
Zia sedang mengelilingi toko buku. Ia pergi bersama Fisya hari ini. Namun mereka sengaja berpencar di arah yang berbeda agar tidak terjadi hal-hal yang tidak di inginkan. Jika mereka memilih buku secara bersamaan, akan runyam masalahnya. Sebab, mereka selalu mengolok-ngolok selera masing-masing.
Beberapa minggu lalu, Zia pergi ke toko buku bersama Fisya dan Rumi. Rumi dengan gampang nya mendapatkan genre yang ia sukai. Sedang kan Fisya dan Zia tidak henti-hentinya berdebat karna merasa yang di pilih tidak sesuai dengan pribadi masing-masing. Akhirnya mereka pulang dengan tangan kosong, dan memandang iri Rumi yang berhasil menambah koleksi buku di rumahnya.
Itulah sebabnya mereka memilih pergi bersama namun memilih masing-masing tanpa ada yang boleh protes.
"Kak Fauzia, ya?"
Zia yang ingin mengambil sebuah novel yang sedang di pajang itu mengalihkan pandangan ke asal suara.
Zia tersenyum. "Iya. Siapa ya?"
Wanita itu terkekeh sambil mengulurkan tangannya. "Gue Rosa kak. Management bisnis dua tingkat di bawah kakak."
Zia meraih tangan gadis itu sambil tersenyum ramah. "Salam kenal, ya. Maaf gue suka ga tanda gitu sama orang. Padahal kita satu kampus ya."
"Siapa gue kak, yang kakak bisa tanda. Gue juga jarang banget ikut kegiatan-kegiatan di kampus. Sampe nih ya, temen seangkatan aja jarang yang tau. Hm.. Miris!! " Gadis yang di kenal bernama Rosa itu tertawa. Namun terdengar hambar di pendengaran Zia.
"Abis ini gue pasti tanda deh sama lo, Ros."
"Duh senengnya di tandai oleh wanita most wanted seantero kampus." ujar Rosa sambil menyenggol bahu Zia. Dia menaik turunkan alisnya menggoda.
Zia memasang tampang malu yang di buat-buat. "Kamu ini cewek tapi suka nya godain orang yaa,"
Mereka tertawa bersama.
"Zi, lo udah dapet bu.. " Ucapan Fisya terhenti saat melihat Zia tertawa dengan orang lain.
"Kak Fisya, kan?" tanya Rosa antusias.
Fisya mengangguk bingung.
"Hai kak, kenalin gue Rosa junior lo di kampus. Dua tingkat di bawah lo, tepatnya."
"Hai, gue Fisya. Terus lo sama siapa di sini?" Fisya mengedarkan pandangan ke kanan kiri.
Rosa menggeleng. "Sendiri kak. Gue ga punya temen buat di ajak pergi bareng. Apalagi gue suka nya ke toko buku." Rosa tertawa sumbang. "Mereka mah sukanya ke Mall, makan-makan, belanja. Sedangkan gue ga suka," sambung nya.
Fisya dan Zia saling tatap. Tidak tau mau bagaimana menanggapinya.
__ADS_1
"Kalo gitu, lo sama dong kaya Zia. Tau ga sih, dia itu males banget yang nama nya belanja, jalan-jalan ke Mall. Mentok tuh ya ke toko buku." Fisya berusaha mencairkan suasana yang mulai aneh.
"Tuh kamu liat kasirnya. Dia itu kenal banget sama Zia, dan dia hapal kalo Zia kesini pasti nyari novel menye-menye ga jelas gitu," tutur Fisya sembari terkekeh.
"Eh syaland lo," Zia hendak menoyor kepala Fisya namun Fisya mengelak.
Rosa tertawa melihat kelakuan orang di depannya saat ini.
"Aku tu suka banget liat pertemanan kakak, sama yang lain juga."
"Oh ya?" tanya Zia dan Fisya berbarengan.
Rosa mengangguk, lalu seolah berpikir. "Berlima deh kalo ga salah. Iya kan?"
Mereka mengangguk. "Tapi mereka ga sebaik yang keliatan tau, Ros." ujar Zia sambil melirik ke arah Fisya. Sedangkan Fisya udah melotot siap menyemburkan lahar panas.
Rosa tertawa, terdengar lebih tulus dari pada sebelumnya.
"Jangan memanipulasi keadaan deh, Zi. Sebel gue."
Lagi-lagi Rosa tertawa. Ntah mengapa. Ada yang beda dengan gadis ini.
"Sebentar ya, kak. Mama telpon." ucap gadis itu yang langsung sedikit menjauhi Fisya dan Zia.
Sekitar 5 menit menjawab telpon, Rosa kembali menghampiri Zia dan Fisya yang sudah berada di kasir.
