Kamu, Atau Dia

Kamu, Atau Dia
Episode 39


__ADS_3

Matahari menyinari bumi dengan gagah beraninya. Panasnya membantu memberi kehangatan untuk semua makhluk yang masih meringkuk dalam selimut karena dinginnya udara pagi. Sendiri, namun tidak pernah lelah. Tidak peduli berapa banyak yang mencintai atau bahkan membenci, ia tetap bersinar menjalankan tugasnya.


Zia tersenyum lantas meraba jendela kaca yang berada didepannya. Walaupun jendela ini tidak terbuka, namun pancaran panasnya menembus hingga kepermukaan kulitnya. Tanpa melihat pun, Zia yakin hari ini begitu cerah.


“Sus, ini jam berapa?”


“Jam 10.”


Zia berdecak kesal. “Sementang gue buta, jadi kalian bisa seenaknya gini?”


“Lah, apa?”


“Sejak kapan lo disini? Suster gue mana?” tanya Zia ketus.


Daniel terkekeh. Benar sekali, dari pertanyaan Zia yang pertama pun yang menjawab bukan suster melainkan Daniel. Susternya pamit saat Daniel baru saja memasuki ruangan itu. Bukan tanpa suara sebenarnya, hanya saja Zia yang tidak menyadari sebab terlalu menikmati hangatnya mentari pagi.


“Keluar dari tadi. Lagian apa sih fungsinya suster buat lo? Lo udah baik-baik aja kan? Kalau mau nanya jam, ke gue aja. Gue udah belajar kok cara ngeliat jam yang bener di yutub tadi, jadi lo nggak perlu khawatir.” gurau Daniel.


“Halah, bacot.”


“Hei kakak, nggak boleh ngomong kasar. Nanti kena marah Allah,” ujar Daniel menirukan suara anak kecil.


“Keluar lo! Bikin pusing aja.”


Hening.


Daniel tidak merespon ucapan Zia. Pria itu hanya berjalan mendekat lalu menatapnya dengan tatapan iba. Rasanya Daniel ingin membunuh Adit jika melihat keadaan Zia seperti ini. Tangannya terulur ingin mengelus puncak kepala Zia, namun urung. Tangannya berhenti di udara. Dia yakin Zia tidak suka dengan tatapannya saat ini.


“Gue tau lo masih disini. Kenapa diem? Gue nggak suka ya kalau lo liatin gue pake tatapan menjijikkan dalam bentuk apapun,” ketus Zia, yang membuat Daniel terkekeh sembari membenarkan pikirannya sepersekian detik yang lalu.


“Pede banget lo, orang gue chatingan. Eh Zi, gue mau nanya dong,”


“Tanya apaan?”

__ADS_1


Daniel tersenyum samar lalu memindahkan sofa kesebelah Zia. Daniel duduk di pinggiran lalu menghadap Zia. Wanita dengan muka sedikit keras namun dalam keadaan pucat.


“Apa yang lo rasain saat itu?” Daniel memulai pertanyaannya. Ditatapnya air muka Zia lekat-lekat.


“Kapan?”


“Saat itu,”


“Lo kalau ngomong bisa yang lebih jelasan dikit nggak sih, Dan? Sekali lagi lo ngomong nggak jelas begini, gue gebukin lo.”ancam Zia, membuat Daniel terkekeh.


Daniel berdeham lalu menyandarkan dirinya pada kursi. Tatapannya beralih kedepan. Entah apa yang ditatapnya, yang jelas kini ia tidak lagi memperhatikan Zia.


“Saat itu, waktu lo tau kalau ternyata lo buta,” ujarnya pelan.


Zia menoleh seakan bisa melihat lawan bicaranya. “Mau jawaban jujur atau bohong?”


“Jawaban baik, entah itu jujur atau bohong. Yang penting gue mau denger jawaban yang paling baik,” sahut Daniel.


Zia menghela napas berat. Kepalanya ditarik untuk menghadap depan kembali. Kedua tangannya saling mengusap lengannya secara bersilang. Lalu tubuhnya bersandar dipunggung single kursi yang saat ini didudukinya.


