Kamu, Atau Dia

Kamu, Atau Dia
Episode 30


__ADS_3

“Pak, ini berkas yang bapak minta. Disana sudah saya tuliskan point-point apa saja yang harus mereka lakukan dan apa yang tidak boleh di langgar. Disana juga sudah saya tuliskan pembagian-pembagian sesuai yang bapak perintahkan ” Anton dengan sopan menyerahkan map berisikan tentang perjanjian kerja sama dengan salah satu perusahaan yang meminta Dimas menjadi donaturnya.


Dimas mengangguk sembari membenarkan posisi kaca mata bacanya yang sedikit turun. “ Taruh aja disitu. Ini kamu periksa lagi. Ada beberapa bagian yang membuat saya pusing. Disana sudah jelas apa yang di minta, tetapi ada saja yang melenceng. Jika ada kesulitan kenapa tidak bertanya.” Dimas menyerahkan sebuah berkas yang sangat di kenali oleh Anton siapa yang membuatnya.


“Ini saya yang memperbaiki atau di berikan kepada si pembuatnya langsung, Pak?”


“Ke si pembuat. Kamu ingat siapa yang memberikannya pada mu kemarin?” tanya Dimas yang di angguki oleh Anton. “Siapa?”


“Zia.”


“Zia?”


Anton mengangguk.


“Kamu bisa nggak sih, kerjanya yang bener dikit. Sebelum kasih ke saya, harusnya kamu cek terlebih dahulu. Jika seperti ini, saya jadi tidak mood untuk memeriksa berkas yang lain.” semprot Dimas tiba-tiba. Sangking tiba-tibanya, bahkan Anton sempat terkejut karna belum bersiap menerima omelan bosnya itu.


“Iya, Pak, maaf.”


“Kasih ke dia. Suruh revisi semuanya.”


***


Zia merebahkan kepalanya di lipatan tangan. Pandangannya mengarah kepada Audi yang masih sibuk mengetikkan sesuatu pada komputernya. Wanita itu cantik, terlihat anggun jika sedang berdiam diri seperti ini, porsi tubuhnya juga pas, ideal. Hampir sama dengan porsi tubuh Fisya.


Zia teringat pada Dimas yang tiba-tiba mengajak Audi untuk makan siang tadi. Apa mungkin pria itu menyukai Audi setelah beberapa kali bersama? Apa mungkin beberapa kali bersama dengan Audi, pria itu selalu memperhatikan Audi dan jatuh cinta dengan keceriaan wanita ini? Zia menegakkan kepalanya guna mengusir semua pikirannya tentang Audi dan Dimas.


“Woi, lo lagi sakit?” Anton yang sudah berdiri di depan meja Zia memamerkan muka kesalnya. “Ini. Lo gimana sih tumben banget kerjaannya nggak beres?”


Zia mengambil berkas yang di berikan oleh Anton. Dia ingat ini berkas yang terakhir kali ia kerjakan dengan deadline yang isinya benar-benar ingin Zia muntahkan begitu aja. Di bukanya berkas itu, lalu tanpa sepengetahuan siapa pun Zia melihat ada note kecil disana.


*Kalau nggak tau, tanya. Kalau susah, minta tolong. Kantor tidak memaksa kamu untuk bekerja secara individu. Revisi semuanya.


-Dimas*.


“Lo di minta nge-revisi ini semuanya. Mana yang tadi, udah kelar? Biar gue bawa aja sekalian.” ujar Anton.


Audi melirik Anton dan Zia. “Kenapa lo?”


“Nggak papa.” ketus Anton lalu pergi begitu saja setelah menerima berkas yang sudah siap di kerjakan oleh Zia.


“Woi, cewek banget jawaban lo.” ujar Zia tak kalah ketus. “Lagian yang kerjanya nggak bener gue, kenapa dia yang sensi sih?”

__ADS_1


“Ya karna lo dia kena semprot Pak Dimas pasti.”


“Ya nggak mungkin lah, Di. Nggak ada hubungannya.” sangkal Zia tak yakin.


Audi memutar kursinya menghadap Zia. “Nggak mungkin gimana? Pak Dimas itu emang jarang marah. Tapi sekalinya marah semua kena. Yang ngasih berkas itu ke Pak Dimas siapa, Mas Anton kan? Udah pasti dia kena.”


Zia berdeham. “Tau banget nih.”


“Namanya gue udah lama kerja disini, gimana sih lo?”


Tanpa mau menghiraukan ucapan Audi, Zia memilih untuk mengecek ulang berkas yang dia pegang saat ini.


