
Zia menatap wahana pertama yang akan mereka naiki dengan nanar. Sebenarnya walaupun bisa di katakan sering berkunjung ke dufan, Zia belum pernah menaiki wahana ekstrim yang sangat-sangat menguji nyali seperti ini. Dan sialnya, wahana yang di sebutkan oleh Audi termasuk jajaran wahana yang belum pernah disentuh oleh Zia.
Seseorang menggenggam tangan Zia, siapa lagi jika bukan Dimas. Saat ini mereka sedang mengantri untuk menaiki kora-kora. Weekend seperti ini tentu saja dufan menjadi tempat perkumpulan manusia. Banyak remaja yang pergi bersama dengan teman-temannya. Bahkan juga ada yang bersama dengan keluarganya.
Zia melirik tangan kanannya yang di genggam lembut oleh Dimas. Berbeda dengan Zia, Dimas memandang wahana yang sedang berayun di depannya itu dengan santai. Terlalu santai sampai tidak menunjukkan ekspresi sama sekali.
“Kak, ngapain genggam-genggam segala sih. Emang situ mau nyebrang?” ujar Zia sambil mengayunkan tangan mereka.
Dimas menoleh lalu menghadap Zia sepenuhnya. “Biar kamu nggak terlalu takut.”
Zia mengerutkan dahi lalu mendengus. “Mohon maaf, Pak. Nggak ngaruh.”
“Nggak ngaruh gimana? Tuh buktinya kamu jauh lebih tenang daripada tadi.”
“Aku tenang ya karna emang aku nggak panik, gimana sih. Lagian ya aku itu nggak takut, wahana beginian doang mah kecil.”
“Oh ya udah. Tinggal lepasin. Gitu aja ribet,” Dimas melepas tautan tangannya lalu bersedekap angkuh di hadapan Zia.
“Wah, bener-bener ya. Kamu ngatain aku ribet?” Zia mengacungkan telunjuknya tepat di depan muka Dimas.
“Ya udah nggak usah nunjuk-nunjuk.” Dimas menepis telunjuk Zia. “Emang cewek itu ribet kan. Dan kamu contoh nyatanya.”
Zia mendelik tidak suka. Yang awalnya sok-sok mau romantis berujung nyinyir. Dasar Dimas, cowok minus perasaan. Zia mengepalkan tangannya kuat. Ingin sekali ia menghajar pria di hadapannya ini. Kenapa gitu dia nggak kehabisan kata-kata melawan Zia.
Zia menjerit kaget saat merasakan dorongan dari belakangnya. Tubuhnya menabrak seseorang dengan keras. Sial. Kenapa harus nabrak orang sih? Gerutu Zia dalam hati.
Zia membuka mata saat merasakan usapan lembut di punggungnya. Zia mengangkat kepala dan Dimas menjadi objek pertama. Ya Tuhan, jangan lupakan keberadaan Dimas persis di depan Zia tadi yang membuat pria itu kini memeluk tubuh mungil Zia.
Zia melerai pelukannya. “Apaan sih. Kamu modus ya? Ngaku!” ketus Zia.
“Siapa sih yang modus. Lagian ngapain kamu nabrak-nabrak aku, pasti sengaja kan minta di peluk?”
“Ih apaan sih kak. Aku di dorong dari belakang. Lagian kalau nggak ngapain juga aku nabrak-nabrak kamu. Kurang kerjaan apa.”
Dimas tersenyum angkuh. “Halah, udah lah, Zi. Bilang aja kalau kamu emang mau di peluk sama aku. Nggak usah banyak alasan gitu. Sini-sini kalau masih mau di peluk, nggak usah gengsi,” ujar Dimas sambil membentang kedua tangannya di depan Zia.
“Ih apaan sih kak. Nggak jelas banget.” Zia meninggalkan Dimas yang tertawa di tempatnya.
