
Pak Camar sedang sakit, Agung juga masih begitu sibuk di kantor. Tak ingin merepotkan sang suami yang sedang bekerja, Ega memutuskan untuk pulang dengan naik taxi saja.
“Hi, mari saya antar pulang.” James menawarkan tumpangan pada Ega.
Melihat James, Ega teringat kembali pada kejadian buruk yang dilakukan lelaki itu padanya di malam pernikahan Jack. “Terima kasih atas tawarannya. Tapi maaf saya sudah pesan taxi,” tolaknya.
James sudah mencoba dengan cara lembut, tapi tak berhasil. Tak ada opsi lagi, selain dengan cara kasar.
James lalu keluar dari mobil, ia memaksa Ega untuk masuk ke dalam mobilnya. Mendapat perlakuan seperti itu, Ega tak tinggal diam.
Seluruh tenaga Ega kerahkan untuk melawan James. Sayangnya, James terlalu kuat untuk dihadapi oleh perempuan biasa sepertinya.
Saat Ega tak berdaya, James memasukkannya ke dalam mobil. Lalu membawanya ke sebuah tempat yang jauh dari jangkauan khalayak.
James pun menghentikan mobilnya di sebuah hutan. Ia kembali menarik Ega untuk keluar dari mobil. Kemudian memaksanya untuk mendaki gunung di hadapannya.
__ADS_1
Di puncak gunung itu, terdapat sebuah gubuk yang dihiasi sarang laba-laba dan debu. Dari tampilannya, gubuk itu pasti sudah sangat lama tidak dihuni.
Sudah malam, tapi Ega belum juga pulang. Agung meneleponnya, tapi tak ada jawaban. Ia juga sudah menghubungi orang-orang yang kenal dengan Ega, tapi tak satu pun yang tahu keberadaan istri malangnya itu.
Agung ingin melapor ke polisi, tapi tidak bisa. Karena Ega baru beberapa jam menghilang, belum cukup satu kali dua puluh empat jam. Agung jadi frustasi dibuatnya.
Tak tinggal diam, Nisa sebagai sahabat Ega juga turun tangan. Ia meminta bantuan Fikri, teman kuliahnya dulu yang jago IT untuk melacak keberadaan Ega.
Tak lama setelah diminta, Fikri berhasil melacak keberadaan Ega. Ia kemudian memberitahukan posisi Ega saat ini.
Bersama dengan pak Ayyas, Agung berhasil menemukan tempat yang ditunjukkan Fikri. Sebuah hutan yang jauh dari pemukiman warga.
Pak Ayyas dan Agung teramat yakin, James pasti membawa Ega ke atas gunung. Dengan perasaan yang kian berkecamuk, mereka mendaki gunung tersebut.
Sementara di atas, James membuka hijab Ega. “Wow, rambutmu ternyata indah sekali sayang.”
__ADS_1
“Dan itu, indah sekali.” Dua buah tumpukan padat yang tertutupi gamis itu, membuat James semakin berhasrat untuk segera mencumbui pemiliknya.
“Jangan mendekat,” ucap Ega lirih.
Alih-alih mengindahkan, James yang sudah dikuasai nafsu justru semakin mendekat padanya. Betapa nelangsanya Ega dengan semua yang terjadi. Saat ini, ia hanya bisa berharap keajaiban berpihak padanya.
“Sebenarnya apa salah saya ke kamu? Kenapa kamu melakukan ini ke saya James? Saya tidak pernah mengusik hidupmu.” Ega terus menangis, mengharap belas kasih dari James.
“Salahmu cuma satu, karena kamu istrinya Agung. Lelaki yang paling kubenci di dunia ini. Perusahaannya selalu saja mengalahkan perusahaanku. Tapi sebentar lagi aku akan mengalahkannya. Karena hal paling berharga yang dia miliki akan jadi milikku.” James tertawa bak psikopat.
“Kalau mau mengalahkan Agung, kamu harus bersaing secara sehat. Kamu harus berusaha lebih keras dari Agung.”
“I am not stupid sayang. Semua cara yang baik sudah kulakukan untuk mengalahkan suamimu, tapi tak pernah berhasil. Dan kali ini, rencanaku pasti akan berhasil.”
James menatap Ega dengan tatapan penuh nafsu. Terlebih wajah Ega mirip sekali dengan wajah Alya. Perempuan yang amat ia cintai, tapi lebih mencintai Agung. Karena harta Agung lebih melimpah ruah dibanding hartanya.
__ADS_1
James mulai menanggalkan celananya, miliknya kini nampak jelas. “Ayo sayang, mari kita nikmati malam ini berdua. Gosh, you are so beautiful Ga. Aku sudah tidak tahan lagi.”
James mendekat, birdnya akan ia masukkan ke sangkar istri rival bisnisnya. Tangannya mulai menyentuh gamis Ega, bersiap untuk membuat perempuan di depannya itu polos seperti dirinya.