Kamu, Atau Dia

Kamu, Atau Dia
Episode 33


__ADS_3

Fisya menatap dua orang pria yang saat ini sedang duduk di sebuah kursi taman panjang dengan tatapan kosongnya. Berawal dari kata maaf yang di sampaikan oleh dokter tepat seminggu yang lalu, kedua pria itu seolah tidak memiliki semangat hidup. Wajahnya pucat, semburat lelah begitu jelas terlihat karna mereka selalu memaksakan diri untuk berjaga.


“Sya..”


Satu tepukan pelan mendarat di bahu Fisya. Dia menoleh dan mendapati Daniel berdiri disana. Pria itu tampak menghela napas lelah. Daniel baru menginjakkan kakinya disini bahkan setelah mendapatkan kabar bahwa Zia masuk rumah sakit. Pria itu sibuk mengurus ayahnya yang kebetulan sedang sakit di kota kelahiran ayahnya. Seperti itulah yang di sampaikannya pada Fisya sejak awal.


“Seandainya gue nggak nyuruh Zia buat jemput Reno waktu itu, mungkin kejadiannya nggak bakal seperti ini,” ujar Daniel, sembari menatap lurus ke depan, ke arah dua pria yang sama-sama terpukul di depan sana.


“Seandainya gue bisa lebih cepat sedikit aja, pasti Zia masih bersama kita dalam keadaan baik-baik aja. Pasti kita masih bisa mendengar suaranya yang cempreng, tawanya yang keras, dan tingkahnya yang absurd.” Fisya terkekeh sembari menghapus air matanya yang jatuh tiba-tiba.


Daniel menoleh menatap sahabatnya itu. “Gue nggak nyangka persahabatan yang orang lain inginkan, kini justru menghancurkan. Persahabatan yang kita mulai dari awal, menghancurkan kita secara perlahan, Sya.”


“Gue lebih nggak nyangka. Gue ngeliat dengan mata kepala gue sendiri Arumi dengan bringasnya menabrak Zia. Zia kesakitan, Dan. Matanya terbuka saat itu, dia masih sadar walaupun tubuhnya udah terkapar di jalanan. Bisa bayangin sesakit apa yang dia rasakan?” lirihnya.


“Dimana-mana ada darah. Dari hidung, telinga, kepala. Semuanya ada darah. Lo tau saat itu juga rasanya gue pengen membalas Rumi. Tapi gue masih ingat dia sahabat kita. Sampai akhirnya gue mutusin untuk ngelaporin dia ke polisi.” lanjut Fisya dengan sedikit emosional.


Daniel mengubah arah tubuhnya menjadi menghadap Fisya sepenuhnya. “Jadi bagaimana keadaan Zia sekarang?”


Fisya melirik Daniel dengan sendu. Kemudian ia menggeleng sembari menghapus air matanya.


***

__ADS_1


Arga membuka pintu ruangan itu dengan dada bergemuruh. Dia berjalan pelan menghampiri wanita yang saat ini sedang terbaring dan hanya di temani oleh kesunyian. Wanita itu masih setia memejamkan matanya rapat sejak seminggu lalu. Tubuhnya yang mungil kini di penuhi oleh alat medis antah berantah yang membuat Arga ngilu saat melihatnya.


“Hai, apa kabar lo hari ini?” ujar Arga pelan. Saat ini Arga telah duduk di kursi sebelah wanita itu. “Nyaman banget ya lo sampai-sampai nggak mau bangun. Disini kita semua nungguin lo.”


“Lo tau, mama nge-drop waktu tau lo kecelakaan terus koma sampai sekarang. Lo nungguin mama, ya? Mama belum gue bolehin kesini takut semakin drop nantinya. Nggak papa kan? Lo nggak marah sama gue kan?” Arga menunduk sembari menggenggam jemari mungil yang kini semakin dingin.


“Zia, lo harus bangun. Lo harus buka mata. Udah cukup lo buat kita takut seminggu ini. Tunjukin ke semua dokter yang bilang kalau lo nggak bisa bertahan tanpa bantuan alat medis ini. Tunjukkan pada mereka lo akan bertahan, lo akan sehat, lo akan baik-baik aja tanpa bantuan alat medis sialan ini.”


