Karena Terlambat Menikah

Karena Terlambat Menikah
Ku Akan Menjagamu


__ADS_3

Gawainya berdering, tertera nama Risti di situ. Sebisa mungkin, Ega menahan tangisnya. Jangan sampai iparnya itu tahu prahara rumah tangganya yang sebenarnya seperti apa.


“Assalamu ‘alaykum kak.” Dari suaranya saja, Ega sudah tahu kalau Risti pasti sedang sedih.


“Wa’alaykumussalam warahmatullah dek.”


“Kakak kenapa? Suara kakak aneh.”


“Tenggorokan kakak lagi sakit. Jadi berpengaruh ke suara juga. Anyway, ada apa kamu menelepon dek?”


“Dari kemarin Bobby tidak bisa dihubungi kak. Saya khawatir terjadi apa-apa pada dia.” Risti kini menangis tersedu-sedu.


“Berdoa terus, supaya Bobby selalu baik-baik saja. Nanti saya coba cari tahu juga dari adiknya. Stay positive thinking dulu ya.”


“Iya kak, saya akan terus berdoa yang terbaik untuk Bobby. Terima kasih ya kak atas sarannya.” Risti menyeka air matanya.


“Iya, nanti kakak kabari kalau sudah ada informasi tentang Bobby. Jangan sedih lagi ya dek! Nanti cantikmu luntur.”


“Iya, kak. Assalamu ‘alaykum.”


“Wa ‘alaykumussalam warahmatullah.”


Ega meletakkan gawainya, lalu masuk ke kamar mandi. Dicucinya mukanya yang penuh dengan air mata itu. Matanya sembab, hidungnya juga memerah karena menangis lama.


Ia sendiri terluka hebat, tapi masih sempat menguatkan Risti. Seringkali begini, ia begitu jenius dalam mengatasi masalah orang lain. Tapi terlalu idiot dalam mengatasi masalah sendiri. Saat seperti ini, hanya air mata satu-satunya sahabat yang paling setia padanya.


Agung kembali memasuki kamar dengan dua gelas jus stroberi di tangannya. Lagi, gawai Ega berdering. Agung langsung mengangkat panggilan dari pak rektor tersebut.


“Assalamu ‘alaykum ibu cantik bermuka susah.”


“Wa’alaykumsalam. Maksudnya bermuka susah bagaimana pak?” tanya Agung dengan menirukan suara Ega.


“Iya, bermuka susah. Susah dilupain bu.”


“Oi rektor tua-tua keladi. Sekali lagi kamu menggoda istriku, kubakar kampusmu itu.”


“Kenapa jadi suara laki-laki ya? Mampus ini pasti suaminya,” batin pak rektor.

__ADS_1


“Maaf saya salah telepon. Saya kira ini istri ketiga saya.” Saking takutnya, pak rektor mengakhiri panggilannya tanpa mengucapkan salam.


“Menangis juga butuh energi, minum dulu.” Agung menyodorkan segelas jus ke Ega yang baru saja keluar dari kamar mandi.


“Saya tidak haus.” Ega melangkah mengambil gawainya.


Tak patah aral, Agung mencicipi masing-masing jus yang dipegangnya.


“Lihat, saya minum semua. Don’t worry kejadian tadi malam bakal terulang kembali. Demi Allah saya tidak memasukkan apa pun ke minuman ini.”


“However, meminum yang ada campuran serbuk flynya juga tidak berefek ke kamu mas. Tanpa rangsangan pun kamu selalu horny.”


“Saya minta maaf atas kesalahan saya selama ini ke kamu. Mulai dari sekarang saya janji tidak akan kasar lagi ke kamu. Saya juga janji tidak akan genit lagi ke perempuan lain, termasuk Bella.”


Ega tidak berkata apa-apa. Saking kesalnya, ia mengambil jus stroberi itu. Lalu ia habiskan hanya dengan sekali minum.


“Terima kasih, rasanya asam. Seperti hidupku setelah menikah denganmu,” ucapnya sembari mengembalikan gelas jus itu ke Agung.


Matanya terasa berat sekali, bantal yang empuk membuat matanya semakin berat saja. Ega akhirnya ketiduran, dan benar saja, mimpi lebih indah daripada kenyataan.


Saat masalahnya begitu besar, dimana beban kehidupan serasa sudah tak mampu ia pikul sendiri, Ega hanya bisa mengadu pada Sang Pencipta. Meminta solusi yang terbaik untuk semua masalah, yang tak bisa ia ceritakan pada orang lain.


