Kamu, Atau Dia

Kamu, Atau Dia
Episode 9


__ADS_3

"Kamu ga usah sok seksi. Kamu sama sekali ga pantes pake pakaian seperti itu. Kaki datar kamu itu sama sekali ga pantes untuk di pamerin. Ga malu emang sama yang lebih seksi?"


Ucapan Dimas sukses membuat Zia terdiam di tempatnya. Namun seolah tak mengerti perasaan Zia, Dimas justru dengan santainya menaiki anak tangga menuju kamar Arga. Seolah sudah tau dimana letak kamar Arga.


Zia melirik temannya yang kini sedang menahan tawa sambil sesekali saling pandang satu sama lain. Menyebalkan.


Zia kembali melirik ke arah Dimas yang mulai tak keliatan dari bawah.


'Dengan santainya lo ngatain gue di depan semua temen gue. Ok, itu artinya lo udah ngibarin bendera perang ke gue, Dimas.' batin Zia kesal.


"Zi, ganti sana. Lo sama sekali ga seksi tuh katanya," ucap Reno yang di sambut gelak tawa temannya yang lain.


Zia menghentakkan kaki lalu berjalan menuju sofa dimana temannya berada. "Bodo amat,"


"Serius gue ga nyangka doi bakal ngomong kebegitu ke lo, Zi. Malah tadinya gue kira doi suka ame lo!" tutur Fisya dengan tampang polosnya.


"Makanya jangan meyakinkan hati kalau dia suka sama seseorang, cuma karna dia berlaku baik ke orang tersebut. Tau kan lo sekarang, kalo yang terlihat itu ga selalu sama dengan kenyataan." kata Daniel.


"Lagian juga doi cuma nganterin Zia mau ketemu sama pacarnya doang kan? Dan lo udah beranggapan doi suka sama Zia, gitu?" sambung Daniel menatap intens Fisya.


Fisya mengangguk. "Gimana coba gue ga beranggapan kebegitu, Dan. Doi rela nungguin Zia berjam-jam dan nolak ke kantor loh."


"Logika deh, Sya. Cowok mana sih yang mau nganterin cewek yang mau ketemu sama pacarnya, kalau dia aja suka sama tu cewek?" jelas Reno yang di angguki Rumi dan Daniel.


"Bener kata Reno, Sya." kata Rumi yang sesekali mengetikkan sesuatu di ponselnya. "Tapi, doi ganteng banget yaa," sambungnya dengan tampang mupeng.


"Inget cowok lo," hardik Fisya. Sekarang fokusnya beralih pada Zia yang bersandar di punggung sofa yang sedang berkutat pada ponselnya. Zia hanya berdiam diri sejak tadi, bahkan tak menanggapi semua asumsi dari teman-temannya.


"Woii, ngelamun aja lo." Fisya melempar pena ke arah Zia, yang tepat mengenai jidatnya.


Zia menatap Fisya tajam. "Apasih lo? Sakit tau,"


"Lo sih ngelamun aja,"


"Sapi tetangga gue kemarin mati tau,"sahut Reno santai.


Zia dan yang lain menatap bingung ke arah Reno. Dan seolah mengerti kebingungan temannya, Reno pun kembali berucap. "Karna kebanyakan ngelamun katanya. Makanya lo hati-hati, Zi. Jangan banyakan ngelamun."


Zia mendengus, begitu juga temannya yang lain. "Siapa juga yang ngelamun," sanggah Zia yang kembali berkutat pada ponselnya.


"Lo," jawab mereka serentak.


"Sok kompak lo," cetus Zia malas. Pasalnya saat ini ia emang sedang malas menanggapi ocehan temannya. Mood nya rusak tepat saat bibir sexi milik Dimas mengatakan hal yang menyinggung egonya sebagai wanita.


"Lo marah sama Dimas, Zi?" tanya Rumi menatap Zia lekat, seperti sedang mencari jawaban dari manik mata indah milik Zia itu.


Zia mendongak. Saat ingin menjawab, Zia melihat Dimas dan Arga mulai menuruni anak tangga. Dan beberapa detik Zia saling tatap dengan Dimas. Seperti kaset kusut, ucapan Dimas terngiang jelas di telinga Zia yang membuat sang empunya memutuskan kontak matanya begitu saja dengan pria itu.


Arga dan Dimas ikut bergabung dengan mereka. Arga duduk tak jauh dari Fisya. Sedangkan Dimas duduk di samping Arga, tempat yang kini berhadapan dengan Zia.


Zia memutar bola mata malas. Kemudian melirik Rumi yang terang²an sedang menatap indah Dimas. "Zi, seriusan gue ga bisa ngalihin pandangan gue ini." bisiknya pada Zia.

