Kamu, Atau Dia

Kamu, Atau Dia
Episode 32


__ADS_3

“Lo gimana sih kenapa bisa ngebiarin Zia pergi sendiri ke tempat yang sesepi itu?”


“Kalau sempat terjadi apa-apa sama Zia, demi apapun gue nggak akan maafin lo.”


“Ya ampun, gue masih nggak habis pikir kenapa ini bisa terjadi padahal baru beberapa jam yang lalu dia sama gue dalam keadaan baik-baik aja.”


“Ini semua gara-gara lo, Mas. Andai aja lo nggak egois ngajak Zia pergi keluar restoran, dia nggak bakal ada di dalam sana sekarang.”


“Stop, Audi. Nggak semua yang lo pikirkan tentang gue itu benar. Gue udah mau bilang mau nganterin, tapi Zia menolak. Gue kira, itu adalah fase dimana gue nggak boleh ikut campur. Terus menurut lo gue salah?”


Dimas yang sedari tadi duduk sembari menangkup wajahnya dengan kedua tangan kini mendongak. Sedari awal Audi menginjakkan kaki di rumah sakit ini, dia selalu aja menyalahkan Anton atas semuanya.


Dimas tau bagaimana Zia. Dan Dimas yakin Anton tidak sepenuhnya bersalah. Lagi pula siapa yang menyangka ini semua akan terjadi pada Zia. Dimas khawatir, khawatir sekali dengan keadaan Zia. Tapi bagaimana pun dia tetap harus tenang.


Dimas menoleh ke samping. Disana ada Arga yang sedang memeluk Fisya yang masih saja sesegukan. Fisya yang dengan tidak sabarnya terkadang menjerit histeris saat dokter belum juga keluar memberi kabar pada mereka.


Ya, Zia kritis saat ini. Dia tertabrak mobil dengan kecepatan tinggi saat berada di tempat mobil Reno berada. Entah kebaikan yang seperti apa yang telah di perbuat oleh Zia, secara kebetulan Fisya yang akan menyambanginya di kantor beralih mengikuti mobilnya saat Fisya melihat gadis itu terburu-buru keluar dari kantor.


Tapi sayang, Fisya tidak sempat menyelamatkan Zia dari kecelakaan itu. Kejadiannya sangat cepat. Dengan kekagetan serta seluruh tubuhnya yang bergetar ia melihat Zia menutup mata rapat hingga tidak sadar kan diri sampai saat ini. Satu yang di ketahui oleh Fisya, Arumi lah pelakunya.


Pintu ruang UGD terbuka berbarengan dengan munculnya dokter paruh baya yang baru saja menurunkan maskernya. Pria itu tersenyum seolah mengatakan semua baik-baik saja.


“Bagaimana, Dok?”


Mereka berdiri dengan harap cemas. Takut-takut dokter yang tersenyum ini hanya sebagian dari topengnya untuk menyampaikan kabar buruk.


“Jangan khawatir, dia baik-baik aja. Tapi luka di kepalanya benar-benar serius. Saat ini dia belum sadar, dan masih kritis. Sebentar lagi pasien akan di pindahkan ke ruang ICU . Mohon jangan ada yang masuk ke dalam karna pasien sedang di persiapkan.”


“Apa ada hal yang harus di khawatirkan, Dok?” tanya Audi yang di angguki oleh Fisya. Untuk berbicara dengan baik aja Fisya belum sanggup.

__ADS_1


“Untuk saat ini tidak ada. Tapi setelah pasien sadar, kita akan periksa kembali semuanya.”


Setelah itu mereka mengucapkan terima kasih dan dokter itu pun pamit undur diri. Setidaknya dokter itu telah membawa kabar yang cukup baik untuk semuanya.


Arga melirik Fisya yang lebih baik dari sebelumnya. Arga melangkahkan kakinya mendekati Fisya yang sedang duduk bersama Audi sembari mengetikkan sesuatu di ponselnya. Mata wanita itu sembab disebabkan oleh tangisan yang baru mereda saat dokter keluar dan mengatakan semuanya baik-baik aja.


“Terus Arumi gimana?” tanya Arga yang membuat Fisya mendongak. “Kamu nggak kasian kalau dia sampai di penjara?” lanjut Arga lagi.


Fisya mematikan layar ponselnya lalu menatap Arga yang sudah duduk di sebelahnya. Dia tau Arga tidak terima adiknya jadi seperti ini, apalagi semua itu di sebabkan oleh orang yang mengaku sebagai sahabat adiknya sendiri. Tapi dia juga yakin pria di hadapannya ini bisa mengontrol semuanya.


Fisya mengangguk. “Kasian udah pasti karna aku sayang sama dia. Tapi makin kesini aku nggak bisa mengasiani orang yang dengan terang-terangan menyakiti orang lain, terlebih kita sahabatan. Dia nyakitin sahabatnya sendiri.”


