
“Erin, kenapa tidak mengajar say? Tidak ada kelas ya?” tanya Ega yang bersiap untuk ke kelasnya.
“Ada, tapi saya malas masuk di kelas itu Ga. Mahasiswanya usil semua. Rubah rulesnya dong Ga. Kalau bisa, yang mengajar di kelas itu dosen laki-laki saja. Kasihan kalau perempuan, kena serangan mental bertubi-tubi.”
“Nanti saya atur ulang. Untuk sekarang begini saja, kamu mengajar di kelas saya dulu. Biar saya yang mengajar di kelas kamu. My class is number twenty eight. Kalau kelasmu nomor berapa Rin?”
“Kamu yakin mau tukeran? Lebih baik jangan Ga! Mahasiswa ceweknya saja usil, apalagi yang cowok. Uhh, bisa gila kamu menghadapi mahasiswa seperti mereka.”
“I am sure Rin. Di ruangan berapa kelasnya?”
“Sudah saya peringatkan ya, nanti kalau ada apa-apa tanggung sendiri.”
“Iya, Erin cantik. Jadi nomor berapa ruangannya?”
“Nomor delapan Ga. Kamu yang semangat ya ngajarnya! Semoga mahasiswa di kelas itu bisa insyaf kalau kamu yang ajar.”
Ega menaikkan jempolnya. “Kalau cuman mental yang terusik, itu sudah biasa. Agung bahkan lebih parah dari mahasiswa usil itu,” batinnya.
Segera, ia melangkah ke ruangan nomor delapan. Selama mengajar di kampus, baru kali ini Ega mendapati kelas yang mahasiswanya berisik sekali.
Berbeda dari biasanya, Ega memasuki kelas dengan wajah tanpa senyum. Membuat mahasiswa di kelas itu sedikit kaget. Bukan bu Erin si lemah lembut yang masuk. Padahal mereka sudah sangat siap untuk menjahilinya.
“Yang duduk di samping Abizar. Nama kamu siapa?” tanya Ega dengan nada tegas.
“Nama saya Denis bu.” Tak tergambar kekhawatiran sedikit pun di parasnya.
“Listen to me carefully ! Kampus ini bukan punya nenek moyang kamu. Di sini ada aturan yang harus diikuti. So please, obey those well!”
Bukannya meminta maaf, Denise malah tertawa. Ega menjadi semakin emosi saat mahasiswa yang lain ikut tertawa.
“Shut up kalian! Saya sedang tidak melawak. Sudah kuduga, kalian memang tidak bisa dikasih tahu. Ketua tingkat di kelas ini tolong berdiri sekarang juga!”
__ADS_1
Abizar berdiri, bukan hanya dia. Mahasiswa yang lain juga turut berdiri.
“Wow, luar biasa sekali kalian. Telinga kalian masih berfungsi kan? Yang saya minta untuk berdiri cuman ketua tingkat, bukan kalian semua. Abizar, siapa ketua tingkat di kelas ini?”
“Saya bu. Guys, sit down please!” Teman kelas Abizar barulah duduk setelah diperintahkan olehnya.
“Come forward!” Abizar menghampiri meja Ega.
“Tolong beritahu teman kelasmu untuk tidak bertingkah seenaknya di kampus ini! Kalau pekan depan mereka masih bersikap seperti tadi ke dosen yang masuk, siap-siap saya lapor ke pak rektor. Dia tidak akan segan-segan mengeluarkan kalian jika saya minta. Kamu sendiri percaya kan ucapan senior tentang pak rektor ke saya?”
Dengan tersendat-sendat, Abizar mencoba menjawab pertanyaan Ega.
“Tidak usah dijawab. Hari ini saya tidak akan mengajar, percuma. Teman kelasmu tuli semua, tidak bisa mendengar materi. But don’t worry, saya tetap akan kasih tugas. Bilang ke teman kamu untuk membuat essay, temanya tentang jalan santai besok. Tidak boleh kurang dari seribu kata. Kumpulkan tugas mereka ke dalam satu file. Kirim ke email saya, paling lambat hari Ahad jam dua tiga lima sembilan. Lewat dari jam itu, tugasnya saya tolak. Dan siap-siap mengulang mata kuliah writing di semester depan. Paham?”
