
“Alya makin lama makin cantik ya Gung. Cuman ada yg beda, sekarang dia sudah hijrah ya. Pakaiannya jadi lebih tertutup gitu,” tutur Jack sembari menatap Ega yang duduk agak jauh dari tempat ia berdiri.
“Memang beda Jack. Itu bukan Alya, tapi istri baruku. Namanya Ega, Alya and me sudah end.”
“What? Tapi istri barumu mirip sekali dengan Alya. Jangan-jangan kamu menikahi dia karena mukanya mirip Alya ya? Yaelah yang gagal move on.”
“Yang jatuh cinta karena mukanya mirip Alya itu Nayla. Kalau saya, entah karena apa. Yang jelasnya, saat pertama kali melihat dia saya merasa seperti dilanda puber kedua.”
“Itu namanya jatuh cinta pada pandangan pertama Gung. Btw, pakai pelet apa kamu? Peletnya ampuh ya, bisa bikin hijabers begitu mau dinikahi. I know, pasti dia belum tahu kalau kamu seorang casanova kan? Makanya dia mau,” ucap Jack kemudian tertawa.
“Hush, jangan kenceng-kenceng ngomongnya. Nanti kalau dia dengar, bisa fatal Jack. Belum first night soalnya,” bisik Agung.
“Istri barumu itu pasti masih segel Gung. Enaknya di kamu ini mah, unboxing bini cantik. Sementara dia, dapat barang rongsokan kayak kamu.” Jack kembali terkekeh.
“Enak matamu! Dia menghindar terus tiap kali saya minta itu. Bikin frustasi tau Jack, untung ada Bella.”
“Iya, Bella dan kawan-kawannya kan? Dasar penjahat kelamin. Sepertinya Allah sengaja mempertemukan kamu dengan istri barumu itu, supaya kamu tobat Gung. ”
“Tobat? Tidak akan ada perempuan yang bisa mengubahku Jack. Sampai kapan pun, saya tetap akan bersenang-senang dengan perempuan mana pun. Kalau bisa menikmati banyak perempuan, kenapa harus setia pada satu orang?” kata Agung dengan begitu angkuhnya.
“Noh, simpananmu sudah datang. Hati-hati, jangan sampai ketahuan istri barumu. Belum first night kan? Saya ke sana dulu ya!” tunjuk Jack ke arah James duduk.
“Okay bro.” Agung kini kembali ke tempat Nayla dan Ega duduk.
“Selamat siang bu!” ucap Bella sembari menyalami tangan Ega.
“Siang!” Ega melirik Agung dengan tatapan penuh kebingungan.
“Ini sekretarisku sayang, namanya Bella. Perusahaan bisa semaju sekarang karena kehadirannya,” ucap Agung grogi.
“Terima kasih ya Bella. Kamu sudah membantu suami saya,” ujar Ega tanpa mengalihkan pandangannya dari Nayla.
__ADS_1
“Sama-sama bu. Oh ya, saya ke sana dulu.” Dengan berjalan melenggak-lenggokkan pinggulnya, Bella menghampiri rekan kantornya.
Setelah menyantap makanannya, Ega dan Nayla ke parkiran duluan. Mereka menunggu Agung di dalam mobil.
Agung kembali ke mobil. Dengan penuh emosi, ia melajukan mobil ke rumah.
“Kamu jangan judes begitu ke bawahanku. Apalagi ke Bella, tanpa bantuan dia perusahaanku tidak ada apa-apanya Ga.”
“Siapa yang judes sih mas? Kamu sendiri kan lihat, saya sedang ngobrol dengan Nayla tadi. Let me tell you. Ada atau tidak adanya sekretaris kamu itu, perusahaan kamu akan tetap maju kalau Allah menghendaki. Rezekimu itu di tangan Allah mas, bukan di tangan dia.”
“Ceramah lagi, kebiasaan sekali kamu kalau dikasih tahu. Sekali lagi saya ingatkan kamu. Jangan sampai kejadian tadi terulang lagi. Lain kali kamu harus lebih ramah seperti Bella.”
“Bella? Yang begitu kamu bilang ramah? Ramah apanya, setiap lelaki dia sapa. Mana suaranya mendayu-dayu lagi.”
“Oh jadi begini sifat asli kamu? Suka menghina orang lain. Seharusnya kamu malu dengan hijabmu ini.”
