
“Sayang, sudah beberapa hari kita menikah. Tapi kamu belum juga melaksanakan kewajiban kamu sepenuhnya sebagai seorang istri. Saya lelaki normal, yang butuh berhubungan.”
Agung kini mendekat ke arah Ega, bersiap untuk menyentuhnya.
“Ehm, tadi katanya kepala kamu sakit ya?” tanya Ega berbasa-basi untuk mengulur waktu.
“Iya. Pening plus capek seharian kerja di kantor,” tutur Agung kemudian membaringkan kepalanya di paha istrinya.
“Okay saya akan memijat kepala kamu, biar peningnya berkurang.”
Ega mulai memijat kepala suaminya. Hingga tak disadari, Agung yang tadinya menggebu-gebu meminta jatah kini ketiduran di pangkuannya.
“Alhamdulillah, selamat. Untung dia ketiduran. Tapi, besok pakai alasan apa lagi ya? Pikir besok saja deh, yang penting malam ini bisa menghindar.” Nisa bermonolog dalam hati.
Dengan teramat hati-hati, Ega memindahkan kepala Agung yang sudah terlelap. Ia pun ikut terlelap di samping suaminya itu.
Adzan subuh kini berkumandang, Ega yang kebelet segera bangun dari tidurnya. Dengan langkah cepat, ia ke toilet.
Saat buang air kecil, ia mendapati urinnya berwarna merah. Wajahnya kini berseri-seri, bak langit yang tadinya gelap tiba-tiba dihiasi gemerlap bintang.
“Alhamdulillah, dapat mawar merah. Akhirnya punya alasan yang kuat untuk menghindari Agung,” batin Ega setelah keluar dari toilet.
“Mas, bangun mas.” Ega mengguncang pelan tubuh suaminya.
“Kamu kenapa sih membangunkan saya? Ini baru jam berapa Ega. Belum waktunya ke kantor,” ucap Agung tidak karuan.
“Itu sudah adzan subuh mas. Bangun, shalat subuh dulu. Kalau nanti masih ngantuk, kamu tidur lagi saja. Tapi shalat subuh dulu di mesjid.”
Agung tidak menggubris ucapan Ega. Meski begitu, Ega tak patah aral membangunkan suaminya yang memang belum terbiasa shalat subuh.
Dengan terpaksa, Agung bangkit dari tempat tidur. Percuma juga ia tidur, karena Ega pasti tidak akan berhenti mengganggunya, sebelum ia ke mesjid untuk shalat subuh.
Agung sudah bangun, Ega lalu keluar dari kamar. Berjalan ke kamar Nayla, membangunkan anaknya itu untuk shalat subuh.
Setelah Nayla mengambil air wudhu, Ega menemaninya ke mushallah rumah. Di ruangan itu ternyata juga sudah ada pembantunya yang bersiap untuk shalat.
Ega lalu meminta Nayla yang belum hafal gerakan shalat untuk mengikuti gerakan bibi. Dengan wajah bantalnya, Nayla mengangguk setuju.
Saking tidak terbiasanya bangun subuh, anaknya ini berkali-kali menguap saat shalat.
__ADS_1
Setelah selesai shalat, Ega menyuruh Nayla untuk menyalami bibi.
Nayla sebenarnya enggan menyalami bu Nuri. Di matanya, bu Nuri tidak lebih dari seorang pembantu.
Selama ini ia memang tidak pernah menyalami pembantu mana pun di rumahnya. Bahkan yang sudah lama bekerja pada keluarganya sekali pun. Tapi karena Nayla sayang pada Ega, maka ia rela melakukannya.
Tak hanya sampai di situ, Ega juga meminta Nayla untuk merapikan sendiri mukenanya. Padahal selama ini semua itu dilakukan oleh pembantu. Nayla hanya terima beres.
Nayla memang bukan anak kandungnya. Tapi semenjak sah menjadi istri Agung, Ega berusaha menjadi ibu yang baik untuk Nayla.
Putrinya itu tak bisa menahan kantuknya. Melihat itu, Ega mengizinkan Nayla untuk tidur kembali.
Ia kemudian kembali ke kamar. Di dalam ternyata sudah ada Agung yang telah kembali dari shalat subuh. Dengan senyum mesumnya, ia kembali mendekati Ega.
“Tadi malam tidak jadi. Kamu sengaja kan memijit kepala saya? Supaya saya ketiduran dan kamu bebas untuk tidak melayani saya.”
“Hah? Kenapa jadi saya yang salah? Kamu dong yang salah. Siapa suruh sakit kepala.”
