
“Mama...” Nayla langsung meraih Alya ke dalam dekapannya. Melingkarkan tangan mungilnya begitu erat ke pinggang ibunya.
Mama, kata yang selalu Ega nanti keluar dari mulut Nayla saat memanggilnya. Yang sepertinya tak akan pernah terwujud sampai kapan pun.
Perpaduan antara suka dan duka meliputi kalbu Ega. Di satu sisi, ia turut bahagia melihat ibu dan anak di hadapannya saling melepas rindu. Di sisi lain, ia bersedih menyadari ia hanyalah seorang ibu sambung.
Sebaik apa pun ia pada Nayla, fakta tak akan bisa mengubah statusnya yang hanya sebatas ibu sambung.
“Nayla sayang, boleh kan mama tinggal di sini? Mama sudah tidak punya uang lagi untuk menyewa apartemen. Sejak berpisah dari papamu, hidup mama jadi berantakan sayang.”
“Iya, boleh ma. Rasanya senaaaanggggg sekali kalau mama mau tinggal di sini.”
“Rumah ini milik saya. Cuman saya yang berhak untuk mengambil keputusan, bukan Nayla. Seharusnya kamu mengerti, kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi. So, kamu sama sekali tidak berhak untuk tinggal di sini. Ini cek, silakan kamu gunakan untuk menyewa apartemen.”
“Mau tinggal sama mama juga di apartemen.”
Nayla menggenggam kuat tangan ibunya. Tak membiarkan perempuan yang paling dicintainya meninggalkan rumah itu.
Demi Nayla, Agung membolehkan Alya tinggal sementara di rumahnya. “Bu Nuri, tolong bawa barang-barang ini ke kamar tamu.”
“Di rumah yang dulu bu Dara. Di rumah ini, bu Nuri. Suka sekali dia mempekerjakan pembantu yang namanya mirip dengan nama burung,” batin Alya.
...****...
Tanpa melepaskan genggamannya, Nayla mengantar Alya ke kamar tamu. Kamar yang jaraknya tak begitu jauh dari taman. Saat membuka jendela, mata akan disuguhkan dengan indahnya taman nan luas di depan rumah.
Kehadiran Alya membuat Nayla jadi sedikit acuh pada Ega. Meski begitu, pola asuh Ega telah tertanam pada dirinya.
Di usianya yang delapan tahun, ia sudah terbiasa melaksanakan shalat lima waktu. “Ma, shalat magrib yuk!”
“Mama capek sayang, butuh istirahat yang cukup. Kamu shalat sama bu Nuri saja ya.”
Mendengar ucapan ibunya, Nayla melangkah sendiri ke mushallah mini di dalam rumahnya. Di sana sudah ada Ega dan bu Nuri tengah menunggunya.
Selepas shalat, Nayla kembali ke kamar. Di dalam, Alya tampak begitu asyik memainkan gawainya. “Ma, ajari saya baca iqra.”
Jantung Alya serasa pindah ke pankreas. Bagaimana ia akan mengajari Nayla membaca iqra, kalau dia sendiri juga tak tahu.
__ADS_1
“Mama masih capek sayang,” elaknya. Dengan wajah cemberut, Nayla mendatangi Ega.
“Kamu kenapa sayang? Kasihan loh muka cantik ini ditekuk terus,” ucap Ega sembari mencolek dagu Nayla.
“Ajari baca iqra lagi tante. Kata mama, dia capek. Jadi tidak bisa mengajari saya.”
Agung ingin sekali tertawa mendengar ucapan Nayla. Namun sebisa mungkin ia tahan. “What a liar mother ever,” batinnya.
Ega kembali serius mengajari Nayla membaca iqra. Kesempatan emas ini Agung gunakan untuk mengerjai pak rektor, sekaligus Alya.
“Kalau pembahasannya di luar dari kepentingan kampus, chat di nomor ini saja yah pak. Sekarang saya pakai dua HP. Supaya suami saya tidak tahu hubungan kita yang sebenarnya.”
Dengan terkekeh, Agung menuliskan nomor ponsel Alya. Lalu mengirimkannya ke pak rektor yang mudah dikelabui.
Senang bukan kepalang, itulah yang dirasakan pak rektor saat membaca chat yang dikira dari Ega. Profil Alya tanpa hijab membuatnya berpikir, kalau Ega mulai jatuh cinta padanya. Sampai rela menunjukkan aurat yang ditutupi selama ini padanya.
Pak rektor ingin sekali menghubungi nomor barunya Ega. Tapi pekerjaan yang menumpuk, tidak mengizinkannya untuk bersantai dulu. Ia meletakkan kembali gawainya.