***
Zia menggenggam besi pengaman dengan kuat hingga buku-buku jemarinya memutih. Matanya terpejam rapat. Kora-kora ini mulai mengayun pelan hingga angin menyapu wajah Zia.
__ADS_1
"Ih apaan sih?" bentak Zia saat merasakan seseorang mengusap lembut tangannya.
Zia membuka mata lalu menoleh kesebelahnya. Dimas tersenyum--harusnya terlihat manis-- ke arah Zia.
“Better?” tanya Dimas santai.
“Apaan. Ganggu tau nggak.” Zia menepis tangan Dimas lalu kembali memejamkan mata saat merasakan kora-kora kini telah berayun menguji nyali.
Zia meringis mendengarkan teriakan orang-orang di sebelahnya. Wahana ini terus menambah kecepatannya seolah tidak membawa puluhan nyawa manusia di atasnya. Dengan hati-hati ia membuka mata untuk melihat muka-muka kacau yang lainnya.
Saat Zia membuka mata ia langsung dapat melihat Audi tersenyum remeh ke arahnya. “Cemen lo.” ujar Audi tanpa suara.
“Awas lo.” balas Zia teriak lalu memejamkan matanya kembali.
“Mari kita buktikan kalau kamu nggak cemen.” ujar seseorang tepat di telinganya.
Zia menoleh dan mendapati Dimas tersenyum manis ke arahnya. “Apa?”
Dimas menggenggam tangan Zia. “Jangan tutup mata. Nikmati aja.”
“Suka gemeteran kalau udah naik tinggi gini, Kak.” balas Zia. Dia memilih damai daripada harus mengajak Dimas beradu argumen seperti sebelumnya.
“Modus?”
“Sedikit,” jawab Dimas dengan santai yang membuat Zia memukul tangannya.
***
Zia menghela napas lega. Akhirnya setelah kurang lebih sepuluh menit dia terayun di atas wahana yang di sebut kora-kora itu, kini Zia dapat menapaki kakinya di atas tanah. Wahana pertama yang menjadi taruhan sudah selesai di lewati. Walaupun dengan mata tertutup dan sesekali keceplosan teriak, tetap saja Zia berhasil melaluinya.
“Gue kira lo bakal minta turun di tengah permainan.” celetuk Audi tanpa sungkan. Wanita itu sedang menyeruput es jeruk yang tadi sengaja mereka beli untuk sedikit menenangkan tubuh sembari melirik ke arah Zia.
“Emang bisa ya?”
“Ya nggak lah. Lo kira angkot bisa minta turun tengah jalan.”
“Ya kalo udah tau nggak bisa kenapa mesti ngomong sih, Di? Bikin bingung tau nggak.”
“Ya dasar otak lo aja yang nggak nyampe,” dumal Audi kesal. Wanita itu sungguh ekspresif sebenarnya. Bahkan dia tidak segan memperlihatkan wajah kesalnya di depan semua orang, termasuk bosnya.
“Kenapa jadi pada berantem sih? Tau ngga sih, otak kalian sama-sama ngga nyampe. Buktinya masalah gini aja pake segala di ributin. Ribet lo pada.” Fisya menatap ganas Zia dan Audi secara bergantian. “Ayo naik kicir-kicir, biar cepet kelar.” lanjut Fisya sembari berjalan meninggalkan mereka menuju tempat pengantrian kicir-kicir berada.
__ADS_1
Mereka telah menaiki wahana yang bernama kicir-kicir itu. Lagi-lagi Zia bersisian dengan Dimas. Kali ini Dimas tidak banyak bicara seperti sebelumnya. Entah apa yang sedang di pikirkannya.
Wahana itu mulai bergerak menunjukkan kualitasnya. Perlahan putarannya semakin tinggi dan mengerikan. Teriakan mereka menggelegar menjadi satu. Tidak terkecuali Zia, Fisya dan juga Audi. Para wanita itu juga ikut teriak sekencang-kencangnya. Berharap dengan teriakan itu mereka bisa meredakan ketakutan yang sangat menggila ini.