"Kak, gue pulang duluan ya. Nanti malam itu ada acara Anniversary pernikahan mama papa. Sekalian katanya kakak gue mau ngelamar pacar nya gitu. Kakak datang, yah." Rosa memegang tangan Zia dan Fisya. Tangannya dingin. Dan matanya sedikit sayu.
Zia dan Fisya saling tatap beberapa detik, lalu mengangguk bersamaan.
Rosa tersenyum, lalu mengambil ponselnya dari dalam tas.
"Kak, minta nomor kakak dong. Nanti biar gue kirim alamatnya."
Zia dan Fisya menyebutkan angka demi angka yang menjadi nomor telepon mereka.
"Makasih ya, kak. Gue harap kalian datang. Kalo bisa juga ajak temen kakak yang lain ya. Pesta ini tema anak muda kok, kak. Jadi ga bakal ngebosenin. Dateng yaa, please...." Rosa menyatukan kedua tangannya di depan dada dengan wajah memohon.
Fisya tersenyum. Lalu menyuruh tangan Rosa menurunkan tangannya. Di genggam tangan itu yang entah kenapa terasa dingin di kulitnya.
__ADS_1
"Gue sama Zia bakal datang kok, tapi ga janji sama temen yang lain. Soalnya mereka sering ada acara malam," ujar Fisya.
"Yaudah kak, ga papa kok. Yang penting kakak datang ya." mereka mengangguk. "Kalo gitu, gue duluan ya kak," sambung nya lantas berjalan meninggalkan Fisya dan Zia yang masih menatapnya.
"Mba, totalnya dua ratus dua puluh lima ribu enam ratus rupiah, ya." suara sang kasir mengalihkan perhatian mereka.
"Ini uangnya, mba." Zia memberikan uang kepada sang kasir.
***
"Lo udah coba hubungi Rumi?" tutur Zia tanpa mengalihkan perhatian nya dari jalanan.
"Udah, tapi ga ada jawaban."
Sesuai janji, mereka sedang berada di perjalanan menuju kediaman keluarga Rosa yang sebelumnya Rosa telah mengirimkan alamat rumahnya. Tadinya mereka ingin mengajak Rumi ikut bersama dengan mereka. Namun gagal di karena kan Rumi yang tidak merespon semua panggilan atau pesan dari Fisya. Jadilah, mereka pergi hanya berdua.
Tadi Rosa mengatakan bahwa mengadakan acaranya di rumah, karna sang kakak hendak melamar sang pacar. Jika orang lain akan menyewa gedung dan mendekor sedemikian rupa untuk melamar sang kekasih, justru berbeda dengan kakak dari Rosa itu. Entah mengapa. Yang jelas sang kakak lebih memilih rumah untuk di jadikan tempat yang akan menjadi saksi keseriusannya pada sang pacar.
"Rame banget," gumam Fisya yang baru mendaratkan kaki di sebuah pelataran rumah megah dan mewah itu.
"Kaya nya kita telat deh. Telpon Rosa aja kali ya suruh jemput kita di sini?" tanya Zia hendak mengambil ponsel dari dalam tas.
"Kak Zia, kak Fisya..." Rosa melambaikan tangan dan mulai berjalan mendekati mereka. "Aku nungguin kakak dari tadi," sambung nya.
"Kami telat?"
Rosa mengangguk namun kembali menggeleng. "Telat sedikit," jawab nya.
Mereka terkekeh bersama. Lalu berjalan menuju pintu masuk. Di depan ada sepasang kekasih yang sedang saling tatap dengan cinta. Tangan saling menggenggam seolah takut di tinggalkan.
Kini sang pria mulai membuka suara, menyampaikan maksud dan tujuannya kepada sang wanita. Sebagai tanda keseriusannya pria itu ingin melamar wanita nya malam ini, dan akan di resmikan kembali beberapa hari ke depan pastinya. Di iringi musik romantis, kata-kata khas, dan serta merta rasa sayang, wanita itu menerima lamaran sang pria.
Semua memberikan tepuk tangan yang meriah. Tak terkecuali, Zia. Pria itu membalik badan menghadap para tamu sepenuhnya. Menuntun sang gadis untuk melakukan hal yang sama dengan nya. Ya, kini mereka bisa menatap para tamu secara langsung.
Dada Zia sesak, napas nya tersengal, air matanya sudah jatuh tanpa izin dari tempat persinggahan nya.
"Adit," gumam nya lirih.
Fisya yang menyadari hal yang sama pun langsung menatap Zia. Memegang tangan gadis itu seolah memberi kekuatan.
__ADS_1
Tbc! ❤️