Karena Terlambat Menikah

Karena Terlambat Menikah
TAMAT


__ADS_3

“Kamu tidak mandul.” Alya mengungkap kebenarannya.


“Tidak mandul? Terus kenapa kita tidak punya anak?” Agung jadi semakin mumet.


“Saya pasang KB,” jawab Alya lirih.


“Kenapa? Kamu tidak mau mengandung anak saya?”


“Bukan tidak mau mengandung anakmu. Saya cuma tidak mau body saya rusak karena hamil lagi. Kamu lihat sendiri kan berat badan saya naik drastis waktu mengandung Nayla.”


Mendengar itu, Agung bergegas pulang. Dia jadi tidak sabar ingin bertemu Ega setelah tahu semua kebenarannya.


“Mau kemana sayang?” tanya Agung pada Ega setibanya di kamar.


“Tidak kemana-mana mas, lagi senang make up saja.”


“Ayo ke dokter untuk USG. I am curious to know jenis kelamin anak kita.”


“Serius mas?” tanya Ega keheranan.


“Iya, cepat pakai kerudungmu. Kita ke dokter sekarang.”


Tidak butuh waktu lama bagi Ega untuk bersiap-siap. Hanya pakai gamis, kerudung, kaos kaki, dan dia sudah siap. Dia kini duduk di samping suaminya.


“Anak bapak dan ibu perempuan,” ungkap dokter. Rona kebahagiaan menghiasi wajah pasutri ini.


“Jadi bagaimana?” tanya Ega di perjalanan pulang.


“Bagaimana apa?”

__ADS_1


“Kamu kan maunya anak laki-laki, yang bisa jadi penerus perusahaan. Sedangkan anak yang ini perempuan.”


“Perempuan juga bisa jadi penerus perusahaan.”


“Bagaimana dengan Nayla?”


“Dia pasti mau ikut Alya. Tapi kalau dia mau tinggal sama kita juga tidak jadi masalah. Perusahaan kita kan ada beberapa cabang.”


Sementara di rumah Risti, dua orang bersaudara bertamu secara bersamaan. Kakak beradik itu sama-sama menginginkannya.


Bobby memulai pembicaraan. “Saya baru saja bercerai dengan Anti. Saya sengaja menceraikan dia supaya bisa kembali sama kamu.”


“Kalau kamu, mau buat apa ke sini? Jadi pengawalnya Bobby ya?”


“Saya mau melamar kamu,” jawab Abizar mantap.


“Saya juga mau melamar kamu,” imbuh Bobby.


“What about me?” tanya Abizar.


“I am gonna be your wife. Tapi ada syaratnya.”


“Apa?” tanya Abizar antusias.


“Kita baru boleh punya anak setelah lulus kuliah. Bisa?”


“Bisa dong.”


Beberapa hari setelah kesembuhan James dan Alya, “Saya mau tinggal sama papa di sini, ma.”

__ADS_1


“Dia bukan papa kandung kamu sayang. Om James ini papa kamu yang sebenarnya.”


“Ayo sayang, kita ke bandara sekarang.” James menarik tangan Nayla dengan pelan.


“Tidak mau om. Saya tidak mau ikut ke Belanda. Saya mau tinggal di sini sama papa, sama tante Ega.”


Berbagai cara telah dilakukan Alya dan James untuk mempengaruhi Nayla, tapi Nayla tetap kukuh ingin tinggal di Indonesia. Sementara tiket untuk ke Belanda telah siap. Dengan berat hati, Alya membawa Nayla ke rumah Agung.


“Papa,” Alya memeluk Agung erat. “Mama mana pa?” tanyanya.


“Siapa yang datang mas?” tanya Ega yang baru saja selesai mandi.


“Nayla,” balas Agung dengan mimik datar.


“Mamaaa.” Nayla memeluk Ega.


Ega terdiam sejenak, serasa tidak percaya


Nayla memanggilnya mama. “Kangen kamu sayang,” ucapnya seraya membalas pelukan Nayla.


“Saya dan James mau menetap di Belanda. Tapi Nayla tidak mau ikut, dia kukuh mau tinggal di sini. Kalian mau kan merawatnya? Soalnya kami sudah bujuk berkali-kali, tapi tetap saja dia tidak mau ikut.”


“Saya terserah Ega saja,” balas Agung.


“Tentu saja kami akan merawat Nayla, dia anak kami.”


“Terima kasih ya Ega. Kamu memang perempuan yang baik.”


Alya dan James akhirnya ke Belanda, mereka hidup bahagia di sana. Sepekan setelahnya, Abizar dan Risti melangsungkan pernikahannya.

__ADS_1


...TAMAT...


__ADS_2