
“Lo pernah liat kanebo?” tanya Zia.
Zia berdiri dan meraba jalan menggunakan kedua tangannya sesudah menaruh kotak Pizza dikursi yang tadi diduduki.
“Lo bisa kali minta tolong sama orang,” omel Daniel, saat mendapati Zia yang hampir terjatuh karena tersandung kaki kursi.
“Candaan lo kaku,” sambung Zia, tanpa menghiraukan perkataan Daniel. “Seandainya dokter perjaka nan tampan denger waktu lo bilang suka ke gue, gimana? Kan yang harusnya dia mau ngelamar gue jadi batal.”
“Lo kalau halu suka lupa bumi tempat lo berpijak ya emang, prihatin gue.”
“Sialan. Keluar lo!” bentak Zia.
“Marah-marah mulu lo kaya orang hamil.” celetuk Daniel sembarangan.
Setelah berhasil berbaring di ranjang rawatnya yang dibantu oleh Daniel tentu saja, Zia berdecih. “Lo keluar, atau mau gue mutilasi?”
Daniel berjalan menuju sofa untuk mengambil ponselnya. Di nyalakan layarnya dan mendapati sebuah pesan disana. Setelah membaca serta membalas pesan tersebut, ponselnya di masukan kedalam saku lalu berjalan mendekati Zia.
“Gue pulang. Tapi lo musti inget satu hal, gue pergi bukan karna takut. Gue pergi untuk kembali.”
***
Suster kembali mengecek semuanya dengan teliti. Infus, detak jantung, denyut nadi, semua diperiksa dengan baik oleh suster yang sedang berdapatan sift siang itu.
“Kakak udah boleh pulang ya. Kelurganya ada?Untuk menyampaikan jadwal chek up serta mengurus kepulangan.”
“Ada Sus, tapi lagi keluar sebentar. Apa boleh saya minta tolong?”
“Boleh. Apa yang perlu saya bantu, Kak?”
“Tolong carikan no papa disini!” pintanya, sembari menyodorkan ponsel bergambar apel tergigit dibelakangnya itu pada suster.
Suster itu menerima ponsel lalu mencarikan nama di buku telepon sesuai dengan apa yang disebutkan oleh Zia barusan. Panggilan terhubung lalu diangkat cepat oleh Papanya Zia, namun jawaban yang dia terima membuatnya sedikit memancarkan tatapan sendu.
“Jadi papa nggak bisa jemput Zia?”
Kalimat terakhir sebelum telepon ditutup. Zia mendengus samar. Lalu meminta suster mancarikan kontak Arga disana. Deringan pertama hingga deringan ketiga belum ada jawaban, sampai hampir menginjak deringan kelima baru lah sambungan itu terhubung.
“Sibuk banget sampe jemput gue aja nggak bisa?”
Itupun menjadi kalimat akhiran sebelum Zia memutuskan sambungannya dengan kesal. Jika Papa nggak bisa, lalu Arga juga sama. Pilihan terakhie jatuh pada Fisya. Suster kembali mencari-cari kontak yang bernama Fisya diponselnya.
“Maaf, Kak. Disini nama Fisya nggak ada.”
“Ada, Sus. Cari yang bener dulu,” perintahnya.
“Masih nggak ada, Kak.”
__ADS_1
Ingin mengeluarkan sangkalan lagi, namun tiba-tiba Zia teringat sesuatu. “Suster cari namanya siapa?”
“Fisya. Kan tadi kakak yang suruh.” jelas suster itu. Dari nada bicaranya, ada sedikit kesal disana.
“Pantesan nggak ketemu. Namanya Sya-fi, Sus.”
Panggilan pertama tidak diangkat. Begitu pula dengan panggilan kedua sampai panggilan kelima. Tidak ada jawaban. Zia membanting ponselnya disisi ranjang dengan kekesalan yang memuncak.
“Sus, makasih ya. Sepertinya keluarga saya sedang sibuk. Nanti kalau mereka datang, langsung saya suruh nemuin suster.”
“Baik, Kak. Saya pamit ya.”
Tepat setelah suster itu menutup pintu dari luar. Deringan ponsel Zia menginterupsi sang empuya. Dengan tangan yang meraba-raba, Zia meraih ponselnya.
“Halo, Zia. Kenapa tuh? Sorry ya gue tadi nggak angkat telepon, gue lagi briefing.”
“Gue udah boleh pulang, Sya.”
“Alhamdulillah, pulang sama siapa lo? Once again, so sorry. Gue nggak bisa jemput lo, gue ada kerjaan mendadak, Zi.” kelakar Fisya.
Zia menghela napas berat. “Nggak tau. Tadinya gue mau minta lo yang jemputin,”
“Haduh, gimana ya? Gue nggak bisa nih, Zi. Atau gue telepon Audi aja kali ya?”
“Emang dia nggak sibuk?” tanya Zia memastikan.
“Ya udah, gue tunggu ya. Gue udah pengen banget pulang nih,” ungkap Zia.
