
Agung memantik rokok, menciptakan banyak bola asap dengan mulutnya. Selain Ega, rokok adalah candu lain yang tak bisa ia lepaskan begitu saja.
“Ga, coba bilang ayam tapi jangan kena bibir ya!”
Ega menuruti titah Agung, “Ayang.”
“Iya sayang, kenapa kamu menggodaku? Mau lagi ya?”
Agung membuang puntung rokoknya ke sembarang arah, lalu mendekat ke Ega. Ia sudah tak tahan untuk melanjutkan ronde percintaan yang entah sudah keberapa kalinya itu.
“Kamu bau rokok mas,”ucap Ega sembari menghindarkan wajahnya dari Agung.
Tak mau mendapat penolakan, Agung langsung ke kamar mandi untuk membersihkan mulutnya. Sejak menikah dengan Ega, ia jadi rajin menyikat gigi. Karena Ega tak pernah tahan untuk dekat-dekat dengannya jika mulutnya bau rokok.
Selang beberapa menit, Agung kembali dengan senyum merona. Sudah saatnya ia menerkam Ega untuk kesekian kalinya.
Tak terasa sudah sore saja. Tapi Agung masih bertahan dengan aktivitasnya. Mencumbui Ega tanpa rasa lelah sedikit pun. Bahkan saat ibunya pulang dari Barru, ia masih begitu asyik bermain di dalam kamar.
Nayla mengetuk pintu kamar yang sengaja Agung kunci. Nayla ingin sekali memperlihatkan kue gambu rasa durian yang dibawanya dari Barru pada mereka berdua. Tapi tak ada jawaban.
Ega sebenarnya ingin sekali membukakan pintu untuk anak sambungnya itu. Tapi ditahan oleh Agung yang belum juga selesai dengan kegiatannya.
Dengan langkah kecil, Nayla kembali ke dapur.
“Kenapa kuenya dikembalikan sayang? Papamu tidak suka ya? Tapi tidak mungkin dia tidak suka. Dia kan suka sekali makan durian.”
“Kamar papa terkunci nek. Pasti papa sama tante Ega sedang buat buah hati untuk saya.”
Senyum Nayla mengembang, ia sudah tak sabar ingin cepat-cepat dapat buah hati dari Agung dan Ega. Tanpa ia ketahui bahwa yang dimaksud buah hati adalah baby. Di pikirannya, buah hati adalah sebuah hadiah yang sangat spesial.
Badannya terasa begitu lengket. Segera ia mengambil handuk berwarna pink bermotifkan Hello Kitty. Kemudian ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dengan air.
Nayla anak yang kaya raya, meski begitu sifat mandiri sudah tertanam di dirinya sejak dini. Ia sudah bisa mandi sendiri tanpa bantuan pembantu. Semuanya berkat didikan Ega.
Berbeda waktu masih sama Alya, jangankan mandi, mengikat sepatu pun dilakukan oleh pembantu.
Bukan bahagia yang dirasakan Alya kala melihat perubahan positif anaknya. Ia justru kian meradang. Tak suka bila Alya jadi lebih baik di bawah didikan Ega.
__ADS_1
“Durian milik istrinya lebih menarik dari kue gambu rasa durian ini ma,” teriak Alya seraya melemparkan kue itu.
“Kamu yang sabar ya Alya. Saya akan bantu kamu untuk merebut Agung dari dia.”
“Serius ma?” Bulir-bulir kekecewaan membasahi pipinya yang sempat manis.
“Iya, serius. Mama juga tidak suka Ega. Satu-satunya perempuan yang pantas untuk jadi menantu mama itu cuma kamu sayang.”
Setelah semua kebaikan yang Ega berikan pada anak dan cucunya, bu Sinar masih saja membenci menantunya itu.
Begitulah realita kehidupan. Dikala hati sudah membenci, semua kebaikan orang lain akan tertutupi oleh ego diri. Hingga yang tersisa hanya benci. Juga keinginan untuk menghujat yang kian membara.
Kebencian yang mendalam, menyebabkan bu Sinar enggan untuk berdialog pada diri. Siapa sebenarnya yang lebih patut untuk dibenci? Ega kah atau justru ia yang enggan untuk memperbaiki diri?
