Kamu, Atau Dia

Kamu, Atau Dia
Episode 15


__ADS_3

Sudah seminggu setelah peristiwa yang sangat menyakitkan bagi Zia berlalu. Semenjak itu Zia menjadi pribadi yang berbeda. Tidak ceria, dan lebih sering mengurung diri.


Hari-hari Zia di habiskan hanya dengan memandang padatnya jalanan ibukota dari balkon butik yang di pegangnya. Tanpa ada pekerjaan yang kerjakannya sedikit pun.


Saat ini semua sahabatnya mengunjunginya di butik, minus Rumi. Mereka mencoba mengembalikan dunia Zia yang telah di rusak oleh lelaki brengsek itu. Dalam diam nya Zia bersyukur memiliki sahabat seperti mereka. Tapi rasa kekecewaan nya sangat besar sampai enggan walau hanya mengeluarkan sedikit saja tawa nya.


"Zi lo harus tau anak itu pake kacamata tebal, rambut belah tengah, baju di masukin, sepatu pantofel kilat. Itu mahasiswa apa dosen?" ucap salah satu sahabatnya.


Mereka sedang tertawa bersama mengingat bagaimana penampilan seorang junior yang baru saja pindah ke fakultas yang sama dengan mereka.


Seperti nya usaha mereka hari ini gagal. Mereka sudah lelah tertawa namun tak sedikit pun  mengubah mood nya Zia.


"Oh ya Zi, kita dapat pesanan buat baju bridesmaids 12 pasang. Terima aja atau gimana?" tanya Fisya sambil mengambil minum di dalam kulkas yang tersedia.


Zia mengalihkan pandangannya lalu mengedikkan bahu.


"Lo kenapa sih, Zi?" Reno menghela napas. Lelah rasanya melihat Zia putus asa seperti ini.


"Kenapa? Gue ga papa!" kata Zia.


"Kalo lo emang ga papa, bersikap lah seperti biasa ke kita. Lo tunjukin ke kita kalo lo beneran ga papa. Lo harus tunjukin ke semua, satu cowok ga akan bisa mematahkan dunia lo. Harus nya lo tunjukin. Bukan malah uring-uringan ga jelas kaya gini. Muak gue liat lo!" sarkas Reno.


"Lo muak liat gue? Gue lebih muak Ren. Gue muak dengan semuanya. Gue muak sama kehidupan gue. Gue muak sama yang terjadi. Gue benci. Rasanya gue pengen mati dan melupakan---"


PLAKKK!!


Satu tamparan keras mendarat mulus di pipi Zia. Ya, Reno menampar Zia. Melihat itu, Daniel langsung menarik Reno menjauh. Tidak habis pikir dengan apa yang barusan di lihatnya.


Zia memegang pipinya. Badannya bergetar dan tangis nya kian terdengar. Fisya memeluk badan Zia yang terguncang. Ia juga ikut menangis melihat sahabatnya itu.


"Apa-apaan sih lo Ren? Lo udah gila? Lo ga sadar apa yang udah lo lakuin barusan?" bentak Daniel.


"Biarin Dan. Biar dia sadar dari apa yang dia katakan. Dia kira kalo dia begini terus-terusan kita bahagia? Kalo aja tadi gue ga tampar dia, mungkin dia ga sadar dan dia ga akan berhenti bicara yang ga baik. Dia ga mikirin perasaan kita, orang tua sama kakak nya apa? Dimana Zia yang dulu kita kenal?" kesal Reno.


"Tapi ga gitu juga. Zia itu perempuan. Lo ga tau betapa terguncangnya dia karna tamparan lo." Daniel menatap Reno tajam. Lalu mengalihkan pandangan nya ke arah Zia dan Fisya.

__ADS_1


Reno dan Daniel mendekat. Di lihatnya Zia sedang minum yang tadi di ambil kan Fisya.


"Zi.. " gumam Daniel.


Zia mengangkat kepala, lalu tersenyum tipis. Seolah mengisyaratkan ga papa.


"Udah sadar? Udah paham dong kalo yang lo omongin itu ga baik?"  ketus Reno.


"Ren.." cegah Fisya.