Arga menoleh saat mendengar suara pintu terbuka. Fisya dengan balutan baju sterilnya kini melangkah masuk sembari tersenyum damai. Fisya mendekati Arga lalu mengelus bahu pria itu singkat. Fisya menoleh menatap wajah Zia yang terlihat tenang namun begitu pucat saat ini. Di elusnya tangan Zia yang masih dalam genggaman Arga.


“Ada yang mau bertemu,” ujar Fisya pelan namun masih terdengar jelas oleh Arga. “Daniel, Yang. Dia mau ketemu sama Zia.”


Daniel yang kini juga menggunakan baju steril sempat terpaku beberapa detik. Dia menatap Zia yang kini terbaring di ranjang rumah sakit itu. Tanpa menyentuh tubuhnya pun, Daniel tau jika tubuh itu dingin. Daniel berjalan mendekati Fisya yang masih menatapnya dengan senyuman samar.


“Lo tadi nanya Zia kan? Ini dia, Dan,” ujar Fisya. Ia beralih menatap Zia. “Seminggu yang lalu dokter mengatakan bahwa dia koma. Dan tepatnya dua hari yang lalu, kondisinya memburuk sampai dokter mengatakan bahwa Zia bertahan hanya karna bantuan dari alat medis yang kini juga menyiksanya.”


Arga tampak memejamkan mata sembari menunduk. Bayangan kala dokter mengatakan kondisi adiknya benar-benar ingin di lenyapkan seketika. Arga tidak terima saat dokter mengatakan dengan gampangnya kondisi Zia yang memburuk saat itu.


“Lo pasti bingung, kenapa Dimas bisa seterpukul itu mendapati keadaan Zia yang sekarang. Gue kasih tau nih. Hari pertama Zia kritis, dia ngeliat Zia menggerakkan jarinya. Dua kali kalau nggak salah,” ucap Fisya. “Dimas pikir itu awal dari kesadaran Zia, rupanya dugaannya salah. Ternyata itu adalah tanda bahwa dia akan tidur dalam jangka waktu yang lama.”


“Gue nggak nyangka Arumi setega ini.”

__ADS_1


Fisya berdeham. “Sama. Eh tapi apa lo udah ketemu sama Reno?”


Daniel menggeleng namun fokusnya masih menatap Zia. “Belum. Gue coba hubungin juga nggak nyambung hpnya.”


“Terus lo udah ketemu sama Arumi?” tanya Daniel, setelah beberapa waktu mereka ditemani oleh kesunyian.


“Belum. Gue udah terlanjur benci sama dia,” sahut Fisya.


“Sya, gue ngerasa bersalah banget sama Zia. Seperti yang gue bilang, seandainya gue nggak minta dia buat jemput Reno dan Rumi, mungkin dia nggak bakal kayak gini sekarang.” Daniel mengusap wajahnya kasar. Frustasi menjadi kata tercocok untuknya.


“Jika kita bisa menggunakan kata seandainya, mungkin gue nggak bakal ngizinin Zia bersahabat dengan manusia bernama Arumi itu,” ujar Arga dengan wajah datarnya.


Setelah mengatakan itu Arga berdiri dan langsung menuju pintu keluar. Dadanya sesak jika mendengar kemungkinan-kemungkinan yang selalu saja di sebut oleh Daniel.


Pintu kembali terbuka dari luar menampilkan sosok yang berbeda dari sebelumnya. Penampilannya yang biasa rapi kini berbanding terbalik. Wajahnya yang biasanya segar kini tampak luyu. Tanpa menutup pintu pria itu bersuara yang membuat Daniel dan Fisya saling berpandangan.


“Pulanglah, Daniel. Zia tidak membutuhkan teman sepertimu. Pergi dan temui Arumi, katakan padanya kalian berhasil membuat Zia terkapar tidak berdaya hingga hari ini.”


Daniel menatap pria yang baru saja mengeluarkan suara itu dengan tatapan membunuh. Rahangnya mengeras. Tangannya terkepal seperti siap untuk melayangkan bogem mentah kapan pun.


“Ternyata lo udah tau semuanya, Dim. Ya, jadi gue nggak perlu capek-capek untuk bersandiwara sekarang. Gue kira lo sama bodohnya sama yang lain, ternyata gue salah. Lo termasuk pintar untuk memecahkan teka-teki yang udah gue permainkan selama ini. Yaaa, bahkan dalam hitungan hari,” ujar Daniel sembari tersenyum licik.

__ADS_1


__ADS_2