Kamu, Atau Dia

Kamu, Atau Dia
Episode 7


__ADS_3

Disini, di tempat ini. Zia sedang berlari sekuat tenaga. Mencoba melupakan semua yang di rasakan hari ini. Zia tidak peduli dengan orang sekitar. Dia terus berlari sesekali memejamkan matanya singkat.


Zia berhenti tepat di depan kursi taman. Disana ada sahabatnya yang sedang duduk manis sambil memainkan ponselnya.


Zia memutar tubuhnya, lalu menyilangkan tangannya di depan dada. "Lo ga mau ikutan lari juga?"


"Ogah ah, capek. Lari dari kenyataan juga gue udah sering." celetuk Fisya yang masih fokus pada ponselnya.


Fisya termasuk orang yang malas untuk olahraga, terutama lari. Tapi sialnya, tubuh Fisya termasuk perfect. Tubuh yang di idam-idamkan para wanita di luaran sana. Kecuali Zia. Zia termasuk agak cuek dengan penampilan, body atau apalah sejenisnya. Tapi Zia suka lari, malah udah jadi kebiasaanya saat sedang sedih.


"Lo itu udah mulai gendutan tau, Sya." ucapan Zia sukses membuat Fisya mengalihkan fokusnya dari ponsel.


"Seriusan lo?" Zia mengangguk. "Ah bodo amat. Ga peduli gue," tambahnya.


Zia duduk di samping Fisya yang kembali berkutat pada ponselnya. "Katanya, di kantor kak Arga ada karyawati baru loh, Sya." Fisya menatap Zia tak percaya.


"Yaudah kalo ga percaya. Tapi kalo gue sih pengen banget ketemu sama tu cewek. Masa ya katanya, dia itu jadi inceran semua cowok di kantor," sambung Zia antusias.


"Semua cowok?" tanya Fisya. Zia kembali mengangguk. "Termasuk kak Arga dong? Yah ga bisa di biarin." ujarnya sambil berdiri.


"Mau kemana lo?" tanya Zia heran.


"Lari lah. Gue harus ngecilin badan gue yang kata lo udah gendutan ini. Gue ga boleh kalah cantik dari tu cewek baru. Lagian siapa sih dia, anak baru aja belagu," sebelum mendengar jawaban Zia, Fisya udah berlari menjauh.


Zia tertawa lalu berdiri. "I want to say sorry, Sya. Gue bohong." teriaknya. Beberapa detik kemudian Zia menutup mulutnya menggunakan kedua tangan, karna sadar dia menjadi pusat perhatian saat ini.


Fisya menghentikan langkahnya lalu memutar tubuh menghadap Zia. "Gue tau, sengaja pengen buat lo seneng karna ngerasa berhasil nipu gue." teriak Fisya tak kalah keras. Lalu melanjutkan larinya.


Zia menggeleng takjub pada sahabatnya ini. Bahkan menjadi pusat perhatian di tengah taman seperti saat ini aja dia tak peduli.


Zia kembali duduk di kursi taman, meminum air mineral yang tadi di bawanya. Zia mengedarkan pandangan ke penjuru taman. Tidak ada yang menarik. Lalu ia memilih mengeluarkan ponsel dari saku celana yang saat ini di kenakan. Mengaktifkan ponselnya yang tadi sempat di  matikan.


Zia kembali mengangkat kepala, guna melihat Fisya yang belum kembali. Disana, di perjalanan menuju tempat nya, ia melihat Fisya sedang berlari bersama dua orang pria. Yang dari kejauhan pun, Zia sudah mengetahui siapa pria itu.


"Woii," ujar salah satu pria itu.


"Siapa ya?" Zia memasang muka bingung yang di buat-buat.


"Gue lupa, kalo cewek lagi gegana emang suka amnesia," celetuk pria yang lain.


Zia mendengus. Sedangkan Fisya tertawa tak kalem dan di tambah dengan tampang mengejek khas kedua pria sialan itu. Siapa lagi kalau bukan Reno dan Daniel.

__ADS_1


"Sialan lo pada," cetus Zia sambil memeriksa ponselnya.


