Karena Terlambat Menikah

Karena Terlambat Menikah
Gerimis Mengundang


__ADS_3

Ega melangkah ke kamar Nayla. “Tante, papa mana?” tanya anak cantiknya itu.


“Lagi mandi sayang,” ucapnya dengan fake smilenya. Begitulah yang selalu dilakukan seorang smiling depression sepertinya. Selalu menyembunyikan lukanya di balik senyum.


“Tumben papa mandi cepat, biasanya mandinya agak sore.” Dan lagi, jiwa curiousity Nayla kambuh.


“Eee, anuu, ituuu, papamu ketumpahan pandan pasta tadi. Jadi mandinya lebih awal dari biasanya.”


“Ketumpahan pandan pasta. Papa masak ya tante?”


“Emmm. Iya, papa masak pisang. Astaghfirullah, kenapa jadi ngaco begini ya? Nayla belajar membaca aja yuk! Kalau papa lihat kamu baring terus, dia bisa marah loh.”


Dengan langkah cepat Ega mengambil buku belajar membaca yang telah ia beli beberapa hari yang lalu.


“Please Nayla jangan tanya-tanya lagi! Mama bingung jawabnya nak,” batinnya.


Setelah beberapa menit berlalu, Agung juga memasuki kamar Nayla. Dimana Ega juga ada di dalam, sedang mengajari Nayla membaca buku.


“Kenapa berhenti?” tanya Agung pada Ega yang menatap ke arahnya.


“Saya risih kalau ada yang lihat,” ucap Ega kemudian mengalihkan pandangannya dari Agung yang hanya memakai handuk saja.


“Kamu risih mengajar kalau ada yang lihat. Terus yang kamu lakukan selama ini di kampus itu apa?” tanya Agung yang semakin mendekat pada Ega.


“Ngajar, tapi kalau di kampus yang lihat itu mahasiswa bukan kamu.”


Senyum mesum Agung membuat Ega semakin bergidik saja. Ega bergeser agak jauh dari duduknya tadi.


“Jadi, maksudnya kamu salting kalau saya yang lihat? Kenapa menjauh sayang? Takut dua ronde ya? Kamu semakin menggemaskan saja kalau sedang gugup begitu.”


“Papa, pisang ijonya sudah jadi belum? Belajar membaca bikin saya lapar. Mau dong makan pisang ijo buatan papa."


“Pisang ijo? Siapa yang masak pisang ijo sih?” Agung melotot penuh tanya ke Ega.


“Tunggu sebentar yah sayang, pisang ijonya belum jadi. Begini saja, Nayla belajar dulu sama papa. Biar tante yang lanjutin buat pisang ijonya.”


Ega bergegas keluar kamar, menemui pak sopir untuk mencarikan pisang ijo untuknya.

__ADS_1


Tak lama menunggu, pak sopir memasuki rumah dengan membawa beberapa porsi pisang ijo.


“Hebat juga si Agung cari sopir.” Ega bermonolog dalam hati.


“Ini untuk kamu, yang ini kasih ke satpam ya.”


“Siap. Terima kasih bu.” Ega menundukkan kepala sambil tersenyum.


“Bi, sini! Istirahat dulu sambil makan pisang ijo.”


“Enaknya siang-siang begini makan es pisang ijo. Terima kasih banyak nyonya.”


“Sama-sama bi.” Ega kemudian memindahkan es pisang ijo yang lain ke gelas kaca.


Dengan membawa tiga gelas es pisang ijo, Ega menghampiri Agung dan Nayla di kamar. “Pisang ijonya sudah jadi, selamat menikmati.”


Mereka bertiga langsung menikmati es pisang ijo yang katanya buatan Agung dan Ega itu.


“Pisang ijo buatan papa dan tante enak sekali. Lain kali buat lagi ya.”


Ega tersentak kaget mendengar ucapan Nayla barusan. Sementara Agung tertawa renyah sekali. Ingatannya flashback ke cerita Nayla tentang pisang ijo saat Ega keluar menemui satpam.


“Jangan lupa konsumsi buah, dada, dan susu. Biar sehat kayak papa.”


Agung kembali tertawa girang ke arah Ega. Tawanya itu Ega balas dengan tatapan tajam dan wajah yang cemberut.


...****...


“Nayla sayang, malam ini kamu tidur di kamar bibi ya! Papa dan tante mau buat buah hati untuk kamu.”


“Kata ibu guru di sekolah, anak yang baik harus rajin membantu orang tuanya. Nayla juga mau jadi anak yang baik, mau bantu papa dan tante buat buah hati.”


