
Audi berjalan mendekat kearah ranjang Zia. Disana masih ada Dimas yang duduk menghadapnya dengan raut wajah yang Audi sendiri sangat paham menunjukan apa.
Audi berhenti saat hanya berjarak beberapa langkah dari ranjang Zia. Matanya memidik Zia tajam, tangannya bersedekap didepan dada. “Jangan buat gue jadi mikir tindakan Arumi nggak pernah salah sama sekali, Zi!”
Audi merasakan perbedaan dari semuanya. Bahkan ada beberapa yang membuka mulut hendak protes. Audi mengangkat tangannya. “Biarin gue bicara. Orang kaya Zia butuh pencerahan.” ketusnya, membuat semua bungkam tertahan.
Kaki jenjangnya mengarah pada Zia. “Minggir lo.” Dimas berdecak sebal namun tetap menyingkir dan membiarkan Audi duduk diranjang Zia. Audi mengambil tempat menyamping hingga dia dapat menatap awan melalui jendela.
“Gue pikir lo orangnya tulus. Gue pikir lo bahagia kalo liat gue bahagia. Gue pikir lo nggak suka beneran sama Dimas. Gue pikir lo seneng waktu gue mulai deket sama Dimas. Gue pikir lo turut bahagia waktu nyaksiin gue sama Dimas mulai deket, bukan hanya sekedar bos dan karyawan.” Audi melirik Zia yang terdiam. “Gue pikir lo sahabat gue, Zi.” lanjutnya.
“Lo ngomong apa sih?” Anton mencoba menarik Audi menjauh namun langsung ditepis kasar olehnya.
“Diam lo. Nggak usah ikut campur! Lo anteng aja disitu, liat gimana cara gue menyadarkan wanita ular disebelah gue ini.”
Semua orang menatap Audi tidak percaya. Wanita ini benar-benar berbeda. “Untuk pertama kalinya gue sadar, Arumi nggak salah. Dia sangat benar untuk membebaskan diri dari wanita kaya lo. Lo wanita berbahaya, Fauzia. Lo tega. Bahkan dalam keadaan seperti ini pun lo bisa-bisanya berpikir mau ngerebut Dimas dari gue? Lo luar biasa.”
“Lo salah paham. Gue nggak mau ngerebut siapa dari siapa. Gue cuma.. Cuma nggak sengaja ber--”
Kalimat Zia terhenti saat mendengar tawa mengejek yang sangat dikenalnya. Audi kembali melirik Zia tajam. “Cuma berdua dalam satu ruangan, duduk berdekatan, saling tertawa lepas satu sama lain, lo bilang nggak sengaja?” Audi terkekeh. “Nggak ada kalimat yang lebih murahan lagi dari pada itu?”
Fisya sudah tidak tahan. Dia berjalan mendekati Audi dan langsung mendorong bahu Audi kuat. Jika saja wanita itu tidak sedang duduk saat ini, mungkin dia telah jauh tersungkur ke belakang. “Lo maunya apa sih? Lo nggak ikhlas disini yaudah silahkan pergi! Masih tau pintu keluar dimana kan?” ujar Fisya emosi.
Emosi Fisya semakin tersulut saat Audi menatapnya sembari tersenyum. “Sebelum lo pergi, gue mau ngasih tau satu hal sama lo. Zia nggak mau ngerebut siapapun! Lo kekanakan kalau langsung berasumsi sedemikian buruknya cuma karna liat mereka tertawa bersama tadi. Lo cantik tapi sayang lo ****. Lo nggak bisa memilah mana yang salah dan mana yang benar diotak cantik lo itu.”
“Pergi lo!” lanjut Fisya.
Audi berdiri dan langsung menatap Fisya dan Zia. Kini pandanganya beralih pada barisan para pria yang terlihat sangat lelah mendengarkan perdebatan ini. “Gue heran gimana bisa orang kaya lo ngelakuin hal serendah ini. Lo hebat, lo nusukin belati ke gue tapi bodohnya gue nggak sadar. Lo munafik, lo manusia bertopeng, Zia!” teriaknya.
“Lo apa-apaan sih?” Anton mencengkram pergelangan tangan Audi kuat hingga membuatnya meringis. “Lo nggak seharusnya ngomong kayak gitu. Disituasi kaya sekarang, semua mau Zia bangkit nggak terpuruk terus menerus. Lo picik kalau langsung mikir yang nggak-nggak tanpa mendengar penjelasannya.”