Setelahnya sambungan terputus. Zia sudah berganti pakaian bersiap untuk pulang. Namun, tanda-tanda kehadiran temannya pun belum ada sampai saat ini. Diperkirakan, sudah hampir satu jam lamanya Zia menunggu. Susternya pun sudah berulang kali masuk ruangan hanya untuk memastikan apakah keluarganya sudah sampai atau belum.
Ponselnya berdering dan tidak membuang waktu lama Zia langsung menggeser ikon hijau yang sudah ia hapal tempatnya.
“Halo,” sapanya.
“Ziaaa... I'm sorry, I can't pick you up now. Mas Anton sakit jadi nggak bisa masuk. Gue nge-handle semuanya sendiri, Zi. Ini aja gue di toilet ngasih kabar ke lo, Pak Dimas lagi meeting, jadi musti ada yang ngedampingi.” kelakar Audi.
Zia menghembuskan napas, sedikit kecewa. “Sibuk banget ya lo?” jeda sejenak. Zia memaksakan senyumannya, walaupun Audi tak dapat melihatnya diseberang sana. “Fisya juga sibuk, kak Arga apalagi. Ya udahlah, gue naik taksi online aja. Makasih ya, Di,” sambungnya.
Zia hendak mematikan sambungan namun tertahan saat Audi kembali menyebut namanya.
“Kenapa?”
“Lo jangan naik taksi online. Gue suruh temen gue jemput lo sekarang, tenang dia baik kok.”
Tut!
Sambungan terputus begitu saja. Dasar Audi. Zia menaruh ponselnya disisi ranjang. Mengingat semua orang yang dia punya, tidak mempunyai waktu untuk sekedar menjemputnya dirumah sakit. Membuatnya tersenyum kecut.
__ADS_1
Apakah mereka secara perlahan akan mulai melupakannya?
Zia mencoba menepis pikiran buruk itu. Namun entah mengapa, pikiran seperti itu layaknya kaset rusak yang diputar secara terus-menerus dibenaknya.
“Kak, di depan ada yang nunggu. Katanya mau jemput Kakak,” ujar suster yang merawatnya.
Hanya sepuluh menit, jemputan sudah datang. Mengapa Audi tidak langsung menyuruh temannya saja yang menjemput saat dia tau, dia sendiri tidak bisa? Zia berdecak kesal, tapi dalam hatinya yang paling dalam, setidaknya dia bersyukur karena masih ada yang bisa mengantarnya pulang.
Seandainya teman Audi ini juga tidak bisa. Pastilah dia akan naik taksi online. Bukan karna biaya, hanya saja Zia merasa sedikit ngeri saat menaiki taksi online sendirian dalam keadaannya yang seperti sekarang.
Zia tersentak kala seseorang memegang tangannya. Sempat menarik diri, namun dicekal oleh orang itu. Itu bukan tangan suster yang mendorong kursi rodanya sedari tadi.
“Biar dibantu masuk mobilnya.”
Zia mengerutkan dahi. Ini temannya Audi, pikirnya. Suaranya yang khas membuatnya mengingat seseorang. Dengan hati-hati Zia berdiri dari kursi roda yang mengantarkannya hingga sampai di Lobby. Berjalan beberapa langkah dengan tuntunan pria itu menuju mobil.
“Tunduk sedikit,” katanya. Telapak tangan pria itu menempel pada puncak kepala Zia. Berjaga-jaga saat Zia ceroboh, bukan kepalanya yang langsung beradu manis dengan rangka pintu yang terbuat dari besi itu.
“Pakai seatbelt-nya dulu ya.”
Setelah mengatakan itu, pria yang beraroma coklat itu memasangkan seatbelt pada Zia. Sadar akan kedekatannya yang hanya berjarak beberapa senti, membuat Zia menahan napas. Entah mengapa dia gugup. Biasanya dia tidak akan beraksi seperti ini saat berada dekat orang asing. Kecuali orang yang punya niatan jahat padanya.
Suara pintu tertutup kian menyadarkan Zia kembali. Zia menghela napas. Sesak rasanya. Menyandarkan kepala dikaca mobil membuat Zia merasakan tempat yang nyaman disini.
“Gue bingung,” ungkapnya, kala mendengar suara pintu disebelah kemudi tertutup. Yang berarti pria itu telah masuk.
“Kenapa?”
“Suara lo kaya temen kakak gue, tapi wangi lo kaya sahabat gue. Emang ada yang se-kebetulan itu?” tanya Zia memastikan.
Pria disampingnya ini terkekeh singkat, lalu berdeham menetralkan suasana.
“Terserah lo mau anggap gue sebagai siapa, intinya gue adalah apa yang lo pikirkan kan?” sahut pria itu.
“Nggak, lo bukan temennya kakak gue. Soalnya dia itu cowok lembut, nggak suka pake bahasa Lo-gue'an kalo lagi ngomong sama gue. Fiks, lo orang yang beda.”
Lagi-lagi Zia mendengar pria itu terkekeh. “Good answer, baby gilr.”
Tbc♥️
Follow my akun♥️
Instagram ; aayyuu08
Facebook : Ade Ayu Noviianti
follback? DM ya♥️
__ADS_1
happy reading ✨