
“Kak Ega mana?” tanya Risti pada Agung yang duduk sendiri saja di taman.
Agung menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya secara perlahan. “Sudah sepekan dia mengurung diri di kamar.”
Mendengar itu, Risti melangkah untuk masuk. “Mau apa?” tanya Agung padanya.
Risti berbalik, “Lihat kak Ega.”
“Sebaiknya jangan, moodnya masih jelek.”
“Don’t worry kak, I can handle it.” Risti kini melangkah terus, tanpa berbalik lagi.
Agung diam saja setelahnya, sepertinya akan lebih baik jika membiarkan adiknya untuk berusaha.
Risti mengetuk pintu kamar, “Boleh saya masuk kak?” tanyanya dengan intonasi lembut.
Ega tak menjawab, namun ia membuka pintu. Risti menatapnya dalam, lalu memeluknya erat.
“Apa kabar kak?” Pertanyaan sederhana namun mewakili kepeduliannya yang teramat besar pada kakak iparnya ia lontarkan.
Seperti kata orang, ucapan yang disampaikan dengan penuh cinta pasti akan berterima dengan baik. Begitu juga yang dirasakan Ega.
Setelah melepaskan pelukannya dari Risti, ia tersenyum manis. “Baik dek, kamu sendiri apa kabar?”
“Baik kak. Kayaknya seru deh kalau kita cerita di luar.”
__ADS_1
“Ide bagus, kakak pakai kerudung dulu ya.”
Ega pun mengambil kerudung kesukaannya saat di rumah. Selain bahannya yang nyaman, kerudung itu juga tak tembus pandang dan menutupi dadanya dengan sempurna.
“Okay, kak.”
Risti lalu duduk di ranjang sembari memperhatikan gerak-gerik kakak iparnya. Kagum, itu yang selalu terbesit di hatinya saat berada di dekat Ega.
Baginya kakak iparnya itu benar-benar luar biasa. Sejauh ini, Ega yang ia kenal selalu melengkungkan bibir di hadapannya. Padahal ia tahu betul, selalu ada luka yang amat besar di balik itu.
Agung menaikkan jempolnya ke Risti. Akhirnya, istri tercintanya mau keluar rumah juga setelah sepekan berdiam diri di kamar.
Beberapa menit berlalu, matahari terbenam. Hari mulai malam, terdengar burung hantu suaranya merdu. Kukuk kukuk, kukuk kukuk kukuk.
Sebelum kembali ke rumah, Risti memberitahukan sesuatu pada Agung dan Ega. “Jangan lupa datang ya di acara pentasnya! Besok banget loh.”
Tapi sebagai seorang suami, ia juga harus setia menemani istri di saat-saat terpuruknya.
Terlebih, karena menikah dengan dia lah Ega terlibat masalah dengan James.
Risti memanyunkan bibir melihat reaksi datar mereka. “Yaaahh, pada diam semua. Tidak mau datang ya?”
Agung tetap diam dengan tatapan terus tertuju pada Ega. Dalam hati ia berdoa, semoga Ega mau menonton pentas adiknya.
“Kami akan datang,” balas Ega.
__ADS_1
Tiga kata sederhana, namun terdengar begitu indah di rungu adik dan kakak itu.
“Nah, gitu dong kak. Jadi lebih semangat akooh kalau kak Ega mau ikut nonton.”
Agung tersenyum lega mendengar jawaban Ega. Akhirnya, masalahnya terselesaikan juga.
“Jam berapa pentasnya?” tanya Agung dengan antusias.
“Malam kak, setelah shalat isya.” Sesudah itu, Risti langsung pamit pulang.
Ega bersiap untuk masuk rumah, tapi Agung tidak. Ia jadi bingung melihat suaminya melangkah ke garasi. Pertanyaan sang suami akan kemana malam-malam kini memenuhi ruang otaknya.
Ingin bertanya, tapi Agung sudah terlanjur melenggang pergi. Dengan langkah pelan dan tak bersemangat, Ega akhirnya melangkah ke kamar.
Dua jam berlalu, Agung akhirnya pulang. Beberapa bungkus es krim Heart ia sodorkan pada sang istri.
Ega menarik kedua sudut bibirnya, “Cantik, bentuk hati.”
“Iya cantik, secantik kamu. Saya sengaja beli yang bentuk hati, to show you how big my love is. Romantis kan?”
“Iya deh yang romantis. Terima kasih ya, mas.”
“Sama-sama, sayangku, cintaku, cantikku, manisku, Egaku.”
“Gombalan juga ada paket komplitnya ya. Anyway, kalau yang itu apa mas?” tunjuknya pada bungkusan lain yang Agung letakkan di depan lemari.
__ADS_1
“Nanti kamu cek sendiri, habiskan dulu es krimnya.”