Karena Terlambat Menikah

Karena Terlambat Menikah
Kamu Masih Istriku


__ADS_3

Di malam hari, hujan membasahi bumi. Memberikan rasa dingin bagi makhluk hidup di beberapa belahan bumi.


Agung yang kedinginan ingin memeluk Ega. Tapi Ega yang tidak terima dengan tuduhannya tadi siang enggan untuk berada di dekatnya.


Malam ini, Ega memilih tidur seorang diri di ruang keluarga. Itu lebih baik baginya dibanding harus tidur berdua dengan Agung di kamar.


Saat Ega sudah terlelap, Agung menggunakan kesempatan itu. Dia bersiap mengangkat Ega ke kamar. Tapi Ega terbangun detik itu juga karena sentuhannya, “Mau apa mas?”


“Ayo tidur di kamar. Kamu bisa kedinginan kalau tidur di sini,” dalihnya.


“Nope, selimut ini hangat kok. Kamu saja yang tidur di kamar.”


Agung yang bersikukuh untuk tidur malam ini bersama Ega di kamar, menggendong Ega dengan paksa. “Kamu masih istri saya, jadi saya masih punya hak atas tubuhmu.”


“Kamu gila mas, saya baru hamil beberapa hari. Kamu mau tanggung jawab kalau saya keguguran? Tapi memang itu kan yang kamu inginkan? Kamu ingin membunuh anak ini,” tunjuk Ega pada perutnya.


Agung tak menghiraukannya, dia tetap tidak menurunkan Ega dari gendongannya. Ketakutan Ega akan kemungkinan keguguran mengundang pilu di sukmanya.


Ega refleks meneteskan air mata karena pemaksaan Agung tersebut. “Kamu tenang saja, saya tidak akan melakukan itu ke kamu. I just wanna huge you sayang,” balas Agung saat melihat air mata Ega bercucuran.

__ADS_1


Mereka berdua kini sudah berada di atas ranjang. “Mau kemana lagi? Saya kan sudah bilang, saya cuman mau peluk. Tidak lebih,” tegur Agung pada Ega yang bersiap menuruni ranjang.


“Hapus riasan ini dulu mas. Kamu tenang saja, saya akan tidur di sini kok.”


Agung menarik tangan Ega dan langsung memeluknya. “Besok saja hapus make up nya.”


Agung kemudian mengunci tubuh Ega dengan memeluknya. Dengan begitu, Ega tidak bisa kemana-mana lagi.


Baru juga beberapa menit berbaring, Agung sudah mendengkur dengan tangan yang melingkar di tubuh istrinya itu.


Adzan subuh kembali berkumandang, Agung berwudhu lalu mengambil payung. Di bawah payung lipat berwarna ungu itu, dia melangkahkan kaki ke mesjid.


Sepulangnya dari mesjid, Agung kembali ke kamar. Dia langsung mendekati Ega yang sedang tertidur pulas. Tangannya kembali melingkar di tubuh Ega.


Tepat pada pukul delapan pagi, Agung terbangun. Dia sedikit kesal saat menyadari Ega tidak di pelukannya lagi.


Dengan cekatan dia keluar dari kamar. Dia mencari Ega tapi tidak ketemu. “Ega kemana bu?” tanyanya pada bu Nuri yang tengah memasak di dapur.


“Ada di luar pak.”

__ADS_1


Agung pun berjalan keluar. Benar saja, Ega ada di luar. Istrinya itu sedang duduk di taman, menikmati indahnya suasana pagi ini.


Hujan tadi subuh, menambah kesegaran aroma bunga lavender di taman rumah mereka. Ega merasa lebih tenang saat menghirup aroma lavender tersebut. Stress yang dia rasakan juga serasa berkurang karenanya.


“Lagi apa sayang?” tanya Agung padanya.


“Cari energi, biar semangat terus carikan kamu istri.”


“Wow, istri yang baik. Yang semangat yah carinya! Ingat syaratnya baik-baik, harus yang masih virgin.”


“Saya tidak mungkin lupa syarat itu. Stay calm, saya pengingat yang baik kok.” Ega lalu berdiri.


“Mau kemana lagi?” tanya Agung padanya.


“Mau ke dalam untuk siap-siap berangkat ngajar, sekalian cari calon istri untuk kamu. Mahasiswi di kampus pasti banyak yang mau jadi istri CEO terkaya se-Sulawesi.”


“Katanya pengingat yang baik. Tapi dia sudah lupa ucapan saya yang kemarin dulu. Saya kan sudah mengaku tidak bisa mencintai perempuan lain lagi. Ega, Ega,” monolog Agung seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.


Itu dia katakan saat Ega sudah melangkah jauh darinya. Ega masuk ke dalam rumah dan bergegas mandi. Sementara Agung senyam senyum merencanakan sesuatu.

__ADS_1


Have a nice dream! Jangan lupa tinggalkan jejak ya readers, love you so much...


__ADS_2