...****...
Sesi bersuka-sukaan antara Agung dan Ega terhenti, saat sang suami cassanova sudah mencapai puncak kelelakiannya.
“Allahummaj’al nuthfatna dzurriyyatan thayyibah.”
Ya Allah jadikanlah nutfah kami ini menjadi keturunan yang baik.
Bersama, mereka memasuki kamar mandi setelahnya. Saksi bisu betapa seringnya mereka membersihkan diri selepas berhubungan suami istri.
Kalori yang terbakar banyak menimbulkan rasa lapar di antara mereka. Dengan rambut basah berbalut handuk, Ega mengikuti Agung ke dapur.
Di meja itu, masih ada Alya dan bu Sinar. Mereka bercengkerama sembari menikmati kue gambu rasa durian dari Barru. Sorot tajam mereka tujukan pada Ega. Rambut Ega yang basah, kian menambah dendam di hati mereka.
“Kuenya enak sekali mas, cobain deh!” Toples berisikan kue itu terbuka lebar di hadapan Agung.
“Makan buah dulu mas. Nanti baru makan kuenya,” ucap Ega sembari menyodorkan buah pisang.
Dua jenis makanan yang berbeda dari dua perempuan yang berbeda ditawarkan untuknya. Agung jauh lebih menyukai kue gambu rasa durian dari Alya, ketimbang pisang ambon yang digenggam Ega.
Namun cintanya pada Ega, menuntunnya untuk menjatuhkan pilihan pada pisang ambon.
Berwajah masam, Alya meletakkan kembali toples kuenya.
__ADS_1
“Mine is bigger and more delicious kan?” tanya Agung pada Ega saat melahap pisangnya.
Tatapan mesum disertai senyum merona menghiasi wajah Agung saat mengatakannya. Mengakibatkan wajah Ega memerah karena malu dibuatnya.
Lain halnya dengan Nayla, ia justru tersedak seketika mendengar guyonan itu. Bagaimana ia akan merebut Agung, kalau saban hari mantan suaminya itu malah menjadi semakin bucin pada Ega.
Terlalu lapar, Agung melahap buah berwarna kuning itu dengan cepat. Lalu dengan cekatan ia mengambil satu buah lagi.
“Cara makan pisang yang elegan dan benar itu seperti ini sayang.” Agung mulai mencontohkannya pada Ega.
Pisang itu ia letakkan di atas piring. Setelah itu, tangannya menggapai pisau dan garpu. Dengan kedua alat itu, ia mengupas pisang ambon dari kiri ke kanan. Sehingga kulitnya bisa terkupas sepenuhnya.
Polos, pisang itu Agung potong hingga menjadi beberapa bagian. Dengan garpu ia mencoba memasukkan potongan pisang itu ke mulut Ega.
“Buka mulutmu sayang!” Ega menyambut ria perlakuan romantis Agung padanya dengan membuka mulut lebar-lebar.
“Enak kan?” tanya sang suami.
“Iya,” jawab Ega malu-malu.
“Kalian seperti anak muda saja. Suap-suapan segala,” kata bu Sinar.
“Anjing,” ucap Ega lalu berdiri.
“Berani-beraninya kamu mengatai mama anjing. Menantu macam apa kamu? Lancang sekali mengatai mertua.”
Alya melayangkan tamparannya pada Ega, beruntung ada Agung yang menahan tangan kasar mantan istrinya itu.
“Maksud saya ada anjing menggonggong di luar.” Ega berlari ke kamar.
Di kamar cantik itu, Nayla menangis sesenggukan usai mendengar suara anjing menyalak. Ega langsung memeluk tubuh kecil putri sambungnya itu.
Tangis Nayla yang memecah, mengundang perhatian bu Sinar dan Alya turut ke kamar.
“Seharusnya kamu lebih tahu Nayla dibandingkan Ega. Kamu memang tidak pernah becus menjadi ibu, Alya. Nayla takut mendengar gonggongan anjing saja kamu tidak tahu.”
Alya tertunduk malu atas tuduhannya. Jika saja bukan karena Agung, pipi Ega pasti sudah memerah karena tamparannya.
__ADS_1
*Terima kasih masih setia membaca, jangan lupa tinggalkan jejak ya kakak...