Kamu, Atau Dia

Kamu, Atau Dia
Episode 27


__ADS_3

Zia sedang menikmati makanan yang tadi di pesan tanpa menghiraukan tatapan horor yang dilayangkan oleh Fisya dan Audi. Sesuai apa yang diminta Zia kemarin didalam pesan singkat hari ini mereka bertemu disalah satu Kafe langganan mereka.


Seolah pura-pura lupa Zia tidak membahas masalah Dimas sedikit pun sejak tadi. Yang dia lakukan hanya makan dan sesekali bercerita tentang apapun kecuali tentang Dimas.


“Fix, kesabaran gue udah habis, lo mau cerita sendiri atau gue yang tanya?” itu Fisya. Jika Fisya udah berbicara seperti itu, alarm siaga sudah harus menyala. Sebab Fisya akan bertanya sampai ke akar-akarnya dan harus menemukan jawaban yang akurat.


“Waduh santai aja kali, Sis. Kayak mau kemana aja lo segala pake buru-buru,” sahut Zia santai.


“Masalahnya gue mau pergi sebentar lagi bareng Arga, udah on the way dia,”


“Ya bukan urusan gue dong, udah gue bilang hari ini kira free, nyantai-nyantai, cerita-cerita, eh taunya lo mau pergi sebelum kita cerita. Ya sudah,” jelas Zia sambil mengedikkan bahunya sambil tersenyum mengejek.


“Ya udah buruan cerita!”


“Gue masih makan, Sya. Nggak boleh cerita apalagi ghibah, yang ada gue keselek. I don't want to die.”


“Masih gue liatin ya, Zi.” Audi angkat bicara. “Banyolan lo banyak banget. Daripada lo terus-terusan nyari alibi mending lanjut ke cerita. Dari awal kalo lo langsung cerita, gue rasa udah kelar ini.” lanjut Audi jengah. Audi dan Fisya tau dan paham jika daritadi Zia sibuk mencari alasan untuk mengalihkan niat awal mereka, yaitu membahas Dimas.


“Tau ih. Kalo lo pengen kita lupa untuk cerita Dimas, sorry but in your dreams, Fauzia.” Fisya terkekeh. Dasar Zia ****, ujarnya dalam hati.


“Ya udah iya. Jadi kemarin itu gue bimbingan di temenin sama Kak Dimas,”


“Bisa nggak sih nggak usah muter-muter, itu mah juga kita tau. Yang belum kita tau, gimana bimbingan lo sewaktu ada Dimas, terus kalian kemana sampai nggak balik ngantor.” Fisya menjeda kalimatnya lalu melirik Zia. “Kalo lo nggak serius juga, gue bakal bilang ke tante Irene kalo lo pacaran sama Adit,”


Zia menganga kaget. “Kok lo ngancem gue? Lagian ya, gue nggak ada apa-apa sama Adit.” bantah Zia.


Sejak saat itu Zia sangat emosional jika menyangkut tentang Adit, walau hanya menyebut namanya.


“Pernah ada apa-apa, Zia kalo lo lupa.”


“Buruan cerita, Zi, ya ampun.” desak Audi tidak sabaran.

__ADS_1


Zia menghela napas. Sahabatnya ini benar-benar. “Nothing special, Girls. Cuma gue heran aja gitu. Gue salah sangka. Gue kira bimbingan gue bakal ancur, apalagi kalo inget gimana Dimas ngisengin gue segala ngumpetin laptop.”


“Tapi asal lo pada tau, dia kalem banget coba. Kayak sejenis pencitraan sama dosbing gue. Tapi gue nggak peduli mau dia pencitraan atau apapun itu, yang penting gue tenang dong bimbingannya. Yang bikin kesel malah si dosen kece, parah.” Zia bersandar pada punggung kursi yang ia duduki. Menatap kedua sahabatnya yang diam semenjak dia mulai bercerita.


“Kenapa?” tanya Audi.