Dimas kembali menggenggam tangan Zia. Di posisi yang sangat mengerikan ini bahkan Dimas masih dengan suka relanya memikirkan Zia. Zia tidak menghiraukan genggaman Dimas yang seolah berkata; jika jatuh maka kita harus jatuh bersama.
Gila memang!
Tidak terasa wahana itu sudah memakan waktu kurang lebih sepuluh menit yang berarti akan berakhir. Ralat, waktu ini sungguh sangat terasa bagi mereka, terlebih Zia. Bahkan waktu sepuluh menit sama seperti setengah jam lamanya. Lebay memang, tapi itu kenyataannya. Jika tidak percaya, silahkan dicoba.
Tepat saat kakinya memijak tanah, tiba-tiba Zia mual dan mengeluarkan semua isi perutnya. Saking terkejutnya tidak ada yang bereaksi sama sekali kecuali Dimas. Dengan sigap Dimas berjalan mendekati Zia dan memijat tengkuk Zia.
Setelah berhasil mengeluarkan isi perutnya, Zia berdiri tegak dengan wajah pucatnya. Beruntung dia berada di posisi yang sepi sehingga tidak meninggalkan kesan tidak enak kepada pengunjung yang lain.
“Udah enakan?” tanya Dimas. Pria itu terus saja memandangi wajah wanita yang berada di depannya kini. Tangannya terulur untuk menyingkirkan anak rambut Zia yang berada di wajahnya.
Zia mengangguk namun memejamkan matanya beberapa saat. Kepalanya pusing sekali saat ini.
“Lo nggak papa? Kok bisa muntah sih?” tanya Fisya yang entah sejak kapan berada di sisi kirinya. “Kenapa lo nggak bilang sih kalau lo nggak berani?” lanjut Fisya yang kini sedang membantu Zia untuk duduk di kursi yang terbuat dari batu.
“Gue berani. Buktinya gue naik.”
“Ya tapi kan lo langsung muntah gini. Lo ngaca deh. Lo pucet banget udah kayak mayat hidup tau nggak.”
“Ya kali aja abis ini gue beneran jadi mayat!” sahut Zia santai namun membuat Fisya geram.
“Coy, kalo ngomong yang bener kenapa sih? Emang lo udah punya bekal kalau-kalau lo mati? Belum kan? Makanya kalau ngomong di saring dulu.”
“Tau nih. Mulut asal nyablak aja, heran. Oh ya, fix lo kalah, ya.” ujar Audi.
“Ah nggak seru. Gue udah ngebayangin kalau lo menang terus dapet clutch bag LV secara cuma-cuma, Zi. Oh my.. nikmatnya hidup.” seru Fisya dramatis.
Zia mendengus. “Cuma-cuma pala lo di Manado. Penuh perjuangan gini juga.” Zia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Muntah adalah hal yang paling dibencinya sejak kecil. Degup jantungnya perlahan tenang namun pusing di kepalanya masih sangat terasa.
“Stt, Sya.. Gue jadi ngebayangin gimana ya kalau badan lo disini tapi kepala lo beneran di Manado, serem banget ya, Sya?” bisik Audi. Ralat, niatnya berbisik tapi kenyataannya semua bisa mendengar dengan jelas.
Fisya memutar bola mata malas. “Ya lagian kenapa lo bayangin sih? Kurang kerjaan banget. Heran gue, modelan lo gini bisa masuk di NG Corp.” Fisya memalingkan wajahnya kearah pria yang masih menatap Zia tanpa henti. “Kak Dimas, pecat aja deh si Audi udah. Ngerepotin lo ntar.” lanjutnya.
“Ok.” sahut Dimas santai yang membuat semuanya melihat kearahnya. Demi apapun Fisya hanya bercanda. Tapi kenapa Dimas dengan gampangnya menyetujuinya?
Tbc♥️
__ADS_1