Karena Terlambat Menikah

Karena Terlambat Menikah
Tidak Sesuai Harapan


__ADS_3

Seperti biasa, Ega sarapan dulu sebelum ke kampus. Dia berjalan ke ruang makan. Dia mendekat ke meja, lalu duduk di samping Agung.


Nasi dengan sepotong tempe mendoan, sepotong tahu pong, sedikit cap cay, sepotong paha ayam kecap pedas manis, setengah telur balado, sudah bu Nuri siapkan dalam satu piring.


Semangkok mini salad buah juga tersedia di hadapan Ega. “Kenapa menunya sebanyak ini bu?” tanyanya keheranan.


“Saya sengaja menyiapkan makanan sebanyak ini, biar bu Ega makan banyak juga. Supaya anak di perut ibu sehat.”


“Tapi kalau sebanyak ini sudah bukan empat sehat lima sempurna lagi bu. Jadinya malah empat sehat lima sekarat,” tutur Ega seraya menepuk dahinya.


“Tidak usah banyak protes, makan saja sampai habis! Bu Nuri begitu karena dia peduli sama kamu dan anak yang ada di kandunganmu,” kata Agung.


Ega pun terdiam, tangannya meraih salad buah terlebih dahulu. Dia mencicipi beberapa sendok salad buah yang telah bercampur dengan pil beonzodiazepines itu. Setelah itu, barulah dia melahap nasi beraneka lauk.


“Makan terus makanan empat sehat lima sempurnanya sayang! Benar-benar sempurna untuk bikin kamu mengantuk seketika,” batin Agung.


Sehabis makan, Ega kembali ke kamar. “Katanya mau ke kampus, kenapa malah ke kamar?” tanya Agung padanya.

__ADS_1


“Perasaan saya tidak enak, sepertinya anak ini mau tidur.” Ega menguap berkali-kali sebelum akhirnya tertidur pulas di atas ranjang.


Agung yang sengaja tidak ke kantor, tidak membiarkan peluang itu berlalu begitu saja. Dia mulai berbaring di samping Ega. Tangan nakalnya kini travelling di tubuh sang istri.


Adzan dzuhur menghentikan Agung dari aktivitasnya, dia mengambil air wudhu dan berangkat ke mesjid.


Usai shalat berjama’ah, dia bergegas pulang untuk melanjutkan kembali aksi nakalnya. Sayangnya Ega sudah bangun.


Ega bahkan sudah siap untuk ke kampus. Pupus sudah usahanya untuk mencegah Ega mencarikannya calon istri baru hari ini.


“Tunggu sebentar! Saya ganti baju dulu,” perintah Agung.


“Saya mau ke kantor, sekalian antar kamu ke kampus.”


“Tadi katanya tidak mau ke kantor hari ini.”


“Iya, rencananya memang begitu Ega sayang. Tapi kamu sudah sadar dan mau ke kampus. Untuk apa saya berlama-lama di sini kalau tidak ada kamu? Mending ke kantor,” monolog Agung dalam hati.

__ADS_1


Mereka berdua sudah berada di dalam mobil. Agung mengantar Ega sampai di parkiran kampus. Ega pun membuka pintu mobil.


Untuk ke sekian kalinya, Agung menariknya. “Katanya pengingat yang baik. Tapi lupa tugasnya sebagai istri,” tegurnya.


Ega bergegas mencium punggung tangan Agung. Dengan cekatan Agung mendekapnya erat. Dilumatnya bibir mungil Ega dengan rakus.


Ega memukul dada Agung sedikit keras. Tapi Agung tetap tidak mau melepaskan pagutannya. Dia baru berhenti saat Ega ngos-ngosan. “Dasar polos,” ledeknya.


“Bisa tidak sebelum nyosor lihat sikon dulu? Jangan asal minta hak di tempat umum begini. Malu tau mas kalau dilihat orang.”


“Ya maaf, suamimu ini kan memang mantan cassanova sayang. Jangankan di dalam mobil, di tempat terbuka saja saya tidak malu.” Agung tertawa puas sekali.


“Cassanova gila,” umpat Ega.


“Kenapa belum keluar? Mau lagi? Boleh, ayo kita ke ruanganmu sekarang.”


“What the? Saya mau mengajar mas.” Ega buru-buru menjauh dari Agung.

__ADS_1


Agung tidak tersinggung sama sekali atas umpatan Ega tadi. Entah kenapa, dia justru sangat senang melihat Ega marah-marah.


Jangan lupa likenya kak...


__ADS_2