
"Jadi gimana skripsi kamu, Zi?"
Saat ini Zia sekeluarga lagi sarapan bersama. Ini adalah weekend pertama di bulan Agustus. Kebiasaannya adalah di setiap weekend pertama tetap harus ngumpul di rumah seharian, anggap aja sebagai family time.
"Masih sama, Pa." sahut Zia sambil mengunyah makanannya. "Dosbing aku itu teliti banget, Pa. Kadang cuma EYDnya doang yang ga tepat, masih juga harus di revisi. Kan kebangetan." gerutunya.
"Ya bagus dong berarti, jadi lo keluar dari sana emang udah bener semua." Arga menanggapi. "Lagian, lo ga bisa anggap remeh soal EYD, itu juga berpengaruh kalo lo mau tau."
Zia mendengus lalu melemparkan tatapan seolah berkata--sok iye, lu.--
"Bener kata kakak kamu, Zi. Mbok ya kamu tu yang serius ngerjainnya. Biar cepet lulus, biar cepet bantuin kakak kamu di kantor papa." mama Zia angkat bicara.
"Kenapa papa ga suruh Zia kerja aja. Maksud aku, kalo ga di tegasin ini anak ga bakal bisa serius, Pa."
Zia mendelik mendengarkan kalimat maut yang baru aja di keluar kan kakaknya. Zia paham sekali kemana arah pembicaraan si kunyuk satu ini. "Papa bukan orang yang ga mampu sampai gue harus kuliah sambil kerja. Lagian gue juga udah punya usaha butik, penghasilan dari situ aja gue bisa bayar kuliah." tolak Zia.
"Maksud aku gini, Pa." Arga seolah mengabaikan keberadaan Zia dan memilih fokus pada papa nya. "Zia itu orangnya too relaxed, sampai-sampai dia ga mikirin hal yang sedang dia lakoni saat ini. Contoh mutlak, skripsi. Mau sampai kapan dia stay in the same chapter, revisi misalnya. Aku kepikiran masukin dia ke kantor, Pa. Dengan harapan dia nerapin deadline di semua kerjaannya." jelas Arga panjang lebar.
__ADS_1
"Lo apa-apaan sih? Demi apa lo mau masukin gue ke kantor? Gue rasa lo perlu periksa kesehatan otak saat ini." sarkas Zia yang terang-terangan menatap nyalang ke arah Arga, yang sialnya di tanggapin cuek oleh Arga.
"Zi, jaga bicara kamu. Dia lebih tua dari kamu." bela papanya yang membuat Zia mendengus kesal. "Dan, papa setuju sama kamu, Ga. Senin Zia udah mulai masuk."
Zia menggeleng. "Pa, aku udah pusing sama kegiatan aku sekarang. Dan papa? Ahhgg.. Papa malah nambah beban aku? Seriously?"
"Tapi, Pa. Aku ga mau Zia masuk kantor papa." ucapan Arga kembali menghasilkan delikan tak percaya dari Zia. "Aku mau dia masuk ke kantor Dimas, Pa. Karna aku ga mau usaha kita sia-sia kalo masukin Zia ke kantor yang aku atau papa yang kelola. Pasti dia akan mikir, peduli apa? Toh ini kantor papa atau kak Arga. Dan kebetulan kantor Dimas sedang nerima lowongan, sekretaris."
Dana-papa Zia- mengangguk. "Kamu urus secepatnya ya, Papa percaya sama kamu." Dana meninggalkan tempat, di susul oleh Irene. Tinggal Arga dan Zia yang masih setia dengan tempatnya. Arga sibuk dengan ponselnya sedang kan Zia sibuk memijat pangkal hidungnya.
"Lo siap-siap. Senin lo masuk jadi sekretarisnya Dimas." setelah mengatakan itu Arga berdiri dan meninggalkan tempatnya.
"Ga usah sok peduli deh, lo. Kesel gue sama lo." teriak Zia yang terdengar jelas di telinga Arga. Mau tak mau Arga tersenyum karnanya.
***
"Halah, cuma karna ini lo nyuruh kita kesini? Lagian ya tindakan kak Arga udah paling bener menurut gue, Zi. Hapal deh gue sama isi otak lo. Lo itu kalo ga di kejar-kejar deadline emang ga bisa. Melebihi keong lambannya." omel Fisya.
__ADS_1
Tadi setelah semua meninggalkan meja makan, Zia meminta sahabatnya itu datang ke rumahnya. Berharap ada solusi, namun lagi-lagi ekspektasi tak berteman baik dengan realita. Jadilah seperti ini, Zia hanya mendengarkan omelan-omelan Fisya.
"Rasanya gue ga sanggup, Sya. Bayangin, gue lagi nyusun skripsi yang revisiannya aja belom kelar, terus butik, and now, gue harus jadi sekretaris, di kantor Dimas lagi. Dalam mimpi pun ini udah berasa horor."
"Lebay, lo." celetuk Daniel yang saat ini sedang duduk lesehan di atas karpet ruang tamu di rumah Zia. Memang tadi Fisya sayang bersama Daniel ke rumah Zia.
"Sialan. Lo ngomong gitu karna bukan lo yang ngerasain, gimana sih lo," balas Zia jengkel.
"Zi, lo pusing karna mikirin semuanya sekaligus kan? Untuk skripsi, gue ataupun Daniel ga mungkin bisa ngebantu, karna itu sifatnya personal. Tapi gue bisa bantu di butik. Untuk seminggu pertama lo boleh deh ga ikut andil di butik, biar gue yang handle. Tapi seminggu doang, jangan ngarep lebih." jelas Fisya.
Ia mengatakan itu tidak dengan nada lembut, atau menggenggam tangan Zia seperti ekspektasi banyakan orang. Fisya mengatakan itu dengan posisi menyandar sekaligus memakan kacang yang ada memang tersedia di meja, sambil menonton kartun spons berwarna kuning di layar televisi. For your information, Daniel juga suka menonton kartun itu, terbukti dari sekarang yang ia sesekali tertawa melihat aksi konyol kartun itu.
Fisya melirik Zia yang hanya terdiam. "Ngapa lo diem aja? Terkesima ya lo denger kata-kata gue?"
"Lo kurang romantis. Harusnya lo pegang tangan gue, terus natap mata gue, baru deh ngomong." sahut Zia dengan tampang mendamba yang di buat-buat.
Fisya berdecak lalu menyenggol kepala Daniel yang kebetulan tak jauh dari tangannya. "Dan, anak siapa sih dia? Geli banget gue."
__ADS_1
Daniel melirik Zia sebentar lalu mengedikkan bahu. "Anaknya pak kumis, yang setiap hari kamis pergi ke Ciamis, dandanan klimis--" ucapannya saat merasakan kepalanya di pukul dua kali di tempat yang berbeda. Dia mendengus lalu menoleh. "Lo bisa ga--"
"Daniel..." panggil Dana yang membuat Daniel meringis segan. Lalu melirik ke arah Zia dan Fisya yang tampak menahan tawa. Awas ya kalian, batin Daniel.