Fisya memejamkan mata lalu memijat pangkal hidungnya. “Cinta yang nggak pantas untuk dipertahankan nyatanya menjadi boomerang bagi keduanya. Disini Zia korban dari keserakahan, tapi kenapa dia yang harus di patahkan secara berulang?”


Audi yang melihat Fisya kembali terisak memilih untuk memeluk dari samping. Tangannya mengelus lengan Fisya. “Lo yang tenang.”


Wanita yang biasanya selalu tertawa. Wanita yang tidak bisa diam jika matanya terbuka. Wanita yang selalu teriak-teriak jika sedang bahagia. Wanita yang selalu marah jika dia rasa ada yang salah. Ya kini wanita itu terbaring lemah tak berdaya di atas brankar rumah sakit. Tangannya di tusuk jarum infus, hidungnya di terdapat oksigen. Kepalanya di penuhi perban. Dan matanya tertutup rapat.


Dimas nyaris tak kuasa menahan air mata saat melihat keadaan Zia saat ini. Zia berada di ruang ICU, untuk menemuinya pun dia harus menggunakan pakaian steril berwarna hijau itu. Ruangan ini sepi dan juga dingin seperti tidak ada kehidupan. Hanya monitor detak jantung Zia lah yang menemani kesunyian ini.


Dimas mendekat lalu menggenggam tangan Zia yang terbebas dari infus. Ia memilih untuk duduk di kursi yang tersedia di sisi ranjang. Dimas terpejam sembari meremas tangan Zia pelan. Dia tidak suka jika tangan wanita ini dingin seperti ini.


“Hei, bangun.. Banyak yang nungguin kamu disini. Mama, papa, Arga dan semuanya ngggak suka liat kamu lemah kaya gini.” ucapnya pelan.


Zia diam tak bergeming. Hanya detak jantung yang berada di monitor itulah yang seakan menjawab Dimas.


“Semua sayang sama kamu. Maafin aku, aku gagal menjaga kamu, aku gagal, Zi, gagal. Aku lengah sampai mengakibatkan kamu ada disini.”


Dimas menjatuhkan kepalanya diatas genggaman tangan mereka. “Seandainya bisa, aku akan meminta rasa sakit ini di pindahkan kedalam tubuhku, aku ikhlas, Zi. Bangun, aku mohon...”

__ADS_1


“Aku tau kamu wanita hebat, maka dari itu, bangun! Tunjukkan kehebatan kamu. Di luar banyak yang harap-harap cemas memikirkan kondisi kamu. Banyak yang mau liat senyum kamu, banyak yang mau mendengar suara kamu.”


Dimas berdiri lalu mundur beberapa langkah kebelakang. Satu titik air mata jatuh di pipinya. Dimas menggeleng lalu mengusap air matanya kasar.


“Zia, aku bilang bangun! Bangun, Zia, bangun! Kamu nggak bisa tenang-tenang disini sedangkan kami semua menahan rasa khawatir. Kamu nggak boleh egois seperti ini. Apa yang ingin kamu tunjukkan? Apa yang ingin kamu perlihatkan? Kami disini hancur liat kamu nggak berdaya seperti ini. Kami benci saat mengetahui kamu hidup tanpa kehangatan seperti ini! Jadi tolong dengerin aku, sekali aja. Bangun untuk kita semua,” ujar Dimas dengan suara yang sudah naik satu oktaf.


Jari telunjuk Zia terangkat seolah memberi respon baik untuk Dimas. Menyadari hal itu Dimas kembali mendekati Zia dan menggenggam tangannya.


“Zia, Hei.. Bangun ya..” ujarnya kembali pelan.


Jemari Zia kembali bergerak namun setelahnya suara monitor yang tadi berbunyi sesuai dengan detak jantung, kini berubah menjadi datar. Bunyi panjang yang akan membuat merinding siapa pun yang mendengarnya kini nyata di pendengaran Dimas. Dimas menoleh ke arah Zia dan langsung berlari keluar memanggil dokter.


“DOKTER TOLONG... TOLONG DOK!!”


Seorang dokter berlari memasuki ruangan yang di ikuti oleh suster di belakangnya. Dimas menyugar rambutnya frustasi. Di liriknya Arga yang memandangnya dengan tatapan bingung.


“Dim, apa yang terjadi sama adek gue?” tanyanya gusar.


“Zi-- Zia..”


Pintu ruangan itu terbuka lalu memperlihatkan dokter dengan wajah luyunya. Dokter itu memandang semuanya dengan tatapan yang entah berarti apa, sangat sulit di artikan.


“Bagaimana, Dokter?”


“Maaf,”


Tbc♥️


Saat ini sedang minimnya ketenangan, semua gempar karna Virus Corona. Stay safe buat kalian, tolong jaga diri untuk orang sekitar ♥️

__ADS_1


__ADS_2