Karena Terlambat Menikah

Karena Terlambat Menikah
Mulai Sayang


__ADS_3

“Honey. Kamu sadar tidak tadi sebelum adzan kamu bacanya doa sebelum belajar, bukan doa kelancaran bicara?” tanya Nisa.


“Hah? Masa’ sih?” tanya pak Ayyas balik seraya menyimpan sajadahnya.


“Iya,” balas Nisa lalu terkekeh.


“Astaghfirullah, saya tidak sadar sayang.” Mereka lalu terkekeh bersama.


Karena tidak ada kelas, Nisa dan pak Ayyas mengantar Damar ke sekolah. Sesudah itu, mereka ke rumah sakit untuk menjenguk mertua Ega.


Sesampainya di lembaga pelayanan kesehatan itu, mereka langsung ke ruangan tempat bu Sinar dirawat.


“Assalamu ‘alaykum,” ucap Nisa dan pak Ayyas bersamaan.


“Wa ‘alaykum salam,” jawab bu Sinar dan yang lain.


Mereka pun masuk, Nisa menyalami bu Sinar dan bu Dara. Sementara pak Ayyas, ia menyalami pak Ramli.


“Temannya Ega ya?” Bu Sinar berusaha memastikan ia tidak salah orang, karena baru sekali pasangan itu ke rumahnya.


“Iya, tante. Saya sahabatnya Ega, yang waktu itu ikut makan-makan di rumah tante.”


“Ya ampun, ternyata benar kalian. Terima kasih banyak yah nak, sudah repot-repot mengunjungi saya.”


“Tidak repot ko bu. Menjenguk orang sakit kan anjuran Rasulullah. Terlebih, ibu ini mertua dari sahabat istri saya.”


“Ini ada sedikit buah dari kami, dimakan ya tante.” Nisa lalu meletakkan parsel buahnya.


“Tante suka baca novel ini?” tanyanya saat melihat novelnya yang berjudul My Teacher My Mate berada di atas nakas.


“Iya, tante suka sekali baca novel itu. Sampai-sampai semua novel yang berkaitan dengan Nisa tante baca semua. Seperti Hipotesis Cinta yang bahas Aisyah, adiknya si Nisa.”


“Tante kenal penulisnya siapa?” Nisa sudah seperti sedang menginterogasi bu Sinar.


“Iya, namanya Annisa. Tante penasaran sekali mau bertemu penulisnya langsung.”


“Tante sudah pernah ketemu kok,” tutur Nisa sambil senyum-senyum salting.


“Kenapa kamu bilang seperti itu? Saya belum pernah ketemu penulisnya.”


“Nama lengkap saya Annisa tante, novel itu saya yang tulis.”


“Serius?” tanya bu Sinar begitu bersemangat.


“Iya, serius tante.”


“Pemeran Ega dalam novel kamu itu . . .”

__ADS_1


“Iya, Ega sahabat saya. Menantu tante saat ini.”


“Bicara soal Ega, dia orangnya bagaimana sih? Kalau di novel kamu menantu saya itu jago buat puisi dan orangnya sangat sabar.”


“Ega memang jago buat puisi tante. Dia juga sabar sekali, di antara semua sahabat saya Egalah yang paling sabar. Satu lagi, dia juga yang paling polos. Agung sangat beruntung sih bisa menikah dengan Ega.”


Bu Sinar tersenyum kecut seraya bermonolog dalam hati. “Pantas saja Nayla bisa juara lomba baca puisi, itu pasti karena ajaran Ega. Dia memang sangat sabar, selama ini saya sering sekali membentaknya. Tapi dia tak pernah membela diri, apalagi melawan. Agung juga sangat mencintainya, mungkin karena anak itu virgin.”


“Ega ternyata tidak sepolos yang kupikirkan. Dia tidak bisa kuremehkan begitu saja. Dia pergi mengajar, tapi sahabatnya dikirim ke sini untuk membujuk mama. Awas saja kalau sampai mama juga berpihak ke dia,” pikir Alya.


Nisa dan bu Sinar berbincang cukup lama. Nisa barulah pamit pulang saat jarum jam sudah melewati jam sebelas siang. Ia harus kembali ke sekolah untuk menjemput Damar.


Di parkiran, mereka bertemu dengan Agung yang baru pulang kantor. “Assalamu ‘alaykum brother,” sapa Agung pada pak Ayyas.


“Wa ‘alaykum salam.” Agung tersenyum, lalu masuk ke mobil.


“Beda sekali ya dengan sebelum-sebelumnya,” ucap Nisa.


“Dia pasti sering dikasih jatah.” Pak Ayyas blak-blakan.


“Apa hubungannya Agung bahagia dengan itu?”


“Let me tell you sayang. Bagi kami, se* itu setara dengan makan dan tidur. Kalau istri rutin ngasih, kami suami pasti bahagia. Karena kebutuhan untuk itu terpenuhi.”


