Karena Terlambat Menikah

Karena Terlambat Menikah
No Bella Again


__ADS_3

Agung terus tersenyum di sepanjang perjalanan ke kantor. Ekspresi Ega di mobil tadi, berhasil membuatnya tampak seperti orang gila yang suka senyum-senyum sendiri.


Tapi senyum itu tidak bertahan lama, saat dia memeriksa laporan pendapatan perusahaan. Semakin lama, pendapatan perusahaannya justru semakin merosot.


Agung lalu menghubungi bawahannya. “Dafa, tolong kamu cari tau kenapa pendapatan perusahaan kita bisa anjlok!”


“Iya pak.”


Dafa kemudian memeriksa data-data yang ada. “Jadi ini penyebabnya,” ucapnya lalu bergegas ke beberapa pengrajin yang tinggal di pedesaan.


Dia berdialog dengan beberapa pengrajin yang enggan untuk menyuplai furniturenya lagi ke perusahaan tempat dia bekerja.


“Kami tidak mau menjalin kerja sama dengan pengusaha yang sombong.” Bunyi jawaban yang seragam itu keluar dari mulut mereka saat ditanya oleh Dafa.


Setelah diusut tuntas, para pengrajin itu ternyata sakit hati dengan sikap Bella. Mereka muak dengan perlakuan Bella yang suka merendahkan hasil kerajinan tangan mereka.


Dafa kembali ke kantor untuk melaporkan hasil pengamatannya itu ke Agung. “Pendapatan kita anjlok karena banyak pengrajin yang tidak mau lagi menyuplai hasil kerajinannya ke perusahaan kita.”


“Mereka dapat pembeli yang lebih royal dari kita?”


“Sejauh ini perusahaan kita lah yang paling royal pak.”


Agung mengernyitkan alisnya. “Terus kenapa pengrajin itu pindah langganan?”

__ADS_1


“Mereka sakit hati karena Bella suka menghina karya mereka.”


“Aish perempuan sia-lan itu. Kalau dia datang, suruh langsung ke ruanganku ya!”


“Iya, pak.” Dafa kini melenggang keluar dari ruangan Agung.


Setelah agak lama menunggu, Bella akhirnya datang juga. “Kamu dipanggil bos. Dari tadi dia tunggu kamu di ruangannya,” tutur Dafa lalu berpaling.


“Dia pasti mau minta balikan,” batin Bella sambil tersenyum.


Dia sudah tidak sabar mau ketemu Agung. Dengan cepat dia menuju ruangan bosnya itu. “Kamu pasti kangen kan dengan permainanku,” godanya.


“Jaga sikapmu! Ini surat pemecatan kamu.”


“Ternyata benar yang dikatakan Dafa, kamu memang suka menghina orang lain. Jangankan pengrajin kecil, saya yang bos saja bisa kamu hina sesuka hati. Silakan angkat kaki dari perusahaan ini. Saya tidak sudi mempekerjakan sekretaris yang tidak kompeten dan sombong seperti kamu.”


“Kamu akan menyesal memecatku Gung,” hardik Bella sebelum keluar dari ruangan mewah itu.


Agung kembali menghubungi bawahannya setelah kepergian Bella. “ Dian, tolong ke ruanganku sekarang!”


“Iya pak,” jawab Dian.


Dian beranjak dari ruangannya untuk bertemu Agung. “Mulai hari ini, kamu gantikan Bella ya!”

__ADS_1


“Bella? Jadi sekretaris pak?” tanya Dian tidak percaya.


“Iya, kenapa kamu heran begitu?”


“Tapi saya tidak mahir bahasa Inggris pak. Bagaimana kalau ada client dari luar negeri?”


“Kalau masalah itu tenang saja, istri saya dosen bahasa Inggris. Dia bisa jadi penerjemah kamu kalau ada client dari luar.”


“Tapi kenapa harus saya pak? Masih banyak senior yang lebih berpengalaman dari saya.”


“Mereka memang hebat, tapi tidak memiliki karakter baik yang kamu punya.” Usai pelantikan itu, Dian melangkah keluar.


Di saat yang bersamaan, gawai Agung bergetar. “Iya kenapa ma?”


“Alya dan Nayla pergi dari rumah. Alya bilang dia mau bawa Nayla ke Belanda.”


“Biarkan saja ma, itu hak dia. Lagian Nayla juga bukan anak saya.”


“Apa? Kamu bercanda kan?” tanya bu Sinar shock.


“Tidak ma, saya serius. Nayla anaknya James.”


“Tapi mama sudah terlanjur sayang sama Nayla. Kamu cari dia ya,” lirih bu Sinar.

__ADS_1


__ADS_2