“Jangan bawa-bawa hijabku mas! Kalau kamu mau respect ke Bella, silakan mas! Tapi jangan paksa saya untuk melakukan hal yang sama. Perusahaan kamu maju bukan karena kerja keras Bella saja mas. Tapi juga kerja keras semua bawahan kamu. So stop memuji dia di hadapanku.”
Sebenarnya banyak perempuan lain yang bisa ia temui kapan saja saat ingin. Tapi Bella lah yang paling mengertinya luar dalam.
...****...
Saking emosinya dengan kejadian kemarin, Agung terus mendiami Ega. Bahkan ia yang biasanya selalu sarapan sebelum ke kantor, kini berangkat dengan perut kosong. Padahal Ega sudah membujuknya untuk sarapan dulu.
Tak ingin masalahnya berkepanjangan, Ega berinisiatif untuk memberi kejutan pada Agung. Ia meminta pembantu untuk memasakkan makanan kesukaan Agung. Makanan itu akan ia bawa ke kantor.
Dengan ditemani sopir pribadi, Ega berangkat ke kantor suaminya. Di depan ruangan, ia mendengar suara aneh Agung dan Bella.
Masih positive thinking, Ega membuka pelan pintu yang tidak terkunci itu. Pintu ruangan Agung memang tidak pernah terkunci. Karena selama ini, tak satu orang pun yang berani masuk tanpa permisi selain Bella.
Ega disuguhi pemandangan yang luar biasa. Dengan mata kepalanya, ia mendapati Agung sedang bermesraan dengan Bella.
__ADS_1
“Saya menerima pinangan Agung karena menghindari gangguan pak rektor yang tukang kawin. Dan ternyata saya menikah dengan lelaki yang lebih buruk. Pak rektor punya tiga istri dan berhubungan hanya dengan mereka bertiga. Sementara Agung, istrinya hanya saya. Tapi di luar dia lupa akan statusnya,” batin Ega.
“Kenapa berhenti sayang? Waktu sama Alya kita juga begini dan Alya tidak marah. Kamu juga tidak pernah takut kan ditinggal perempuan?”
Agung tidak menghiraukan ucapan Bella. Segera ia mengenakan kembali pakaiannya. Menyusul Ega yang pulang ke rumah dengan berurai air mata karenanya.
“Saya minta maaf untuk yang tadi,” ucap Agung pada Ega yang tengah menangis sesenggukan di kamar.
“Pantas saja kemarin kamu memuji-muji dia. Hebat sekali memang prestasi sekretarismu itu mas. Jadi sekretaris bisa, jadi teman tidur bosnya juga bisa. Seharusnya kamu menikahi dia, bukan saya. Kamu jahat mas.”
“Siapa sebenarnya yang jahat? Kamu atau saya?” protes Agung.
“Wow, maksud kamu apa bicara seperti itu mas? Yang selingkuh itu kamu. Jelas sekali kamu yang jahat, bukan saya.”
“Kamu memang selalu merasa paling benar Ga. Tidak pernah mau introspeksi diri. Kamu marah melihat saya tidur dengan perempuan lain. Tapi tidak pernah mau melayani saya.”
“Kamu sendiri kan tahu, saya sedang menstruasi mas. Sudah jelas-jelas salah, tapi kamu masih membela diri dengan menyudutkan saya. Lelaki macam apa kamu ini?”
“Menstruasi kamu jadikan alasan. Padahal beberapa hari sebelum menstruasi kamu juga menolak melayani saya. Come on Ega, saya ini lelaki normal. I need s*x, kalau kamu tidak bisa kasih. Jangan marah kalau saya cari di luar.”
“Hebat sekali kamu mas, sempat-sempatnya kamu playing victim. Bisa gitu ya kamu menyalahkan saya demi menutupi kebusukan kamu.”
Agung mendekat ke arah Ega. Bukannya menenangkan, ia malah mengecupnya berkali-kali. Juga menyentuh semua bagian yang menarik baginya.
“Kamu sudah gila ya mas? Berhenti mengecupku, brengsek! Lepaskan tangan kotormu dariku. ”
Ega berteriak keras, membuat pembantunya kaget. Meski begitu para pembantu diam saja. Karena mereka tahu kalau kedua majikannya itu tengah bertengkar hebat. Bukan ranah mereka untuk ikut campur.
“I am your husband Ga. Never forget it! Kamu marah kan kalau saya brengsek ke Bella. So let me brengsek ke kamu sayang.”
*Jangan lupa tinggalkan jejak, readers
__ADS_1