
Agung selingkuh dengan Bella. Sifat asli suaminya itu juga perlahan-lahan terkuak. Nayla yang sudah resmi menjadi anaknya masih memanggilnya tante. Dan sekarang, mahasiswa baru yang bahkan belum mengenalnya juga mengatainya.
Semua beban yang teramat pahit itu Ega nikmati sendiri. Tak pernah ia ceritakan ke orang lain, termasuk ke keluarganya sendiri.
Terkadang, masalah memang hanya perlu dinikmati. Hingga tak terasa nikmat lagi. Bukan karena tak ingin berbagi ke orang lain. Tapi berbagi sekalipun, rasanya tetap akan sangat pahit. Karena seringkali, orang lain hanya bersedia untuk mendengar tapi tidak dengan memahami.
Dan lagi, pertanyaan yang sama menghampiri Ega. “Apa seburuk itu saya ke orang lain? Jangankan mahasiswa baru ini. Bahkan yang terdekat seperti Agung saja sangat mudah menyakiti saya,” batinnya.
Tampak jelas, perempuan cantik ini sebenarnya sedang depresi berat karena tekanan orang sekelilingnya. Hanya saja, mengeluh saat ada masalah bukanlah solusi yang tepat bagi perempuan dewasa sepertinya.
Ucapan basmalah moderator saat membuka acara membuyarkan lamunan Ega. Sambutan demi sambutan diberikan oleh pak rektor dan bawahannya. Setelah semua sambutan itu, barulah moderator meminta Ega untuk memaparkan materinya.
“Mampus kita Zar, ternyata dia dekannya. Mana duduk di depan kita lagi. Pasti dia mendengar semua pembicaraan kita tadi. Duh, baru juga menginjakkan kaki di kampus, sudah bikin masalah kita.”
“Bangsat emang tuh dekan, seharusnya dia duduk di panggung seperti pemateri yang lain. Malah duduk di antara mahasiswa. Sok berbaur sekali.” Abizar mengepalkan tangan, rasanya ia geram sekali dengan tingkah Ega.
“Kamu tidak ada kapok-kapoknya ya Zar, sudah berbuat salah masih juga ngotot menghina bu dekan itu.”
“Terima kasih pada moderator telah mempersilakan saya untuk membawakan materi. Nama saya Saleha, biasa dipanggil Ega. Seperti yang dikatakan moderator tadi, saya adalah dekan di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. First, kalian patut berbangga bisa kuliah di kampus ini. Karena kampus ini adalah kampus terbaik di Sulawesi Selatan. Banyak dari kalian pasti berpikir kalau kuliah lebih menyenangkan daripada sekolah, karena tidak harus mempelajari semua mata pelajaran seperti saat di SMA. Tidak harus belajar matematika, fisika, kimia dan pelajaran sulit lainnya lagi. Hanya mempelajari materi sesuai jurusan masing-masing. Waktu masih mahasiswa baru saya juga berpikir seperti itu. Saya memilih jurusan bahasa Inggris karena menghindari perhitungan. Yang anak bahasa Inggris, tolong jawab. Benar kan kalian memilih jurusan bahasa Inggris karena menghindari pelajaran yang berkaitan perhitungan?” tanya Ega di sela-sela pemaparan materinya.
“Iya bu,” sahut beberapa mahasiswa sambil tertawa.
“Sayangnya kalian akan tetap berhadapan dengan angka-angka. Seperti di mata kuliah statistik, wirausaha, kurikulum, bahkan saat penyusunan skripsi nanti, kalian juga akan bermain dengan angka-angka.” Ega terus melanjutkan materinya, hingga sejam berlalu.
“Itulah tadi pemaparan materi dari bu Saleha. Kepada para peserta, jika ada yang ingin ditanyakan silakan mengangkat tangan. Jangan lupa sebutkan nama.”
Dengan cepat Abizar mengacungkan tangannya. Moderator langsung mempersilakannya untuk menyebutkan pertanyaannya.
__ADS_1
“Nama saya Abizar. Tadi ibu menjelaskan kalau suskes itu bukan pilihan, tapi suatu keharusan. Lalu bagaimana ibu menyikapi fenomena yang akhir-akhir ini marak terjadi? Dimana banyak artis sukses yang tertangkap menggunakan narkoba.”
“Banyaknya artis yang tertangkap mengonsumsi narkoba adalah bukti kalau sukses itu tidak menjamin kebahagiaan. Dan untuk terhindar dari masalah seperti ini, bisa diminimalisir dengan melibatkan Alah dalam kehidupan. Karena dengan mengingat Allah, maka akan ada ketakutan untuk berbuat yang menyeleweng. Seperti pakai narkoba ini.”
“Bagaimana saudara Abizar? Sudah jelas atau ada tanggapan atas jawaban ibu Saleha?”