Selang beberapa jam, pekerjannya sudah selesai. “Mungkin sampai nanti. Rambutku pun kusam dan memutih. Namun cintaku padamu. Tak kan berubah,” kirim pak rektor.
“Bagaimana puisinya sayang, bagus kan? Saya bela-belain belajar puisi demi kamu.” Tak gentar, pak rektor terus merayu ala klasik.
“Sudah gombal, tidak modal pula. Sumpah, ini pengangum terburuk yang pernah kutemui. Jelas-jelas ini lirik lagu, malah dibilang puisi. Gobloknya gak ketulungan.” Alya kembali bermonolog.
Tiba-tiba lampu di kamar tamu itu mati. “Sudah goblok, pembawa sial pula. Lampunya jadi mati begini,” umpat Alya.
Ia melangkah keluar kamar, meninggalkan Nayla yang sedari tadi sudah terlelap. Setibanya di depan kamar Agung, ia mulai mengetuk pintu.
Sekali, hingga berkali-kali ketukan. Tetap saja tak ada jawaban. Pasangan suami istri di dalam memang tengah melakukan proses reproduksi. Bekerjasama untuk menghasilkan individu baru bernama Agung junior.
Tak patah aral, kali ini Alya mulai menggedor pintunya. Agung membukakan pintu, karena terburu-buru kancing piyamanya acak-acakan. Alya juga mendapati Ega bersembunyi di balik selimut.
“Akan sedikit sulit merebut kembali hati Agung. Hubungan dia dan istrinya ternyata sudah sejauh ini. Tapi saya tidak akan menyerah. Tidak mungkin saya yang sudah bertahun-tahun bersama Agung kalah dengan perempuan ini. Dia kan baru beberapa bulan jadi istrinya,” batin Alya.
“Ada apa kamu ketuk pintu malam-malam? Tidak sopan sekali.”
“Lampu di kamar, mati. Ganti dong!”
__ADS_1
Bukannya menuju kamar tamu, Agung malah melangkah ke pos satpam. Meminta satpam untuk melakukannya.
“Lain kali kalau ada perlu, langsung saja mengadu ke pekerja di sini. Mereka semua profesional kok.”
Tanpa berbalik lagi, Agung kembali ke kamar. Menemui Ega untuk melanjutkan aktivitas tadi yang ia rasa belum tuntas.
Alya jadi frustasi dengan perlakuan Agung padanya. Untuk melampiaskan amarahnya ia ke club malam.
“Is that you darling?” tanya James yang ternyata juga berada di club itu.
“Apa kabar kamu?” tanya Nayla sambil berjoget-joget.
Mereka berdua mabuk-mabukan. Terlalu mabuk, Alya jadi tidak sadarkan diri. James mengambil kesempatan ini untuk bernostalgia bersama Alya di atas ranjangnya.
Dibawanya Alya ke rumahnya yang cukup mewah. Membuatnya polos, lalu merangsek perempuan yang tengah mabuk itu berkali-kali dengan segala macam sentuhan.
“Bangun brengsek, I am hungry. Pesankan saya makanan paling enak di GoFood.”
James meregangkan badannya terlebih dulu. Di atas ranjang yang selama ini menjadi saksi bisu kemesraan mereka berdua.
“Tenang saja sayang. Mau makan apa?” tanyanya sembari merangkul Alya.
“Jalangkote KENS, nasi ayam sambal matah, roti bakar. Minumnya sirup markisa, emmm pallu butung juga.”
“Hah? Kamu pesan terlalu banyak darling. Yakin bisa menghabiskannya?”
“Saya stress, butuh makan banyak. Lagipula energi saya banyak terkuras karena kamu juga.”
“Stress kenapa lagi darling? Kamu kan sudah healing berbulan-bulan di luar negeri.”
“Agung ternyata sangat bahagia bersama istri barunya.”
“Agung lagi, Agung lagi. Dari dulu saya bilang, lupakan Agung kalau kamu mau bahagia. Gantengan saya dari dia. So, just forget him and be my wife. Saya menunda untuk menikah hanya karena kamu. Padahal banyak perempuan yang antri, mau dinikahi lelaki blasteran seperti saya.”
“Kamu memang jauh lebih tampan dibanding Agung. Tapi kamu tidak sekaya dia. Saya hanya mau jadi istri kamu, kalau kamu bisa lebih kaya dari dia.”
*Terima kasih sudah berkenan mampir, jangan lupa tinggalkan jejak ya readers
__ADS_1