“Paham bu. Emailnya bu?” Abizar tak berani menatap wajah Ega dengan jarak yang sedekat itu.
“Ega sembilan empat ed jimeil dot com. Well you may tell your friend now. I also have something to do now. Assalamu ‘alaykum.”
...****...
“Tolong jemput saya di kampus pak!”
Selang beberapa menit, sopir pribadinya sudah tiba di kampus. Berbekal share location dari Nisa, Ega mengarahkan pak sopir ke BTN sahabatnya itu.
“Egaaaa, I miss you so bad.” Ega membalas pelukan Nisa.
Setelah sekian purnama berlalu, akhirnya mereka dipertemukan juga di kota Daeng ini. Kota yang melegenda karena cotonya.
“Damar? Sudah kelas berapa nak?” Saking gemesnya Ega mencubit pipi anak tampannya Nisa.
“Delapan tahun Ga.”
__ADS_1
“Seumuran Nayla dong. Nayla juga delapan tahun sekarang.”
“Kelas dua SD juga berarti. What do you think kalau Damar masuk di sekolah Nayla saja?”
“Ide bagus Sa. Senin nanti saya temani kamu daftarkan Damar di sekolahnya Nayla. Anyway, what will you do in this city?”
“My husband and me lanjut S2 di kampusmu. By the way, bantuin cari pengasuh dong Ga. Kasihan Damar kalau saya dan my honey kuliah siang. Pulang sekolah dia akan sendirian di rumah.”
“Tidak usah cari pengasuh Sa. Damar bisa pulang sama Nayla. Kalau kamu ada kuliah siang, tinggal bilang ke Damar. Nanti biar anakmu yang ganteng ini main di rumahku dulu. Nayla juga pasti senang punya teman.”
“If you don’t mind. Tapi takutnya Damar merepotkan kamu nanti.”
“Sifatmu belum berubah juga ya, suka over thinking begitu. Don’t worry Nisa sayang. Anakmu sudah kuanggap seperti anakku sendiri. Tidak usah tidak enakan. Di rumah kan ada pembantu dan satpam yang bisa mengurusi semua kebutuhan Damar dan Nayla. Jadi kamu tidak perlu mengkhawatirkan masalah merepotkan.”
“So sweet sekali. You are so humble Ga.”
Saking asyiknya melepas rindu, Ega sampai lupa janjinya pada Agung. Malam ini ia harus menemani suami jahatnya itu ke nikahan Jack.
“Ini sudah sore dan kamu belum pulang juga. Saya membebaskan, does not mean kamu bisa bebas sebebas-bebasnya keluar seperti single.” Ega membaca chat dari Agung yang dikirim via WhatsApp.
“Nisa saya pulang dulu ya. My husband is waiting for me. Besok jangan lupa ya, jalan santainya. Assalamu ‘alaykum.”
“Wa’alaykumussalam warahmatullah. Hati-hati di jalan Ga!”
Ega meminta pak sopir untuk ngebut. Dengan kecepatan tinggi sang sopir melajukan mobil ke rumah. Ega memasuki rumah dengan langkah yang dipercepat. Semakin lambat ia tiba di kamar, maka semakin murka jugalah Agung padanya.
Di luar dugaannya, Agung justru menyambutnya dengan begitu hangat. Tanpa tamparan terlebih dahulu, Agung meminta Ega untuk berbaring di sampingnya.
“Malam ini moodku tidak begitu hancur. Menurut saja, kalau kamu memberontak moodku bisa seperti kemarin. Don’t worry, Nayla sudah tidur di kamar bibi. It’s time to make a son sayang.”
Agung mengulang aktivitas yang sama ke Ega. Ia bahkan semakin brutal saja dibanding sebelum-sebelumnya. Sementara Ega, mau tidak mau ia harus terbiasa dengan tugasnya itu.
__ADS_1
*Terima kasih sudah mampir. Terima kasih juga atas sarannya. Jangan lupa tinggalkan jejak ya readers, love you...