Karena Terlambat Menikah

Karena Terlambat Menikah
Business or Honeymoon?


__ADS_3

Sesuai permintaan bu Asma, Agung ke sekolah menemui bu kepsek. Ternyata di ruangan itu ada pak Ayyas juga. Yup, anak dari dua lelaki gagah ini berhasil terpilih mewakili sekolah mengikuti lomba baca puisi kategori Putra dan Putri.


“Selamat, anak bapak berdua terpilih untuk mengikuti lomba baca puisi mewakili sekolah ini. Kalau nanti menang di tingkat Sulsel, Nayla dan Damar akan lanjut di babak se-Sulawesi. Untuk se-Sulsel lombanya diadakan di Parepare, jadi nanti anak bapak berdua akan nginap bersama kami di sana. Saya optimis, Nayla dan Damar pasti bisa memenangkan lomba di tingkat Sulsel besok. Maka dari itu, sediakan saja mereka pakaian ganti untuk sepekan. Jadi kalau menang, tinggal berangkat ke Sulbar. Nayla, Damar, beserta guru pendamping akan berangkat ke Parepare nanti sore.”


“Alhamdulillah, terima kasih informasinya bu.” Pak Ayyas merasa bersyukur sekali memiliki anak seperti Damar. Ini sudah ke sekian kali Damar memenangkan lomba.


“Titik kumpulnya dimana bu? Di rumah ibu atau di sekolah?” tanya Agung.


“Di sekolah pak.”


Percakapan mereka usai, segera dua bapak tampan ini keluar dari ruangan bu kepsek. Di luar halaman sekolah, pak Ayyas menahan Agung yang bersiap memasuki mobilnya.


“Ega salah satu siswa saya yang sangat baik. Dia juga sahabatnya Nisa. Kamu sangat beruntung bisa menikah dengan perempuan sebaik Ega. Jadi tolong perlakukan dia dengan baik juga. Jangan mengulangi kesalahan yang sama di masa lalu Gung. Ingat, kamu punya adik perempuan. Anakmu juga perempuan. Kamu pasti tidak mau kan hal yang sama menimpa mereka?”


Agung diam saja. Padahal pak Ayyas bukan siapa-siapa jika dibandingkan dengan dia. Tapi kata-kata pak Ayyas berhasil membuatnya lemah tak berdaya. Dengan perasaan tidak karuan, ia melajukan mobil ke rumah.


Ega menatapnya dengan penuh kekhawatiran.


“Kemarahan apa lagi yang akan ia luapkan?” batinnya.


“Nayla dan Damar menang lomba baca puisi di sekolah. Bu kepsek bilang siapkan pakaian ganti untuk sepekan, karena mereka sudah akan berangkat ke Parepare nanti sore. Tolong siapkan pakaian untuk Nayla ya bi.”


“Kerja yang lain saja bi. Baju Nayla biar saya yang siapkan.” Bu Dara kembali ke dapur, membuatkan tahu crispy untuk Nayla.


Semuanya sudah siap, Agung melajukan mobil ke sekolah. Ia masih tak menyangka, Nayla yang dulunya membaca saja tak tahu kini mewakili sekolahnya untuk lomba baca puisi. Semua itu tentu tak lepas dari peran Ega sebagai ibu sambung yang luar biasa bagi Nayla.


“Nurut sama bu guru ya sayang. Mama sama papa selalu mendoakan yang terbaik untuk kamu. Semoga kamu dan Damar bisa mengharumkan nama sekolah ini.” Ega memeluk Nayla, disusul Agung.


Nayla kini berangkat ke kota Parepare. Salah satu kota tua di Sulawesi Selatan. Kota sang negarawan, B.J. Habibie dilahirkan.

__ADS_1


...****...


Agung dan Ega duduk berdua di balkon rumah, melihat indahnya langit malam dengan menikmati fried potato with tomato sauce di atas meja. Selesai makan, mereka kembali masuk ke rumah.


“Siapkan pakaian untuk kita berdua. Kita akan berangkat ke sini.” Agung memperlihatkan sebuah tiket pesawat.


“Kenapa Cappadocia? Dari semua tempat di dunia ini, kenapa Cappadocia. Why?”


“Jack dan istrinya juga ke tempat itu. Katanya lagi viral.”