Ega menggantung mukenanya, saat itu juga ia teringat pada Risti. Ia segera membuka emailnya, dengan harapan Abizar sudah mengirimkan tugas writing sekelasnya.


“Abizar, kirimi saya nomor HP kamu!” balas Ega pada kiriman tugas Abizar di emailnya.


“Kenapa ya bu Ega meminta nomor saya? Tugas sudah saya kumpul, teman-teman juga sudah tidak berulah lagi di kelas. Gosh, dosen cantik ini selalu saja bikin deg-degan,” ucapnya saat mengetik dua belas digit angka ponselnya.


Tanpa berlama-lama, Ega mengirimkan nomor Abizar ke Risti.


“Pantas saja kakak jatuh cinta ke kak Ega. Orangnya baik begini, the real of taro ada taro gau’ ini mah. How lucky I am punya kakak ipar perhatian seperti kak Ega.”


Risti dan Abizar kini saling berbalas chat. Tidak lebih dari sekadar membahas tentang Bobby yang tiba-tiba saja hilang kabar.


Berdasarkan informasi dari Abizar, Bobby sedang sakit parah. Ia terpaksa harus pulang kampung ke Bone untuk berobat. Kondisinya yang sedang sakit, tidak memungkinkannya untuk menyentuh gawai seperti biasa. That is why dia tidak menghubungi Risti.


Perasaan nano-nano kini menghujam Risti. Di satu sisi, ia merasa lega telah mendapat informasi terkini tentang Bobby. Di sisi lain, ia juga sedih mendengar separuh jiwanya itu dilanda sakit.

__ADS_1


...****...


Sepulangnya dari sekolah, Nayla menceritakan semua kejadian yang ia alami di sekolah. Kisah tentang siswa lain yang mengejeknya, karena turut mendaftarkan diri di seleksi lomba baca puisi pekan depan.


Jiwa kebapakan Agung meronta-ronta. Betapa naik pitamnya ia mendengar anaknya diremehkan. Di malam harinya, ia mengajak Nayla dan Ega ke sebuah cafe high class.


Agung sudah booking ke pemilik cafe, hanya mereka bertiga saja pengunjung yang ada di cafe itu. Ia juga meminta hiburannya diganti dengan musikalisasi puisi. Mereka bisa refreshing sekaligus menunjukkan cara membaca puisi yang keren pada Nayla.


Diam-diam, Agung memotret Ega yang sedang memangku Nayla. Foto yang paling bagus pun ia jadikan sebagai foto profil di akun-akun sosmednya.


“Minum yang banyak ya kopinya. Biar bisa melek terus.” Lagi-lagi senyuman mesum, Agung tunjukkan pada Ega.


“Mau buat buah hati lagi yah pa?” Pertanyaan Nayla membuat Agung tertawa terpingkal-pingkal selama beberapa menit.


“Iya sayang,” jawabnya setelah tawanya agak reda.


“Kenapa buah hatinya belum jadi juga pa?” Agung kebingungan mau jawab apa.


“Buat buah hati itu lama sayang, butuh waktu satu tahun. Kamu yang sabar ya menunggunya.” Ega mengusap-usap kepala Nayla.


Waktu kini menunjukkan pukul sepuluh malam. Setelah membayar billnya, Agung melajukan mobil kembali ke rumah.


...****...


Agung meminum segelas kopi hangat di atas mejanya. Kopi yang ternyata telah Bella campur dengan sefalosporin.


Sefalosporinnya mulai bekerja, perut Agung menjadi sakit. Tak hanya sekali ia merasa ingin buang air besar. Terpaksa, ia membatalkan meetingnya dengan beberapa client hari ini.


“Rasakan kamu bos. Siapa suruh kamu lebih sayang istri. Selamat menikmati diarenya sayangkuhhh.” Bella membatin kegirangan.


Di rumah, Agung bolak balik toilet. Ega sudah memintanya untuk meminum obat diare. Tapi seperti Nayla, Agung juga tidak suka minum obat kimia.


Karena kasihan, Ega meminta pembantu untuk membuatkan secangkir teh dari dua bungkus teh sekaligus. Tehnya tampak sedikit hitam. Meski begitu rasanya tetap manis.


Ega meminta Agung untuk meminumnya saat masih hangat-hangat kuku. Alhamdulillah, perut Agung membaik.


*Thanks a lot to read this imperfect novel, sehat selalu dan jangan lupa tinggalkan jejak ya readers

__ADS_1


__ADS_2