“Lo apa-apaan sih? Gue kan minta jawaban yang baik, persetan dengan kebohongan,” ujar Daniel, dengan nada tidak sukanya yang kentara.


“Gue sempet mau bunuh lo tau nggak? Karna lo gue kecelakaan terus buta. Andai aja gue waktu itu nggak mau, pasti gue nggak buta. Berengsek lo emang,” kata Zia santai. Tidak ada amarah yang menggebu disetiap kalimatnya. Tenang, seperti bukan kepribadian Zia biasanya.


Dalam keadaan bersandar Daniel menoleh menatap Zia. “Andai gue tau apa yang akan terjadi dan mengharuskan salah satu diantara kita terluka, gue lebih milih lo baik-baik aja. Dalam artian, biar gue yang nanggung semuanya.”


Zia berdeham lalu menyunggingkan senyum tipisnya. “Kalau lo berniat bikin gue baper sama kalimat lo barusan, mending lo puter balik. Karna nggak ngaruh buat gue.”


“Susah emang berurusan sama cewek hati batu kaya lo,” ketus Daniel. Dia merubah posisinya menjadi menatap langit-langit ruang inap Zia. “Padahal gue tadi tulus, malah lo anggap modus. Gue jadi penasaran, diotak lo nggak ada apa ya pikiran baik sedikit aja buat gue?”


“Halah, lebay lo.”


“Lebay-lebay gini pasti lo suka kan sama gue? Pasti seneng gue jengukin, gue ajak ngobrol.”

__ADS_1


Zia berdecak. “Seneng gimana? Dimana-mana kalau ngejenguk orang sakit, pasti bawa buah tangan. Lah lo cuma bawa buah bibir doang masa,”


Daniel tertawa cukup keras membuat Zia kembali berdecak kesal. Sembari meredakan tawanya Daniel berjalan menuju meja yang berada disisi ranjang Zia lalu mengambil parsel buah dan sekotak pizza.


“Kalau nggak tau, nggak usah ngomong, Mba. Bikin malu aja,” ujar Daniel sembari menaruh bawaannya pada pangkuan Zia.


“Gila lo? Jatuh ini,”


“Tuh kan, gue taruh disana disangka nggak bawa. Gue taruh disini gue dikata gila. Mau lo apa sih?” dumalnya sembari mengambil parsel buah dan tetap meninggalkan pizza hut dipangkuan Zia.


“Bukain dong,”


“Nggak ada kata-kata tolong?”


“Ya elah, Dan. Sama temen nggak perlu pakai tolong kali.” kesal Zia.


“Perlu. Kecuali temennya model manusia nggak tau diri kaya lo.”


“Makasih, Dan. Gue anggap pujian ya?” ledeknya. “Daniel sayang, tolong bukain ini!” lanjutnya.


Daniel menautkan alisnya lalu berjalan mendekat. Dihadapan Zia, Daniel berdiri dengan melipat kedua kakinya sebatas lutut. Tangannya beralih membuka kotak pizza tersebut.


Daniel mengambil sepotong lalu mengarah pada Zia. “Open your mouth!”


Zia melebarkan mata bingung. Lalu dia merentangkan kedua tangannya. Daniel yang menyaksikan itu hanya bisa berdecak kesal.


“Your mouth, Zia. Not your hand.”


Zia terkekeh lalu membuka mulutnya. Setelah menggigit serta mengunyah ia kembali bersuara. “Gue makan sendiri aja, takut baper.”


Melihat Zia yang memakan pizza yang entah udah potongan keberapa itu dengan lahab, menjadi pandangan indah tersendiri untuk Daniel. Daniel menyugar rambutnya yang terlihat sudah agak memanjang lalu melipat kedua tangannya didepan dada.


Daniel berdeham sejenak lalu mengatakan, “Zia, kalau gue suka sama lo, gimana?”

__ADS_1


Tbc♥️


__ADS_2