Jam menunjukkan pukul dua belas. Berarti Zia sudah berkutat satu jam hanya untuk merevisi berkas yang benar-benar membuatnya pusing. Ketenangan yang dia pikir berada di divisi ini lenyap seketika berganti dengan kekesalan. Jika di divisi ini saja sudah membuatnya pusing tujuh keliling bagaimana jika dia memilih divisi yang lebih tinggi kemarin? Jika hal itu terjadi, Zia yakin saat ini rambutnya sudah berubah warna menjadi lebih mencolok, yaitu putih.


Interkom Audi berbunyi menimbulkan suara Dimas di seberang sana. “Audi, sebelum pergi makan siang, kamu ke ruangan saya dulu ya. Saya tunggu.”


Audi membereskan mejanya. Menyusun semua berkas-berkas yang berantakan menjadi satu tumpukan. Audi sempat memeriksa riasannya menggunakan kaca dari bedaknya yang di ambil dari dalam tas.


“Mau ketemu bos aja udah kayak mau ketemu calon suami, dandan terus.” ledek Zia tanpa menoleh. Tangannya masih sibuk di atas keyboard.


“Siapa tau Pak bos khilaf jadiin gue istrinya, kan lumayan.” sahut Audi.


Setelah kepergian Audi, Zia kembali berkutat pada komputernya. Kerjaannya sedikit lagi selesai, sayang jika harus di potong untuk makan siang. Zia bermaksud untuk menyiapkan semuanya sebelum pergi ke kantin kantor dan menikmati makan siangnya dengan tenang.


Zia mendongak dan dapat melihat Audi sedang berdiri bersisian dengan Dimas yang tak jauh dari mejanya dengan wajah berseri. Zia berdeham lalu kembali menatap monitor. “Gue belum selesai, nanggung. Lo duluan aja.” ujarnya.


“Ayolah. Tinggalin aja, nggak papa. Lagian kan ini jam makan siang. Ya kan, Pak?”


“Tentu. Saya tidak mau karyawan saya sakit hanya karna melalaikan makan siang. Bareng kita aja.” tutur Dimas.


“Ok.” Zia mengalah.


Akhirnya dia membereskan mejanya dan langsung menghampiri Dimas dan Audi yang saat ini sedang berbincang di tepian tembok lift. Dimas yang menyandar di dinding serta tangannya yang bersedekap di depan dada, kini sedang memperhatikan Audi yang tampak sedang mengoceh di depannya. Jangan lupakan, Dimas yang sesekali tersenyum bahkan terkekeh saat mendengarkan jokes receh yang di lontarkan Audi.


“Bertiga aja? Mas Anton nggak di ajak?” tanya Zia saat sudah berada di dekat mereka.


“Nggak. Saya nggak ada ajak dia sih. Tapi kalau nggak salah dia juga mau makan siang bareng temennya yang lain.” sahut Dimas.


Kotak besi itu terbuka dan mereka langsung masuk ke dalamnya. Dimas menekan tombol L. Sesudahnya Dimas kembali menatap Audi. Zia rasa, Dimas memang sedang jatuh cinta pada Audi. Sedari tadi tatapan pria itu tidak lepas dari wanita cantik yang ada di sebelah Zia saat ini.


Merasa akan menjadi pengganggu, Zia mengeluarkan ponselnya yang tadi di taruh ke dalam tasnya. Zia membuka aplikasi WhatsApp lalu mengetikkan nama Anton disana.

__ADS_1


Zia


Mas, lo dimana?


centang abu-abu itu berubah menjadi warna biru dan keterangannya sedang typing. Tumben sekali Anton fast respon.


Mas Anton


Di lobby, Zi. Kenape?


Zia


Lo makan siang dimana? Gue ikut, boleh?


Mas Anton


Di seberang kantor. Gue lagi males jauh-jauh hehe.


Boleh.. Lo dimana? Mau traktir gue ya? Duh baiknya🤗


Zia mendengus saat membaca balasan dari cungpret Anton.


Zia


Gue mau ikut sama lo juga karna gue lupaan bawa dompet, Mas. Malah lo minta traktir. Apa iya gue harus nyari kang sulap biar bisa ngerubah kertas jadi duit biar bisa traktir lo?


Mas Anton


Alah kelamaan, keburu kepiting jalan lurus baru gue makan.


Buruan sini gue tunggu. Kali ini gue traktir deh gapapa. Tapi masuk list utang ya?


Zia


Syaland, lo.


Bentar gue baru keluar dari lift nih.


“Kamu lupa bawa dompet?”


Zia menoleh dan--

__ADS_1


Hah?


Tbc♥️


__ADS_2