__ADS_1


Zia menghela nafas. Ia kesal kenapa malah mereka bergabung disini? Itu membuat mood Zia semakin buruk. Tak mengindahkan pernyataan dari Rumi, Zia memilih kembali berselancar di dunia maya miliknya.


"Zi, lo kapan bimbingan?" tanya Daniel sembari mematikan laptopnya.


"Besok."


"Dimana lo mau ketemu sama pak Gio besok?"


"Di stadiun,"


"Lah buset! Lo mau bimbingan apa mau main sepak bola?" sarkas Reno.


"Berenang," jawab Zia sekenanya.


"Cewek galau mah suka gitu, ga waras!" gerutu Fisya.


"Sialan lo," Zia melempar pena yang tadi mengenainya. Namun sayang, Fisya terlalu lincah mengelak. Alhasil sasaran tak tepat!


***


Zia merebahkan tubuhnya di atas kasur kesayangan. Menarik selimut hingga menutupi tubuhnya hingga perbatasan leher. Mencoba memejamkan mata. Mengistirahatkan pikiran sebelum berperang kembali pada susunan tugas akhir yang di namakan skripsi.


Zia tadi sempat mengirimkan pesan singkat kepada dosbing gantengnya itu. Guna mengatakan jika besok ia sudah bisa bimbingan. Dan pak Gio membalas, Zia harus menemuinya tepat di jam 8 pagi. Karna mulai setengah 10, pak Gio sudah di sibukkan dengan jam pelajaran yang kebetulan besok jadwalnya padat.


Pintu kamar Zia di ketuk. Dan memunculkan sosok pria yang sangat-sangat di kenal Zia sejak kecil.


"Dek, lo udah tidur?"


"Hampir. Ngapa?"


"Lo mau jadiin gue kambing conge?" gerutu Zia masih dengan mata yang tertutup.


"Ya ngga lah. Dimas juga ikut kok,"


"Males ah. Gue sibuk besok. Ada bimbingan,"


"Yah ga asik lo." cetus Arga. "Lagian kan lo besok bimbingan nya pagi,"  tambahnya kemudian.


Zia membuka mata, menatap kakaknya yang kini duduk di pinggiran kasur sambil menatapnya. "Gue bimbingan sampe sore,"


"Bohong! Ga percaya gue,"


"Ga percaya yaudah sih. Ga maksa tuh," tutur Zia yang kembali menutup matanya.


"Yah, payah lo." gumam Arga yang langsung berlalu pergi meninggalkan kamar Zia.


Zia membuka mata saat mendengar suara pintu tertutup. Merutuki sikap bodoh kakaknya itu. Bahkan Zia rela menjadi kambing conge Arga dan Fisya, karna itu sudah biasa ia lakukan. Tapi masalahnya ada Dimas. Si cowok ga punya perasaan itu. Zia terlanjur membenci sikapnya tadi siang. Bahkan Zia sudah bertekad, tidak akan ada lagi sikap manis untuk Dimas mulai sekarang. Hanya ada satu kata di antara keduanya, Musuhan!


Ponsel Zia berdering menampilkan id caller, Fisya.


"Halo"

__ADS_1


"...."


Zia menghela nafas.


"Gue besok bimbingan, ga bisa."


"...."


"Next time deh, bimbingan gue lebih penting."


"....."


"Gue mau bimbingan sampe sore,"


"......"


Lagi-lagi Zia menghela nafas.


"Itu lo tau, gue kesel sama dia, Sya. Seenaknya gitu kalo ngomong."


"......"


"Big no. Dia sengaja. Dan itu artinya dia udh ngibarin bendera perang ke gue!"


"....."


"Bodo ah. Yaudah gue mau tidur dulu. Besok mau bimbingan pagi. Bye!"


Zia memutuskan sambungan dan langsung memejamkan mata. Untuk kesekian kalinya Fisya dapat menebak gelagatnya. Bahkan kakaknya sendiri pun belum bisa membaca mood adeknya sendiri.


Dering ponsel Zia kembali terdengar. Zia menghela nafas berat. Bukannya tadi Fisya udah tau alasan kenapa Zia menolak? Kenapa dia masih kekeh?


Zia mengambil ponselnya yang tadi di taruh di bawa bantal. Bersiap akan mengeluarkan sumpah serapahnya untuk Fisya. Tanpa mau repot untuk membuka mata, Zia langsung mengangkat  panggilan itu. Dan tak lupa meng-loudspeaker karna Zia terlalu malas untuk memegang ponselnya.


"Halo, Sya. Paan lagi sih? Bukannya tadi udah gue bilang kalo gue males ketemu sama tu cowok nyebelin," cerocosnya dengan mata tertutup dan ponselnya di atas bantal.


"Halo, Zi. Ini aku!"


 


 


Tbc!!


Happy reading kesayangan🤗


Niat banget kan aku untuk up😅


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2