Anton melepaskan cengkramannya. “Sekarang gue tanya, sejauh apa sih hubungan lo sama Dimas sampe lo tega ngomong gini ke Zia? Lo udah pacaran? Belum kan? Ngaca!”
Audi berdecak sembari melirik Dimas. Pria itu sedang bersandar pada tembok dengan kedua tangan yang bersedekap didepan dada. Alisnya terangkat saat pandangannya bertemu dengan Audi.
“Kenapa?” tanya Dimas.
“Lo nggak mau bantuin gue? Gue lagi diserang ini,” ujar Audi.
Dimas mengedikkan bahu acuh. “Nggak penting. Lo bacot.”
__ADS_1
“Nggak asik lo.” kesal Audi. Kini ia berjalan dan membanting diri disofa. Saat menyadari sesuatu Audi langsung menatap satu persatu wajah yang ada disana. Semuanya tampak bingung membuat Audi nggak tahan untuk tidak meledakkan tawanya.
“Apaan sih lo?” Arga menoyor kepala Audi keras membuat sang empunya melirik ganas. “Pantes tiba-tiba marah, lagi sakit ternyata.”
“Enak aja.” sanggah Audi. “Tapi gue cuma bercanda sih. Liat muka cengonya Zia suka banget gue.”
Fisya membelalakkan mata. “Jadi lo bercanda?” Audi mengangguk. “Sialan lo emang. Hampir aja lo gue usir.”
“Lo udah ngusir gue, by the way. Gue aja yang nggak tau malu masih disini.”
Fisya terkekeh. “Gue mikir lo beneran cemburu tau.”
Hening.
Mereka serentak mengalihkan pandangannya kearah Zia. Wanita itu masih setia duduk diatas ranjang dan sesekali menghapus air matanya. Zia menangis dalam kebisingan yang terjadi diantara yang lainnya.
Fisya memberi kode pada Audi untuk wanita itu segera menenangkan Zia. Namun Audi menggeleng sembari menyebutkan kata takut tanpa suara. Arga menghela napas lalu berjalan mendekati adiknya itu.
“Hei,” Arga menarik kursi yang sebelumnya agak jauh dari Zia. “Kenapa nangis? Audi kan udah bilang dia bercanda? Ada yang sakit?” tanya Arga lembut sembari mengelus rambut adiknya.
Zia menggeleng. Bibirnya terangkat naik sedangkan air matanya kembali menitik.
“Gue keinget Rumi. Seandainya dia ada disini, mungkin dia nggak akan disebut-sebut. Gue rindu dia. Apa dia udah tau gue masuk rumah sakit? Karna seinget gue, terakhir kali gue mau nyusulin dia sama Reno. Tapi belum sempet ketemu eh ada mobil yang kenceng banget.”
Fisya tercekat. “Lo inget?”
“Inget lah. Gue itu buta bukan amnesia. Gue juga inget, sebelum gelap banget gue ngerasa kaya liat lo, Sya. Tapi abis itu udah nggak inget lagi.”
“Gue disana. Tapi gue telat nggak sempet narik lo. Maafin gue ya,”
“Kalo mobil itu, lo udah tau punya siapa?”
“Punya pamannya Rumi, yang di kemudi olehnya sendiri.”
Jawaban itu keluar bukan dari bibir Fisya. Arga menggenggam tangan Zia sebelum melanjutkan kalimatnya. “Rumi itu berengsek. Dia nyakitin lo.”
Zia mengerjap seolah sedang mencari kebohongan yang pasti akan terlihat diwajah Arga. Sial, ini gelap. Zia lupa dia sudah tidak bisa melihat seperti dulu lagi.
“Lo jangan bercanda! Udah terlalu banyak bercanda untuk hari ini. Lo bisa lakuin dilain waktu.” ketus Zia.
__ADS_1
“Siapa yang bercanda sih? Gue beneran. Dia yang dengan sengaja nabrak lo sampe buta kaya gini. Bahkan dia sekarang ada dipenjara.”
Zia menepis tangan Arga dengan kasar. “Lo gila? Ya nggak mungkin lah Rumi ngelakuin itu. Dia itu sahabat gue. Semarah-marahnya dia, nggak pernah tuh dia mau nyelakain gue. Dia sayang sama gue sama kaya gue sayang sama dia. Jadi tolong, gue mohon, jangan mengada-ngada.” amuknya.