“Ya coba lo bayangin, si dosen kece itu awalnya bilang kalo skripsi gue udah mulai rapi, tinggal benerin typo sedikit dan bisa langsung lanjut ke bab selanjutnya. Tapi waktu dia tau gue sambil kerja di perusahaan orang, dan yang gue bawa notabenenya adalah bos gue. Dia langsung jelek-jelekin gue ya ampun. Skripsinya acak-acakanlah, sering banget typolah, belum bisa lanjut ke bab selanjutnyalah, otaknya suka error tiba-tibalah, jam bimbingannya suka ngaret lah, inilah itulah, di depan bos, guys di depan bos. Kan gue kesel.”


Fisya dan Audi saling lempar pandangan, detik kemudian sama-sama tertawa. Inilah yang dari awal Zia takutkan. Wanita di depannya ini sama ajaibnya. Selalu tertawa jika Zia mengekspresikan kekesalannya.


“Gue nggak penasaran sama ekspresi dosen lo, yang gue ingin tau adalah gimana reaksi Dimas saat itu?” ini giliran Fisya. Fisya bertanya di sela-sela tawanya. Jangan tanya Audi bagaimana, saat ini ia sedang membenamkan kepalanya di lipatan tangannya diatas meja.


“Dia ketawalah, sosok Dimas mana mungkin nggak bahagia jika ada orang yang di hina di depannya,” Zia menyeruput milkshake miliknya hingga tandas.


“Terus lo kemana aja sampai nggak balik ke kantor?”


“Gue ke kantor kok, pulang dari bimbingan gue langsung ke kantor lagi.” jawaban Zia membuat Audi dan Fisya mengalihkan perhatian dari ponselnya masing-masing. “Tapi lewat belakang. Gue ke puncak gedung sama Dimas.”


“Masa sih, Di? Gue jadi penasaran.” ungkap Fisya.


“Lebay amat lo. Di puncak NG nggak ada yang spesial. Malah terkesan biasa aja. Cuma ya ada pendopo disitu, buat neduh.” kelakar Zia.


“Ya terus lo ngapain disana sampai nggak masuk jam kerja?”


“Ngerjain skripsi. Kata Dimas, harus dengan situasi tenang, damai, biar ngerjainnya juga maksimal.”


“Hai..” sapaan itu membuat ketiga wanita yang sedang berbincang itu menoleh. Lah kok?


***


Dimas melirik Zia yang sedang tertawa bersama dua sahabatnya. Hanya karna suka atau karna apa yang jelas Dimas selalu suka melihat tawa wanita itu. Seolah semua beban menghilang bersamaan dengan gelak tawa Zia. Katakan Dimas lebay, dia tidak peduli. Yang dia tau hanya satu, rasanya begitu nyata.

__ADS_1


Setelah menyusul Zia dan temannya di Kafe, Dimas, Arga serta Anton memboyong ketiga wanita itu menuju dufan. Entah ide konyol milik siapa, tapi yang jelas mereka sudah berada di tempat ini.


“Ayo kita naik kora-kora.”


“Gila lo. Ogah ah, takut gue.”


“Ya terus lo mau naik apa? Baling-baling biar kayak bocah?”


Siapa lagi kalau bukan para wanita itu yang sedang bergelut menentukan wahana apa yang akan di coba terlebih dahulu.


“Gue tantang lo, Zi. Kalo lo berani naik wahana yang gue sebutin, gue bakal beliin lo tas..” Audi menjeda kalimatnya seolah berpikir.


“Clutch bag LV?”


“Ok. Tapi gue yang pilih.”


“Harus melalui persetujuan gue,”


“Kan gue yang beli,”


“Kan gue yang mau make.”


Audi menghela napas. “ Kora-kora, kicir-kicir, tornado.” Audi menyebutkan wahana terpilih. “Bagaimana, deal?”


Tanpa pikir panjang Zia mengatakan, “Deal.”


“Wah nyari perkara lo.” ujar Fisya.


Dimas hanya memperhatikan wajah Zia. Dia tertawa namun ada ketakutan di dalamnya. Dimas berjalan mendekati Zia lalu meraih tangan gadis itu. “Kalo kamu takut, ya udah jangan. Nanti kita beli tasnya.”


Zia tersenyum lalu menggeleng yakin.

__ADS_1


Tbc😍


__ADS_2