Zia memegang tangan Fisya. Pandangan nya beradu dengan Reno. Zia tau Reno tidak membenci nya. Hanya saja ingin menyadarkan nya dari situasi ini.


"Rasanya gue ga sanggup Ren. Karna di dalam pengkhianatan itu ada perasaan sahabat gue. Rasanya gue pengen egois, tapi gue ga bisa liat sahabat gue patah sama kaya gue hari ini." Satu air mata Zia meluncur bebas.


"Gue mau nyalahin si cewek. Tapi apa daya, cewek itu adalah Rumi. Sahabat gue, sahabat kita. Gue pengen bangkit kaya yang lo bilang tadi, tapi rasanya gue ga sanggup. Hati gue sakit Ren, sakit banget. Kehidupan seolah sedang mempermainkan gue." Zia menghapus air matanya. "Jadi kalo lo mau benci gue, itu hak lo. Gue ga bisa larang."


"Zi, bukan gitu.."


Zia tersenyum. "Jadi gimana? Gue makin sadar kalo gue emang ga pantas buat di sayangin.  Adit adalah contoh nyatanya. Suka gue juga karna taruhan."


Zia berjalan menuju kamar mandi tanpa ada kata-kata lagi. Lelah terlihat dari matanya.


***


Saat ini mereka sedang berada di Cafe yang terletak di seberang butik. Sengaja meninggalkan Zia untuk memberi nya waktu menenangkan diri.


"Sebenernya juga ga tega kali. Tapi gimana, gue kesal. Cuma karna cowok kaya Adit dia berpikiran pengen mati," kata Reno.


"Ya gimana juga tetep aja dia cewek kali Ren. Kadang-kadang suka keterlaluan emang."


"Coba lo jadi gue, pasti ngelakuin hal yang sama."


"Enggak. Gue juga ngerasain apa yang lo rasain bego. Cuma gue masih paham kalo perempuan patah hati itu gimana." jawab Daniel sambil mengesap kopinya.


"Yaudah sih. Udah terlanjur juga." kesal Reno.

__ADS_1


"Ya intinya lo udah keterlaluan."


***


Matahari tampak sedang malu-malu menunjukkan diri. Hari ini dingin. Akan datang hujan seperti nya. Gadis yang sedang berjalan di gazebo sebuah fakultas itu merapatkan cardigannya.


Dering ponsel membuatnya menghentikan langkah nya. Segera ia ambil ponsel yang berada di dalam tas nya.


"Iya. Ini bentar lagi gue nyampe kantin."  jawab nya sambil terkekeh.


Gadis itu mengedarkan pandangan ke penjuru kantin. Lalu ada tangan yang melambai ke arahnya.


"Wah. Aura nya beda nih." ledek Reno.


"Iya nih. Karna tamparan lo tempo hari kali ya," sahut Fisya.


"Manjur juga ternyata. Besok kalo ada yang patah hati langsung di tampar aja biar langsung sadar," ucap Daniel terkekeh.


"Syaland lo." Rajuk Zia. "Tapi mon maap nih ya. Gue semangat bukan karna lo. Tapi karna ga sengaja gue liat lembaran skripsi gue yang mengenaskan itu kemarin." katanya tertawa.


"Yah, gue kira karna tamparan gue." Reno menampilkan muka polosnya.


"Eh tapi sumpah ga bohong. Tamparan lo keras banget Ren. Rasa-rasa mau pingsan gue."


Reno tertawa. "Ya keras lah. Orang abis nampar lo aja tangan gue sakit. Tapi yaudah gue nikmati aja lah. Kapan lagi bisa nampar Zia?"  kata Reno sambil menaik turunkan alisnya.


"Keterlaluan lo emang. Kualat lo sama gue. Ga ikhlas gue lo tampar kaya gitu."


"Tapi kalo ga gue tampar, belum tentu nih hari ini lo ada di sini."


"Iya sih."


Setelah itu mereka terlibat topik pembicaraan yang seru, serius dan lucu. Terlihat dari wajah masing-masing yang kadang tegang lalu tertawa keras.


"Hai, boleh kita gabung?"

__ADS_1


Tbc❤️


Pekanbaru, 16 Sept 2019❤️


__ADS_2