“Itu dulu, jauh sebelum dia dibutakan oleh cinta. Gue tau dia sayang sama lo, tapi lagi-lagi lo harus terima kalau sayang dia habis terkikis oleh waktu. See, dia nggak ada disaat lo sakit, dia bahkan yang buat lo sakit.” Arga menggeram. Tangannya terkepal saat lagi-lagi Zia meneteskan air mata. Dia nggak boleh seperti ini. Menangisi orang seperti Rumi sama dengan menjilat liur yang sudah jatuh, sama-sama menjijikkan.
Tangan Zia terulur mencari keberadaan Fisya. “Sya, Rumi sayang sama gue kan? Rumi nggak mungkin mau nyelakain gue kan? Kita sahabatan udah dari lama, nggak mungkin hancur gitu aja kan? Sya, jawab gue!”
Fisya memeluk Zia. Tangannya mengelus pundak sahabatnya yang sedang menangis sekarang. Saat ini menyampaikan dengan cara yang sangat baik pun akan tetap menyakitkan. Fisya terpejam. Meresapi tangisan Zia yang semakin memilukan. Tangannya masih setia mengelus pundak Zia.
“Dari awal kalimat kak Arga semuanya benar, nggak ada kebohongan didalamnya. Gue pun sama, kita sama-sama nggak percaya dengan kenyataan ini. Sahabat yang dulu nggak pernah bisa liat lo kesakitan bahkan hanya karna datang bulan, kini menjadi sumber pesakitan yang sangat memilukan.” jelas Fisya. Tangannya menahan Zia yang hendak melepaskan pelukan itu. Fisya yakin saat pelukan itu terlepas dia akan berteriak layaknya orang kesurupan.
Zia menghela napas lalu melepaskan Fisya. Air matanya kembali jatuh beriringan dengan sesegukan. “Tolong tinggalin gue sendiri, bisa?”
“Nggak, lo nggak boleh sendiri.” sangkal Arga cepat.
“Tapi gue butuh. Hidup dalam ketidak mungkinan gini memaksa gue untuk berpikir. Give me time. It won't take long, only one hour.” mohon Zia.
“Kalo lo mau berpikir, ayo gue temenin. Gue kakak lo kan? Gue bisa bantu lo untuk menata hati dan hidup lo lagi.”
Zia memejamkan matanya sejenak. “Gue tau, dan makasih banget untuk itu. Tapi ini tetep hidup gue, yang bakal menjalani ini semua gue. Lo sama yang lainnya hanya pelengkap plus penolongnya.”
Suara gesekan kursi terdengar bersamaan dengan decakan sebal Arga. “Ya udah, terserah.”
Suara pintu terdengar serta beberapa derap kaki menjauh. Sepi, itulah yang menggambarkan situasi saat ini. Zia meraba bantal dan merebahkan dirinya. Beberapa detik kemudian ia mengubah posisi menjadi meringkuk. Air matanya kembali mengalir melintasi hidung dan berakhir meresap pada bantalnya.
“Gue benci. Gue benci waktu dimana gue nggak bisa apa-apa mesti gue ingin. Gue benci dimana gue nerima kenyataan kalo lo lah yang udah buat gue jadi nggak cinta sama diri gue sendiri kaya sekarang.” Zia ber-monolog. Tangannya yang terkepal berkali-kali memukul bantal.
“Orang yang gue percaya. Orang yang gue sayang. Nyatanya berkhianat sedemian rupanya. Gue sayang sama lo, Rum. Bahkan gue ngerelain Adit buat lo. Lalu salah gue dimananya? Kenapa lo tega?”
Zia menangis. Suaranya yang sebisa mungkin ditahan agar tidak terdengar hingga luar, membuat dadanya semakin sesak. “Reno, Rumi, Daniel, Fisya. Gue rindu kita yang dulu.” gumamnya. “Gue rindu kita yang tertawa sampe lupa rasanya sakit hati itu seperti apa. Gue rindu kita yang saling hujat tapi nggak kenal dendam. Ketimbang cinta, gue lebih pengen kita kaya dulu.” lanjutnya lirih.
“Terkadang yang dekat pun belum tentu menjamin sebuah kesetiaan. Setia itu mahal, Nak, hanya orang yang berkualitas tinggi yang bisa melakukannya.”
Zia menegang. “Mama?”
“Istirahatlah, Nak. Mama disini.”
TBC✨
__ADS_1