“Tidak ada tanggapan kak, cukup.”
“Alhamdulillah kalau sudah tidak ada tanggapan. Untuk peserta yang lain, jika ingin bertanya silakan mengacungkan tangan!”
“Sial, hipotesisku salah. Ternyata bu dekan ini cerdas. Mana cantik lagi,” batin Abizar.
“Penjelasan ibu Saleha sangat jelas ya. Sampai tidak ada yang ingin bertanya lagi. Karena sudah tidak ada pertanyaan kita akhiri saja seminar ini. Saya sebagai moderator memohon maaf yang sebesar-besarnya pada audiens apabila ada salah-salah kata. Baiklah, marilah kita mengakhiri seminar ini dengan bersama-sama membaca hamdalah. Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Assalamu ‘alaykum warahmatullahi wabaraktuhu.”
“Wa’alaykumussalam warahmatullahi wabarakatuhu.” Suara audiens menggema di ruangan itu.
Setelah sesi dokumentasi, Ega turun dari panggung. “Tidak usah taruhan. Sudah dapat nasi kotak kan? For your information, nasi kotak yang disediakan pihak kampus tidak pernah gagal. Rasanya selalu number uno,” ucapnya saat melewati bangku Abizar dan kawan-kawan.
“Diam kamu Sukran!”
“Makanya jangan suka mengatai orang sembarangan Zar. Malu sendiri kan ketahuan. Untung bu Eganya baik.”
...****...
“Ini foto kamu kan?” tanya Agung pada Ega yang baru saja pulang dari kampus.
“Iya, terus kenapa?”
__ADS_1
“Kamu tanya kenapa? Wow, luar biasa sekali Ega. Di foto ini kamu cuman berdua dengan pak rektor, apa kamu tidak malu?”
“Jangan berteriak sekeras itu mas. Itu Nayla sedang tidur siang loh.”
“Biarkan saja dia bangun! Supaya dia tahu kelakuan mama kesayangannya ini seperti apa di luar.”
“Maksud kamu apa bicara seperti itu mas? Memangnya saya berbuat apa di luar? Saya baru saja pulang dari kampus, capek. Dan kamu malah berkata seperti itu.”
“Kamu terlalu kegatalan Ga, foto berdua dengan rektor. Remember that you are a wife. Tidak boleh dekat-dekat lagi dengan sembarang lelaki.”
“Oh, jadi kamu mengatai saya kegatalan. Okay, mari kita saling menghina mas. Kita sama-sama diciptakan dengan sempurna kan? Saking sempurnanya, kamu tidak pernah mau introspeksi diri. Kamu selalu saja menyalahkan saya atas semua yang terjadi. Kamu selalu benar dan saya selalu salah. Begitu kan?”
“Yup, memang seperti itu. Apa pun yang terjadi, saya selalu benar. Baguslah kalau kamu sudah tahu.”
“Sumpah, kamu itu terlalu egois mas. Tidak hanya itu, kamu juga sangat bodoh. Di foto itu ada banyak orang kok, bukan cuman kami berdua. Orang awam sekalipun tahu kalau foto yang diunggah pak rektor di Instagramnya itu hasil crop. Benar-benar keterlaluan, sekelas Ceo seperti kamu tidak tahu itu sudah dicrop. Saya tidak semurahan kamu mas, yang seenaknya berhubungan dengan perempuan lain setelah menikah.”
Tamparan kembali mendarat kasar di pipi Ega. Seperti sebelumnya, Agung menyeretnya ke kamar yang sama.
“Lepaskan saya mas! Mau kamu apa sih? Jangan kasar begini dong.” Agung tidak mengindahkan ucapan Ega.
Tubuh Ega benar-benar candu baginya. Dengan paksa ia kembali menanamkan benihnya hingga berkali-kali di rahim istrinya itu.
“Demi apa, yang halal memang rasanya beda sekali.” Agung membatin sembari memeluk tubuh Ega.
Ega kembali berurai air mata seperti sebelumnya. Sebenarnya tak masalah baginya melayani Agung, terlebih itu memang tugasnya sebagai seorang istri. Hanya saja, Agung terlalu kasar padanya. Menampar, menyeret, bahkan sampai memaksanya untuk berhubungan. Agung juga seringkali menyerang mentalnya dengan cacian dan tuduhan yang tak berdasar seperti tadi.
“Tidak usah kePDan. Saya melakukannya berkali-kali bukan karena saya suka dengan tubuhmu. Tapi saya ingin segera memiliki penerus. So, harus dilakukan berkali-kali supaya kamu cepat hamil.”
__ADS_1
Setelah puas menikmati tubuh istrinya, Agung berdiri melangkah ke kamar mandi. Meninggalkan Ega yang masih tersedu-sedu karena perbuatannya.
*Terima kasih sudah mampir, jangan lupa tinggalkan jejak kakak