“Duh, polosnya anakku ini. Sudah jam berapa ini sayang, kamu harus tidur. Supaya besok tidak mengantuk di sekolah. Sekarang, kamu ke kamar bibi ya. Papa sama tante Ega mau buat buah hati untuk kamu di kamar yang lain. Kamu takut kan tidur sendiri di sini?”


Dengan muka bantalnya, Nayla berjalan ke kamar bu Nuri. Ia mengetuk kamar pembantunya itu.


“Ada apa ke kamar bibi malam-malam sayang?”

__ADS_1


“Papa suruh Nayla tidur sama bibi.” Nayla langsung masuk ke kamar bu Nuri dengan boneka mickey mouse di pelukannya.


“Tidur sama bibi. Papa sama mama kemana sayang?” tanya bu Nuri dengan menutup mulutnya saat menguap.


“Ada di kamar bi.” Nayla menaiki ranjang pembantunya itu. Lalu menarik selimut, bersiap untuk tidur.


“Terus kenapa papa suruh Nayla tidur sama bibi? Papa dan mama kan ada.” Bu Nuri kembali kepo.


“Katanya papa dan tante mau buat buah hati untuk Nayla.” Bu Nuri yang tadinya sangat mengantuk, tiba-tiba menjadi melek karena jawaban Nayla.


“Dasar si bos, muka cool, badan kekar, tapi otak gendeng.” Bu Nuri membatin menahan tawa saat mematikan lampu. Jika saja Nayla tidak mengantuk, bu Nuri pasti sudah tertawa terbahak-bahak.


...****...


“Tunggu apa lagi, Nayla sudah keluar. Pintunya juga sudah saya kunci. Cepatlah kemari sayang!” Lagi-lagi, Agung menarik kasar tangan Ega yang tengah menatap gerimis berjatuhan.


“Tadi siang kan sudah mas. Ini buat buah hati atau mandi, dua kali sehari. Tadi kamu suruh Nayla cepat tidur supaya tidak mengantuk di sekolah. Besok saya juga ngajar loh mas. Kalau mengantuk di kampus bagaimana?”


“Kalau mengantuk ya tidur. Dimana-mana kalau mengantuk ya solusinya itu tidur sayang, bukan makan.”


“Kamu benar mas. Kalau mengantuk ya tidur.” Ega menutup tirai jendela. Dengan senyuman manis, ia menaiki ranjang untuk tidur.


Agung menarik keras rambut Ega. “Katanya kamu tidak suka dikasari. Terus maksud kamu seperti ini apa? Berani-beraninya kamu tidur saat saya ingin.”


“Kamu sendiri kan tadi yang bilang, kalau ngantuk ya tidur. And now, I am so sleepy mas. Boleh dong saya tidur.”


“Yup, kamu boleh tidur. Tapi nanti, now open yours!” Ega tidak menghiraukan ucapan Agung. Ia diam seribu bahasa.


“Lakukan perintahku sekarang juga bangsat! Apa perlu kukasari seperti tadi siang supaya kamu mau nurut hah?”


Teriakan Agung membuat Ega menitikkan air mata. Nafsunya yang kian membuncah, membuatnya kembali bertindak kasar pada Ega. Tangisan istrinya itu tidak melunakkan hatinya sama sekali.


Ia tetap melakukan haknya sebagai suami, pada istri yang tak sudi untuk melakukan tanggung jawabnya. Bak pelajaran fisika, Agung melakukannya dengan banyak gaya. Tak perduli lagi pada massa objek dan percepatannya.


Suara mereka kini bersahut-sahutan di antara gerimis yang perlahan menjadi semakin deras. Menjatuhi bumi yang tandus.


“Ingat ya Ega, I do this for times to you for having a son soon. Tidak lebih dari itu. So never be too confident to think that I like you,” ucapnya sembari melepas Ega dari pelukannya.

__ADS_1


“Ucapannya selalu klasik seperti itu. Demi alasan cepat memiliki anak dia melakukan KDRT ke saya. Pantas saja dia bercerai dengan Alya, sifatnya temperamen begitu. Perempuan mana pun pasti tidak tahan kalau punya suami ringan tangan seperti Agung. Kalau saya minta cerai, dia pasti murka. Saya harus cari cara supaya dia ilfil. Dengan begitu dia akan menceraikan saya dengan sendirinya,” batin Ega.


*Ceritanya jadi vulgar terus🤦. Beda beut dengan novel sebelumnya. Resiko buat novel tentang casanova ya gini, hufttt. By the way terima kasih ya readers masih setia membaca novel ini, jangan lupa tinggalkan jejak


__ADS_2