“Ngelak terus kamu. Ini baru jam 5 lewat, saya masuk kantor jam 8. Masih lama, so kamu harus kasih hakku sekarang. No excuse untuk menolak lagi.”
“Saya tidak keberatan kamu minta hak sebagai seorang suami. Tapi saya benar-benar tidak bisa memberikannya sekarang mas. Saya sedang menstruasi,” ucap Ega dengan mimik bersalah. Padahal di dalam hatinya, ia sangat gembira.
“Maaf yah mas, but don’t worry! Nanti kalau sudah tidak menstruasi, I will tell you.”
Ega menaikkan kedua alisnya sembari memperlihatkan senyum manisnya. Setelah itu, ia melangkah keluar kamar.
“Mau kemana kamu?” tanya Agung dengan nada yang masih kesal.
“Saya mau ke dapur sekarang dengan berjalan kaki untuk membantu bibi menyiapkan sarapan.”
“Begini nih kalau menikah sama mantan dosen. Dikasih satu pertanyaan, jawabnya lengkap. Mana pake rumus 5W+1H lagi. Makin cinta aku sama kamu sayang,” ucap Agung lalu terkekeh.
Tingkah absurd Ega seketika membuatnya tertawa. Ega melangkah ke dapur dengan senyum di wajahnya. Suatu kegembiraan baginya melihat Agung yang tadinya kesal kini tertawa karena jawaban konyolnya.
“Kamu ngapain sih di sini mas?” tanya Ega kesal pada Agung yang memeluknya di hadapan pembantu.
“Eits, kamu marah ya? Supaya kamu tidak jadi marah, saya akan masakkan makanan special untuk kamu dan Nayla pagi ini.”
“Memangnya kamu bisa masak?” tanya Ega menantang.
__ADS_1
“Bisa dong, kamu terlalu meragukan suamimu ini sayang. Lihat saja nanti, kamu akan memuji-muji masakan suamimu yang catchy ini.”
“Oh ya? So let me helping you to cook for Nayla.”
“Bantu? No, I don’t need your aid. Kamu ke kamar saja temani Nayla. Nanti kalau sudah bangun, ajak dia mandi. Terus kita sarapan sama-sama.”
Ega kini melangkah ke kamar Nayla, menunggui anaknya itu bangun. Lama menunggu membuatnya mengantuk, hingga tidur di samping Nayla.
“Nyonya, saya disuruh tuan untuk membangunkan nyonya. Katanya sarapannya sudah siap.”
Mereka berdua pun bangun saat mendengar suara bibi. Segera, Ega dan Nayla mandi pagi. Setelah berpakaian, mereka langsung ke ruang makan. Di sana ternyata sudah ada Agung yang menanti.
“Bagaimana masakanku? Enak kan?” tanya Agung dengan amat percaya diri.
“Biasa saja,” balas Ega.
“Katanya biasa saja. Tapi kepalanya goyang-goyang gitu. Perempuan memang begitu ya, gengsi sekali mengakui kehebatan orang lain.”
“Iya deh iya, masakanmu enak.”
“Nah gitu dong, harus jujur. Jangan sampai kan kamu bilang masakanku tidak enak, tapi nambah. Malu sendiri jadinya.”
“Nayla sayang, kenapa telurnya disisa? Dihabisi ya, tidak boleh mubazir nak.” Ega mengalihkan pembicaraan.
“Dari dulu dia memang tidak suka makan kuning telur. Sudah beberapa kali saya latih untuk habiskan. Tapi tetap saja dia muntah setelah memakannya,” balas Agung.
“Astaghfirullah. Maaf, saya baru tahu.”
“It’s okay, you don’t need to apologize. Kamu kan masih baru di keluarga kami, so wajar kalau belum tahu.”
Setelah selesai sarapan, Nayla menyalami tangan kedua orang tuanya sebelum berangkat ke sekolah.
“Bawa ini ke sekolah nak. Tante masukin ke tas kamu ya.” Ega bersiap memasukkan bekal makan siang dan sebotol air minum ke dalam tas Nayla.
“Ini apa tante?” tanya Nayla penasaran.
“Ini bekal makan siang untuk kamu sayang. Supaya di sekolah tidak jajan sembarangan. Tante juga sengaja siapkan air minum. Selain hemat, ini juga tante lakukan untuk mengurangi sampah plastik. Mulai sekarang, Nayla harus terbiasa begini. Tidak boleh jajan sembarangan di luar. Bisa kan sayang?”
“Iya tante,” jawab Nayla sedikit terpaksa.
__ADS_1
*Jangan lupa tinggalkan jejak, readers