“Aku belum selesai ngomong. Ok, ok fine. Kamu kerja keras buat aku sama Nayla. Fine, thank you. Tapi yakin cuman buat aku sama Nayla?”


“Yakin lah. Kalau bukan buat kamu dan Nayla, buat siapa lagi?”


“Terus ini apa? Bella Danira itu siapa mas? Namanya ada dimana-mana loh ini. Kamu sampai transfer berkali-kali ke dia pakai rekening yang aku sendiri nggak tahu loh kamu punya mas.”


“Namanya Bella Jenita bukan Bella Danira. Kamu sehat kan?” tanya Agung sembari meletakkan punggung tangannya di dahi Ega.


“Itu tadi dialognya Kinan di Layangan Putus. Don’t you know it?”


“Film Indonesia ya? Saya kurang suka film dalam negeri. Lebih suka produk luar, seperti The Hanger Games, Jurassic World, Gengster, and so on.”


“Padahal film dalam negeri juga bagus. Forget it, by the way kita mau buat apa di Cappadocia?”


“Bisnis.”


“Bisnis? Kenapa kamu ajak saya mas? Kamu kan tahu sendiri saya dosen, bukan pebisnis. Kalau kamu bahas bisnis dengan Bella, terus fungsi saya ikut apa? Jadi obat nyamuk? It’s not funny at all.”


“Ini bisnis perlend*ran, jadi kamu harus ikut. Satu lagi, jangan sebut nama Bella terus. What a negative woman she is. Mendengar namanya disebut saja membuat saya pusing. Hanya kita berdua yang ke sana. Bella tidak akan ikut.”

__ADS_1


“Maksudnya bisnis perlend*ran? No, saya tidak mau jadi PSK.”


“Kita ke sana memang demi bisnis, tapi bukan PSK. Tepatnya, kamu harus cepat-cepat melahirkan penerus bisnisku. So, jangan lupa bawa lingerie merah itu ya. You are so hot with that.”


“Jadi bingung ini business or honeymoon sih?”


“Tidak usah bingung begitu. Siapkan saja pakaiannya. Masukkan ini juga ya, jangan sampai hilang ya. Ini wajib kamu minum di Cappadocia nanti. Vitamin agar tidak mudah sakit.”


Dengan polosnya, Ega percaya pada ucapan Agung begitu saja. Dengan senang hati, ia masukkan serbuk fly yang dikiranya vitamin itu ke dalam koper.


“Malam ini kita latihan dulu, supaya kamu tidak kaku saat menjalankan bisnis kita di Cappadocia nanti.” Ega diam saja.


“Pura-pura budeg ya.” Agung menggendong Ega naik ke atas tempat tidur. Padahal masih ada pakaian yang belum Ega masukkan ke koper.


“You are never fail honey, always fantastic.” Mereka berdua akhirnya berbaring lemas setelahnya.


Sementara di Parepare, bu kepsek mengajak Nayla dan Damar ke Monumen Cinta Sejati Habibie Ainun. Agar kedua muridnya ini tidak stress memikirkan lomba besok.


Terkadang memang begitu, sesuatu yang amat dipikirkan justru berakhir dengan kegagalan. Berbeda jika sesuatu itu tidak terlalu diharapkan. Takdir seolah menyulapnya menjadi lebih indah.


Keesokan harinya, Agung dan Ega berangkat ke Cappadocia.


...****...


“Cappadociaaaaa . . . It’s my dream mas,” teriak Ega saat melihat balon udara di hadapannya.


Cappadocia masih menyimpan cerita. Menjadi saksi berangkatnya puluhan ribu pejuang Muslimin untuk menyelamatkan seorang muslimah yang disekap di benteng kota Amorium, Romawi Timur. Ketika seorang muslimah ditangkap, lalu dia berteriak. “Waa Mu’tashimaah!”


“Tolonglah aku wahai Al Mu’tashim!” Bala tentara pun diutus untuk menyelamatkan wanita tersebut. Sekaligus menaklukkan kota Amorium.

__ADS_1


Setelah berhasil menyelamatkan wanita tersebut, al-Mu’tashim mengatakan, “Kupenuhi seruanmu, wahai wanita!”


*Terima kasih sudah mampir, jangan lupa tinggalkan jejak


__ADS_2