"Zia sayang apa kabar sih? Udah lama ga ketemu sama abang ya," ujar Reno menaik turunkan alisnya yang lumayan tebal.


Zia melirik Reno sekilas. "Tadinya gue baik, tapi setelah ada lo, dan lo," Zia menunjuk Reno dan Daniel bergantian. "Gue jadi kurang sehat," lanjutnya.


Reno menoyor kepala Zia sampai membuatnya meringis. Sedangkan Daniel memasang wajah sok seriusnya lalu mendekat ke Zia. "Lo gila, Zi?"


Gantian. Zia kini yang menoyor tak santai kepala Daniel.


'Bisa-bisanya dia bilang begitu, dasar sahabat durjana,' batin Zia berbicara.


"Bangke lo. Eh btw Rumi mana?" tanya Zia kembali.


"Ga tau. Ga ada kabar dia dari pagi."


"Pas gue ajakin kesini juga dia ga ada balesan," lanjut Fisya.


"Kaya ga tau aja lo pada. Tu anak kan lagi sering-seringnya pacaran." Reno benar, Rumi semakin jarang ikut ngumpul bareng mereka. Di karna kan apa juga mereka tak tau, tapi kalau menurut Reno, dia pacaran.


***


Setelah satu jam berkutat untuk dunia bisnis, sekarang Fisya beralih pada skripsi yang sungguh menguras tenaga, pikiran dan sejenisnya. Menurut jadwal, besok pagi jam 8 Zia ada bimbingan sama dosen ganteng nan muda, bapak Giorgino. Tak jarang, bapak dosen ganteng itu di jadikan untuk ajang cuci mata oleh mahasiswi semester tua. Tapi sayang, ia sudah menikah dan akan segera menjadi seorang ayah.


Pintu kamar Zia terbuka, menimbulkan seorang pria tampan penghuni rumah. "Dek, lo sibuk?"


"Sedikit. Kenapa kak?" Zia memutar kursi belajarnya menghadap kakaknya yang sedang duduk di pinggiran kasur.


"Ngapain lo?"


"Ngerjain skripsi. Besok ada bimbingan sama bapak ganteng," Zia kembali memutar kursinya menghadap laptop.


"Darimana aja lo?" Arga mendekat dan berdiri di pinggiran meja belajar Zia.


Zia melirik kakaknya. "Gue kira Fisya bilang ke lo kalo kita lari sore tadi."


Arga menggeleng." Sebelum itu."


"Oh yang tadi siang?" Arga mengangguk. "Ga kemana-mana. Orang gue stay di cafe sampe jam berapa gitu. Gue lupa. Kenapa sih kak?" tanya Zia yang kembali menatap kakaknya.


"Sama Dimas?"

__ADS_1


Zia mengangguk dan kembali fokus pada skripsinya. "Awalnya ngga. Tapi katanya lo nyuruh dia buat ngejemput gue. Makanya dia dateng kesitu,"


"Mana ada. Yang ada tu gue nyuruh dia buat ke kantor, eh malah dianya ga mau. Lagi nungguin lo katanya."


"Seriusan lo kak?" Zia menatap tak percaya pada kakaknya itu.


"Iya. Alhasil gue juga ga balik ke kantor. Jalan bareng Fisya mendingan." Arga berjalan menuju pintu kamar.


"Itu mah emang mau nya lo kak," celetuk Zia.


Arga hanya tertawa menanggapi respon adiknya yang terlalu peka itu. Sebelum memutar handle pintu, Arga memutar tubuhnya menghadap adik tersayang nya itu.


"Lo ga makan, dek?"


"Nggak. Ga laper gue," ujar Zia.


"Sakit tau rasa lo,"


Zia memutar kursinya lalu tersenyum pada kakaknya. "Lo sayang ya sama gue, kak?"


"ENG-GAK!" ujar Arga yang langsung keluar dari kamar Zia.


"Durhaka lo sama gue kak," ketus Zia yang masih bisa di dengar Arga.


 


Tbc!


 


 


Semoga syuka🤗😘


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2