
Agung mengeluarkan sebotol benzodiazepines di dalam nakas. Dia mengambil sebutir dan menyimpannya kembali.
Dia melangkah cepat ke dapur setelahnya. Menghampiri bu Nuri yang tengah sibuk bergelut dengan minyak goreng.
Agung memberikan satu pil benzodiapines ke bu Nuri. “Campurkan ini ke makanan Ega,” perintahnya.
“Ini obat apa pak?” tanya bu Nuri curiga.
“Obat tidur bu.”
“Obat tidur? Tapi kan bu Ega mau ke kampus pak. Kalau sampai menelan ini, bu Ega bisa batal ke kampus.”
“Justru itu yang saya mau. Cepat hancurkan obatnya, mumpung Ega masih di kamar mandi.”
“I-i-iya pak. Tapi...”
“Tapi apa lagi bu?” tanya Agung sedikit kesal.
“Bu Ega kan sedang hamil pak, tidak baik kalau minum obat sembarangan.”
“Ega tidak akan kenapa napa bu. Ibu tenang saja, benzodiapines itu aman kok untuk dikonsumsi ibu hamil.”
Agung kembali ke kamar. Di dalam, dia menanggalkan piyamanya. Hanya handuk saja yang menutupi bagian tubuh bawahnya sekarang.
Dia membuka kamar mandi dan melepaskan handuknya. Dengan cepat dia menceburkan diri ke bathub. Ega yang risih dengan kedatangan Agung cepat-cepat berdiri untuk mengakhiri aktivitas berendamnya.
__ADS_1
Tapi Agung menarik tangannya, dalam hitungan detik dia sudah duduk di atas pangkuan Agung.
“Mau apa lagi sih mas?” tanya Ega dengan intonasi kesal.
“Mau apa lagi kalau bukan mencumbuimu sayang?” bisik Agung di daun telinga sang istri.
“Lihat sikon juga kali mas,” ujar Ega sembari berusaha melepaskan pelukan Agung.
“Sikon? Bathub ini bersih, jadi saya tidak risih untuk mencumbuimu di sini.”
“Tapi ini di kamar mandi mas,” elak Ega.
“Memangnya kenapa kalau di kamar mandi? Bercinta di kamar mandi kan hukumnya mubah sayang. Saya sudah baca doa juga sebelum masuk ke sini,” balas Agung.
“Mau bagaimana lagi, mau tidak mau saya harus mempelajarinya untuk mendapatkan tubuhmu.”
Agung kini menyesap susu cap nona itu dengan pelan. “Jangan lama-lama mas! Saya mau ke kampus,” perintah Ega.
Tidak begitu lama, Agung sudah mencapai puncaknya. Dia pun mengangkat Ega keluar dari bak mandi bekas pergumulannya tersebut.
“For you sayang,” ucapnya seraya memberikan jubah mandi yang lembut dan besar ke Ega.
Ega mengambil jubah mandi tersebut. “Apaan sih mas cengar cengir terus?” tanyanya dengan tatapan sinis.
“Besok lagi ya sayang,” goda Agung bak anak kecil yang meminta uang jajan.
__ADS_1
“Iya, sama istri barumu. Hari ini saya pasti berhasil mendapatkan calon istri untuk kamu di kampus,” balas Ega dengan begitu percaya diri.
“Kita lihat saja nanti sayang,” ujar Agung dalam hati.
Ega keluar dari kamar mandi, berpakaian, dan tak lupa memakai make up tipis. “Kenapa kamu belum pakai kemeja mas?”
“Buat apa pakai kemeja? Hari ini saya tidak akan ke kantor.”
“Libur di hari Selasa. Iyyuhh, CEO pemalas.”
Agung tidak menghiraukan ledekan Ega. Dia yang sudah sangat lapar melangkah ke ruang makan duluan. “Bagaimana bu?”
“Beres pak.”
Agung menaikkan jempol kanannya. “Bagus, bulan ini gaji ibu akan saya tambah.”
“Tidak usah ditambah pak, selama saya bekerja cuman bapak yang ngasih gaji sebanyak sekarang. Saya tidak enak kalau dikasih bonus juga.”
“Tidak apa-apa bu. Kinerja ibu kan memang sangat bagus, jadi wajar diupah segitu. Saya tetap akan kasih bonus. Kalau ibu tidak mau, kasih ke cucu ibu saja. Lumayan buat beli kinder joy bu.”
“Duhhh, jadi enak. Terima kasih ya pak,” sahut bu Nuri malu-malu.
“Ha ha, jadi enak. Sama-sama bu.”
Jangan lupa likenya kakak🤭🤭
__ADS_1