Pak Ayyas berujar pada Nisa bak Dr. Boyke. Mereka terus berbincang perkara kelanggengan rumah tangga di perjalanan menuju sekolah.


Sementara Agung, ia memasuki ruangan ibunya. Baru saja duduk, ia sudah berdiri lagi. “Mau kemana nak?” tanya ibunya.


“Kamu duduk saja, biar saya yang belikan. Kamu pasti capek kan baru pulang dari kantor?” tanya Alya.


Agung mengangguk pelan. Dengan langkah cepat Alya meninggalkan ruangan itu. Ia ke penjual, seporsi es palu butung dibelinya.


Tak lupa, ia memasukkan serbuk fly ke dalam es itu. Agung yang teramat haus, langsung meminumnya tanpa menaruh curiga sama sekali.


Awalnya semuanya baik-baik saja. Tapi setelah dua puluh menit berlalu, Agung merasa gerah. Ia tahu betul itu efek dari apa.


Agung tak menyangka Alya bisa selicik itu. Cepat-cepat ia menghubungi pak Camar untuk menjemput Ega di kampus dengan menggunakan mobil kaca film.


Pak Camar ngebut, hanya dalam hitungan menit ia sudah tiba di kampus. Ia cepat-cepat menghampiri Ega yang bersiap untuk memberikan materi di seminar.


“Anda harus ikut saya ke rumah sakit sekarang juga nyonya. Ini perintah dari tuan Agung.”


Panik, Ega meminta bu Fiqa menggantikannya membawakan materi. “Ada apa?” tanya pak rektor pada Ega.


“Mertua saya sakit pak,” kata Ega lalu pergi bersama sopir.


Sesampainya di parkiran rumah sakit, pak Dhiaz memberikan uang ke sopirnya. “Ini ongkos pulang.” Agung lalu menarik Ega masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


“Ada apa dengan mama mas?” tanya Ega khawatir.


“Open yours!”


“What? Saya puasa mas.”


“Puasa sunnah bisa dibatalkan Ga. Lain kali kalau mau puasa minta izin dulu ke saya.”


“Giliran beginian, pemahaman agamanya meningkat pesat.” Ega membatin tidak karuan.


“Malu mas, masa’ di sini. Kenapa tidak di rumah saja?” protesnya.


“I can’t focus to drive Ega. Come on, make it fast. Ini efek dari serbuk fly, Alya did this to me.”


Agung terus memohon pada Ega. Dengan berat hati, Ega membatalkan puasanya demi melayani suaminya itu. Akhirnya, hasrat Agung terpenuhi juga.


“Lain kali kalau ada kejadian begini, langsung minum susu. Yang paling bagus itu air kelapa,” saran Ega setelah proses pembuahan mereka.


“Untuk apa?”


“Untuk menetralisir khasiat perangsang serbuk flynya.”


“Kirain supaya makin perkasa,” seloroh Agung.


“Dasar. By the way, itu kan pak rektor mas. Buat apa dia di sini ya?” tunjuk Ega dari dalam mobil. Agung menaikkan bahunya karena juga tak tahu tujuan pak rektor ke rumah sakit.


Seusai merapikan kembali pakaiannya, mereka kembali ke ruangan sang mama. Mereka tiba bertepatan saat pak rektor akan masuk ke dalam ruangan itu.


Mereka bertiga pun masuk ke ruangan bu Sinar yang tengah terkapar lemah. Alya jadi emosi, kehadiran Ega di situ menyebabkan jebakannya untuk Agung berakhir dengan kegagalan.


Pak rektor jadi bingung melihat Alya yang ada di dalam. “Ini foto kamu kan? Kamu saudara kembarnya bu Ega ya?”.


“Oh, jadi kamu yang chat saya terus?” tanya Alya emosi.


“Bu Ega yang kasih nomor kamu ke saya.”


Ucapan pak rektor membuat Ega tersentak kaget. Bagaimana bisa ia memberikan nomor Alya ke pak rektor? Kalau ia saja tak punya nomornya Alya.


“Maksud kamu apa berbuat seperti itu?” tanya Alya pada Ega. Suaranya begitu lantang.


“Bukan Ega yang kasih, tapi saya. Kamu kan single sekarang, siapa tahu kan kamu mau jadi istri keempatnya pak rektor.”


“Ogah.”


Alya kesal sekali dengan tingkah Agung. Kekesalannya bertambah karena bu Sinar diam saja. Padahal kemarin-kemarin bu Sinar tidak membiarkan siapa pun melukai hati Alya.


“Kalau yang ini tidak mau, bu Ega lagi saja.”

__ADS_1


Yang lain tertawa, menduga pak rektor bercanda. Padahal pak rektor serius. Dia memang lelaki pemberani, berani melamar wanita di depan suaminya.


*Terima kasih sudah mampir. Walau pembacanya sedikit, author mau menginfokan. Kalau author akan lebih fokus ke novel sebelah, mau coba ikut lomba. Diintip yuk guys novel Hipotesis Cinta, siapa tau suka.


__ADS_2