, dan pergilah. Sekali aja jangan buat orang lain sakit kepala, bisa ga sih?"


Tak menghiraukan apa pun, Adit kembali meracau. "Aku kan--"


Kata-kata Adit terhenti saat melihat Zia akan meninggalkan tempat. "Kamu mau kemana?"


"Kamu ga mau pergi kan? Jadi biar aku aja yang pergi."


Adit berdiri dan langsung memeluk Zia erat. Rasanya Adit rela jika harus menjadi orang yang tuli akan keadaan asalkan masih bisa bersama dengan Zia.


"Zia!" bentak seseorang yang sedang berdiri di ambang pintu.


Zia berjalan mengikuti Arga dari belakang. Sejak tadi Arga hanya diam tak bersuara. Hanya melakukan gerakan menggeleng atau mengangguk kan kepala saat di ajak bicara oleh Zia. Merasakan ada yang berbeda, namun pikiran itu di tepis langsung oleh Zia. Ia tidak ingin repot-repot memikirkan hal yang tidak penting.


Zia berhenti tepat saat pintu kamar Arga hendak di tutup sang empunya. Zia masih memikirkan nasib jidat kesayangannya itu, dan memilih tidak menerobos masuk yang sudah pasti akan beradu manis dengan pintu kamar yang sudah pasti tidak lunak itu.


"Lo kenapa sih kak?" tanya Zia.


Zia duduk di lantai depan pintu kamar yang hampir tertutup rapat itu.


Arga menatap tajam sang adik. "Ngapain disitu? Masuk kamar sana!" ujarnya dengan nada yang tak biasa.


Zia berdecak lalu membaringkan tubuhnya di lantai. Mengeluarkan ponsel lalu memainkannya.


"Masuk kamar. Ngapain sih disitu?" geram Arga.


"Ya seenggaknya kalau lo tiba-tiba kesurupan atau meninggal di dalam, gue bakal jadi orang pertama yang ak--"


"Zia! Masuk kamar!" bentak Arga langsung tanpa menunggu Zia menyelesaikan omongannya.

__ADS_1


"Lo kenapa sih kak? Pms ya?" tanya Zia terkekeh, sendiri.


Zia masih berusaha mencairkan suasana. Melihat Arga yang hanya menampilkan raut wajah yang tak biasa sungguh membuat Zia tak nyaman sebenarnya. Tadi Zia berkata tak ingin memikirkan sikap Arga bukan? Dirinya bohong, sangat bohong. Bagaimana bisa Zia tak memikirkannya, sedangkan sangat jarang Arga seperti ini?


Zia berdiri lalu mendekat ke arah Arga. "Sekali lagi gue tanya, lo kenapa?"


"Gue malu punya adek kaya lo, Zi. Gue malu." ujar Arga pelan namun menyakitkan.


Zia menggeleng lalu tertawa. "Becanda lo basi kak."


Arga tertawa remeh. "Lo lucu, Zi. Udah buat kesalahan, ga sadar dan dengan ga tau malunya bersikap kaya gini nih."


Mata Zia memanas, seumur hidupnya Arga tidak pernah berkata seperti ini dengannya. Lalu tadi apa katanya? Tidak tau malu?


"Bilang sama gue, salah gue apa?" ujar Zia tercekat. Zia memegang tangan Arga kuat.


"Salah lo? Salah lo adalah kenapa lo terlahir di muka bumi ini? Kenapa lo tercipta untuk menjadi pemeran utama di masalah lo saat ini? Dan.." Arga menggantung kalimatnya.


"Dan yang lo lakuin sama Adit itu salah!"


"Kak, gue--"


"Mau sampai Adit melakukan sejauh apa lagi baru lo sadar? Atau bahkan lo menikmati?"


Zia terhenyak. Sebenarnya apa yang sedang di pikirkan Arga saat ini?


"Maksud lo apa sih?" bentak Zia. Ia tersulut emosi. Rasanya ia ingin mematahkan leher Arga sekarang juga.


"Gue tau lo cinta sama dia. Tapi dia udah tunangan, lo tau itu! Dasar wanita murahan."


"Apa lo bilang?"


"Wanita murahan. Lo wanita murahan Zia!"


Zia terkejut mendengar kalimat yang terlontar dari bibir Arga itu. Zia melangkah mundur, ia tidak menyangka pria di depannya ini mengatakan hal demikian.


Dadanya nyeri, nafasnya tersengal. Dia butuh meluapkan segalanya sekarang. Hari ini begitu menyakitkan untuknya. Jika waktu dapat di putar kembali, Zia ingin melewatkan hari ini tanpa menjalani.


Tbc💗

__ADS_1


__ADS_2